Hari ini sungguh sulit untuk Kalla. Ingin Kalla berbahagia dengan apapun yang dikerjakan. Tetapi, pagi tadi sudah merenggut setengah kebahagiaannya. Sulit untuk kembali membangun kepercayaan diri, agar hari itu bisa bahagia seperti yang lainnya. Pun tidak mudah bagi Kalla menyembunyikan segala kesedihannya, seperti orang lain. Ingin sekali Kalla bersembunyi dibalik masalah dan kemalangannya. Tetapi, ternyata memang tidak semudah dibayangkan. Raut wajah Kalla juga tidak bisa berbohong, jika hari itu sedang ada dalam masalah. Matanya sayu, bibirnya kaku untuk tersenyum manis. Meskipun Kalla memaksakan setiap berinteraksi dengan orang lain.
Di kelas Kalla sempat kesulitan menahan luka di tangannya. Luka itu masih sangat basah, dibagian bawah sikunya. Rasanya ingin berteriak, mengeluh dengan rasa sakit yang tidak seberapa itu. Sungguh mengganggu kegiatan Kalla. Saat menggambar desain ataupun mempraktekkannya.
“Lo baik-baik aja, kan?” tanya Meria notice Kalla gelisah.
Kalla mengangguk kecil, membohongi dirinya juga Meira. Kalla tidak ingin orang lain tahu jika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada pilihan lain selain berbohong dan menutupi semuanya.
Sore hari sudah tiba, waktu Kalla di kampus pun sudah habis. Tidak ada kelas lagi hari itu. Artinya, Kalla harus pulang ke rumah.
“Aku seperti udah nggak punya rumah lagi,” ujar Kalla sambil berjalan ke laut dari kelasnya.
Rasanya tidak ingin kembali ke rumah, pasti pecahan gelas itu masih berserakan di rumahnya. Tetesan darah dari tangan atau kaki Kalla mungkin juga masih ada di sana.
“Ahh gimana aku bisa tenang di rumah, kalau rumah itu sendiri menyimpan banyak ketakutan,” Kalla kembali mengeluh tentang dirinya dan permasalahan di rumahnya.
“Gue anter balik ya, Kal?” Meira sudah tidak marah lagi kepada Kalla. Meira justru khawatir dengan keadaan Kalla. Apalagi Kalla masih belum mau bercerita tentang apa yang terjadi sebenarnya. Meira hanya bisa mendampingi dan menemani Kalla saja.
“Engga usah, Mei. Biar aku pulang sendiri aja naik taksi online. Nggak perlu khawatir, aku baik-baik aja kok,” Kalla menyembunyikan semuanya dari Meira.
“Yakin Lo? Atau Lo pulang sama Aksa aja, ya? Gue khawatir Lo kenapa-kenapa di jalan,” Meira khawatir dengan Kalla.
“Hehe, beneran Mei, aku baik-baik aja. Buktinya masih kuat jalan kesana kemari dari tadi, kan?”
“Mulut Lo bisa bohong, tapi, mata Lo nggak bisa berbohong,” Meira membuat Kalla tidak bisa menjawab lagi.
“Hmmm, kalau nggak Lo pulang sama Kak Gibran aja deh. Kali ini gue setuju. Karena gue nggak mau ada apa-aoa sama Lo. Jadi, gue izinin lo pulang sama kak Gibran,” Meira tiba-tiba mengizinkan Kalla pulang sama Gibran.
“Emang selama ini Lo nggak pernah izinin Kalla pulang sama gue?” Gibran ternyata sudah ada di belakang Kalla dan Meira.
“Waduh, ini orang udah ada di belakang gue aja,” desis Meira pelan.
“Iya, nggak gue izinin Lo nyakitin sahabat gue,” Meira nyolot.
“Siapa yang nyakitin Kalla sih? Coba Lo tanya sama Kallanya sendiri?” Gibran membalas Meira dengan nyolot juga.
“Ih udah jangan berantem di sini, nggak enak diliat orang lain,” Kalla tidak mau Gibran dan Meira ribut lagi.
“Udah sana Lo balik, daripada gue maki-maki dia di sini,” Meira membisikan ke telinga Kalla.
“Apaan sih, Mei,” Kalla menolak permintaan Meira.
“Kita pulang sekarang,” Gibran menggandeng tangan Kalla.
Sepertinya untuk menolak permintaan Aksa dan Meira lebih mudah daripada menolak permintaan dari Gibran. Kalla sulit menolak apapun yang sudah Gibran lakukan. Contohnya antar jemput, atau membantu apapun yang Kalla butuhkan.
“Masuk, kenapa masih diem?” Gibran membuka pintu mobil untuk Kalla tetapi, Kalla masih belum mau masuk ke mobil Gibran.
Dari jauh, Aksa melihat kebersamaan Kalla dan Gibran. Cemburu itu selalu ada, tapi, bagaimana Aksa menyembunyikan saja setiap harinya. Sebab, seperti tidak ada kesempatan untuk Aksa mengungkapkan kecemburuannya kepada Kalla. Jika Aksa mengungkapkan, pasti Kalla akan semakin menjauh dari Aksa.
Meira datang menghampiri Aksa. Perasaan memang tidak bisa dipaksa, tetapi, ada baiknya kita saling menjaga. Meira kasihan melihat Aksa, sahabatnya merasa sedih dan kehilangan Kalla. Meira pun juga sama dengan Aksa. Merasa kehilangan Kalla yang dulu. Padahal, Kalla baru saja mengenal Gibran. Namun, sekarang seperti mereka sudah lebih dekat, daripada dengan Meira dan Aksa. Meira menepuk pundak Aksa. Memberikan kode lewat matanya jika semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti semula, tak akan lama. Aksa menatap mata Meira dengan diamnya. Sepatah kata pun sulit untuk Aksa uraikan saat itu. Terlalu sesak di dalam dadanya, pun terlalu penuh dalam pikirannya.
“It’s oke, Dan! Kalla Cuma butuh waktu dari semua kesalahpahaman antara Lo sama dia. Gibran Cuma mungkin jadi pelariannya saat ini,” Meira menenangkan Aksa.
“Pelarian gimana?” Aksa tidak paham maksud ucapan dari Meira.
“Pelarian perasannya Kalla. Kalla nggak bisa Nerima perasaan Lo, karena dia nggak mau persahabatan Lo dan Kalla rusak. Ya, dari situ Kalla cari perasaan lain, supaya dia tetap ada Lo sebagai sahabatnya,” jawab Meira seolah seperti mengerti semua tentang perasaan Kalla.
“Gue kira ini bukan Cuma pelarian. Kalla udah mulai pakai perasannya,” Aksa mengelak ucapan Meira.
Dari tatapan matanya, gerak geriknya, Kalla memang terlihat mulai jatuh cinta dengan Gibran. Aksa belum pernah membayangkan bagaimana jika Kalla meminta izin untuk menerima cowok lain sebagai pasangannya. Sampai sekarang pun Aksa masih tidak mau bayangan itu terjadi nyata. Aksa hanya ingin menjadi satu-satunya di hidup Kalla. Walaupun memang itu egois, tapi, perasaannya sulit dilenyapkan. Menyembunyikannya pun tak mudah buat Aksa. Belasan tahun Aksa menahan semuanya, tapi, ketika sudah saatnya ternyata hati Kalla tidak mengizinkan Aksa ada di dalamnya. Justru orang baru yang bisa masuk tanpa ada ragu dari Kallanya sendiri. Meira tidak bisa berbuat banyak, untuk Aksa maupun Kalla. Meira hanya bisa mendukung mereka berdua. Sebisa Meira, semampu Meira. Meski kekecewaan ada saat ini.
“Gue yakin, yang sebenarnya Kalla butuhkan itu bukan Gibran, melainkan Lo,” ucap Meira sambil kembali menepuk pundak Aksa yang mulai melemah melihat Kalla dan Gibran pergi berdua.
Aksa menengok ke arah Meira. Ingin rasanya percaya dengan ucapan Meira. Jika bisa menjadi permintaan, itulah permintaan Aksa saat ini. Sayangnya, itu hanya sebuah opini. Opini yang kadang melebur jadi ilusi. Hancur dirampas oleh kenyataan, lalu berakhir menyakitkan.
“Gue Cuma berharap, Gibran bisa jaga Kalla lebih dari gue jagain Kalla,” suara Aksa melemah, seperti hampir tiba pada keputus asaannya.
“Kalau soal jaga Kalla, gue juga bisa, Sa. Kalla udah dewasa, Kalla bisa jaga dirinya sendiri. Sekarang bukan soal itu, sekarang soal bagaimana Kalla bisa memilih pasangan yang tepat,” Meira kembali beropini.
Banyak harapan ketika Meira melontarkan semua opininya. Aksa menanggapi dengan senyum palsunya. Kepura-puraannya mulai menyelimuti raut wajahnya. Tidak ingin membuat Meira khawatir juga membiarkan rasa kasihan diberikan kepada Aksa.
“Gue akan baik-baik aja. Lo tenang aja, gue akan tetep selalu jagain Kalla, akan selalu ada untuk Kalla. No matter what. Buat Lo juga, gue akan selalu ada,” giliran Aksa yang memegang pundak Meira, mengelus perlahan. Meyakinkan Meira jika Aksa tidak selemah yang Meira kira.