Kalla masuk ke mobil Gibran, seperti biasa. Awalnya mereka akan diam di mobil. Namun, lama kelamaan akan cair juga suasananya. Kalla tidak banyak bicara, lebih banyak diam dan menikmati perjalanan saja. Gibran juga fokus menyetir, tanpa mengajak Kalla berbicara. Banyak yang ingin Gibran tanyakan kepada Kalla, tapi, Gibran paham Kalla belum siap untuk bercerita apapun perihal kejadian tadi pagi. Mungkin, Kalla juga tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu.
Kalla memperhatikan jalan, sepertinya itu bukan arah jalan pulang ke rumah Kalla. Kalla sempat memastikan, apakah Kalla salah melihatnya, atau memang itu bukan jalan menuju ke rumah Kalla.
“Kak, kita mau kemana?” tanya Kalla memecah keheningan diantara mereka.
“Hmmmm? Lihat aja nanti,ya,” jawab Gibran tidak memberitahu akan kemana mereka pergi.
Kalla sempat merasa khawatir dan takut. Karena, Gibran sebelumnya belum pernah seperti ini. Kalla sudah berpikir negatif tentang Gibran saat itu. Akankah ada kejadian tak terduga kedua kalinya dihari itu? Kalla diam, memikirkan harus bagaimana di dalam mobil. Dalam diamnya, Kalla terus bertengkar dengan isi pikirannya sendiri. Kalla sesekali melihat ke arah Gibran yang fokus menyetir. Ingin bertanya kembali, tapi, Kalla tidak sanggup karena sudah mulai panik.
“Kak, kan kita mau pulang. Ini mau kemana?” tanya Kalla lagi dengan nada khawatir.
Gibran hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kalla. Lagi lagi Gibran tidak menjawab pertanyaan Kalla, hanya diam dan fokus memperhatikan jalan Saja. Lama kelamaan Kalla mulai panik dan merasa tidak nyaman. Kalla tidak mau ada kejadian tak terduga kedua kalinya dihari itu. Kalla pun meminta Gibran untuk menghentikan mobilnya.
“Kak, berhenti!” Kalla hampir menangis ketakutan.
Gibran panik melihat Kalla yang tiba-tiba saja berteriak panik. Gibran menuruti perkataan Kalla, menghentikan mobilnya. Gibran meminggirkan mobil, lalu langsung memastikan keadaan Kalla.
“Kamu kenapa, Kal? Kenapa?” Gibran ikutan panik dan khawatir dengan keadaan Kalla.
Kalla diam, hampir saja menangis.
“Kak, kan kita mau pulang. Ini mau kemana?” tanya Kalla lagi dengan nada khawatir.
Gibran hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kalla. Lagi lagi Gibran tidak menjawab pertanyaan Kalla, hanya diam dan fokus memperhatikan jalan Saja. Lama kelamaan Kalla mulai panik dan merasa tidak nyaman. Kalla tidak mau ada kejadian tak terduga kedua kalinya dihari itu. Kalla pun meminta Gibran untuk menghentikan mobilnya.
“Kak, berhenti!” Kalla hampir menangis ketakutan.
Gibran panik melihat Kalla yang tiba-tiba saja berteriak panik. Gibran menuruti perkataan Kalla, menghentikan mobilnya. Gibran meminggirkan mobil, lalu langsung memastikan keadaan Kalla.
“Kamu kenapa, Kal? Kenapa?” Gibran ikutan panik dan khawatir dengan keadaan Kalla.
Kalla diam, hampir saja menangis. Setelah kejadian tadi pagi, Kalla rasa tidak ada yang bisa dipercaya kecuali dirinya sendiri. Semua terasa sangat menyakiti hatinya. Cinta pertama Kalla saja tega kepadanya, apalagi hanya laki-laki lain, yang baru kenal dan masuk dalam kehidupannya. Kalla sudah berpikir buruk tentang Gibran. Tidak ada hal baik di dalam pikirannya saat ini. Kepercayaan Kalla hanya tinggal seujung kuku, itu pun hanya untuk dirinya sendiri. Jika Gibran sudah meleburkan kepercayaannya, Kalla tidak tahu harus bagaimana lagi. Kalla diam seribu bahasa. Matanya terpejam, air matanya mulai menetes. Menandakan semua sedang tidak baik-baik saja. Hati Kalla, pikiran, perasaan, dan semua dalam diri Kalla. Teriakan pun hampir keluar dari pita suaranya. Tetapi, itu semua tertahan. Gibran menggenggam tangannya.
“Hei, kamu kenapa? Are you oke?” Gibran panik melihat Kalla tidak seperti biasanya. Raut wajahnya mengeluarkan sejuta ketakutan, gerakan tubuhnya menandakan jika sedang berada pada puncak kekhawatiran.
“Kalla, denger aku. Kamu baik-baik aja?” Gibran mengulangi pertanyaannya dengan lembut agar Kalla tidak bertambah panik.
Masih belum ada jawaban dari Kalla. Matanya masih terpejam, sesekali bulir air matanya menetes deras, terkadang juga berhenti jatuh ke pangkuannya. Tangan Gibran mencoba meraih tangan Kalla lagi. Berusaha memberikan ketenangan lewat sentuhan tangannya.
“Kal, ada apa? Aku ada yang salah?” ketiga kalinya Gibran bertanya kepada Kalla. Gibran mencoba tidak larut dalam kepanikan.
“Coba kamu tarik napas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Kalau kamu mau teriak, silakan. Biar kamu lega,” Gibran memberikan saran kepada Kalla agar Kalla lebih tenang dan tidak merasa cemas lagi.
“Huhhhhhhhh.....”
Setelah beberapa saat, akhirnya Kalla pun berhasil melewati kepanikannya itu. Kalla mulai membuka matanya perlahan.
“Kita mau pulang kan, kak?” tanya Kalla dengar suara gemetarnya.
“Ohhhh...”
Gibran mulai paham dengan ketakutan Kalla barusan. Kalla takut jika Gibran akan melakukan hal yang tidak pernah Kalla bayangkan. Gibran mengajak Kalla ke tempat yang sama sekali belum pernah Kalla kunjungi, jalannya pun Kalla sama sekali tidak tahu. Dari situ muncul kekhawatiran Kalla. Gibran mengerti, lalu, Gibran memberikan pengertian kepada Kalla.
“Kal, aku tahu kamu pasti punya pikiran buruk tentang aku. Saat ini contohnya. Tapi please, percaya sama aku. Aku akan menghargai kamu, selayaknya perempuan harus dihargai. Maaf kalau aku bikin kamu cemas sampai seperti itu. Aku hanya ingin memberi kamu hiburan, supaya nggak sedih terus seperti tadi,” Gibran memberikan penjelasan kepada Kalla agar tidak ada salah paham.
“Maksudnya, kak?” Kalla masih belum paham betul.
“Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Aku harap tempat ini bisa sedikit menghibur kesedihan kamu. Boleh kan?” Gibran akhirnya meminta izin kepada Kalla untuk mengajak Kalla ke suatu tempat.
“Kamu minum dulu, ya,” Gibran membuka botol air mineral, dan memberikannya ke Kalla. Supaya Kalla lebih tenang juga bisa berpikir lebih positif.
“Boleh?” Gibran mengulangi pertanyaannya.
“Mau kemana?” Kalla ingin tahu kemana Gibran akan mengajak Kalla pergi. Supaya Kalla tenang di perjalanan.
“Ini surprise untuk kamu, jadi, boleh kan aku kasih tahu nanti aja?” Gibran belum mau memberi tahu dimana tempatnya.
“Aku janji, nggak akan ada kepercayaan dari kamu yang hilang lagi. Aku akan jaga, seperti aku jaga kamu selama ini,” Gibran memberikan janji agar Kalla percaya jika hari ini akan baik-baik saja.
Anggukan dari Kalla menandakan sebuah persetujuan. Gibran menjalankan mobilnya lagi, menuju ke tempat yang sudah dipersiapkan. Di perjalanan, Kalla masih belum banyak bicara. Tangannya sesekali menggenggam satu sama lain, agar bisa memberikan Kalla kekuatan, juga menghilangkan segala ketakutannya. Beberapa saat kemudian, Kalla dan Gibran sudah sampai di tempat tujuan. Raut wajah Kalla menyampaikan sebuah kebingungan. Gibran melontarkan senyumnya.
“Turun, yuk!” Gibran membuka pintu mobil untuk Kalla.
“Ini dimana, kak?” tanya Kalla sangat penasaran dengan tempat yang mereka tuju.
Mungkin saat ini jatuh cinta sudah melunturkan segala sikap dingin Gibran. Kini hanya ada kehangatan yang Gibran suguhkan, terutama untuk Kalla. Sebelumnya, Gibran belum pernah memiliki perasaan seperti ini kepada orang lain. Kalla perempuan pertama yang bisa membuat Gibran jatuh cinta.
“Kita masuk dulu ke sebelah sini, ya!” Gibran mengajak Kalla ke sebuah salon yang ada di sekitar mereka parkir.
Sore itu penuh kejutan bagi Kalla. Setelah ketakutannya melanda di mobil, kini, hanya ada penasaran dan antusias mengepung perasaannya. Gibran mengajak Kalla ke sebuah Fashion show milik salah satu kenalannya. Gibran membiarkan Kalla untuk mengganti pakaian yang sudah ia siapkan. Supaya Kalla tidak merasa Insecure dengan penampilan lainnya. Gibran juga mengganti bajunya, agar terlihat lebih rapi dan menghargai fashion show yang mereka datangi. Gibran selesai terlebih dahulu, saatnya menunggu Kalla yang masih berada di salon. Gibran tidak sabar melihat Kalla memakai dress pilihannya. Pasti akan terlihat sangat cantik seperti biasanya. Kalla terkenal dengan keanggunannya, cantik, dan juga menawan. Sayangnya Kalla sangat pendiam dan pemalu. Rasa percaya diri Kalla juga kurang sekali. Padahal, jika Kalla bisa menepis pendiamnya sedikit saja, Kalla bisa menjadi seorang model profesional.
“Hai, kak!” Sapa Kalla setelah selesai berganti pakaian dan berdandan.
“Hai... Seperti biasa,” Gibran kagum melihat Kalla yang tampil anggun di hadapannya.
“Kenapa?” Kalla mulai tidak percaya diri dengan perkataan Gibran.
“Cantiknya,” jawab Gibran sekaligus mengundang senyum mereka berdua.
“Udah siap, kan?” Gibran memastikan jika Kalla sudah siap untuk datang ke acara fashion show sore itu.
Kalla mengangguk, memberikan kode jika Kalla sudah siap untuk datang ke acara yang sudah Gibran siapkan. Gibra menggandeng tangan Kalla, berjalan berdampingan keluar dari salon menuju ke tempat fashion show berlangsung. Dress biru muda dengan bagian pundak sedikit terbuka menambah penampilan Kalla semakin mengesankan. Rambutnya yang digerai begitu saja, memperlihatkan jika memang Kalla sangat anggun dalam balutan dress dan tampilannya. Make up yang diberikan juga tidak terlalu tebal, hanya tipis agar Kalla tidak terlihat pucat. Heels putih melengkapi penampilan Kalla sore itu.
“Waaaahhh,” Kalla kagum dengan suguhan acaranya.
Kalla mulai mengembalikan senyumnya. Matanya mulai terisi dengan benih-benih kebahagiaan. Suaranya melupakan sejenak tentang masalah yang beberapa hari ini menerpa Kalla.
“Kamu suka?” Gibran menanyakan perasaan Kalla saat itu.
“Suka,” jawab Kalla sembari sedikit menempelkan kepalanya ke arah telinga Gibran, karena di sana sangat ramai dan berisik.
“Duduk, yuk! Acaranya hampir dimulai,” Gibran mengajak Kalla duduk.
Gibran dan Kalla serasi dalam tampilannya disenja kali ini. Balutan jas yang Gibran kenakan, menambah serasinya mereka duduk bersebelahan. Fashion show pun telah dimulai. Pandangan Kalla tak berpaling dari penampilan para model. Senyum Kalla sumringah, membuat senyum Gibran muncul di wajah. Sesekali Kalla memberikan pujian kepada model juga baju yang dipakai.
“Ahhh, so pretty!” Kalla sering seki melontarkan kata ini saat melihat menikmati fashion show di depannya.
Gibran juga ikut menikmati. Bedanya, Gibran menikmati senyum Kalla, kadang sampai tidak berpaling. Kalla tidak sadar jika Gibran terlalu memperhatikannya. Tatapannya hanya tertuju kepada model yang sedang melaju di hadapannya. Kekaguman Kalla terlihat dari bagimana Kalla menatap para model, juga dari suara Kalla yang sesekali Kalla keluarkan untuk memuji. Kalla sejenak berhenti dari kesibukannya memperhatikan para model. Kalla menengok ke arah Gibran, menatap wajah Gibran dengan penuh rasa terima kasih. Salah satu harapannya sudah Gibran kabulkan, tanpa harus Kalla meminta.
“Makasih ya, kak,” Kalla berterima kasih tepat di depan wajah Gibran. Gibran terkejut dengan tindakan Kalla tersebut.
“Hahhh,” Gibran terkejut matanya terbelalak saat melihat wajah Kalla tepat sekali di depan wajahnya.
Gibran dan Kalla terkekeh karena mereka saling menatap dekat. Hampir saja hidung mereka saling bersentuhan, untung saja Kalla segera memundurkan wajahnya. Kalla pun kembali dengan kesibukan barunya sore itu, memperhatikan model dan baju yang dipakai. Ide brilian banyak Kalla dapatkan. Senang sekali rasanya memiliki kesempatan berada di sana sekarang. Jika bisa berteriak, Kalla akan berteriak kencang, melampiaskan bahagianya saat itu. Sebab, sudah lama Kalla tidak merasakan sebuah harapannya terwujud begitu saja.