Bab 42 (12 Januari 2022)
Tidak pernah ada di benak Kalla kisah indahnya di masa kecil, akan sirna di masa dewasanya. Dulu, Papa dan Mamanya sangat memerlukan Kalla dengan baik. Kalla tidak pernah kekurangan cinta, kasih sayang, bahkan apapun yang ada di dunia ini, Kalla tidak pernah merasa kurang. Sebab, cinta Papa dan Mamanya sudah terlalu besar. Tidak pernah ada luka yang dibiarkan begitu saja. Tidak ada air mata yang mengalir deras di pipinya. Kalla hanya mengerti bagaimana arti bahagia, Kalla hanya tahu bagaimana cara tertawa, dan menikmati hidup bersama kedua orang tuanya. Kalla merasa anak paling beruntung dimasanya. Sepertinya Kalla tidak mengerti apa itu kesedihan, kesepian, dan apa itu arti penderitaan. Semua indah diwaktu Papa dan Mamanya belum memprioritaskan materi. Setelah mengenal materi, sederhana sirna begitu saja. Keluarga entah dimana letaknya. Cinta dan kasih sayangnya terbang dengan segala keegoisannya. Semua cinta berubah, lebih mencekam daripada kegelapan. Semua kasih sayang berkurang, seperti air yang surut saat musim kemarau, dan entah kapan akan terisi dengan air kembali. Seperti sungai yang rindu akan air hujan.
Kahidupan Kalla sekarang berbanding terbalik. Semua yang ada hanyalah sunyi, sepi, sendiri. Tidak lagi ada kebahagiaan yang Kalla dapatkan dari Mama dan Papanya. Awalnya, Kalla menolak dengan semua yang terjadi. Kalla tidak terima apa yang menjadi kenyataan di depannya. Kalla berontak, ingin kembali ke masa kebahagiaannya. Tapi sekarang, sepertinya itu tidak lagi berguna. Keberadaan Kalla hanya sebagai hiasan yang sesekali diperhatikan. Tanpa ada cinta dan kasih sayang lagi diberikan. Hingga kini, banyak luka dalam diri Kalla. Dalam hati Kalla, dalam ingatan Kalla, bahkan dan tubuh Kalla. Emosi dari kedua orang tuanya membekaskan luka bagi Kalla. Pagi ini contohnya, dulu, Papa Kalla tidak pernah seperti ini kepadanya. Ada hal kecil yang menimpa Kalla akan menjadi hal besar untuk Papanya. Kini, apapun yang menimpa Kalla akan kalah dengan semua pekerjaan yang sedang dikerjakan.
“Kamu tunggu di mobil, ya,” pinta Gibran kepada Kalla yang masih menutupi tangan dan kakinya dengan tissue. Kalla tidak lagi merasakan sakit di tangan dan kakinya yang terkena pecahan gelas. Di hari Kalla, lebih sakit dan perih. Ingin menangis, tapi sepertinya ini bukan saatnya menangisi sebuah masalahnya. Akan ada saatnya masalah lebih besar yang Kalla hadapi dan pantas Kalla tangisi.
“Ada apa sih, Kal? Kenapa bisa kamu sampai kena pecahan gelas kayak gini?” Gibran sangat khawatir ketika melihat tangan dan kaki Kalla mengeluarkan darah. Kalla hanya diam, tidak menjawab pertanyaan dari Gibran sedari Gibran sampai di rumah Kalla. Meskipun sebenarnya Gibran mendengar teriakan Papa Kalla di rumahnya, tetapi, Gibran tidak ingin menciptakan spekulasi karena akan menambah kesedihan untuk Kalla.
“Tahan sebentar, ya. Aku bantu kamu obatin lukanya,” Gibran berusaha untuk membantu Kalla mengobati lukanya.
“Biar aku aja, kak,” ucap Kalla menolak bantuan dari Gibran.
“Udah, biar aku aja. Kalau sakit, bilang ya,” Gibran memulai mengobati luka di tangan juga kaki Kalla.
Kalla termenung sambil merasakan perih di tangan dan kakinya saat Gibran mengobati lukanya. Rasanya memang tidak seberapa dibanding dengan bagaimana Kalla menghadapi pertengkaran kedua orang tuanya. Namun, ini benar-benar tidak pernah Kalla bayangkan. Papa Kalla sudah berubah. Bukan lagi seorang raja bijaksana yang memperlakukan Putri semata wayangnya dengan penuh cinta. Kalla sangat rindu dengan istananya yang dulu. Istana yang dihuni oleh Raja, Ratu, dan Putri di dalamnya. Hanya ada kebahagiaan, tanpa ada air mata dan kesedihan lainnya.
“Sekarang kakinya, kamu tahan ya,” Gibran beralih ke kaki Kalla. Bagian tangan Kanan dan kaki kanan Kalla terkena pecahan gelas yang dilemparkan oleh Papanya. Kalla tahu, Papanya tidak akan sengaja melakukannya kepada Kalla. Namun, mengapa tidak ada perasaan khawatir lagi di hati Papa Kalla. Padahal, sudah jelas terlihat jika tangan dan kaki Kalla mengeluarkan darah.
Gibran mengobati bagian kaki Kalla dengan serius. Kalla sesekali mengerutkan alisnya, menahan kesakitannya dengan mengeluarkan keluhannya lirih. Kalla tidak ingin menambah kekhawatiran Gibran kepadanya. Kalla tidak mau orang-orang di sekitarnya merasa direpotkan olehnya lagi. Gibran meniup kaki Kalla dengan lembut, Gibran memastikan jika Kalla tidak merasa kesakitan.
“Sakit?” Gibran bertanya karena akan memasang perban di kakinya.
Kalla hanya menggelengkan kepalanya. Tidak ada jawaban dari mulutnya, karena Kalla masih menahan tangis atas kejadian pagi ini. Hati siapa yang tidak hancur ketika disakiti oleh cinta pertamanya. Hari ini sangat membuat Kalla kacau. Tidak tahu apa yang akan Kalla lakukan untuk memperbaiki suasana hatinya. Tatapan Kalla sangat kosong, Kalla tidak tahu apa yang ingin diucapkan dan dilakukan.
“Sudah,” Gibran selesai mengobati luka Kalla.
“Makasih, kak,” ucap Kalla singkat sambil melihat bagaimana luka di tangan dan kakinya sudah terbungkus oleh perban.
“Kamu yakin baik-baik aja?” Gibran mengkhawatirkan keadaan Kalla.
Kalla mengangguk, melengkungkan sedikit senyumnya agar Gibran tidak terlalu khawatir kepadanya. Meski keadaan Kalla memang sedang tidak baik-baik saja, Kalla tidak mau ada orang yang pikirannya terganggu karenanya. Kalla ingin semua berjalan seperti biasanya, seperti tidak terjadi apa-apa. Biar Kalla yang merasakan bagaimana sulitnya menerima kenyataan pahitnya hidup saat ini.
“Mau makan?” tanya Gibran sebelum Gibran melajukan mobilnya ke kampus.
“Engga usah, kak. Aku udah kenyang,” Kalla menutupi jika memang perutnya sedang lapar. Kalla sedang tidak ingin makan apapun.
“Kita ke kampus ya?” Gibran bertanya untuk memastikan Kalla yakin dengan keputusannya berangkat ke kampus.
“Iya,” Kalla menjawab, kali ini senyumnya lebih lebar.
Keriuhan di kampus seperti biasa. Mereka seolah tidak memiliki masalah di dihudpnya. Namun, itu hanyalah Opini saja. Semua orang yang masih diberikan napas oleh Tuhan, maka memiliki masalah dalam hidupnya. Hanya saja cara mereka menutupi segala permasalahannya berbeda-beda. Ada yang dengan tersenyum begitu saja, bermain dengan kawan lainnya, bucin dengan pacar, atau melampiaskan dengan menambah giatnya belajar mereka di kampus. Cara orang menutupi masalahnya tidak ada yang sama. Jadi, Kalla rasa Kalla harus bisa menutupi masalahnya sendiri seperti orang lain. Tidak terlihat memiliki masalah di dalam hidupnya. Hembusan napas Kalla barusan menandakan jika Kalla siap menyambung harinya, meskipun paginya sudah dirusak oleh Papa Kalla sendiri.
“Tunggu,” Ada yang menarik tangan Kalla sebelah kiri. Suaranya memang tidak asing, tapi apa benar itu Aksa?
Kalla menoleh ke arah orang yang menarik tangannya.
“Huhhhh,” Aksa seperti kehabisan kata-kata ketika melihat tangan dan kaki Kalla diperban tanpa tahu alasannya.
“Tangan Kalla lagi luka, Lo bisa nggak pelan-pelan pegangnya?” Gibran memperingati Aksa agar berhati-hati karena Kalla sedang terluka.
“Udah, kak. Aku nggak apa-apa kok, i’m fine,” ujar Kalla agar tidak terjadi pertengkaran antara Gibran dan Aksa lagi.
“Kak Gibran masuk ke kelas aja, ya,” Kalla meminta Gibran masuk ke kelasnya saja. Gibran pun meninggalkan Kalla dengan Aksa di parkiran mobil. Tidak lupa Gibran menitip pesan kepada Aksa, agar bisa menjaga Kalla dengan baik. Gibran akan menemui Kalla saat waktu istirahat nanti.
Kalla mengajak Aksa ke kantin kampus. Kelas Kalla masih setengah jam lagi dimulai, Kalla masih punya waktu untuk ngobrol sebentar dengan Aksa sambil memanjakan tenggorokannya yang sudah mulai kering. Sambil berjalan, Aksa menggandeng tangan kiri Kalla. Karena tangan Kalla sedang terluka, Aksa menggantinya dengan tangan kiri. Sedang, tangan kiri Aksa mengambil ponsel dari sakunya dan menelpon Meira.
Aksa memesankan minuman kesukaan Kalla. Untung saja di kampus ada juga minuman kesukaan Kalla, manis dan dingin. Hampir semua yang manis dan dingin Kalla suka. Aksa mengambilkan pesanannya untuk Kalla. Sebelum mengintrogasi Kalla, Aksa mempersilakan Kalla untuk menenggak minumannya terlebih dahulu. Aksa juga ingin minum sebelum mulai mencerca Kalla dengan banyak pertanyaan. Suasana diantara Kalla dan Aksa mulai sedikit canggung, terlihat sangat kikuk. Entah kemana keceriaan yang terjalin hampir belasan tahun itu. Aksa dan Kalla juga tidak saling menatap, entah hati siapa yang sedang mereka jaga. Setelah air minum di gelas milik Kalla tidak lagi penuh, Aksa memulai pertanyaan untuk Kalla.
“Kal, ada apa sih sebenarnya?” Aksa sudah memulai segala kekhawatirannya.
“Apa? Kenapa?” Kalla ingin pertanyaan yang lebih jelas dari Aksa.
“Kamu selama ini belum pernah jauh dari aku, Kal. Apapun selalu aku tahu tentang kamu. Tapi, setelah kenal sama Gibran, kamu nggak melihat ke aku lagi. Kenapa sih?” Aksa memulai pembicaraan lain terlebih dahulu.
“Sa, aku lagi nggak mau bahas tentang itu, ya. Yang jelas, aku sama sekali nggak menjauh dari kamu. Cuma, saat ini ada beberapa hal yang bikin kita nggak sedekat dulu. Tapi, bukan berarti kita jauh. Kita Cuma ada jarak sedikit aja. Supaya nggak banyak salah paham lagi diantara kita. Terutama salah paham sama Mama kamu,” ujar Kalla menjelaskan semua jawabannya.
“Oke, aku coba ngerti sekarang. Tapi suatu saat aku nggak mau kita berjarak kayak gini. Biar apa sih? Biar kamu leluasa sama Gibran? Biar nggak ada yang ganggu kamu sama Gibran?” Aksa masih saja kembali ke pertanyaan sebelumnya.
“Aksa, hari ini aku lagi pengen ngerasain seneng, ketawa, bahagia. Aku nggak ingin ada salah paham lagi diantara kita. Tentang aku dan Kak Gibran, kita nggak pernah ada yang tahu akan berujung seperti apa. Sekarang yang penting aku nyaman, dan baik untuk aku, aku nggak akan menghindar. Lagian, aku juga nggak menjauh dari kamu, aku juga nggak melupakan kamu. Aku masih tetap butuh kamu dan Meira. Kalian tetap yang aku butuhkan,” Kalla kembali menjelaskan agar Aksa tidak lagi membahas ke masalah ini lagi.
“Huuhhh,” Aksa membuang napasnya sebelum melanjutkan bertanya.
“Kenapa kaki sama tangan kamu?” Aksa kembali dengan lembut melemparkan pertanyaannya.
“Hmmmm,” Kalla baru mau menjawab, namun, Meira sudah datang dan membuat heboh di kantin.
“Kallaaaaa,” Meira teriak melihat perban yang ada di tangan dan kaki Kalla.
“Kenapa Lo bisa sampai kayak gini?”
“Lo kenapa sih selalu datang nggak tepat waktunya? Kalla baru mau jawab, Lo main sela aja!” Aksa kesal karena Meira membuat Kalla berhenti berbicara.
“Gue khawatir, Sa!” Meira mendorong kepala Aksa karena kes dimarahi.
“Ssssttt, kenapa sih masih aja pada berantem. Udah pada kuliah, kurangin kali berantemnya,” omelan lembut Kalla mengakhiri perdebatan Aksa dan Meira.
“Gini ya, aku nggak mau membuka luka aku hari ini. Yang jelas, tangan dan kaki aku kena pecahan gelas kaca,” Kalla tidak menjelaskan panjang lebar apa yang sudah terjadi kepadanya. Sebab, luka Kalla tadi pagi bukanlah untuk dibagi, hanya untuk dirasakan sesaat.
“Kok bisa? Lo ngapain sih?” Meira masih penasaran dengan tangan dan kaki Kalla.
“Plissss banget, aku belum bisa cerita yang lengkap. Aku Cuma bisa cerita kenapa tangan dan kaki aku berdarah,” Kalla lagi-lagi menjelaskan alasannya tidak bercerita lengkap.
“Kenapa ya, Kak Gibran yang lebih paham bagaimana cara memperlakukanku saat ini? Kenapa hanya Kak Gibran yang mengerti jika aku belum ingin membagi apa yang terjadi?” Kalla berbicara dalam hati.
“Kamu nggak percaya lagi sama aku?” Aksa mulai memaksa Kalla.
“Sa, plisss. Ngertiin keadaan aku sekarang, ya. Aku Cuma ingin dingertiin dulu, nggak lebih,” Kalla memohon kepada Aksa.
Aksa mengangguk, mencoba memahami permintaan Kalla. Walaupun dibenaknya banyak yang ingin Aksa tahu dari Kalla. Aksa tidak tahu kenapa perasaannya bisa menguasai pikiran dan hatinya saat ini. Mungkin, cemburu dan takut kehilangan Kalla sudah melebur dalam di hati Aksa. Sehingga membuat emosi Aksa tidak teratur. Aksa juga sadar, sekarang ini Aksa lebih memaksakan kehendaknya, daripada mengerti juga memahami apa yang Kalla rasakan.
“Ahhh, gue kenapa sih jadi kayak gini. Gue kenapa jadi gegabah banget,” Aksa menyalahkan dirinya sendiri sambil mengepalkan tangannya di meja setelah Kalla dan Meira meniggalkannya sendirian di kantin.
Semenjak kedekatan Kalla dan Gibran sampai ke telinga Aksa, Aksa hampir tidak pernah bisa menjaga emosinya. Sering sekali Aksa ingin merebut Kalla dari Gibran, perempuan yang selama ini Aksa jaga, Aksa perlakukan seperti ratunya kini sudah diambil oleh laki-laki lain. Jika bisa memaksa, Aksa ingin memaksakan kehendaknya saja. Tidak ingin mengalah dengan perasaan orang lain. Aksa ingin merebut Kalla kembali, tidak mau Kalla dimilik oleh laki-laki lain. Tapi, sayangnya memaksakan kehendak bukanlah jalan terbaik. Itu akan membuat jarak antara Kalla dan Aksa semakin jauh. Aksa akan lebih sakit jika Kalla semakin jauh darinya. Bersama dengan Gibran saja sudah cukup membuat luka di hati Aksa, apalagi sampai Kalla menjauh. Entah bagaimana perasaannya kelak. Aksa tidak mau menyalahkan perasaan lebihnya kepada Kalla, karena memang itu haknya. Semua berhak memiliki perasaan istimewa kepada orang lain. Apalagi Aksa dan Kalla sudah bersama sejak bertahun-tahun lalu. Sulit bagi Aksa untuk tidak memperlihatkan perasaannya yang sesungguhnya. Namun, kembali lagi, perasaannya tidak terbalas bukan berarti Aksa bisa memaksa semua yang Aksa ingin. Daripada Aksa kehilangan Kalla, lebih baik Aksa berusaha menyembunyikan perasaannya.
Kalla juga demikian. Tidak pernah ada niatan untuk mencari laki-laki lain ketika bersama dengan Aksa. Tetapi, Kalla juga tidak mau kehilangan Aksa begitu saja. Aksa terlalu berharga di dalam hidupnya. Aksa sudah mengisi air di sungai Kalla yang sempat surut, Aksa juga telah mengisi segala kekosongan hari-hari Kalla. Dari cengengnya dua insan hingga kini sudah bisa memutuskan masa depannya sendiri. Kalla ingin Aksa selalu ada untuk Kalla. Bahu Aksa masih sangat Kalla butuhkan jika ada sesuatu yang terjadi. Tangan Aksa juga masih dibutuhkan untuk Kalla, untuk menjaga, juga mendampingi Kalla sampai nanti mereka menemukan pasangan masing-masing. Bukannya Kalla egois, tapi, Kalla pun akan melakukan hal yang sama seperti Aksa memperlakukannya.