Setelah menjadi mahasiswa, Kalla sibuk dengan segala tugas dan hiruk pikuk perkuliahannya. Kalla tidak terlalu ambil pusing lagi bagaimana keadaan di rumahnya. Entah akan sunyi seperti tak berpenghuni, atau ramai dengan segala perdebatan tidak jelas. Kalla hanya ingin fokus dengan masa depannya. Hanya ini saja yang bisa membuat Kalla bangkit dari patah hati yang dibangun oleh kedua orang tuanya. Meskipun sesekali Kalla rindu dengan seisi rumah, tetapi, Kalla bisa menahannya saat sibuk melanda. Kalla bisa sampai dini hari mengerjakan tugasnya sebagai mahasiswa baru. Apalagi saat sedang akan ada fashion show ala kampus. Kalla bisa tidak tidur seharian hanya untuk menyelesaikan semua desainnya.
Mama dan Papa Kalla memutuskan untuk menunda perceraian mereka. Alasannya karena belum bisa berpisah. Kalla tidak berkomentar apapun. Kalla hanya bersyukur, masih bisa melihat kedua orang tuanya dengan lengkap di satu rumah. Meskipun kesibukan membuat Mama dan Papanya seperti tidak memiliki seorang anak. Tapi, yang terpenting melihat mereka ada, sudah membuat Kalla lega. Kalla tidak akan memaksakan kehendaknya lagi sebagai anak. Karena apapun yang Kalla lakukan, tidak bisa terkalahkan oleh materi. Mama dan Papa Kalla hanya memikirkan materi dalam kehidupannya saat ini. Orang tua Kalla sangat takut jika kehidupannya seperti dulu lagi. Padahal, Kalla sangat mengharapkan kehidupan yang dulu hadir kembali. Hidup sederhana, kebersamaan yang selalu ada, rumah dipenuhi dengan tawa dan bahagia, dan pastinya tidak ada pertengkaran di setiap sudutnya. Sayangnya, impian Kalla yang satu ini mungkin akan segera pupus. Tidak ada pondasi yang kuat untuk membangun keluarga seperti dulu lagi. Satu persatu sudah mulai runtuh, sehingga untuk membangunnya hanya ada sebuah kemungkinan tanpa kepastian.
Pagi ini Kalla menuruni anak tangga untuk turun ke bawah. Kalla melihat Mama sedang berada di dapur rumahnya. Menyiapkan roti yang baru saja dibeli di supermarket sebelum Mamanya berangkat ke kantor, rumah pertama bagi Mamanya saat ini. Kalla sempat menghentikan langkahnya ketika tahu ada Mamanya di sana. Kalla bingung harus basa-basi bagaimana jika berdua dengan Mamanya. Karena, sekarang Kalla merasa sangat canggung. Kalo juga takut jika ekpektasi Kalla terlalu tinggi kepada Mamanya.
"Mama tumben udah ada di dapur pagi ini?" Tanya Kalla saat sudah tiba di dapur setelah berpikir lama ketika menuruni anak tangga.
"Iya, Mama harus berangkat ke kantor pagi pagi banget, Kal. Jadi, Mama siapin dulu sarapan buat kamu," jawab Mamanya tanpa ada basa-basi yang lain.
"Mama nggak ada libur dalam satu Minggu itu?" Kalla bertanya dengan sangat hati-hati.
"Engga ada, Kal. Kalau Mama libur, banyak pekerjaan yang terbengkalai," ucap Mama Kalla sambil meletakkan semua sarapan di meja makan.
"Emangnya, nggak ada orang lain yang bantu Mama? Mama nggak pernah di rumah loh, Ma. Mama selalu ada di kantor. Kantor bukan lagi rumah kedua buat Mama, justru rumah ini yang menjadi rumah kedua untuk Mama," Kalla mulai sedikit mengeluarkan unek-uneknya.
"Kenapa sih, Kal? Tumben tanya seperti itu? Disuruh Papa kamu, ya?" Mama Kalla malah berpikiran negatif tentang pertanyaan yang Kalla ajukan.
"Ma, Kalla kan anak Mama. Kalla juga berhak tahu dong tentang kesibukan Mama dan Papa. Kalla selalu sendirian di rumah, Kalla juga sesekali kangen sama Mama dan Papa," Kalla kembali berbicara.
"Iya kan bisa telepon Mama atau Papa kalau ada apa-apa. Mama berangkat ke kantor dulu, ya," pamit Mama Kalla naik ke atas mengambil semua barang dan perlengkapan ke kantornya.
Kalla menunduk, tidak menjawab pamitan dari Mamanya itu. Sebenarnya, Kalla tidak ingin mengambil pusing lagi. Namun, sesekali ada perasaan rindu terhadap orang tuanya. Sekarang yang di benak Mama dan Papanya hanya pekerjaannya saja. Terkadang sampai tidak pulang ke rumah, tidak ada kabar ke anaknya, dan entah kemana saja pekerjaan Mama dan Papanya. Kalla hanya tahu jika Mama dan Papanya bekerja. Tanpa lebih sedikit pun. Hembusan napas Kalla terdengar seperti sebuah kekecewaan setelah mengajak Mamanya ngobrol. Papa Kalla masih tertidur di kamar, semalam pulang sangat larut. Kalla tidak ingin banyak bertanya. Karena lelah akan membuat semuanya seperti salah. Kalla mengindari membuat Papanya emosi setelah pulang dari kantornya.
Saat melihat Mamanya masuk ke mobil, memasukkan tas dan barang lain, hati Kalla seperti ada yang pergi. Masih sempat saat sedang bersiap, Mamanya mengangkat telepon dari seseorang. Padahal, jelas-jelas Kalla sedang ada di sampingnya. Menunggu dan menemani Mamanya bersiap pergi ke kantor. Mama Kalla sangat cantik, memakai blazer warna navy, rambutnya digelung modern, mengenakan rok mini, dan high heels hitam. Ya sudah cocok menjadi seorang wanita karier ibu kota. Kalla bangga dengan Mamanya yang pekerja keras. Namun, lebih bangga lagi jika Mamanya bisa bekerja lebih keras untuk keluarganya utuh kembali. Setelah melihat mobil Mama pergi, Kalla masuk untuk bersiap pergi ke kampus. Rasanya tidak ada semangat untuk hari ini. Bagaimana bisa Kalla bersemangat, jika yang Kalla butuhkan semangat, justru mematahkan.
"Ahhh, sudahlah. Aku sudah dewasa, harus bisa mengatasi setiap masalahku sendiri. Huhhhh," Kalla mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Dress berwarna coklat muda sudah menempel di badannya. Kali ini Kalla memilih untuk rambutnya diikat rapi. Dengan sedikit poni yang tersisa, wajah Kalla menjadi lebih terlihat fresh. Make up tipis yang Kalla aplikasikan di wajahnya membuat Kalla semakin cantik. Wajahnya yang putih, hidungnya yang lumayan tinggi, matanya yang belok, membuat semuanya terlihat pas di kaca. Sesekali Kalla memutar badannya, untuk melihat apakah semuanya sudah sempurna atau belum.
"Oke lah," Kalla berkomentar tentang penampilannya sendiri.
"Ehhh sudah jam segini, aku bisa terlambat nanti," Kalla melihat jam yang ada di dinding. Lalu, Kalla ingat jika penampilannya masih kurang, karena belum mengenakan jam tangan.
"Nah, seperti ini lebih manis," Kalla memuji penampilannya hari ini. Supaya mood bagus, Kalla selalu memberikan penampilan terbaiknya hari itu.
Senyum Kalla di kaca mengakhiri dandannya. Kalla langsung mengambil tas, buku-bukunya, dan mengenakan flat shoes hitam. Lalu, membuka pintu kamarnya. Kalla lagi-lagi menuruni anak tangga untuk kesekian kalinya pagi ini. Saat di tengah-tengah tangga turun ke bawah rumahnya, Kalla melihat Papanya sedang menelepon seseorang. Kalla melihat Papanya sangat emosi. Tidak tahu apa yang terjadi, ingin rasanya Kalla menanyakan apa yang sedang terjadi. Tapi, itu hanya akan menambah kemarahan Papanya. Kalla mencoba tidak menggubris Papanya. Walaupun di dalam hati sangat khawatir dengan keadaan Papa. Kalla berlenggang turun, tiba-tiba saat Kalla sampai di bawah, Papa Kalla melempar gelas yang sedang berada di tangannya. Gelas itu tidak sengaja mengenai tangan Kalla. Papa Kalla tidak tahu jika Kalla berada di sana. Raut wajah Papanya terlihat sangat merasa bersalah, tapi, sepertinya tidak bisa menutup telepon itu begitu saja.
"Awwwww," teriak Kalla saat pecahan gelas itu mengenai tangan dan kakinya.
Kalla menahan tangisnya, tidak mau menangis di depan Papanya. Papa Kalla sempat memajukan langkahnya untuk melihat keadaan Kalla, namun, di sebrang telepon ada orang yang sedang marah-marah. Papa Kalla kembali mundur dan memilih menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalla mengambil tissue di ruang tamu, untuk menghilangkan darah yang ada di tangan dan kakinya.
"Kalla? Kamu kenapa?" Tanya Gibran yang sudah ada di depan rumah Kalla.