Salah Satu hal yang membuat Kalla sedih adalah salah paham dengan kedua sahabatnya. Meira dan Aksa tidak pernah marah kepada Kalla semenjak mereka saling mengenal. Kalla dan Meira juga tidak pernah bertengkar hebat. Mereka saling mengerti dan memahami satu sama lain. Jika ada masalah, maka, saat itu juga akan mereka selesaikan agar tidak berlarut-larut. Namun, sekarang berbeda. Mungkin mereka juga semakin dewasa, banyak yang sudah bertengger di pikiran masing-masing sehingga membuat banyak salah paham.
Hari ini, Meira masih belum mengajak Kalla berbicara. Meira masih marah karena merasa Kalla melupakan sahabatnya demi Gibran. Meira juga tidak suka kenapa Kalla tidak peka dengan keadaan. Jelas-jelas Aksa sudah memberikan kode, jika Aksa memiliki perasaan lain. Tetapi, Kalla sama sekali tidak notice perasaan Aksa itu. Kalla justru semakin jauh dengan Aksa. Sekarang yang ada dihari-hari Kalla lebih banyak Gibran. Kalla tidak pernah sengaja menjauh dari Aksa. Kalla juga tidak menciptakan jarak diantara mereka. Hanya saja, sikap Aksa berbeda daripada sebelumnya. Entah karena memang perasaannya yang lebih dengan Kalla atau karena cemburu.
“Mei,” Kalla menyapa Meira yang baru saja masuk ke kelas.
“Mei, kamu masih marah sama aku?” Suara Kalla memelas karena Meira masih cuek dengannya.
“Meiiii,” Kalla berulang kali memanggil nama Kalla.
“Kenapa lagi sih, Kal?” Meira akhirnya buka suara.
“Kamu masih marah sama aku?” Kalla kembali mengajukan pertanyaan yang tadi.
“Hmmmm,” Meira tidak menjawab, malah seperti memberikan kode lainnya.
“Mei, kamu tahu kan aku nggak ada niat untuk menjauh dari kamu ataupun Aksa?”
“Terus?” Meira hanya menanggapi dengan singkat.
“Huhhhhh,” Kalla mengambil napas sedikit lebih panjang dan menghembuskannya.
“Mei, nggak ada perasaan yang bisa dipaksakan. Aku juga nggak pernah bisa untuk memilih akan jatuh cinta dengan siapa,” Kalla menjelaskan tentang isi hatinya.
“Kal, gue kenal sama lo itu sudah lama. Bukan baru beberapa hari ini saja. Lo sama Aksa itu sudah sama-saama menyimpan perasaan yang sama. Cuma lo saja yang nggak mau mengakui. Lo nggak mau sahabatan ini rusak itu karena ya memang alibi lo saja, kan?” Meira masih kesal dengan Kalla.
“Meiii!” Kalla mulai tidak suka karena Meira mulai memaksakan pendapatnya.
“Berarti kamu sama Aksa ngelarang aku buat punya pasangan?” Kalla langsung to the point.
“Yaaaa,” Meira gelagapan menanggapi pertanyaan Kalla.
“Hmmm? Iya? Kalian berdua ngelarang aku buat punya pasangan? Kalian sudah merasa memiliki aku, jadi, semua kehidupan aku kalian yang atur?” Kalla tidak mau masalah ini berlarut-larut.
“Bukan begitu maksud gue. Maksud gue, Lo itu harusnya jujur sama perasaan Lo sendiri. Nggak kayak gini,” Meira masih membela opininya.
“Kalau memang perasaan lebih aku untuk Kak Gibran dan bukan untuk Aksa, kalian sudah nggak mau jadi sahabat aku lagi? Kita sudah kuliah, Mei. Bukan waktunya untuk cemburu karena salah satu dari kita menemukan orang lain,” Kalla menegaskan kepada Meira.
“Gue Cuma ingin Lo aman dan baik-baik saja, Kal. Gue tahu bagaimana Lo polos banget sama cowok di luar sana, Lo terlalu baik sama orang lain, dan gue tahu bagaimana lo dari dulu sulit untuk mengenal orang lain. Sekarang tiba-tiba lo kenal Gibran, lo deket, lo semuanya sama dia, gue sama Aksa pasti khawatir dong, Kal,” Meira menjelaskan maksud dari kemarahannya dengan Kalla.
“Iya, Mei. Aku paham, tapi, aku tahu aku harus bagaimana dengan perasaanku sendiri. Kita memang sahabat, tapi, bukan berarti kita bisa ikut campur masalah hati. Kita nggak bisa mengatur sama siapa kita bisa jatuh hati,” Kalla mencoba menjelaskan lagi kepada Meira.
“Ahhhh sudah deh, kayaknya memang percuma gue marah sama Lo. Lo juga nggak akan jujur sama perasaan Lo sendiri,” Meira akhirnya menyerah.
Kalla dan Meira tidak melanjutkan salah paham ini karena memang tidak akan ada ujungnya. Kalla akan tetap dengan prinsipnya, tidak mau menerima Aksa lebih dari seorang sahabat. Kalla tidak ingin menjadikan Aksa berbeda dari versi sebelumnya. Kalla tidak mau kehilangan Aksa, jika suatu saat mereka tidak bisa melanjutkan hubungannya. Aksa terlalu berharga untuk menjadi orang lain di hidup Kalla. Mungkin bagi sebagian orang, Kalla munafik. Namun, Kalla memang benar-benar tidak ingin kehilangan orang untuk bersandar. Jika Kalla dan Aksa menjalin hubungan, dengan siapa Kalla akan bersandar ketika ada masalah diantara mereka?
Kampus semakin siang semakin ramai. Hampir semua gedung yang ada di kampus dipenuhi oleh para mahasiswa. Kalla melihat bagaimana keramaian itu terjadi. Sembari mencari ide dari outfit para mahasiswa di kampusnya. Kalla senang sekali, karena teman-teman dan seniornya memiliki selera penampilan yang berbeda, sehingga akan ada banyak ide yang masuk untuk Kalla.