Coba Mengungkapkan

2111 Kata
Hening diantara Kalla dan Gibran tidak menandakan jika mereka sedang canggung. Bukan juga menghindari kikuk. Mereka sedang menikmati suara hati masing-masing. Kalla dengan suara hatinya yang bahagia, namun, ingin Kalla tutupi karena tidak ingin secepat itu merasakan jatuh cinta. Sebelumnya Kalla belum pernah merasakah hal seperti ini. Sebab, dari dulu, memang hanya kebahagiaan yang Aksa suguhkan untuk Kalla. Jadi, Kalla tidak tahu di sebelah mana atau diwaktu kapan Kalla jatuh cinta dengan Aksa. Sekarang, berbeda dengan perasaannya ke Gibran. Dari mulai penasaran dengan sosok Gibran, lalu semakin lama Gibran selalu ada untuk Kalla, selalu di samping Kalla, bisa memberikan hal yang belum Kalla rasakan sebelumnya, dan bisa memberikan kenyamanan berbeda dengan yang Aska berikan. “Apa aku salah jika memilih orang lain menjadi pasangan? Apa aku salah jika jatuh cinta dengan orang yang bukan jadi teman aku selama ini?” Kalla membatin dalam hatinya. “Kamu mikirin apa, Kal?” Gibran memecahkan obrolan Kalla dengan dirinya di dalam hati. “Hmmm?” Kalla masih belum bisa memberikan jawaban karena masih terkejut Gibran tiba-tiba bertanya kepada Kalla. “Kamu mikirin apa?” Gibran mengubah posisinya agar lebih mudah menatap wajah Kalla. Lagi-lagi Kalla tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Gibran. Kalla takut sekali menatap mata Gibran, takut jika terlihat jika Kalla salting. “Aku boleh tanya sesuatu nggak?” Gibran izin sebelum mengajukan pertanyaan untuk Kalla. “Hmm, boleh,” Kalla mengizinkan Gibran mengajukan pertanyaan,meskipun sebenarnya Kalla sangat gugup dan tidak siap dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh Gibran. “Kalau aku sayang sama kamu boleh?” Tiba-tiba tatapan Gibran menjadi serius. Kalla melongo mendengar pertanyaan dari Gibran. Kalla tidak menyangka akan secepat ini. “Sayang itu universal, sih. Cuma yang aku maksud di sini, sayang sebagai orang spesial di hati kamu,” Gibran menjelaskan pertanyaan sebelumnya. Kalla benar-benar tidak tahu haru menjawap apa. Tangan Kalla dingin, jantung Kalla berdegub kencang, Kalla benar-benar gugup menghadapi suasana seperti ini. Sebelumnya, Kalla belum pernah mengalami situasi seperti ini. Kalla hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan semua saltingnya yang sudah sampai di ubun-ubun. “Kal?” Gibran memanggil Kalla agar segera mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. “Kak,” Kalla mengawali kalimatnya. Gibran sudah menunggu dan tidak sabar mendengar apa jawaban dari Kalla. “Maksudnya?” Kalla menambahkan jawabannya. Gibran kira, Kalla akan segera memberikan jawaban, namun ternyata malah balik bertanya kepadanya. “Sudah malam ini kayaknya, kamu jadi nggak fokus. Yaudah deh, kita lanjutkan obrolannya besok saja, ya. Sekarang kamu istirahat saja,” Gibran tidak memaksa Kalla untuk menjawab malam itu juga. “Iya, aku sudah ngantuk banget,” Kalla mengalihkan semua obrolannya dengan Gibran. “Ngantuk? Yakin?” “Eeeee iya yakin,” Kalla terbata-bata menjawabnya. “Bukan salting kan?” Gibran malah meledek Kalla. Kalla mengerutkan alisnya. “Iya, iya. Aku tahu kamu pasti sudah capek banget, mending aku pulang dulu, ya. Kita lanjutin besok saja obrolannya,” Gibran izin pamit pulang dari rumah Kalla. “Iya, Kak. Hati-hati, ya,” ucap Kalla dengan senyum manisnya mengantar Gibran ke mobil. “Bisa tidur nyenyak kan malam ini?” Gibran kembali meledek Kalla karena pipi Kalla masih terlihat merah karena salting dengan semua obrolannya dengan Gibran. “Bisa. Makasih, ya,” ucap Kalla sebelum Gibran masuk ke dalam mobil. Gibran menatap Kalla dengan sepenuh hati. Sebelumnya, Gibran tidak pernah merasakan hal yang sama seperti ini kepada siapapun. Gibran juga tidak pernah mendekati perempuan terlebih dahulu. Justru, sebaliknya. Gibran selalu didekati oleh banyak perempuan, namun sayangnya mereka belum berhasil membuka pintu hati Gibran. Kalla perempuan pertama yang sudah membuka pintu hati Gibran, mungkin lebih lebar dari yang Gibran kira. “Tidur nyenyak ya, Kal,” Gibran mengucapkan perpisahan sebelum masuk ke mobil. Awalnya Gibran ingin mencium kening Kalla sebagai ucapan selamat malam untuk Kalla. Tapi, Gibran mengurungkan niatnya. Gibran tidak ingin membuat Kalla menjadi tidak nyaman kepadanya. “Hati-hati, kak. Aku tunggu pesan kamu sebelum aku tidur,” ucap Kalla sambil melambaikan tangannya. Gibran pun pergi menjauh dari pandangan Kalla. Kalla masih saja tersipu malu melihat mobil Gibran yang hanya tinggal setitik. “Apasih Kalla,” Kalla menutup wajahnya yang merah, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Kalla sudah bersiap untuk tidur. Semua jendela kamar, gorden, dan pintu sudah Kalla tutup. Lampu kamar pun sudah Kalla matikan, hanya tersisa lampu tidur saja. Tapi, Kalla masih belum bisa memejamkan matanya. Mata Kalla masih memperhatikan ponsel yang ada di meja kecil, di ujung tempat tidurnya. Ada perasaan cemas, khawatir, gelisah, juga perasaan tidak sabar menunggu pesan dari Gibran. Kalla membuka tutup selimutnya,  berkali-kali mengganti posisi tidurnya, tapi tetap saja masih belum bisa untuk memejamkan matanya. Tak lama, ponsel Kalla berbunyi. Ada pesan yang masuk. Kalla langsung beranjak dari kasurnya dan mengambil ponsel. Akhirnya yang Kalla tunggu muncul juga. “Huhhh, akhirnya,” Kalla lega setelah mendengar ponselnya berbunyi. Sayangnya, pesan itu ternyata bukan dari Gibran melainkan Aksa. Aksa mengirim pesan kepada Kalla. “Selamat malam, Kal. Selamat tidur, semoga tidurmu nyenyak. Walaupun bukan aku lagi yang akan kamu tunggu bila pagi datang nanti,” Pesan Aksa untuk Kalla. Kalla sedih sekaligus bingung harus membalas apa pesan dari Aksa. Kalla merasa bersalah, namun juga tidak ingin memberikan Aksa harapan lagi. Kalla hanya ingin persahabatan mereka tetap terjaga. Bukan saling mengharapkan perasaan yang lainnya. Kalla memutuskan untuk membaca pesan dari Aksa, tidak ada balasan yang Kalla kirimkan. Walaupun sebenarnya perasaan bersalah sangat menguasainya malam itu. Sampai di rumah, Gibran buru-buru keluar dari mobilnya. Ingin segera mengirim pesan untuk Kalla. Namun, di depan pintu ternyata sudah ada Gea yang menunggu Gibran pulang. “Darimana saja sih Kak jam segini baru pulang?” Gea bertanya dengan tatapan yang sinis. “Geaaaa, kamu ngagetin kakak saja, deh!” Gibran sedikit kaget dengan keberadaan Gea di depan pintu. Gibran tidak menjawab pertanyaan dari Gea, ingin langsung pergi ke kamarnya. Tapi, Gea tidak mengizinka Gibran langsung masuk ke kamarnya begitu saja. “Eitsss, mau kemana? Jawab dulu pertanyaan adeknya ini!” Gea kesal karena Gibran tidak menjawab pertanyaan dari Gea. “Kenapa sih, dek? Kakak juga punya urusan dong,” Gibran menjawab dengan sangat lembut. “Urusan apa sampai jam segini?” Gea tidak terima dengan jawaban Gibran. “Yaa urusan,” Gibran tidak ingin memberitahu urusan apa yang habis Gibran lakukan. Gibran sambil berjalan menuju ke kamarnya. “Kakak mau istirahat ya, dek,” izin Gibran kepada Gea adik satu-satunya. “Kak, jawab Gea dulu dong! Darimana?” Gea ngegas. “Apasih Gea yang cantik? Ini kan sudah malem, harusnya kamu juga sudah tidur,” Gibran mengalihkan pembicaraannya. Gibran membuka pintu kamarnya, lalu dengan segera Gibran mau menutup pintunya. Namun, Gea menghalangi Gibran menutup pintunya. “Ehhhh, tunggu dulu!” Gea masih belum mau membiarkan Gibran masuk ke kamar begitu saja. “Apa lagi sih?” Gibran masih sabar menghadapi adiknya yang kepo. “Darimana? Ada urusan apa sampai jam segini baru pulang?” Gea menginterogasi Gibran. “Ada urusan pokoknya. Sudah ya, Kak Gibran ngantuk, capek, pengen istirahat dan bersih-bersih juga,” Gibran izin menutup pintu kepada adiknya itu. “Ihhhh Kak Gibran!!” Gea ngambek di depan pintu kamar Gibran. Gibran tak lagi menghiraukan adiknya yang super kepo itu. Gibran langsung meletakkan barang-barangnya, lalu melanjutkan mandi dan bersih-bersih badannya. Setelah semua seleai, Gibran mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan ke Kalla. Gibran tidak mau Kalla menunggu terlalu lama dan cemas dalam penantiannya. Gibran menutup semua gorden, mematikan lampu kamarnya, dan mengetik pesan di ponsel untuk Kalla. Sudah beberapa kali Gibran mengetik pesan, tapi, Gibran hapus lagi. Tidak tahu kenapa Gibran menjadi gugup dan malu mengirim pesan untuk Kalla. Gibran juga bingung harus mengirim pesan apa Ke Kalla. “Duhhh, ini gue harus kirim pesan apa ya?” Gibran bingung, sampai berdiri lagi dari kasurnya. “Kalau tanya lagi apa, kan ini sudah malam, dan dia juga sudah siap mau tidur. Kalau tanya sudah makan atau belum, tadi makan bareng gue. Terus, kalau ditanya sudah tidur apa belum, ya jelas nggak akan balas kalau sudah tidur,” Gibran bingung sendiri harus kirim pesan apa ke Kalla. “Duhhh kenapa gue jadi grogi gini, sih. Cuma kirim pesan doang mikirnya kayak mau presentasi,” Gibran ngomelin diri sendiri. “Huhhhhh, tarik napasssss. Oke yakin!” Gibran yakin dengan pesan yang akan dikirim ke Kalla. “Selamat tidur, Kal. Semoga malam ini tidur kamu nyenyak, dan besok pagi disambut oleh kebahagiaan dari aku,” pesan Gibran untuk Kalla. Setelah mengirim pesan untuk Kalla, Gibran langsung melempar ponselnya ke kasur. Gibran merasa geli sendiri dengan pesannya itu. “Astagaaa, gue kenapa sih. Bisa-bisanya kirim pesan kayak begitu ke Kalla. Nanti kalau dia ilfeel sama gue bagaimana?” Gibran malah bingung sendiri sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Beberapa menit setelah pesan terkirim, Gibran masih menunggu balasan pesan dari Kalla. Gibran berjalan kesana-kemari menunggu balasan pesan dari Kalla. Sesekali Gibran mengintip ponselnya, apakah menyala dan menandakan ada pesan masuk. Tapi, sudah beberapa kali Gibran melakukan itu, tetap tidak ada notifikasi yang masuk. “Yahhh, nggak di balas,” Gibran kecewa karena tidak ada balasan pesan dari Kalla. “Apa dia sudah tidur, ya?” Gibran masih berharap Kalla membalas pesannya. “Duhhh gue sih pakai lama segala mikir mau kirim pesan doang. Keburu tidur deh itu Kalla,” Gibran ngomelin dirinya sendiri karena terlambat mengirim pesan ke Kalla. Karena menunggu terlalu lama pesan dari Gibran, Kalla akhirnya tertidur. Posisisnya sangat tidak nyaman, namun, Kalla sudah nyenyak dengan tidurnya malam itu. Sementara itu, masih ada Gibran dan Aksa yang menunggu balasan pesan dari Kalla. “Kalla kenapa nggak balas pesan gue, ya?” Aksa penasaran kenapa pesan Aksa hanya dibaca oleh Kalla. “Apa pesan gue bikin Kalla ilfeel?” Pikiran Aksa dan Gibran hampir sama. Mereka sama-sama menginginkan Kalla tidur nyenyak malam ini. Bedanya, Aksa sudah tidak berharap lagi besok pagi Aksa yang menjadi alasan Kalla senyum, sedangkan Gibran justru sangat mengharapkannya. Aksa membuka tutup ponselnya, berharap ada notifikasi dari Kalla. Namun, harapan tinggallah harapan. Kalla tidak membalas pesan Aksa sama sekali. Pesan Aksa hanya dibaca oleh Kalla. Padahal, Aksa juga ingin diucapkan selamat malam oleh sahabatnya itu. Aksa tidak lepas pandangannya dari ponselnya, ada harapan yang tidak kunjung runtuh. “Huhhhhh,” Aksa membuang napasnya untuk membuat perasaannya lebih lega dan tidak banyak berharap kepada Kalla. “Tidur saja, lah. Siapa tahu besok pagi Kalla muncul di depan rumah gue kayak dulu lagi,” Aksa menghibur dirinya sendiri. Malam itu, mungkin hanya Kalla yang tertidur nyenyak tanpa penantian. Sedangkan Gibran dan Aksa tidur masih dengan rasa menunggu. Menunggu pesannya dibalas oleh Kalla. ~ Pagi hari yang menjadi penentuan, apakah hari ini akan menyenangkan atau malah sebaliknya. Sebisa mungkin Kalla merias wajahnya dengan sederhana, hanya agar tidak terlihat pucat dan kusam. Baju yang Kalla pakai juga yang sewajarnya saja. Mengikuti mood Kalla pagi itu. Semua ini Kalla lakukan agar paginya lebih bersemangat dan menyenangkan, meski belum tentu saat Kalla keluar dari kamarnya dan turun ke bawah. Ketika semua sudah selesai, Kalla sudah siap menuju ke kampus. Semua barang bawaan Kalla sudah tidak ada lagi yang tertinggal. Kalla keluar kamar, menutup kamarnya dan berjalan menyusuri tangga rumahnya. Kalla mencari keramaian di rumahnya, tetapi, tidak ada sama sekali. Biasanya suara kesibukan dipagi hari sudah terdengar dari Kalla bangun tidur. Sekarang sama sekali tidak ada suara itu. Kemana Mama dan Papa Kalla malam tadi? Apakah Mama dan Papa Kalla sudah kembali bekerja setelah larut malam sampai di rumah? Atau justru tidak kembali ke rumah malam tadi? Entahlah, tidak ada jawaban yang bisa Kalla temukan pagi itu.  Kalla terus saja turun dari tangga rumahnya menuju ke dapur untuk sarapan roti tawar kesukaannya. Sambil sesekali melihat ke penjuru rumah, siapa tahu Mama dan Papanya ternyata sedang berada di dapur, belakang rumah, atau dari depan rumah. “Kemana ya?” Pertanyaan Kalla yang tidak tahu akan diajukan kepada siapa. “Huhhh...” Kalla membuang napas kebingungannya. “Aku ingin ketenangan, tapi bukan berarti aku mau kesepian,” ucap Kalla sambil melihat ke semua penjuru rumahnya. “Aku ingin keramaian, tapi, bukan sebuah pertengkaran di dalamnya,” Kalla mengeluh dengan suasana di rumahnya. Tidak ingin mengubah moodnya menjadi jelek, Kalla memutuskan untuk sarapan sambil berangkat ke kampus.  Kalla berjalan keluar rumah sambil makan roti tawar selai coklat yang ada di tangan kanannya. Tangan kirinya membawa s**u kotak kesukaannya. “Pagi, Kal!” Sapa Gibran di depan rumah Kalla. Kalla tidak menyangka Gibran akan berada di depan rumahnya pagi ini. Kalla sampai kesulitan menelan roti tawarnya karena terlalu terkejut dengan kejutan Gibran. “Makan itu sambil duduk, dong!” Gibran mengambil roti tawar di tangan kanan Kalla dan menggandeng Kalla masuk ke dalam mobilnya. “Makan di dalam mobil saja, ya!” Gibran menyuruh Kalla makan di dalam mobilnya. Kalla masih belum bisa memberikan komentar apapun. Kalla masih kaget sekaligus malu dengan sikap Gibran. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN