Suasana canggung terbangun di dalam mobil Gibran. Kalla yang duduk di belakang memilih untuk melamun. Melihat mobil berlalu lalang di jalanan. Aksa dan Gibran terlihat kikuk, tak ada obrolan yang terdengar diantara mereka. Hanya ada suara mesin mobil Gibran juga klakson yang sesekali terdengar dari dalam juga luar mobil. Aksa mengikuti saran Kalla untuk ikut mobil Gibran. Awalnya, Aksa berencana naik taksi. Namun, Kalla melarang. Kalla tidak ingin membiarkan Aksa sendirian di jalan menunggu taksi. Kebetulan Gibran juga menawarkan tumpangan untuk Aksa. Jadi, tak ada salahnya jika saran Kalla kali ini Aksa terima.
Sampai di parkiran kampus, Gibran bergegas turun sebelum Kalla turun dari mobil. Gibran membukakan pintu mobil untuk Kalla. Aksa tertegun melihat sikap Gibran kepada Kalla. Dulu, Aksa yang melepaskan helm untuk Kalla. Sekarang, keadaan berbeda. Waktu telah memihak ke Gibran untuk memperlakukan Kalla seperti ratu. Karena tak mau terlalu lama melihat kemesraan sahabatnya sendiri, Aksa buru-buru keluar dari mobil. Cemburu itu pasti, tapi, setidaknya Aksa bisa menghindari.
“Makasih tumpangan dan bantuannya!” ucap Gibran ke Aksa tanpa menatap wajah Gibran.
“Sama-sama. Jangan sungkan,” Gibran basa-basi agar tidak
Basa basi Gibran tak mendapatkan balasan dari Aksa. Aksa hanya melambaikan tangannya sambil berlalu meninggalkan Gibran dan Kalla. Kalla merasa tidak nyaman di posisi ini. Aksa menjadi asing kepadanya. Tidak sedekat dan sehangat dulu. Dingin menyelimuti wajah Aksa, sikapnya pun membeku. Seolah semua hal yang selama ini terjadi mengirimkan banyak salju ke dalam hati Aksa. Kalla memperhatikan Aksa sampai tak terlihat. Begitu juga dengan Gibran, Gibran memperhatikan Kalla.
“Udah, udah hilang juga kan Aksanya,” Gibran meledek Kalla.
Kalla malu, langsung memalingkan pandangannya dari Aksa.
“Makasih ya, kak. Udah mau kasih tumpangan ke Aksa,” Kalla berterima kasih ke Gibran karena Gibran sudah baik kepada Aksa pagi ini.
“Siapapun yang ada di Posisi Aksa hari ini, aku juga akan lakukan hal yang sama. Bukan karena Aksa sahabat kamu, tapi, kalau ada orang lain dan kita kenal, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama,” Gibran memberi jawaban berbeda atas ucapan terima kasih Kalla.
Kalla mengangguk sembari memberikan senyum untuk Gibran.
“Buat bayaran aku jemput kamu hari ini, ya?” Gibran meledek Kalla kembali.
“Hah? Apanya?” Kalla tidak paham ledekan yang Gibran berikan.
“Senyum kamu, lah,” Gibran gagal meledek Kalla karena Kalla tidak paham.
Seperti sudah siap untuk dikomentari mahasiswa lain di kampus. Gibran dan Kalla jalan bersama masuk ke kelas mereka masing-masing. Gibran sudah tidak peduli apa komentar orang lain. Paling penting sekarang, Gibran nyaman dengan hubungannya dengan Kalla. Kalla pun demikian, sudah tidak malu lagi jalan berdampingan dengan Gibran. Serasa ada sosok yang melindungi, kapanpun, dan apapun yang akan terjadi. Kadang, menambah kepercayaan diri juga. Ya, mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta. Namun, mereka belum mau menyadari tentang perasaan masing-masing. Masih sibuk berada dibatas pendekatan. Selebihnya, perasaan mereka bisa terbaca oleh orang awam.
Pertemanan Kalla dengan Meira sudah cukup membaik. Salah paham mulai luntur oleh luka yang Kalla alami tempo hari. Meira sudah lebih menerima. Tidak lagi memaksakan kehendaknya kepada sahabat satu-satunya itu.
“Hai, Mei!” Kalla menyapa Meira yang sudah lebih dulu duduk di dalam kelas.
“Wihhh, berhasil bikin jinak 2 buaya, ya?” Meira malah meledek Kalla, bukannya membalas sapaan Kalla.
“Maksudnya?” Kalla lagi-lagi tidak paham dengan candaan orang lain.
“Itu tadi, Lo berangkat bisa bertigaan gitu. Janjian Lo?” Meira penasaran Kalla bisa berangkat ke kampus bersama Aksa dan Gibran.
“Ohhhh itu...”
“Iya apa, Kalla? Kenapa Cuma Ohh doang sih?” Meira kesal Kalla tidak memberikan jawaban.
“Ya itu tadi. Emang aku berangkat bareng sama Kak Gibran dan Aksa.”
“Kok bisa?” Meira masih berusaha mendapatkan jawabannya.
“Tadi, aku sama Kak Gibran ketemu Aksa di pinggir jalan. Aksa lagi benerin mobilnya yang mogok. Akhirnya, Aksa suruh karyawan bengkel untuk jemput mobilnya, dan Kak Gibran kasih tumpangan ke Aksa. Udah gitu doang,” Kalla menjelaskan ke Meira sesuai kemauannya.
“Ohhhh gitu....”
Kalla tak menggubris jawaban Meira, ia lebih memilih untuk duduk di belakang Meira sebelum ada yang menempati.
Kelas terakhir sudah selesai. Kalla meregangkan otot sebentar, lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Mahasiswa lain langsung berhamburan ke luar kelas. Ada yang ingin segera pulang ke rumah, ingin ke kantin, sampai tidak sabar melihat pertandingan basket di kampus. Kalla masih santai di meja kelasnya. Kalla bukan tipe anak yang begitu mendengar bel langsung keluar kelas. Menikmati waktu lebih mengasyikkan daripada harus terburu-buru. Kalla menekuk tangan kirinya, memperlihatkan jam untuk dirinya sendiri. Rasa tidak sabar tiba-tiba datang. Mengingat ucapan Mamanya tadi pagi, esok hari menjadi sesuatu yang sangat Kalla nanti.
“Huhhh jadi pengen cepet-cepet ganti hari. Kira-kira besok gimana ya acaranya?” Kalla bergumam lirih.
“Hehh! Ngelamun aja!” Meira mengejutkan Kalla dengan menggebrak meja di depannya.
“Meiiii!” Kalla merengek.
“Ada apa nih? Tumben liat jam jadi sumringah gitu?” Meira mengorek semua tentang Kalla.
“Ada dehhhhh!” Kalla tidak mau memberitahu. Ini masih jadi rahasianya sendiri.
“Nggak asik Lo, ah!” Meira kesal karena Kalla pelit tidak mau berbagi cerita dengannya.
Meira sudah pamit pulang terlebih dahulu, Mama dan Papanya tidak suka Meira berkeliaran setelah pulang dari kampus. Sejak dulu, Meira harus pulang ke rumah ketika sudah selesai sekolah. Jarang sekali bisa mengajak Meira pergi atau nongkrong ke luar. Pasti Meira akan mencari alasan masuk akal agar Mama dan Papanya percaya kepada Meira. Sebenarnya Meira sudah tidak nyaman, tapi, Meira lebih memilih untuk diam. Daripada harus kehilangan kasih sayang juga perhatian seperti Kalla.
Angin hari ini cukup membuat rambut Kalla terbang perlahan. Sejuknya terasa, sesekali dingin pun tak terbendung. Aksa datang bersama angin yang baru saja menghilang. Kini kembali bersama Aksa di depan Kalla.
“Kenapa belum pulang?” Aksa duduk di samping Kalla tanpa izin dulu.
“Iya, masih pengen di kampus aja sebentar.”
“Kamu nggak kangen aku lepasin helm, turun dari motor, peluk aku baik motor, dan ngerasain jalan-jalan naik motor berdua,” pertanyaan Aksa tiba-tiba menjurus ke kenangan mereka.
“Kenapa?” Kalla tidak menyangka Aksa akan bertanya demikian.
“Aku kangen,” jawaban Aksa melenceng dari dugaan Kalla.
Kalla langsung merasa gugup. Hatinya tidak tenang, seperti gelisah. Pikirannya mulai bekerja, mengingat masa lalu bersama Aksa tanpa ada orang lain di sana. Tatapannya mulai melihat bagaimana dulu Aksa dan Kalla bersama. Semua berubah, ketika Gibran berhasil masuk mengetuk pintu hati Kalla.
“Bisa aja, deh!” Kalla meresponnya dengan santai. Lebih tepatnya berusaha santai agar tidak terlihat gugup.
Kalla menatap wajah Aksa. Apa masih ada perasaan yang sama seperti saat mereka berdua tanpa ada orang lain diantaranya? Aksa pun balik menatap Kalla. Gugup semakin melanda, Kalla berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat jika dia tidak baik-baik saja. Tak lama, ada suara gerombolan laki-laki lewat depan Aksa dan Kalla. Salah satunya memainkan bola basket, lalu, bola itu terlempar tidak sengaja. Kalla tidak bisa menghindari bolanya. Bola basket pun menampar pipi Kalla.
“Awwww!” Kalla mengeluh kesakitan.
“Woyyyy!” Aksa emosi, berdiri dari duduknya lalu menunjuk salah satu anak yang memainkan bolanya.
“Kamu nggak papa?” Gibran berlari mendekati Kalla, memastikan keadaan Kalla.
Aksa sangat berbeda dengan Girban. Sekarang ini contohnya. Aksa sibuk menyalahkan orang yang membuat Kalla celaka, sedangkan Gibran langsung memastikan keadaan Kalla. Semua tidak ada yang salah, hanya, Kalla secepatnya butuh bantuan. Kalla tidak mungkin menahan sakit lalu marah-marah kepada si pelempar bola. .
“Kita ke klinik, ya!” Gibran mengajak Kalla ke klinik.
Aksa geram melihat perhatian Gibran ke Kalla. Jelas-jelas ada Aksa di samping Kalla, tetapi, Gibran seolah tidak menganggapnya ada. Aksa tidak melarang Gibran membawa Kalla ke klinik. Itu akan membuat Kalla semakin kesakitan. Aksa diam di belakang mereka berdua sambil menurunkan emosinya. Natasha ternyata juga berada di sana. Melihat bagaimana kejadian bola menampar pipi Kalla. Natasha mendesis kesal. Gibran berubah semenjak ada Kalla di kampusnya.