Gibran memilih meminggirkan mobilnya terlebih dahulu. Emosinya masih meradang. Jika dipaksakan menerjang kemacetan, Kalla bisa jadi korban emosi Gibran nantinya. Akhirnya Gibran memilih mampir ke sebuah rumah makan yang bisa ditembus. Gibran mengajak Kalla turun dari mobil. Wajahnya masih muram, marah masih tersisa di kepalanya. Tapi, Gibran mencoba menahan semuanya karena ada Kalla di sampingnya. Senja sudah tertutup oleh gelapnya malam. Gibran dan Kalla masih saja berada di jalan menuju pulang ke rumah.
“Kita makan dulu saja, ya,” Ajak Gibran belum berani menatap wajah Kalla.
Kalla sangat canggung menghadapi suasana seperti sekarang. Sebelumnya, jika ada kejadian seperti yang dialami Gibran tadi, Kalla tak sungkan marah kepada Aksa. Kalla tidak sungkan mengucapkan apapun larangan untuk Aksa. Untung saja, Aksa selalu menuruti omongan Kalla, meski pada ujungnya akan ada omelan-omelan tipis. Namun, sekarang keadaannya berbeda. Kalla masih terlalu sungkan menghadapi mood Gibran. Jika Kalla menyamakan dengan sikapnya kepada Aksa, takutnya malah membuat mereka tidak nyaman satu sama lain. Akhirnya, Kalla memilih untuk diam saja. Memberikan saran, namun tidak memaksa Gibran harus menuruti sarannya. Diluar dugaan, ternyata Gibran juga sama dengan Aksa. Mau mendengarkan apa yang Kalla bicarakan.
“Kamu capek ya, kak?” Kalla memberanikan diri membuka pertanyaan kepada Gibran.
Jawaban Gibran hanya menggelengkan kepala. Kalla tidak puas dengan jawaban dari gerakan tubuhnya. Kalla memaksa Gibran menatapnya. Tangan Kalla menarik pundak Gibran, mau tidak mau Gibran menatap Kalla. Wajahnya masih sedikit menyimpan warna merah kemarahan. Tetapi, setelah Kalla menatap wajah Gibran dengan lembut, Gibran luluh. Justru wajahnya berubah menjadi salah tingkah. Gibran menurunkan tangan Kalla dari pundaknya, lalu memegang dengan erat.
“Maaf ya tadi aku emosi,” Gibran merasa bersalah karena sudah tersulut emosi.
“It’s oke,” Kalla memberikan senyum kembali, lalu membuat Gibran gugup.
Gibran bergegas turun dari mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Kalla. Mereka jalan berdampingan, namun Gibran merasa seperti jalan masing-masing. Gibran izin kepada Kalla untuk menggandeng tangannya. Kalla membiarkan tangannya tidak kosong. Dengan senang hati, Gibran menggandeng tangan perempuan pertama selain Mama dan adiknya. Meskipun status mereka belum jelas, namun, setidaknya perasaan mereka sudah terlihat jelas. Lebih dari sekedar teman, tak hanya sekedar sahabat.
Macet di jalanan kini sudah mulai mereda. Kalla meminta Gibran melanjutkan perjalanan pulang mereka. Kalla tidak ingin pulang terlalu malam, karena esok hari ada hari yang penting untuk Kalla. Jalanan sudah mulai bersahabat. Telinga tidak lagi bising mendengar klakson kendaraan yang saling berebut jalan. Sekarang sudah terlihat lebih tenang dan aman. Gibran mulai kembali menikmati perjalanan. Berbeda dengan saat menerjang kemacetan tadi, lebih banyak emosi yang menguras tenaganya.
“Besok weekend ada acara nggak?” Gibran ingin mengajak Kalla ke suatu tempat.
“Ada,” Kalla tanpa basa basi menjawab pertanyaan Gibran.
Gibran reflek menengok ke arah Kalla.
“Kemana?” Ada sedikit kecemburuan dan rasa khawatir ketika Kalla memberikan jawaban.
“Sama Mama sama Papa,” Kalla tersenyum manis, membuat Gibran lebih lega.
“Oh ya? Bagus dong!”
Anggukan kepala Kalla sangat menjelaskan bagaimana perasaannya. Meskipun belum tahu apa tujuan Mama dan Papanya mengajak Kalla ke acara di kantor Mamanya, yang terpenting, ada hari dimana satu keluarga akan pergi bersama. Sudah belasan tahun Kalla menanti. Akhirnya hari itu pun tiba. Senyum Kalla tak bisa tertahan, tidak sabar menunggu esok hari datang.
“Cieee, seneng banget ini keliatannya,” Gibran meledek Kalla.
“Kak Gibran, apaan sih. Seneng dong, ini kan salah satu hari yang aku tunggu setelah sekian lama,” Kalla menjelaskan bagaimana penantiannya telah tiba.
“Aku juga seneng dengernya. Tapi, jadi nggak bisa ajak kamu keluar deh,” ekspresi di wajah Gibran berubah tiba-tiba.
“Masih banyak lain hari. Kita nggak akan berhenti sampai di sini kan, kak?” Pertanyaan Kalla membuat Gibran bengong.
“Maksudnya?” Gibran ingin mendengar penjelasan dari pertanyaan Kalla.
“Aduhhh, salah ngomong deh aku. Nanti Kak Gibran kira aku minta ditembak lagi,” Kalla membatin dalam hati.
~
Salah satu hal yang meringankan beban Kalla dalam satu hari adalah mandi. Setelah mengguyur badannya dengan air hangat, rasanya beban-beban seketika hilang. Meskipun sebenarnya masih menempel pada hari-hari Kalla berikutnya. Paling penting, beban itu tidak ikut dalam tidur nyenyaknya. Ketika mengambil ponsel di dalam tas, Kalla teringat sesuatu. Kalla ingat Aksa tidak membawa mobil ke kampus. Bagaimana Aksa pulang. Kemana perginya Aksa saat Kalla dibawa ke klinik. Semua tersimpan rapi menjadi sebuah pertanyaan. Kalla memegang ponselnya dengan tangan kanan, tangan kirinya masih berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Astaga, kenapa aku bisa lupa kalau Aksa nggak bawa mobil ke kampus. Bagaimana dia pulangnya?” Kalla baru saja memulai khawatirnya.
Tak banyak mikir, Kala langsung menelepon Aksa. Sayangnya, baru berdering sekali, Mama Kalla berteriak memanggil Kalla dari bawah. Kalla langsung mematikan panggilannya. Bergegas turun ke bawah dengan rambut yang masih basah dan berantakan.
“Iya, Ma?” Kalla menjawab panggilan Mamanya sambil berjalan menuruni tangga.
“Ini baju untuk kamu pakai besok, ya. Mama sudah siapkan supaya kita semua seragam. Biar terlihat kompak,” Mama Kalla memberikan satu dress berwarna coklat. Salah satu warna kesukaan Kalla.
Kalla tersenyum lebar, rasanya seperti ada yang kembali. Bagi Kalla ini salah satu hal besar yang terjadi kepadanya. Kalla kembali memupuh banyak harapan. Asa yang melayang ke setiap penjuru rumah. Semoga, ada kabar baik setelah apa yang terjadi esok hari. Sudah tidak sabar mendengar keceriaan kembali di rumah ini. Apalagi obrolan-obrolan yang sangat Kalla rindukan. Semua menjadi satu dalam harapan yang Kalla lambungkan bersama bait-bait doa.
“Makasih ya, Ma. Semoga acara besok lancar. Dan, semoga setelah acara besok, akan ada kabar baik untuk keluarga kita,” Ucap Kalla sambil mencoba memeluk Mamanya. Namun, Mama Kalla lebih memilih menerima panggilan dari kantornya.
Kamar Kalla tinggal diterangi oleh lampu tidur. Sekitarnya pun sudah gelap. Tidak ada aktivitas lagi, suara obrolan pun tak lagi terdengar. Kalla bersiap untuk isitirahat. Agar tidak berasa lama menanti esok hari. Selimutnya menutup sebagian tubuh Kalla, kecuali kepala dan tangan yang Kalla keluarkan dari selimut. Suasana kamar pun mendukung waktu istirahat untuk Kalla.
~
Alarm di ponsel Kalla sudah beberapa kali berdering. Kalla belum berhasil mengalahkan rasa ngantuknya. Matanya masih lengket, sulit sekali dibuka melihat pagi di dunia. Mimpinya masih mengelabuhi Kalla, sampai susah sekali bangun. Saat pikirannya teringat akan acara hari ini, mata Kalla langsung terbuka. Kala langsung duduk di tempat tidur. Mengusap wajah bangun tidurnya, merapikan rambut seperti singa, lalu, Kalla berdiri dan mengambil handuk. Kamar mandi menjadi tujuan utamanya saat itu. Kesibukan sudah terjadi di rumah Kalla. Mama Kalla sudah menyiapkan sarapan khas keluarganya, roti tawar dengan berbagai jenis selai. Tak lupa s**u putih, sebagai pelengkap.
Kalla keluar dari kamar mandi dengan buru-buru. Hampir saja kakinya terpeleset karena terlalu cepat melangkah di lantai yang licin. Untung saja tangannya sigap memilih pintu sebagai pegangannya agar tidak jatuh. Pagi itu, lumayan membuat Kalla panik. Kalla tidak ingin kesempatan ini menyisakan kekecewaan untuk Mamanya. Sebisa mungkin, Kalla akan menyiapkan segalanya dengan baik. Salah satunya dengan dandanannya hari itu. Rambutnya dibiarkan terurai begitu saja. Pilihan model rambutnya hari itu setengah bergelombang, supaya lebih cocok dengan dress coklat pemberian Mamanya. Bagian lengannya pendek, berbentuk balon. Panjang dressnya di atas lutut beberapa cm. Dressnya sangat polos, Kalla mengisi kepolosan dressnya itu dengan mencatok rambutnya menjadi bergelombang. Lipstiknya maroon, agar lebih terlihat fresh. Lalu, diakhiri dengan blush di pipinya, tidak terlalu merah namun tetap terlihat.
“Pagi, Ma!” Kalla menyapa Mamanya yang sudah siap lebih dulu di bawah.
“Pagi, Kal. Sudah siap?” Balas Mama Kalla sambil berkaca di kaca kecil.
“Sudah. Papa mana?” Kalla belum melihat keberadaan Papanya.
“Ada, masih di kamar. Sedang siap-siap. Sarapan dulu, ya,” Mama Kalla menyodorkan roti tawar kesukaan Kalla.
Senyum Kalla seperti tak ingin berhenti mengembang. Hari itu, Mamanya terlihat begitu cantik dengan dress warna coklat yang sama dengan Kalla. Dandanannya pun cocok sekali, Kalla senang melihat wajah Mamanya sumringah kembali. Tidak ada keributan sejak kemarin, ini sudah memubuat Kalla sangat bahagia.
“Mama cantik sekali hari ini,” Ujar Kalla sambil memotong roti tawar di piringnya.
“Makasih, Kal. Kan hari ini salah satu hari penting dalam karier Mama, jadi, Mama harus tampil cantik,” senyum Mama Kalla mengembang sebentar, lalu kembali redup ketika Papa Kalla sudah sampai di meja makan.
“Pagi, Pa,” Kalla menyapa Papanya dengan senyum manis.
“Iya, pagi,” raut wajah Papa Kalla sangat berbeda dengan Mamanya.
“Sarapan, Pa. Mau Kalla siapin?” Kalla menawarkan menyiapkan roti tawar untuk Papanya.
“Boleh,” Papa Kalla memberikan Kalla kesempatan untuk menyiapkan roti tawarnya.
Pagi itu, sarapan keluarga Kalla memang lebih hening. Jarang ada obrolan yang menghiasi meja makan. Namun, itu saja sudah cukup bagi Kalla. Setelah belasan tahun Kalla menanti, akhirnya momen itu kembali lagi. Rasanya Kalla ingin sejenak menghentikan waktu. Memohon kepada waktu agar tetap berpihak kepadanya, kepada kebahagiaannya saat itu. Semua terasa cukup bagi Kalla. Keberadaan Mama dan Papanya ada di hadapannya menjadi salah satu momen berharga.
“Kita berangkat sekarang, yuk! Nanti Mama nggak enak kalau terlambat,” Mama Kalla mengajak Papa dan Kalla segera menuju ke kantor Mamanya.
Untuk pertama kalinya, sejak beberapa tahun terlewati, akhirnya keluarga Kalla pergi bersama. Meskipun bukan liburan, namun, sudah sangat membahagiakan. Mama dan Papanya berada di bagian depan mobil, Kalla duduk sendirian di belakang. Melihatnya lebih menyenangkan dari banyak hal lainnya. Sesekali Kalla melihat ke arah jalan. Tak jarang, Kalla ingin berteriak dan menceritakan momen ini kepada semua orang yang ada di jalan. Kalla mau semua orang tahu, ternyata masih ada kesempatan untuk keluarganya kembali utuh, setelah sekian lama runtuh.
~
“Selamat pagi Ibu manajer kita yang baru,” Sapa salah satu laki-laki ketika Kalla, Mama, dan Papanya sampai di kantor.
“Selamat pagi, Pak,” Mama Kalla membalas sapaan itu dengan senyum sumringah.
Papa Kalla langsung menyambut laki-laki itu dengan berjabat tangan. Kalla hanya menyuguhkan senyum manisnya, tanpa mengajukan tangannya untuk berjabat tangan dengan salah satu rekan kerja Mamanya.
“Silakan masuk! Acara sebentar lagi akan dimulai,” ucapnya sambil mempersilakan masuk.
Kalla dan Mama Papanya masuk, melewati banyak karyawan yang akan menyaksikan pengangkatan Mama Kalla sebagai manajer baru di perusahaan. Semua terlihat sangat rapi dengan balutan busana yang telah mereka siapkan. Senyum ramah pun menyambut kedatangan Kalla dan keluarga. Kalla merasa canggung, tidak kenyamanan yang Kalla temukan di sana. Wajah-wajah ambisius sangat terlihat. Suara-suara perebut pun seperti terdengar. Kalla menundukkan wajahnya, sungkan melihat semua rekan kerja yang hadir di sana.
“Kalla,” Mamanya memanggil Kalla.
“Ya, Ma?” Kalla gelagapan.
“Duduk sini di samping Mama,” Mamanya menyuruh Kalla untuk duduk di sampingnya sebelum acara dimulai.
“Apa kabar Bapak dan Ibu calon manajer,” sapa seorang laki-laki berbeda kepada Mama dan Papa Kalla.
Kalla tertegun mendengar sapaan dari laki-laki itu. Jika dilihat dari tampilannya, seperti Direktur perusahaan. Kalla tidak paham maksud sapaannya. Kalla hanya diam, melihat ke arah jam di tangan kirinya. Terus menunduk, sampai mendapatkan instruksi lain dari Mama dan Papanya.
“Kalla, jangan nunduk terus, dong! Ngga kelihatan nanti wajah kamu,” Papa Kalla menyuruh Kalla menaikkan kepalanya.
“Iya, Pa. Kalla malu,” ujar Kalla sambil berusaha menaikkan kepalanya.
“Kenapa harus malu, Papa dan Mama akan menjadi manajer. Kamu harusnya bangga, dong!” Papa Kalla membocorkan acara hari ini kepada Kalla.
“Manajer? Papa sama Mama?” Kalla semakin bingung dengan acara hari ini.
Sebelumnya, Papa Kalla sangat tidak semangat datang ke acara di kantor Mama Kalla hari ini. Namun, sekarang, Papa Kalla semakin bersemangat setelah menerima telepon di mobil sebelum sampai di kantor. Seperti ada hal yang membuat suasana hati Papanya berbeda. Acara pun dimulai, semua orang yang berada di ruangan itu sudah duduk rapi. Tidak ada yang berdiri, kecuali MC. Banyak sekali sambutan dari beberapa petinggi perusahaan. Salah satunya direktur utama yang hadir di sana, namun, setelah itu pamit untuk pergi terlebih dahulu karena akan berangkat ke luar negeri. Melihat keberadaan Mamanya di atas panggung, pasti ada rasa bangga dalam hati Kalla. Dari semua kerja keras Mamanya selama ini, akhirnya Mama Kalla mendapatkan jabatan yang selama ini dinanti. Semua adalah hasil kerja keras dari Mamanya. Setelah mengesampingkan rumah tangga, terutama anak semata wayangnya.
Acara tidak berjalan lama, setelah pengangkatan Mama Kalla selesai, acara pun selesai begitu saja. Hanya ada beberapa hiburan, itu pun sembari menikmati hidangan yang tersedia di sana. Ucapan selamat banjir untuk Mama Kalla, Papa Kalla juga sibuk mendampingi Mamanya. Sedangkan Kalla hanya duduk di kursi, tanpa berpindah kemanapun. Pandangannya tak terlepas dari kedua orang tuanya. Kalla merasa tidak nyaman ingin berpindah posisi. Jadi, Kalla memilih untuk tetap berada di sana, sampai Mama dan Papanya menghampiri Kalla.
“Kalla, kita pergi sekarang, ya!” Ajak Papa dan Mamanya.
Papa dan Mama Kalla tidak sempat mencicipi makanan yang telah dihidangkan. Sebab, ada acara lain yang harus dihadiri oleh orang tuanya itu. Kalla sama sekali tidak tahu acara apa yang akan dihadiri. Kalla hanya mengikuti arus, tanpa melawan sedikitpun.
“Kal, coba kamu ngaca. Penampilan kamu maisih oke atau tidak,” ujar Papanya sambil fokus menyetir.
“Rambut kamu, make up kamu, baju, dan lainnya masih on pint kan, Kal?” Mama Kalla menambahkan ucapan Papa Kalla.
“Kenapa, Ma, Pa?” Kalla sangat bingung dengan ucapan Mama Papanya.
“Harus rapi datang ke acara ini. Jangan malu-maluin Papa dan Mama, terutama Papa,” jawab Papa Kalla.
“Halah, kamu ini, Pa. Emangnya acara aku tadi nggak cukup penting?” Mama Kalla tidak terima dengan ucapan Papa Kalla.
“Lihat saja, setelah ini, kamu nggak akan bisa merendahkan aku lagi! Kita sama!” Papa Kalla tertawa tipis, seperti habis memenangkan sesuatu.