Selama belasan tahun, Kalla sarapan, makan siang, hingga makan malam sendirian. Tidak ada yang menemaninya di meja makan. Kalla memutari meja makan, bergantian duduk di kursi yang tersedia. Agar merasakan suasana yang berbeda setiap harinya. Meskipun sunyinya sama, walaupun sepinya tidak berbeda, setidaknya ketika makan Kalla menatap dinding yang tak sama. Sesekali Kalla juga makan di ruang keluarga, agar ada kehidupan di sana.
Mama dan Papa Kalla memang masih ada, namun, cinta mereka entah ada dimana. Dulu, bahagia keluarga Kalla sangat sederhana. Makan bersama, bercanda di ruang keluarga, piknik disetiap akhir pekan, sampai selalu merayakan momen spesial meski tidaklah mewah. Namun, sekarang sudah tergantikan oleh materi. Bahagianya sudah dibeli oleh materi. Tidak lagi ada tawa di rumahnya, tidak lagi ada candaan di setiap sudut rumah, hanya ada kebencian yang merasuk dalam pertengkaran tiada berujung.
Sedih tak lagi menjadi pilihan Kalla ketika menghadapi pertengkaran orang tuanya. Menangis juga bukan tujuan saat melihat bagaimana kasih sayang berubah menjadi kebencian. Kalla hanya pura-pura kuat, di depan dirinya sendiri juga orang lain. Kalla berpura-pura mengerti dan memahami apapun yang terjadi. Sampai pada akhirnya ketika Mama dan Papanya memilih untuk berpisah. Tidak ada alasan Kalla untuk tetap menahan mereka bersama. Tapi, Kalla juga tidak bisa melepaskan kedua orang tuanya begitu saja. Perpisahan akan berujung kehilangan. Semua yang Kalla punya akan hilang. Jika Kalla menolak, Mama dan Papa Kalla saja sudah tidak peduli dengan keberadaannya. Apa yang bisa Kalla lakukan lagi selain menerima? Padahal hatinya sakit meski tidak terlihat ada luka di sana.
Setelah menemukan Aksa belasan tahun yang lalu, kini Kalla menemukan Gibran. Meskipun bukan pengganti kedua orang tuanya, setidaknya kehadiran Gibran dan Aksa menjadi pengisi dinding hati Kalla yang kosong. Tidak terisi penuh, tapi setidaknya ada yang masuk di sana. Aksa memberikan banyak kebahagiaan di masa kecil Kalla, tidak sekalipun Aksa meninggalkan Kalla. Aksa juga selalu memastikan Kalla bahagia di atas semua luka yang ada. Perhatian Aksa bahkan lebih daripada yang seharusnya Kalla terima. Sedangkan Gibran, hadir dalam kehidupan Kalla yang sudah dewasa. Saat Kalla sudah mulai mencari cinta sebagai pasangan, bukan lagi sebagai teman. Semua telah terlewati, seperti sangat cepat, tapi, jika dirasakan sangat menyiksa.
“Kamu kenapa sarapan sambil berdiri sih?” Gibran memprotes sarapan Kalla sambil berjalan, meskipun sekarang Kalla sudah berada di dalam mobil Gibran.
“Aku sudah bosen muterin kursi di meja makan sendirian, nggak ada temennya,” jawab Kalla dengan segala kalimat kesedihan tetapi dengan nada candaan.
“Maksudnya?” Gibran tidak paham dengan apa yang Kalla ucapkan.
“Nggak papa, Kak. Aku tadi buru-buru, jadi makan sambil jalan,” Kalla mengalihkan jawabannya.
Gibran menyiapkan tissue untuk Kalla sebelum Kalla mencarinya. Membuka botol air putih ketika Kalla sudah selesai makan roti tawarnya.
“Masih laper?” Gibran memastikan Kalla sudah kenyang atau belum.
“Hmmmm?”Kalla bingung menjawab pertanyaan Gibran.
“Masih laper atau sudah kenyang? Kalau masih laper, kita makan bubur ayam di deket sini,” Gibran menawarkan Kalla untuk sarapan lagi.
Ketika kebanyakan orang ingin dijadikan ratu oleh pasangannya, Kalla hanya ingin dijadikan ratu oleh pasangannya. Kalla justru ingin dijadikan Putri oleh Papanya. Hal yang sangat Kalla rindukan sampai kapanpun. Dulu, saat Kalla masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar, Papa Kalla sangat memanjakan Kalla. Semua yang Kalla butuhkan dan Kalla inginkan selalu Papa turuti. Sarapan selalu disiapkan, selalu ditemani, hingga bekal makan siang juga selalu disiapkan. Ke sekolah pasti diantar oleh Papa Kalla. Semua orang yang melihatnya pada waktu itu seperti iri dengan cinta Papa Kalla kepada Kalla. Sayangnya, sekarang Kalla yang merasakan iri kepada orang lain. Terutama anak perempuan yang dekat dengan Ayahnya. Sebuah mimpi Kalla yang Kalla ingin wujudkan, meski tidak tahu bagaimana cara untuk mewujudkannya. Jika ada sekolah untuk merebut perhatian Papa lagi, Kalla pasti akan mengikutinya.
Gibran mengajak Kalla untuk makan bubur ayam di pinggir jalan karena Gibran juga belum sarapan. Gibran memperlakukan Kalla dengan sangat baik dan menyenangkan. Semua orang di sekeliling mereka pun seperti iri. Gibran membersihkan kursi untuk Kalla sebelum Kalla duduk, memastikan Kalla duduk dengan nyaman dan aman. Selalu memperhatikan setiap hal kecil yang ada pada Kalla. Kalla ingin sesuatu pasti akan Gibran lakukan saat itu juga. Jika Gibran bisa melakukannya, pasti Gibran dengan sigap akan melakukan. Semua ini juga membuat Kalla bahagia. Ada yang bisa Kalla syukuri ketika semua ini terjadi padanya. Tapi, tetap saja masih ada yang kurang untuk Kalla.
“Kamu suka?” Gibran bertanya dengan sangat lembut.
“Suka kok, enak!” Kalla menjawab dengan antusias agar Gibran juga merasa lega.
“Mau tambah?” Gibran menawarkan bubur ayamnya lagi.
“Hmmm engga, aku sudah kenyang satu mangkuk ini,” Kalla menolak dengan halus.
“Mau minum apa?” Giliran minuman yang Gibran tawarkan untuk Kalla.
“Es teh boleh?”
“Boleh. Aku pesenin dulu, ya!” Gibran memesankan es teh untuk Kalla. Gibran memastikan semunya bersih dan aman untuk Kalla sebelum Kalla minum es tehnya.
“Sudah selesai makannya?”
“Sudah,” Kalla mengangguk.
“Sini mangkuknya, biar aku yang pegang. Ini minuman kamu,” Gibran memberikan es teh pesanan Kalla.
Kalla dan Gibran makan di pinggir jalan tanpa ada meja. Namun, Kalla tidak perlu khawatir karena Gibran siap menjadi meja jika Kalla membutuhkannya.
“Cukup?”
“Iyaaa, cukup, kok,” Kalla merasa Gibran sangat perhatian dengannya.
“Kita ke kampus sekarang, ya?” Gibran meminta persetujuan dari Kalla untuk berangkat ke kampus.
Kali ini sarapan Kalla tidak kesepian. Kalla juga tidka harus memutari kursi di meja makan rumahnya. Kalla bisa melihat suasana baru, makanan selain roti tawar, dan juga ada orang yang menemain Kalla saat sarapan. Semua yang Kalla mau dituruti, tanpa ada penolakan sedikitpun. Ini semua sudah sangat membuat Kalla bahagia dan cukup baik untuk mengawali harinya. Meskipun banyak sekali beban yang masih melekat dalam hidup Kalla, setidaknya sekarang Kalla sudah memiliki alasan untuk bertahan. Kalla juga sudah memiliki lebih banyak hal yang membuatnya tersenyum kembali.
Aksa dan Meira juga masih ada di dalamnya. Masih jadi alasan Kalla bertahan, masih jadi alasan untuk Kalla tersenyum dan mau menjalani hidup ini. Mereka sudah memberikan kekuatan untuk Kalla menghadapi segala kesedihan. Sahabat akan memiliki ruang di hati kita, berbeda dengan pasangan. Tetapi, ruang itu pasti ada. Tidak hanya saat kita butuh saja.