Hari Yang Mengejutkan

2144 Kata
Bahagia belum berpihak kepada Kalla. Semua yang menjadi angannya, ternyata sia-sia. Semua itu hanya asa, entah kapan akan menjadi realita. Kalla sudah banyak berharap pada hari ini. Namun, tidak ada yang mengabulkannya sama sekali. Mungkin, lebih tepatnya tertunda. Sampai waktu yang belum diketahui. Siang terik menyengat tubuh Kalla. Kalla memilih pergi dari acara Papanya. Kenyamanan tak ada di sana. Pergi adalah cara terbaik untuk menghindari sakit yang lebih dalam. Kalla kabur setelah izin dari toillet. Ponsel Kalla berdering terus, panggilan masuk dari Mama dan Papanya tak henti-henti. Kalla menangis sepanjang jalan keluar dari kantor Papanya. Sedih sekali ketika mengetahui apa tujuan dari Papanya. Jabatan yang sangat diinginkan Papanya rela ditukar dengan anak semata wayangnya. Demi gengsinya, agar tidak lagi direndahkan oleh istrinya sendiri. Tetapi, perasaan anaknya sama sekali tidak dipikirkan. Hanya jabatan dan materi dibenak kedua orang tua Kalla. Awalnya, Kalla diam mengikuti arus hari itu saja. Tak ada kepikiran Kalla untuk kabur dari acara yang telah dinanti Mama dan Papanya. Namun, ketika salah satu petinggi di kantor Papanya datang, semua terbongkar. Maksud mengajak Kalla ke acara besar Papanya sudah terbaca. Salah satu dari beberapa orang dihadapan Kalla seperti tidak asing bagi Kalla. Seperti pernah melihat, namun, Kalla tidak ingat dimana Kalla mengenalnya. Kalla berulang kali mencuri-curi waktu untuk melihat ke orang tersebut. Agar Kalla bisa mengingat dimana Kalla melihat wajah itu. “Bagaimana Pak, apakah sudah siap perjodohan ini?” terdengar suara petinggi di kantor Papanya berbisik di telinga Papa Kalla, namun terdengar sampai ke telinga Kalla. “Itu sangat mudah, Pak. Saya akan mengatur ini untuk anak Bapak. Yang paling penting, janji bapak harus ditepati,” balas Papa Kalla sembari menjabat tangan petinggi itu. Setelah acara selesai, Papa Kalla langsung menghampiri petinggi tersebut. Ada beberapa hal yang sedang mereka bicarakan. Sayangnya Kalla tidak bisa mendengarkan pembicaraan itu. Mama Kalla ikut bersama Papa Kalla. Kalla hanya seorang diri duduk di kursi yang sama sejak Kalla masuk ke ruangan. Laki-laki yang tidak asing dimata Kalla datang kembali. Sepertinya memenuhi panggilan petinggi itu. Kalla menebak laki-laki itu adalah anak dari petinggi di kantor Papa Kalla. Terlihat dari wajahnya, pakaian, dan keberadaannya diacara tersebut. Sudah beberapa lama Kalla menunggu obrolan orang tuanya dengan semua rekan kerja bahkan petinggi di kantor, akhirnya selesai juga. Ada perasaan lega yang tergambarkan di wajah Kalla. Ternyata Kalla salah, obrolan mereka selesai justru memulai pembahasan lain. Papa Kalla meminta Kalla untuk ikut dengan salah satu staf di kantor Papanya. “Kalla, kamu ikut dengan staf Papa di kantor, ya. Papa tunggu di ruangan Papa sama Mama. Papa dan Mamanya masih ada urusan yang harus diselesaikan. Kalla belum menjawab apapun, staf itu sudah menyuruh Kalla jalan mengikutinya. Dengan penuh keraguan, Kalla berjaln di belakang staf Papanya itu. Kalla masih memaksa dirinya untuk berpikir positif, karena tidak ingin mengecewakan Papa dan Mamanya. Namun, tidak ada bau-bau positif ketika Kalla berjalan bersama staf Papa Kalla. Akhirnya, setelah beberapa saat berjalan mengikuti staf itu, Kalla sampai di sebuah ruangan. Ruangan itu sudah disiapkan untuk makan siang bersama. Kalla dipersilakan masuk oleh stafnya. “Mba Kalla, silakan masuk dulu. Tunggu sebentar ya, mba. Nanti akan ada yang masuk dan menemui Mba Kalla,” ujar staf itu lalu pergi meninggalkan Kalla sendirian. Perasaan Kalla sangat tidak enak. Kalla mengambil ponselnya di dalam tas. Secepatnya Kalla mengirim lokasi terkini ke nomor Gibran. Kalla harus meninggalkan jejak sebelum terjadi sesuatu. Saat d**a Kalla berdebar kencang menunggu kedatangan seseorang, datanglah petinggi di kantor Papanya. Beliau memperkenalkan diri sebagai direktur di perusahan tempat Papanya bekerja. Kalla semakin merasa aneh dengan pertemuan ini. “Selamat siang... Kalla,” sapa direktur perusahaan itu. “Siang, pak,” balas Kalla dengan wajah menunduk tak berani menatap wajah direktur itu. “Kalla, kenapa kamu?” Direktur itu khawatir karena melihat Kala terus menunduk. “Eeeee, enggak, pak. Saya hanya sungkan, belum pernah bertemu dengan bapak sebelumnya,” jawab Kalla sembari mengangkat kepalanya secara perlahan. “Tenang saja, Kalla. Bukan saya yang akan menemuimu hari ini. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu saja,” ujar direktur itu diiringi tawanya yang renyah. “Kamu pantasnya dengan anak saya, bukan saya. Saya tidak akan macam-macam dengan anak dari pegawai saya sendiri. Saya hanya memperkenalkan diri saya kepada kamu, karena saya nantinya akan jadi mertua kamu,” ujar direktur itu tanpa ada perasaan ragu. “Mertua?” Kalla langsung mengangkat kepalanya dan menatap direktur itu. Wajah Kalla dipenuhi dengan kebingungan. “Istri saya sedang ada urusan, jadi, biarkan saya yang menjelaskan sendiri, ya,” direktur itu ingin menjelaskan maksud dari omongannya. “Papa kamu masih harus menemui banyak tamu di ruangan barunya. Jadi, pertemuan pertama ini biar saya yang menjelaskan semuanya. Jadi, Papa kamu sudah menyetujui perjodohan antara kamu dan anak saya. Anak saya sangat menyukai kamu. Begitu yang saya tahu, ia ingin kamu menjadi pendampingnya di masa depan,” perkataan direktur membuat Kalla benar-benar tidak menyangka. “Untuk lebih jelasnya, lebih baik kamu bertemu dengan anak saya dulu, ya. Biar saya panggilkan,” direktur itu beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Kalla sendirian di ruangan itu. Ini kesempatan untuk Kalla melarikan diri. Kalla tidak bisa diam saja dan mengikuti kemauan dari Papanya. Sebelumnya Papa Kalla juga tidak memberikan informasi apapun tentang perjodohan ini. Kalla kecewa sekali dengan Mama dan Papanya. Ketika Kalla keluar dari ruangan, ternyata ruangan itu telah dijaga oleh beberapa staf perusahaan. Kalla izin ingin pergi ke toilet. Staf perempuan itu pun mengantar Kalla ke toilet. Di dalam toilet, Kalla berpikir bagaimana caranya bisa keluar dari sana. Jika Kalla lari, pasti akan tertangkap begitu saja. Karena, banyak staf yang sedang berjaga di sana. Kalla memutar otaknya, supaya bisa pergi dari kantor Papanya tanpa ada yang mengejar. “Bu, maaf, boleh minta tolong?” Kalla keluar toilet dan berpura-pura butuh bantuan dari staf tersebut. “Iya, ada apa?” “Kalung saya jatuh di toilet, tapi, saya belum menemukan kalung itu. Ibu bisa bantu?” Kalla pura-pura kehilangan kalung. Staf itu percaya begitu saja kepada Kalla. Setelah staf tersebut masuk, Kalla mengunci pintu toilet, lalu, Kalla kabur dari kantor Papanya. Kalla mempercepat langkah kakinya supaya tidak ada yang menemukan Kalla saat mereka mengejar Kalla. Sampai di luar kantor Papa Kalla, Kalla berlari sekuat tenaga. Kalla berusaha mencari taksi di sekitar kantor. Sayangnya tidak ada sama sekali taksi yang datang dan berada di jalan itu. ~ “Kak, anterin gue ke rumah teman gue, ya. Ada acara di sana,” pinta Gea kepada Gibran. Gibran tidak menggubris perkataan adiknya itu. Gibran masih fokus pada ponsel di tangannya. Kalla mengirimkan pesan ke Gibran, pesan itu hanya berisi lokasi terkini Kalla. Gibran bingung, tak paham dengan maksud Kalla. “Kenapa ya, Kalla? Apa Kalla dalam bahaya?” Gibran sudah mulai panik. Langsung saja Gibran menelepon Kalla. Tak ada jawaban dari Kalla. Gibran semakin gelisah membayangkan apa yang terjadi dengan Kalla. “Kak, kok Lo nggak dengerin gue sih!” Gea kesal dengan Gibran yang tidak mendengarkan Gea sama sekali. “Iya iya, kenapa, dek?” Gibran membagi perhatiannya untuk Kalla dan Gea. “Anterin gue ke rumah temen gue. Sekarang!” Gea ngegas. “Iya iya, sabar sebentar, ya. Kakak mau telepon seseorang sebentar. Gibran mengalihkan perhatiannya ke ponsel lagi. Gea tidak digubris lagi, meskipun Gea sudah menggerutu. Kalla masih belum berhasil dihubungi. Pesan Gibran tidak dibalas sama sekali dengan Kalla, panggilannya pun tidak diangkat oleh Kalla. Gibran tidak bis berpikir positif. Semakin panik dan gelisah saja di mobil. “Lo kenapa sih, kak?” Giliran Gea yang bertanya kepada Gibran. “Hmm??” Gibran tak menjelaskan apa yang terjadi. “Lo itu kenapa, kak? Daritadi kayak sibuk banget. Gue sampe nggak diperhatiin sama sekali,” Gea kesal. “Dek, kamu ikut Kakak sebentar, ya. Kakak mau jemput seseorang,” Gibran langsung tancap gas, menuju ke alamat yang dikirimkan Kalla lewat pesan. “Mau kemana sih, kak? Ini kenapa lagi buru-buru kayak gini?” Gea khawatir karena Gibran menyetir mobil dengan kecepatan lumayan tinggi. Gibran sama sekali tidak menjawab Gea. Fokus menyetir dan memikirkan apa yang terjadi dengan Kalla. “kak, lo kenapa sih? Ada apa sih, kak?” Gea bertanya sambil ketakutan. Setelah beberapa saat dalam suasana yang mencekam, Gibran mencoba menenangkan diri. Gibran tidak tega melihat adiknya khawatir dengannya. Gibran juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan Gea. “Kamu tenang aja, ya. Kakak baik-baik aja, Cuma ada satu masalah yang nggak Kakak tahu. Jadi kakak harus cari tahu sekarang,” Gibran kembali fokus menyetir setelah memberikan penjelasan kecil kepada Gea. Kalla masih terus berlari, mencari tempat persembunyian yang tidak akan ditemukan oleh para staf dari kantor Papanya. Kalla mengambil ponselnya, lalu mencoba menghubungi Gibran. Sayangnya, ketika panggilannya berdering sekali, Kalla harus cepat bersembunyi karena ada yang melihat Kalla. Kalla menutup mulutnya, supaya napasnya tidak terdengar oleh siapapun di balik semak-semak. Dengan satu tangan, Kalla juga mematikan ponselnya agar jika ada yang menelpon tidak mengejutkan Kalla. “Kalla dimana sih? Kenapa teleponnya dimatiin, belum juga aku angkat,” Gibran ngomel sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. “Kak jangan main hp! Gue ditanya hp Lo kalo Lo masih nyetir sambil main hp!” Gea marah dengan Gibran karena bermain hp sambil menyetir mobil. “Okeoke, nggak gue ulangin. Tapi gue minta tolong! Tolong telepon Kalla pake hp gue, sekarang. Telepon dia terus sampai Kalla jawab telepon dari gue, paham?” Gibran menyuruh Gea menelepon Kalla. “Kalla? Siapa sih? Kayaknya penting banget buat kakak gue,” Gea menggerutu. Sudah beberapa menit Kalla bersembunyi di balik semak-semak. Akhirnya, Kalla memutuskan untuk kembali berlari setelah kondisi dirasa aman. Kalla mengambil ponselnya, menyalakan ponsel dan mencari aplikasi taksi online. Salah satu jalan agar Kalla tidak dikejar lagi adalah naik taksi online. “Oh iya, tapi dimana titiknya kalau aku pesan taksi online?” Kalla kembali bingung. Di sana sangat sepi, karena ini weekend jadi, jarang ada yang melintas. Biasanya jalanan akan ramai dengan para pekerja di hari kerja. “Kak Gibran dimana ya? Kenapa nggak telepon aku balik?” tangan Kalla gemetar memegang ponselnya sendiri. “Kak Gibran, tolong aku,” Kalla mulai panik dan hampir meneteskan air matanya diblayar ponsel. “Gimana dek, udah kesambung? Udah berhasil?” Gibran masih saja terus mencoba menghubungi Kalla sampai Kalla menjawab teleponnya. “Enggak, kak. Nggak aktif nih!” Gea menyerah dan tidak melanjutkan lagi memanggil Kalla. Setelah frustasi karena Kalla tidak menjawab panggilannya, Gibran tancap gasnya, lalu menuju ke alamat yang Kalla kirimkan. Gibran tidak sabar sampai di sana. Khawatir mengelabuhi pikiran Gibran saat itu. Sementara itu, Gea sudah bad mood karena sikap kakaknya. Padahal, Gea juga sudah ditunggu oleh teman-temannya. Tapi, Gea harus mengikuti Kakaknya dulu, kali ini Gea harus mengalah. Gea juga ingin tahu, siapa perempuan yang bisa membuat Gibran sampai panik setengah mati. “Masih jauh, kak?” Gea kembali membuka pertanyaan kepada Gibran. “Coba tolong cek dititik yang Kalla kirimkan ke kakak,” Gea lagi-lagi disuruh Gibran untuk mengecek alamat yang dikirimkan Kalla. “Hampir sampai, sih,” Gea membaca lokasi yang Kalla kirimkan. Kaki Kalla lecet, merah dan terasa sangat perih. Kalla berlari mengenakan heelsnya. Daritadi juga jalan yang Kalla terjang cukup berliku, sehingga membuat kaki Kalla mudah lecet dan pasti akan menimbulkan luka. Sekarang Kalla sedang berada di salah satu halte bus. Ada beberapa orang di sana, mereka sedang menunggu bus. Kalla duduk di halte sambil beristirahat. Tenggorokannya sangat kering, perutnya pun perih ingin sekali makan. Namun, keadaan tidak memungkinkan untuk itu semua. Kalla harus mencari tempat yang aman dulu, supaya bisa leluasa makan dan minum. Kalla membuka aplikasi taksi online, mengganti titiknya ke halte bus tidak jauh dari kantor Papanya. Kalla sesekali menengok ke arah kanan, kiri, dan belakang. Memastikan tidak ada yang mengejarnya. Setelah semua orang di halte pergi karena bus datang, Kalla tinggal sendirian. Kalla takut dan bingung harus bagaimana. Sedangkan taksi online Kalla masih jauh. “Kenapa aku nggak baik bus aja sih tadi,” sesal Kalla tidak ikut dengan bus yang tadi berhenti di depannya. “Sekarang kan jadi sendirian, kalau sampai aku dikejar, nggak akan ada yang bisa nolongin aku,” Kalla pun tidak bisa berpikir jernih lagi. Tangannya sibuk memegang ponsel, matanya melihat ke layar ponsel dan memastikan taksi online sampai di mana. Kalla sangat tidak sabar menanti taksi online yang bisa menyelamatkanbya dari bahaya ini. “Ayo dong, pak. Cepet sedikit,” Napas Kalla terengah-engah. Akhirnya, penantian Kalla habis ketika ada salah satu mobil berhenti di depannya. Kalla bergegas masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Plak! Tepukan itu sangat mengejutkan Kalla. Kalla tidak ingin menoleh ke belakang, sangat menakutkan bagi Kalla ketika bertemu dengan salah satu staf dari kantor Papanya lagi. “Mba, maaf itu taksi saya,” ternyata suara itu dari penumpang taksi online lainnya. Setelah Kalla memeriksa, ternyata memang bukan taksi online pesanan Kalla. “Astaga, maaf ya, mba. Saya kira tadi ini taksi online saya,” Kalla mundur dan langsung kembali duduk di halte bus. “Kalla!” ada dua arah suara yang memanggilnya. Kalla hanya bisa diam membeli di kursi halte bus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN