Episode Tanpa Judul

1001 Kata
Seperti biasa, hal yang membuat bahagia salah satunya ada pada Gibran. Gibran sudah merubah kemalangannya hari itu dengan bulir bulir bahagia. Gibran berusaha agar Kalla tidak terpuruk dalam kesedihannya. Gibran kasihan melihat Kalla berusaha menyembunyikan masalahnya. Maka dari itu, Gibran mengajak Kalla ke sebuah tempat yang membuat Kalla tidak menyangka. Kalla tidak pernah membayangkan hubungannya dengan Gibran akan sejauh ini. Kalla tidak pernah menyangka ada laki-laki selain Aksa masuk dengan mudah ke kehidupannya. Padahal, Gibran dan Kalla sebelumnya tidak pernah mengenal satu sama lain. Mereka baru saja bertemu saat Kalla menjadi mahasiswa baru. Malam mulai menenggelamkan terangnya langit. Bulan dan bintang mulai hadir menemani malam Kalla. Setelah Gibran pulang mengantar Kalla. Kalla masuk ke dalam rumahnya, dengan harapan tidak ada yang merusak bahagianya malam itu. Senyum sumringahnya tidak lepas dari raut wajah Kalla. Sesekali Kalla mengingat momen bersama Gibran tadi di sebuah tempat yang Kalla pun tidak pernah membayangkan. Sayangnya, harapan Kalla pupus seperti mimpi saat Kalla kecil. Mama dan Papanya sudah ada di dalam rumah dengan sebuah keributan. Pecahan gelas yang sempat melukai Kalla masih berada di lantai rumah. Tidak ada inisiatif membersihkan pecahan itu, Mama maupun Papa Kalla. Mama dan Papa Kalla masih saja beradu mulut, entah apa penyebabnya. Kalla benar-benar kehilangan kebahagiaan yang baru saja didapat. Semua sirna begitu saja ketika melihat pertengkaran Mama dan Papanya. Diam Kalla menyimpan sejuta kecewanya. Tak ada sepatah kata yang sanggup Kalla ungkapan saat itu. Ingin membiarkan begitu saja, tapi, pikiran dan hati Kalla dipaksa untuk menyaksikan semua pertengkaran. Kalla menatap Mama dan Papanya satu per satu. Mengirimkan sorot wajah kecewanya. Sayangnya orang tuanya masih saja terbalut ego masing-masing. Masih saja melanjutkan segala perdebatan. Tarikan napas Kalla melarang air matanya turun di pipi. Kalla mengambil sapu untuk membersihkan pecahan gelas tadi pagi yang menimpa tangan dan kakinya. Papa dan Mama Kalla melihat Kalla tanpa suara, tak peduli dengan pertengkarannya, lalu membersihkan pecahan gelas di depannya tanpa menatap Mama dan Papanya lagi. “Udah bersih, Ma, Pa. Jadi, cukup berdebatnya. Nggak enak didengar tetangga,” Kalla mengembalikan peralatan kebersihan setelah selesai menghilangkan pecahan gelas di lantai. Mama dan Papanya seperti malu saat Kalla bisa menyelesaikan permasalahan yang diributkan tanpa suara. Hanya dengan sekali tindakan semuanya selesai. Sedangkan Mama dan Papanya harus bertengkar. Meributkan apa yang tidak baiknya diributkan. Persoalan pecahan gelas di lantai saja bisa membuat perdebatan tanpa akhir. Seperti inilah pernikahan tanpa cinta yang masih dipertahankan. Semua masalah kecil akan membesar dengan sendirinya. “Kalau Mama dan Papa udah memutuskan untuk berpisah, kenapa masih tinggal bareng? Bukannya itu malah menyiksa satu sama lain? Kapan Mama dan Papa akan segera berpisah? Nggak capek apa setiap bertemu hanya bertengkar, berdebat? Walaupun perihal pecahan kaca di lantai saja bisa membuat pertengkaran hebat di rumah? Kalla nggak habis pikir deh,” Kalla menguatkan dirinya ketika berbicara di depan Mama dan Papanya. Setelah semua beres, Kalla naik tangga menuju ke kamarnya. Langkahnya mulai Kalla percepat, ingin segera merebahkan punggungnya di kasur. Supaya beban di rumahnya tak menguap ke hati dan pikirannya. Mama dan Papa Kalla menunda perpisahan. Hanya demi pekerjaan baik-baik saja. Jika perceraian terjadi diantara Mama dan Papanya, maka, image dimata kolega dan kliennya akan memburuk. Semua itu sangat dihindari agar tidak menggangu kinerjanya. Terutama kenaikan jabatan Mama dan Papanya. Kalla harus tetap bertahan dengan segala kekacauan. Kalla harus tetap hidup dalam lingkaran pertengkaran. “Huhhhhhh,” hembusan napasnya membuang segala masalah sepele yang dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Hanya demi materi, pertengkaran rela dijalani. Alibinya demi sang anak, demi membahagiakan anak satu-satunya. Jika tidak seperti ini, hidupnya akan kembali seperti dulu. Sederhana dan begitu saja. Tidak seperti sekarang yang apapun bisa dibeli, apapun bisa dilakukan. Bahkan, semua yang menjadi harapannya telah terwujud satu per satu. Namun, secara tidak sadar kasih sayang dan cinta di rumah ini, hilang sedikit demi sedikit. Ketika materi sudah menjadi prioritas, tidak ada lagi bahagia dalam keluarga. Pikirannya hanya perihal materi, pekerjaan, keberhasilan karier, dan semacamnya. Itu yang membuat jarak diantara Mama dan Papanya. Mama selalu ingin menunjukkan jika penghasilannya jauh lebih besar daripada Papanya. Sedangkan, Papanya selalu tidak terima. Pertengkaranlah yang akan menengahi selalu. Saling menjatuhkan, tidak ada dukungan. Pun tidak mau tahu apapun yang dilakukan, hanya ingin hasil yang besar. Sungguh ini membuat Kalla lebih sakit daripada anak-anak broken home lainnya. Perpisahan sebenarnya bukan karena perceraian, tapi karena tidak lagi ada cinta dan peduli diantara Mama dan Papanya. Rumah mewahnya hanya sebutan. Tidak ada kemewahan di dalamnya. Hanya ada keributan, kesepian, dan kesunyian. Selebihnya, hanya pajangan. Termasuk Kalla, dilihat setiap hari namun tidak pernah dipedulikan lagi. Kalla menyalakan shower di kamar mandinya. Menundukkan kepalanya, supaya yang terjadi barusan ikut mengalir bersama air yang jatuh dari shower. Menangis bukan lagi menyelesaikan masalahnya. Justru dengan ketidak peduliannya kini akan membuat Kalla lebih menikmati hidupnya. Keluar dari kamar mandi, Kalla merasa lebih baik. Segar di badan, juga hangat di pikiran. Kalla memakai piyama kesayangannya untuk menemani tidur. Berharap, tidurnya malam ini akan menghapus kenangan pahit yang terjadi hari ini. Tentang gelas yang dilemparkan oleh Papanya, juga pertengkaran aneh Papa dan Mamanya. Pun juga perihal tentang penundaan perpisahan Mama dan Papanya dengan alasan yang tidak masuk akal. Kalla ingin membuangnya jauh, lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi. Tinggal lampu tidur saja yang menyala di kamar Kalla. Jendela dan pintunya sudah tertutup rapat. Lirih terdengar suara lagu yang Kalla putar menambahkan kehangatan malam itu di kamar Kalla. Ditambah, satu pesan sebelum tidur dari Gibran. “Selamar tidur, Kal. Semoga malam ini bisa menenangkan semua pikiran dan hati kamu. Lalu, besok pagi kamu bisa bangun dengan perasaan yang lebih membahagiakan,” tulis Gibran lewat pesan yang dikirimkan untuk Kalla. Senyum Kalla mengembang. Sedikit salah tingkah terlihat dari raut wajah Kalla ketika selesai membaca pesan dari Gibran. Wajahnya merah tipis, seperti memakai blush di pipinya. Sesekali menggigit bibirnya, agar senyumnya tidak terus mengembang. Karena takut akan saltingnha terus bertambah, Kalla meletakkan ponselnya, lalu menutup badannya dengan selimut. Lalu, mengucapkan selamat tidur untuk dirinya sendiri. Lagunya masih terus berputar, menemani tidur Malam Kalla. Mengusir segala mimpi buruk yang ingin mampir dalam tidur Kalla malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN