BAB 46 (17 Januari)
Angin pagi mulai menyapa kembali. Embun yang menimpa dedaunan masih belum juga kering. Kabut sesekali masih menghalangi pandangan. Dingin juga sedikit terasa menusuk ke tulang. Udara pun masih sejuk dihirup. Tidak seperti ketika siang, semua saling berebut. Aksa masih berada di kasurnya. Malas untuk beranjak dari tidurnya. Semangat tak menyelimuti Aksa hari ini. Mungkin hari-hari berikutnya. Setelah hatinya dipatahkan oleh sahabatnya sendiri. Rasanya, Aksa menyesal memilih tinggal. Kini, ingin rasanya Aksa pergi. Kemanapun yang bisa membuat Aksa tidak melihat Kalla bersama dengan laki-laki lain. Penyesalan tak ada gunanya hari ini. Hanya bisa menghadapi kenyataan, bukan pergi bahkan meninggalkan.
Aksa juga masih harus bertanggung jawab atas Mamanya. Aksa tidak mau meninggalkan Mamanya dalam keadaan sakit. Aksa ingin selalu ada untuk Mamanya, sampai Mamanya kembali bisa berjalan. Meskipun Kalla harus merasa sakit melihat kedekatan Kalla dengan laki-laki lain. Semua sudah menjadi konsekuensi, ketika Aksa menentukan pilihan untuk tetap tinggal. Masih banyak hal yang membutuhkan Aksa di sini, bukan hanya Mamanya. Suatu saat, mungkin Kalla juga akan membutuhkan Aksa. Aksa akan selalu menerimanya, dan pasti akan selalu ada. Bukan bertindak bodoh, melainkan tak mudah menghapus perasaan yang sudah belasan tahun menggunung di hatinya.
Aksa terpaksa bangun dari malasnya. Melepaskan selimut yang membungkus badannya. Duduk sejenak, sebelum mengambil handuk dan bergegas mandi. Sebelum semua Aksa jalani, sesekali Aksa melamun. Hanya menatap langit-langit, lalu, menghembuskan napasnya sejenak. Jika merasa puas, Aksa akan bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi. Air hangat terus mengucur ke badan Aksa. Sudah beberapa saat, tapi Aksa masih saja menikmati air mengucur ke seluruh tubuhnya. Seperti masalah dalam pikirannya ikut mengalir. Patah hatinya pun sejenak pergi bersama bulir air. Aksa sampai menggigil, terlalu lama meletakkan badannya di bawah aliran air. Shower tak kunjung Aksa matikan, masih saja bertahan di sana. Telapak tangannya mulai menggenggam, badannya bergetar. Jika badannya bisa protes, maka badan Aksa akan protes kepadanya jika kedinginan.
“Ahhhhh!” Aksa berteriak kecil sambil mematikan showernya.
Setelah kedinginan tak dapat ditangani, Aksa menyerah. Tak lagi berdiri di bawah kucuran air. Aksa mengambil handuk, membalut badannya agar terasa sedikit lebih hangat. Aksa keluar kamar mandi sambil menggigil. Bibirnya mulai kebiruan, badannya bergetar, wajahnya pun sedikit pucat.
“Aksa,” panggil Mama Aksa dari luar kamarnya.
Aksa bergegas memakai pakaian, lalu membukakan pintu kamar untuk Mamanya.
“Ada apa, Ma?” Aksa menghampiri Mamanya yang berada di depan pintu kamar.
“Kamu kenapa, nak? Kenapa kamu pucat? Bibir kamu biru seperti itu. Kamu sakit?” Mama Kasa terlihat sangat khawatir dengan anak semata wayangnya.
“Engga, Ma. Aksa baik-baik aja, kok. Masak anak Mama sakit, sih,” Aksa menghibur Mamanya agar tak perlu mengkhawatirkannya.
“Bener? Tapi kamu keliatan pucat banget, nak,” Mama Aksa mengelus pipi, memegang kening, dan memastikan jika Aksa baik-baik saja.
“Bener, Ma. Sekarang kita turun ke bawah aja, yuk! Kita sarapan!” Aksa mengajak Mamanya turun dari kamar untuk sarapan bersama.
Aksa menyembunyikan sakitnya karena tidak mau melihat Mamanya lebih sakit. Aksa juga tidak ingin menimbulkan salah paham lagi antara Mamanya dengan Kalla. Keputusannya sudah cukup membuat Mamanya memebenci Kalla. Seperti sudah tidak ada ruang lagi di hati Mamanya untuk Kalla. Aksa sedih, namun, sulit memberikan penjelasan kepada sang Mama. Jika semakin dijelaskan, Mamanya akan semakin kecewa dengan keputusan yang Aksa ambil.
“Pa, coba Papa lihat Aksa deh. Aksa pucat kan, Pa?”Mama Aksa mencari pembelaan dari suaminya. Masih ada rasa khawatir kepada anak satu-satunya itu.
Aksa menggeleng, memberikan kode kepada Papanya jika semua ini baik-baik saja. Aksa tidak ingin menambah pikiran kepada Mamanya. Jika Mamanya banyak pikiran dan merasa cemas, pasti akan jatuh sakit.
“Engga kok, Ma. Mungkin Aksa Cuma kedinginan aja. Iya kan, Sa?” Papa Aksa menuruti kemauan anaknya.
“Tuh kan, Ma. Kata Papa aja Aksa baik-baik aja. Mama yang terlalu khawatir sama Aksa. Jadi, sekarang Mama tenang aja, ya. Aksa nggak akan sakit demi Mama,” Aksa menggombali Mamanya supaya tersenyum.
“Yaudah, kita sarapan, yuk!” Ajak Papa Kalla sudah merasa lapar dan segera akan berangkat ke kantor.
Aksa, Papa, dan Mamanya masih harmonis. Persis seperti saat Aksa masih kecil. Tidak ada perubahan dari kasih sayang, cinta, dan kenyamanan di keluarganya. Aksa salah satu anak yang beruntung. Mama dan Papanya sangat peduli kepadanya. Terlebih, Aksa selalu menerima cinta dengan penuh. Berbeda jauh dengan Kalla. Dulu, Kalla juga merasakan hal yang sama dengan Tetapi, materi sudah menggerogoti cinta dan kasih sayang dalam keluarganya. Akhirnya, cinta dan kasih sayang itu pun sirna seiring berjalannya waktu. Tidak dapat kembali, hanya bisa diperbaiki.
“Kamu sih berhubungan sama Kalla?” Tanya Mama Aksa disela sarapan mereka.
Aksa sedikit terkejut dengan pertanyaan Mamanya. Tapi, tidak mungkin Aksa mengatakan yang sebenarnya terjadi. Aksa tidak mau Mamanya semakin membenci dan menyalahkan Kalla. Aksa ingin Mamanya kembali menyayangi Kalla seperti dulu. Itu membuat Aksa menjadi lebih tenang.
“Masih dong, Ma! Apalagi kita satu kampus,” jawab Aksa disambung dengan tawa renyahnya.
“Yakin?” Mama Aksa tidak yakin dengan jawaban Aksa.
“Iya yakin dong, Ma. Kan memang kami satu kampus. Ada apa sih, Ma?” Aksa berbalik tanya dengan Mamanya.
“Kalla udah punya pacar, ya?” Mama Aksa tidak berhenti bertanya soal Kalla di meja makan.
Saking terkejutnya, Aksa sampai tersedak makanan. Aksa tidak menyangka akan ada pertanyaan itu dari Mamanya. Aksa sebisa mungkin menyembunyikan hubungan Kalla dengan Gibran. Karena banyak faktor.
“Iya terus kalau Kalla udah punya pacar, kan tetap sahabatan,” Aksa menjawab dengan hati-hati.
“Kenapa Kalla pilih laki-laki lain? Jelas-jelas yang berkorban demi dia itu kamu.”
Aska semakin bungkam. Mulutnya hanya menganga. Tak bisa memberikan penjelasan.
“Kok gitu, Ma?”
“Iya karena Kalla kamu sampai mengesampingkan mimpi Mama dan Papa kuliah di Amerika. Kamu memilih bertahan di Indonesia. Kenapa lagi kalau bukan karena Kalla. Mama ini seorang Ibu, tahu betul perasaan anak Mama. Kamu nggak bisa bohong ke Mama. Alasan utama kamu bukan Mama, melainkan Kalla.”
“Engga, nggak gitu, Ma,” Aksa mencoba mencari kalimat sebagai pembelaan.
“Tapi kamu lihat, kan? Bagaimana Kalla memperlakukan kamu demi laki-laki lain? Kalla tidak setia seperti yang kamu pikirkan. Mama kecewa dengan Kalla. Mama harap, Kalla tidak kembali ke kamu lagi,” Mama Aksa menutup pembicaraannya.
Aksa sulit menanggapi apa yang Mamanya katakan. Tidak ada pembelaan lain yang muncul dalam kepala Aksa. Justru Aksa semakin merasa patah hati, karena Aksa sudah membuat kecewa Mama dan papanya, juga kehilangan Kalla.
“Ma, sudah ya bahas soal Kalla. Kalla pasti butuh sahabat dan pasangan. Tidak mungkin Kalla menjadikan satu orang sebagai sahabat sekaligus pasangan,” Papa Aksa memberi pengertian kepada Mama Aksa. Supaya Mama Aksa lebih tenang dan tidak emosi lagi.
“Aksa berangkat dulu ya, Ma, Pa,” Aksa memilih meninggalkan ruang makan dari pada harus berdebat dengan Mamanya perihal Kalla lagi.
Suara hairdryer menjadi sapaan pagi di kamar Kalla. Kalla sibuk mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah kering, Kalla langsung menyisir dan mengikat sebagian rambutnya. Jepit pita menghias bagian belakang kepala Kalla. Rambut hitamnya terlihat lebih tipis ketika disingkirkan sebagian ke belakang. Namun, masih terlihat lurus dan tebal. Hari ini Kalla mengenakan dress warna maroon dengan kerah tidur di bagian depannya. Terlihat sangat serasi dengan tatanan rambutnya. Pilihan lipstiknya pun Kalla serasikan dengan warna baju. Kalla terlihat lebih elegan dan menawan. Sepatu flat shoes hitam, dengan pita dibagian atasnya menemani hari ini. Semua terasa sudah cukup. Waktunya Kalla untuk berangkat ke kampus. Pintu kamar sudah terkunci, Kalla memakai tas hitam di pundaknya. Lalu, beberapa buku di pelukan tangan sebelah kiri. Kalla berjalan menuruni anak tangga seperti biasa. Bedanya, di bawah sudah ada Mama dan Papanya menunggu kedatangan Kalla.
“Kalla berangkat dulu Ma, Pa,” pamit Kalla sambil berhenti sejenak di depan ruang makan.
“Tunggu, Kal. Ada yang ingin Mama bicarakan,” Mama Kalla menolak Kalla pergi lebih dahulu.
Kalla menengok ke arah Mamanya. Ada tatapan tidak percaya di matanya. Baru sekali ini sejak belasan tahun yang lalu Mamanya mengajak Kalla untuk membicarakan sesuatu.
“Ada apa, Ma?” tanya Kalla penuh dengan rasa penasarannya.
“Duduk,” Mamanya menyuruh Kalla duduk bergabung bersama Mama dan Papanya di meja makan.
“Sarapan dulu,” Piring kosong di depan Kalla diisi oleh roti tawar, lalu Kalla juga disiapkan segelas s**u.
Kalla mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang sedang terjadi di depannya. Seolah kembali ke masa kecilnya, masa membahagiakan dihidup Kalla. Dengan lahap, Kalla mengunyah roti tawar spesial hari ini. Ingin mengembangkan senyumnya disela makan, tapi, Kalla malu dengan Mama dan Papanya.
“Oh iya, ada apa Ma, Pa?” Kalla mulai menanyakan pembicaraan yang dijanjikan Mamanya.
“Ehemmm. Gini, Kal,” Mama Kalla masih ragu untuk berbicara dengan Kalla. Papa Kalla hanya diam saja, menikmati suguhan roti tawarnya dipagi hari.
“Ma? Ada apa? Kalla harus ke kampus,” Kalla ingin Mamanya segera memberitahu pembicaraannya.
“Gini, Kal. Besok kan Mama ada kenaikan jabatan sebagai Manager di kantor Mama. Mama pengen kamu dan Papa datang. Mama juga mau memperlihatkan kepada karyawan yang kerja di sana kalah keluarga Mama mendukung dan baik-baik saja,” ucap Mama Kalla tanpa beban sedikitpun.
Lumayan mengejutkan kabar ini dipagi hari. Entah harus senang atau justru seoh mendengarnya. Namun, mungkin bisa jadi ini adalah salah satu jalan agar keluarganya kembali utuh. Senyum Kalla memaksa mengembang, tapi, gengsi Kalla masih menahannya.
“Kamu bisa kan?” Mama Kalla memastikan Kalla bisa datang ke kantornya besok.
Setelah jawaban Kalla terdengar puas oleh Mamanya, Kalla langsung pamit untuk pergi ke kampus. Senyumnya mengembang begitu berjalan meninggalkan meja makan. Seperti ada bunga di dalam paginya kali ini. Sungguh berwarna juga harum suasananya. Baju yang dikenakannya, rambut yang telah ditata, juga make up yang sudah dipadukan melengkapi senyum bahagia Kalla pagi ini. Kalla berjalan seperti bunga mawar yang sedang merekah. Cantik menawan senyumnya memberi kesan keanggunan.
Seperti biasa, tidak ada ekspektasi Kalla jika Gibran sudah menunggunya di depan pintu rumah. Ketika pintu terbuka, terlihatlah sosok Gibran menyambut dengan senyumnya di depan rumah. Pagi Kalla benar-benar menakjubkan. Setelah keajaiban terjadi pada keluarganya, kini ada Gibran yang menyiram bunga dalam hati Kalla hingga bermekaran.
“Pagi, Kal,” sapa Gibran ke Kalla dengan hangat.
“Hai, Kak. Pagi,” sapaan hangat berbalik untuk Gibran. Ditambah dengan senyum manis Kalla pagi ini, begitu mengesankan untuk Gibran.
“Kamu setiap hari Dateng ke rumah pagi-pagi?” Kalla mengajukan pertanyaan sembari berjalan ke arah mobil Gibran.
Gibran mengangguk, mewakili jawabannya atas pertanyaan Kalla.
“Harusnya nggak perlu sampai seperti ini loh, kak,” Kalla tersipu malu.
Gibran tidak menghiraukan ucapan terakhir Kalla sebelum masuk ke mobil. Baginya, menjemput Kalla akan menjadi rutinitasnya setiap pagi. Bukan hanya Kalla saja yang bahagia, Gibran pun merasakan hal yang sama dengan Kalla ketika menjemputnya. Sambil menyetir, sesekali Gibran memperhatikan wajah sumringah Kalla.
“Ada apa nih? Tumben sumringah banget senyumnya,” Gibran menggoda Kalla.
“Ihhh kak Gibran. Nggak ada apa-apa kok. Cuma seneng aja bawannya hari ini,” Kalla tersipu menjawab pertanyaan Gibran.
Lalu lalang kendaraan sudah mulai ramai. Ada yang dengan kecepatan tinggi karena mungkin terburu-buru, ada pula yang bersantai sambil menikmati berduaan di atas motor bersama pasangan. Gibran termasuk salah satu yang santai, menikmati perjalanan bersama Kalla. Meski sekedar berangkat ke kampus saja.
“Kak, tunggu deh. Berhenti!” tiba-tiba Kalla panik melihat ke arah kiri jalan.
Kalla menyuruh Gibran untuk berhenti di pinggir jalan. Ada seseorang yang membuat Kalla meminta Gibran menghentikan mobilnya. Seseorang itu tidak lain adalah Aksa. Aksa berhenti di pinggir jalan sendirian. Wajahnya memperlihatkan kebingungan. Keningnya berkeringat, sesekali ia seka dengan tangannya sendiri. Bagian depan mobil Aksa buka. Ya, mobil Aksa mogok di jalan. Beruntunglah Aksa masih bisa meminggirkan mobilnya. Dengan begitu, tidak menganggu para pengguna jalan.
“Kenapa, Kal?”
“Emmm, Kak....”
“Ya?”
“Itu ada Aksa di pinggir jalan. Sepertinya mobil Aksa mogok,” sungkan sebenarnya Kalla meminta pertolongan Gibran. Namun, Kalla juga tidak mau melihat Aksa kesulitan sendiri.
“Ohhh. Yaudah, kita turun,” ajak Gibran menghampiri Aksa.
“Mobil kamu kenapa?” pertanyaan pertama ketika Kalla sampai tepat di samping Aksa. Aksa cukup terkejut dan tidak menyangka dengan kedatangan Kalla dan Gibran. Aksa menghela napasnya, lalu mencoba menjawab pertanyaan Kalla dengan tenang.
“Nggak tau nih, Kal. Tiba-tiba mati mesinnya. Ada yang nggak beres sih yang pasti,” Aksa menjawab Kalla namun menolak menatap wajah Kalla.
“Biar gue bantu lihat,” Gibran sigap langsung menuju ke mesin mobil Aksa.
“Kayaknya harus dibawa ke bengkel. Lo nggak akan bisa benerin sendiri,” saran Gibran untuk Aksa.
“Ohhh oke. Biar gue telepon bengkel langganan gue,” Aksa mengiyakan saran Gibran. Lalu langsung menghubungi bengkel langganannya.
Beberapa saat kemudian, karyawan bengkel langganan Aksa pun datang. Gibran masih menunggu Kalla yang mau menemani Aksa. Tidak ada protes dari Gibran. Dengan sabar, Gibran menunggu sampai semuanya selesai.