Menahan Emosi

1374 Kata
Natasha dan Aksa membiarkan Gibran membawa Kalla ke klinik kampus. Natasha melarang Aksa menyusul mereka berdua. Awalnya, Aska tidak mau menuruti apa yang Natasha bicarakan. Tetapi, Natasha bilang ada yang ingin Natasha bicarakan dengan Aksa. Hembusan angin membuat kampus lebih bersuara. Sore hari, kampus sudah mulai sunyi. Suara mahasiswa sudah mulai menghilang. Hanya di beberapa tempat khusus saja. Seperti lapangan, ruang musik, dan ruang olahraga lainnya. Namun pagi nanti, kampus akan kembali dipenuhi dengan suara-suara masa depan. Natasha dan Aksa masih asyik mendengarkan suara angin. Rambut Natasha terlempar kesana kemari. Sesekali Natasha rapikan agar wajahnya tidak tertutup oleh rambutnya sendiri. Aksa tidak ada niat beranjak dari duduknya di samping Natasha. Raganya memang ada di sebelah Natasha, tetapi, hati dan pikirannya melayang jauh ke klinik kampus. Bagaimana keadaan Kalla masih memenuhi pikirannya. Aksa sedikit menyesali mengapa termakan emosi. Jika emosi tidak menguasai Aksa, Kalla saat ini sudah bersamanya. Bukan bersama Gibran. Emosi Aksa sekarang semakin tak terkendali. Semenjak Kalla berjarak dengannya, emosi selalu mengelabuhi Aksa. Cemburu pun datang tak tahu waktu. Sesekali ingin Aksa menahan dan berpura-pura, namun, perasaan ternyata tidak bisa disembunyikan. Terutama pada diri sendiri. Menyembunyikan perasaan sama saja dengan membohongi diri sendiri. “Lo bukannya sudah lama kenal sama Kalla?”Natasha membuka obrolan dengan Aksa. Aksa menengok ke arah Natasha, mengerutkan keningnya. Merasa aneh dengan pertanyaan Natasha. Aneh juga dengan sikap Natasha yang tiba-tiba manis dan baik kepadanya. Biasanya Natasha bersikap dingin, ketus, dan sombong. Selalu membedakan junior dan senior. “Kenapa lo tanya? Tumben?” Aksa sewot dengan pertanyaan Natasha. “Nggak papa. Gue Cuma aneh saja. Kenapa Kalla lebih memilih Gibran, daripada Lo yang jelas-jelas lebih lama kenal sama dia. Gibran baru di kenal, tapi malah dipilih. Aneh deh si Kalla,” Natasha balik sewot ke Kalla. “Bukan urusan Lo!” Aksa kesal karena Natasha terlalu ikut campur dengan perasaan Kalla. “Gue duluan, ya! Mau balik,” Aksa menggendong tasnya, bangkit dari bangku di sebelah Natasha dan pamit pulang. “Gue Cuma mau ingetin saja, sih. Jagain deh si Kalla. Jangan sampai dia salah ambil keputusan. Nyesel nantinya,” Natasha mengingatkan Aksa. Setelah ucapannya cukup membuat Aksa bingung, Natasha langsung meninggalkan Aksa. Kini justru Natasha yang pergi terlebih dahulu. “Apa sih maksudnya itu orang? Aneh banget, sok misterius!” Aksa tambah sewot dengan Natasha. Langkah kaki Aksa menuju ke parkiran penuh keraguan. Setengah hatinya ingin melihat dan memastikan bagaimana keadaan Kalla. Namun, setengah hati lainnya ingin Aksa pergi dari kampus. Tak mau ada kecemburuan hari ini. Cukup tadi pagi saja, sore ini lebih baik Aksa melihat senja. Daripada harus memberi kecewa pada perasaannya. Tatapan Aksa tertuju pada klinik, hatinya menarik pikirannya ke sana. Sedangkan, perasaan yang lain menyuruh Aksa untuk pergi saja. Kalla masih belum terlihat dari klinik di kampus. “Lama banget sih di klinik. Ngobatin atau pacaran sih?” Aksa kesal dengan Gibran yang tak kunjung membawa Kalla keluar. Tangannya menuju ke saku celana. Mengambil ponsel yang sedari tadi ada di sana. Jari-jarinya sibuk mencari nama kontak Kalla. Setelah berhasil ditemukan, Aksa kalah dengan keraguan. Niatnya ingin menghubungi dan bertanya bagaimana kondisinya. “Ah udahlah!” Aksa berjalan ke arah parkiran mobil. Sampai di parkiran mobil, Aksa baru ingat jika mobilnya sedang ada di bengkel. Lemas semakin menghampiri Aksa. Tidak ada senyum sama sekali di wajahnya. Masam dan muram mendominasi wajah tampan Aksa. “Oh iya, mobil gue kan di bengkel. Ahhh gue sial banget sih,” Aksa menendang kerikil yang ada di depannya. Sudah lama ini tidak terjadi. Sempat hanya menjadi sebuah pengalaman saja, kini, Aksa ingin mencobanya lagi.  Aksa duduk menanti bus di halte dekat kampusnya. Sebelum bus datang, Aska memutar lagu kesukaannya. Aksa memasang earphone di telinganya, lalu, memasukkan ponselnya Ke dalam saku celana. Tak lama, bus pun datang berhenti tepat di depan halte. Aksa menunggu beberapa penumpang yang mau turun terlebih dahulu. Setelah semua turun, Aksa naik ke dalam bus. Memilih kursi di pinggir jendela agar lebih bisa menikmati perjalanannya. Beberapa kenangan di masa lalu, kembali hadir di pikiran Aksa. Seribu cerita yang pernah menjadi obrolan Aksa dan Kalla mulai terdengar dalam ingatannya. Dulu, Kalla dan Aksa sering memilih untuk naik bus ke sekolah. Lebih aman dan nyaman untuk mereka. Ketika waktu masih memihak Aksa bersama dengan Kalla. Terlihat indah dan terasa bahagia pada masanya. Jalan yang Aksa lewati pun penuh dengan kisahnya bersama Kalla beberapa tahun yang lalu. Hampir setiap hari, ada suara mereka yang mengisi kebisingan di jalanan. Tak sengaja, lagu di ponsel Aksa memutar lagu kesukaan Kalla. Hati Aksa rasanya ingin berteriak. Mengeluarkan keresahan di dalamnya. Pikirannya pun seolah sesak akan kenangan mereka berdua. Karena tidak ingin larut dalam galau tidak jelasnya di jalan, Aksa mematikan lagu yang sedang diputar. Aksa mencabut earphone di telinganya. Matanya fokus melihat jalan di bagian kiri. Telinganya mendengar suara penumpang, mesin kendaraan, hingga sesekali rem dadakan dari kendaraan lain. Merah di pipi Kalla sudah menghilang. Setelah es batu ditempelkan di pipinya selama beberapa menit, kemerahannya mulai pudar.  Saiapa lagi kalau bukan berkat Gibran. Sempat Kalla mencari keberadaan Aksa, namun, Gibran selalu berhasil mengalihkan pikiran Kalla. Senja semakin melekat. Gibran dan Kalla bergegas meninggalkan kampus. “Cari siapa, Kal?” Gibran penasaran karena Kalla tidak berhenti celingukan ketika mereka keluar dari klinik kampus. “Aksa kemana, kak? Dia baik-baik saja, kan?” Gibran mengerutkan dahinya. Bingung dengan pertanyaan Kalla. “Yang kena bola kan kamu, Kal. Bukan Aksa,” Gibran menegaskan jika Aksa akan baik-baik saja. “Engga, bukan itu maksud aku. Aksa nggak menimbulkan keributan, kan?”  Kalla khawatir Aksa meluapkan emosinya dengan mencari keributan. Sebab, sejak awal Kalla terkena bola, Aksa sudah sangat emosi. “Aku nggak sempat lihat Aksa tadi. Aku langsung bawa kamu ke klinik. Jadi aku nggak tahu Aksa kemana,” Gibran menjelaskan keberadaan Aksa yang tidak diketahuinya sama sekali. Mobil Gibran selalu menemani perjalanan pulang dan berangkat ke kampus beberapa waktu belakangan ini. Meski terkadang tidak ada niat bersama dengan Gibran, tetapi waktu seolah memberikan jalan agar Kalla selalu aman dengan Gibran di dalam mobilnya. Senja itu, Gibran menyetir mobilnya hati-hati. Memutar lagu di radio, agar Kalla tidak merasa bosan. Karena macet telah mengepung mereka di jalanan. “Kamu laper? Atau haus?” Gibran tiba-tiba menanyakan ke Kalla “Eeeee... Enggak sih, kak,” Kalla tidak merasakan apa yang Gibran tanyakan. “Macet banget, susah deh kayaknya mau keluar cepet dari jalan ini,” Gibran gelisah sendiri. “Its oke, Kak. Nggak usah buru-buru,” Kalla menenangkan Gibran supaya tidak gelisah menghadapi kemacetan panjang. Suara klakson mobil bercampur dengan suara mesin kendaraan lainnya saling bersautan. Gibran mulai tidak sabaran menghadapi kemacetan di jalan senja itu. Kalla mulai bosan dengan pemandangan yang ada di kanan, kiri, depan, dan di belakangnya. Kalau bukan mobil, motor, bus, truk, ya semua kendaraan tumpah ruah di jalanan. Sesekali Kalla memegang pipinya , masih lumayan panas. Kadang juga terasa nyeri. Walaupun sudah jauh lebih baik daripada tadi ketika pertama terkena bola. “Huhhhh, kapan sampai ke rumah kalau begini,” Gibran mengeluh. “Sabar ya, kak,” Kalla mencoba merespon keluhan Gibran. Bruk!! Ketika Gibran akan menginjak remnya, tetiba ada satu mobil yang tidak sengaja menabraknya dari belakang. Gibran kesal sekali. Gibran berusaha untuk turun dari mobil dan menemui si penabrak. Kalla melarang karena akan menyebabkan macet lagi. Gibran sudah sangat emosi, wajahnya memerah karena menahan emosi. Gibran menurunkan jendelanya, lalu berteriak ke orang yang sudah menabrak mobilnya dari belakang. “Woyyy! Maju lo!” Gibran teriak sambil menunjuk ke arah orang tersebut. “Kak, sudah ya sudah... Jangan diladenin, mungkin memang dia nggak sengaja,” Kalla melarang Gibran marah kepada sang penabrak mobil. “Turun nggak lo!”Gibran masih terus berteriak. “Kak...,” Kalla memohon kepada Gibran agar menyudahi teriak-teriaknya. Posisi Gibran sedang menghadapi kemacetan, lelah daritadi tak kunjung ada jalan keluar. Gibran juga merasa sangat lapar. Terlebih ada Kalla di samping Gibran yang selalu Gibran khawatirkan. Emosi Gibrab memuncak, tak bisa terkendali. Kesal menyelimuti perasaannya ketika tiba-tiba ada yang menabrak mobilnya dari belakang. Gibran sama sekali tidak bisa melihat ke arah Kalla. Ia tidak mau Kalla melihat wajahnya yang sedang tersulut emosi.  Kalla juga takut menghadapi Gibran saat itu. Bingung dan takut campur aduk. Kalla tidak mau Gibran bermasalah dengan orang di jalan, apalagi di tengah kemacetan. Namun, Kalla juga takut jika melihat wajah Gibran ketika sedang marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN