Kalla menutup kedua telinganya, menundukkan kepala. Badannya seolah tak kuasa menahan beban yang ada di pikirannya. Jalanan kini mulai bersuara. Lalu lalang kendaraan mulai terdengar samar di telinga Kalla. Namun, panggilan dari kedua orang yang berbeda masih membuat Kalla betah menutupi pendengarannya itu. Kalla takut sekali jika ternyata yang memanggil adalah staf kantor Papanya. Kalla tidak mau menuruti kemauan Papanya, apalagi hanya untuk menaikkan jabatannya di kantor. Kakinya mulai gemetar, air matanya tidak tertahan lagi. Ketakutan pun kian mengurung Kalla. Suara Kalla seolah menghilang. Badan Kalla lemas, tak mampu kembali berlari dari semua kejaran hari ini.
“Kenapa sih Papa tega,” Kalla terisak dalam tangisannya.
“Kalla!” Suara panggilan terdengar lagi, meski samar dan seperti dari jarak yang jauh.
“Tolong jangan, jangan! Kalla menggelengkan kepalanya, memberi kode jika Kalla tidak mau ikut dengannya.
“Saya mohon, jangan bawa saya, saya mohon!” Kalla masih terus memohon kepada orang yang memanggilnya.
“Mba, mba Kalla?” ternyata driver taksi online lah salah satu yang memanggil Kalla.
“Kalla!” Tetapi, satu orang ini belum Kalla ketahui siapa dia.
Kalla perlahan menaikkan kepalanya. Melihat ke arah taksi online itu. Kalla ingin buru-buru masuk ke taksi online, agar dirinya merasa lebih aman. Kejaran dari staf Papanya pun tak akan menguntit Kalla lagi.
“Bapak driver taksi online yang saya pesan?” Kalla melihat ke arah driver dengan air mata yang masih bercucuran.
“Iya, mba. Mba jadi naik taksi online saya kan? Dari tadi saya tunggu, mba ngga masuk-masuk,” jawab driver itu lalu mengajak Kalla masuk ke dalam mobil.
Baru beberapa langkah menuju taksi online, tangan Kalla sudah ditahan. Lagi-lagi Kalla tidak berani menatap siapa yang menahan tangannya. Lemas melandanya lagi, takut pun tak terbendung. Kalla menggigit bibir bawah Kalla, memikirkan cara agar Kalla bisa secepatnya masuk ke dalam mobil tanpa ditarik tangannya. Kalla sudah mengatur strategi untuk memukul seseorang yang menahan tangannya itu. Awalnya Kalla masih menundukkan kepalanya, namun, perlahan Kalla mulai menegakkan pandangan. Setelah itu, Kalla memegang erat sepatu yang dipegang di tangan kirinya. Sepatu itu harapan Kalla agar bisa menjadi senjata.
“Tenang, Kal. Ayo pukul, pukul, pukul!” ucap Kalla dalam hatinya.
“1,2....3,” Kalla berbalik arah dan sudah mengangkat tangan yang memegang sepatu.
“Kal!” Gibran berteriak dan melarang Kalla memukulkan sepatu ke badannya.
Gibran menahan tangan Kalla dengan kuat. Kalla sangat terkejut dengan kehadiran Gibran. Dipikiran Kalla yang menahan tangannya itu adalah staf dari kantor Papanya. Gibran langsung menggandeng tangan Kalla. Sebelum mengajak Kalla ke mobilnya, Gibran membayar ongkos taksi online yang tidak jadi Kalla tumpangi.
“Maaf ya, pak,” Gibran meminta maaf lalu mengajak Kalla ke mobilnya.
“Ihh siapa sih itu cewek. Udah ditolongin Kak Gibran, malah mau mukul Kak Gibran,” Gea sewot ketika melihat Kalla nyaris memukul Gibran dengan sepatu dari jauh.
Gibran melihat keadaan Kalla sangat mengkhawatirkan. Wajahnya pucat, badannya gemetar dan lemas. Air matanya pun bercucuran belum sempat Kalla hapus. Kakinya telanjang tanpa alas kaki. Kalla juga terlihat lusuh. Napas Kalla terengah-engah, seperti kelelahan. Gibran tidak mau menebak apa yang terjadi pada Kalla. Bagi Gibran, paling penting adalah menenangkan Kalla terlbih dahulu. Gibran melepas jaketnya, lalu memakaikan ke badan Kalla. Tangannya merangkul Kalla agar Kalla lebih kuat berjalan menuju mobil Gibran.
Gibran memberi kode kepada Gea, agar segera pindah ke belakang mobil. Dengan wajah cemberut, Gea menuruti kode dari kakaknya itu. Gea kesal sekali, hari itu Gibran hanya memikirkan Kalla saja. Padahal, Gea juga gagal menghadiri acara gara-gara mencari keberadaan Kalla.
“Ge, ada air mineral nggak?” tanya Gibran sembari mencari air mineral di dalam mobil.
“Nggak ada,” jawab Gea singkat sambil masih cemberut.
“Kakak minta tolong dong, Ge!” Gibran ingin meminta tolong kepada Gea.
“Apa nih?” Gea curiga dengan permohonan Gibran.
“Tolong beliin air mineral, ya,” Gibran memohon kepada adiknya itu.
Gea melotot dan menggelengkan kepalanya, menandakan jika Gea tidak mau menuruti permintaan Kakaknya itu.
“Plisss,” Gibran memelas di depan wajah adiknya itu.
Gea tidak bisa menolak jika Gibran sudah memelas kepadanya. Mood nya semakin rusak, tetapi, masih mau menuruti permintaan Kakak semata wayangnya itu.
“Kal, kamu kenapa sih sebenernya?” Gibran mencoba meminta penjelasan dari apa yang terjadi dengan Kalla.
Kalla setengah tiduran di mobil Gibran. Mencoba mengatur napas agar lebih tenang. Pandangannya masih kosong, dahinya dipenuhi keringat karena berlari menghindar dari apa yang membuatnya takut. Sesekali tangannya masih menggenggam, melepaskan segala ketakutannya. Tapi, Gibran dengan sabar menunggu Kalla, tidak memaksanya bercerita saat itu juga.
“Kamu tenangin diri kamu dulu, ya,” Gibran memegang tangan Kalla. Mengelus punggung tangan Kalla.
Beberapa saat kemudian Gea masih belum juga datang membawa pesanan kakaknya. Padahal Gibran sudah sangat menunggu air mineral itu untuk Kalla. Gibran mengambil tissue yang ada di mobilnya. Mengelap semua air yang ada di wajah Kalla. Air mata di pipi Kalla, juga bekas keringat di bagian kening Kalla. Kalla mengatur napasnya, membuang jauh-jauh pikiran buruk tentang hari ini. Menukar semua kekhwatiran dengan keberanian. Karena sekarang, sudah ada Gibran di sisinya.
“Gea kemana sih, lama banget beli air mineral,” Gibran ngomel sambil membuka jendela mobil dan melihat ke sekitar.
Tidak sabar menunggu Gea, akhirnya Gibran memutuskan menelepon Gea. Gibran heran, lama sekali Gea pergi hanya untuk membeli air mineral. Panggilannya berdering, tetapi, tak kunjung Gea jawab. Gibran semakin ngedumel. Mau meninggalkan Kalla, Gibran masih khawatir. Gibran pun mengirim pesan ke adiknya agar segera kembali ke mobil membawa pesanannya itu.
~
“Hah, males deh gue. Mendingan gue cabut aja, deh. Daripada balik ke mobil jadi obat nyamuk,” Ucap Gea ketika meninggalkan mobil.
Gea terlihat menelepon salah satu temannya untuk menjemput Gea agar bisa pergi dari Kalla dan Gibran. Gea mengirimkan lokasinya saat itu. Karena kesal dengan Kakaknya, lebih mementingkan Kalla daripada Gea, adiknya sendiri. Tak selang lama setelah menelpon temannya, Gea pun dijemput salah satu mobil. Ketika melihat siapa yang menyetir, Gea langsung sumringah. Gea berlari masuk ke dalam mobil.
“Akhirnya, gue nggak jadi obat nyamuk!” Gea senang karena tidak menjadi obat nyamuk Kakaknya.
~
Sudah cukup lama Gibran menunggu Gea di dalam mobil. Gea sama sekali tidak ada kabar juga belum terlihat batang hidungnya. Pesan dari Gibran tak Gea balas, panggilannya pun Gea abaikan begitu saja. Gibran mulai tidak sabar, akhirnya, Gibran kembali menelepon Gea.
“Kemana sih ini anak. Suruh beli air mineral aja lama banget. Nggak ada kabar lagi,” Gibran mulai khawatir dengan adiknya itu.
Di sebrang sana, Gea sedang asik bersama teman-temannya. Beberapa kali Gea mengabaikan panggilan dari kakaknya. Lama kelamaan, panggilan dari Gibran cukup mengganggu Gea. Gea akhirnya menjawab panggilan dari Gibran.
“Kamu kemana aja sih? Lama banget Cuma beli air mineral aja?” Gibran langsung ngomelin Gea di telepon.
“Oh iya, Gea lupa, kak. Gea sekarang lagi kumpul sama temen-temen Gea. Jadi, air mineralnya nggak bisa Gea beliin deh,” ujar Gea sebelum menutup panggilan dari Gibran.
“Hah?” Gibran terkejut mendengar penjelasan adiknya itu.
“Halo, halo... Gea, Ge? Astaga dimatiin segala. Bener-bener nggak sopan sama kakaknya,” Gibran terlihat kecewa. Tetapi, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Kenapa, kak?” Kalla sudah mulai mau berbicara.
“Ini, si Gea. Tadi kan aku minta tolong beliin air mineral buat kamu, eh dianya malah kabur sama temen-temennya,” Gibran menjawab sembari memutar mobilnya agar segera pergi dari tempat itu.
“Kita cari tempat yang bisa buat kamu istirahat, ya,” Gibran mengajak Kalla pergi dari tempat dimana Kalla ketakutan.
Dalam perjalanan, Kalla berusaha agar tidak terus mengingat kejadian tadi di kantor Papanya. Sebisa mungkin, Kalla hanya mau menikmati perjalanan saja. Tanpa ada pikiran lain, apalagi tentang kejaran dari staf-staf mengerikan itu. Tiba-tiba saja, Kalla tertawa malu, karena perutnya bersuara. Pipi Kalla memerah, wajahnya tersipu.
“Kamu lapar, ya?” Gibran malah menambah meledek Kalla.
Kalla hanya tertawa kecil, tak menjawab Gibran. Gibran pasti tahu, jawaban Kalla apa. Gibran pun terkekeh melihat tingkah Kalla. Kemudian, Gibran mencari tempat makan terdekat.
“Kita makan, yuk!” ajak Gibran sambil melepas sabuk pengaman.
Kakak ragu mau keluar dari mobil. Dandanannya sudah sangat berantakan. Baju dan kaki Kalla kotor. Kalla malu masuk ke dalam restoran itu. Kalla tidak mau membuat Gibran malu karena tampilan Kalla yang lusuh.
“Kak,” Kalla memanggil Gibran sembari menahan salah satu tangan Gibran.
“Ya, kenapa?” Gibran menatap wajah Kalla.
“Aku malu,” ucap Kalla sembari melihat ke arah baju dan kakinya.
“Malu kenapa?” Gibran tak paham dengan ucapan Kalla.
Setelah Kalla menjelaskan alasannya, Gibran pun langsung mencari cara agar Kalla tidak ragu lagi masuk ke restoran. Giran terpaksa meninggalkan Kalla sendirian di mobil, Gibran janji tidak akan lama meninggalkan Kalla.
“Kamu tunggu di sini sebentar, ya. Aku Cuma sebentar aja,” ucap Gibran sambil menenangkan Kalla supaya tidak takut sendirian di dalam mobil.
“Aku bawa hp, jadi, kalau ada apa-apa kamu langsung kabarin aku. Oke?” Gibran cepat-cepat keluar dari mobil. Jalannya pun seperti orang terburu-buru.
Kalla menatap layar di ponselnya. Melihat bagaimana angka berganti dibagian jam ponsel. Kalla menunggu Gibran kembali ke mobil. Karena masih tersisa rasa ketakutan, waktu pun terasa seperti sangat lama. Padahal, baru saja Gibran pergi dari mobil. Tak lama kemudian, Gibran datang dengan beberapa tentengan di tangannya. Senyum Gibran mengembang, ketika melihat ke arah mobil. Gibran tahu, pasti Kalla melihat Gibran dari luar.
“Apa itu, kak?” Kalla penasaran kenapa Gibran kembali dengan banyak bawaan di tangannya.
“Buat kamu. Biar kamu nggak malu lagi mau masuk ke restoran,” Gibran memberikan semua tentengannya untuk Kalla.
“Hah? Serius?” Kalla tidak percaya semua itu untuk Kalla semua.
Di dalam tentengan itu ada beberapa tissue basah untuk membersihkan flek tanah di kaki dan tangan Kalla. Lalu, ada satu dress cantik yang sengaja Gibran beli untuk Kalla. Tak lupa, ada sepatu sandal manis pelengkap belanjaan Girban sore itu. Kalla tertawa melihat isi dari bawaan Gibran. Kalla sama sekali tidak menyangka jika Gibran akan melakukan hal itu kepadanya. Apalagi, Gibran dengan sigapnya membantu Kalla membersihkan tangan dan kaki Kalla.
“Biar aku aja, kak,” Kalla menolak bantuan dari Gibran.
“Ssttt, biar cepet. Nanti perut kamu protes lagi,” Gibran tidak menghiraukan penolakan dari Kalla.
Setelah merasa lebih bersih, Gibran keluar lagi dari mobil.
“Mau kemana, kak?” Kalla heran melihat Gibran keluar dari mobilnya.
“Mau keluar, dong! Kamu kan harus ganti dress kamu yang kotor itu,” ujar Gibran.
Kalla bergegas mengganti dress pemberian Mamanya yang kotor itu dengan dress pemberian dari Gibran. Warnanya sangat manis, army. Kalla suka sekali dengan bentuk juga warnanya. Dress polos dengan lengan panjang. Kulit tubuh Kalla terlihat semakin bersih. Tidak lupa, Kalla juga memberikan sentuhan make up seadanya. Untung saja, Kalla sempat memasukkan beberapa make up penting di dalam tasnya. Sebelum keluar, Kalla menyemprotkan parfum ke badan. Supaya, bau asam badan Kalla tidak tercium oleh para pengunjung restoran lainnya.
Suara pintu mobil terbuka sudah terdengar. Gibran berbalik arah untuk melihat Kalla. Gibran salting sendiri melihat Kalla memakai dress yang dia belikan. Seperti ada kebahagiaan tersendiri berhasil memilih dress untuk seorang wanita. Sepatu Kalla belum sepenuhnya terikat. Ternyata, masih ada bagian yang lepas. Saat Kalla berjalan, Gibran menahan Kalla supaya tetap berdiri di sana. Kalla tidak banyak komentar, hanya diam dan menuruti apa yang Gibran mau. Kembali tak menyangka dengan sikap, Gibran. Gibran mau berlutut di kaki Kalla demi membetulkan sepatu Kalla yang masih terbuka. Kalla terharu dengan sikap manis Gibran. Sebelumnya, memang ada Aksa yang selalu melakukan hal seperti ini kepadanya. Namun, kini ada laki-laki lain dengan tulus memperlakukannya seperti seorang ratu.
“Astaga, kak. Biar aku aja,” Kalla berusaha meraih tangan Gibran dan menyuruh Gibran berdiri. Kalla tidak enak hati jika ada orang lain melihat ke arah mereka berdua.
“Udah selesai, tuh!” Gibran ternyata sudah menyelesaikannya.
Kalla speechless, tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi, selain terima kasih. Bukan berlebihan, tetapi, justru perlakuan seperti itu yang berlebihan untuk Kalla. Apalagi Kalla dan Gibran hanya sekedar teman dekat saja. Tidak ada hubungan spesial.
“Makasih ya, kak,” Ucapan Kalla terdengar jika Kalla tidak enak hati karena sudah membuat Gibran berlutut di kakinya. Meski hanya membetulkan sepatu.
“Udahlah nggak usah dipikirin. Kalau aku mau ngelakuin, pasti akan aku lakuin. Kalau enggak ya enggak. Jadi, nggak ada unsur keterpaksaan,” Gibran menjelaskan.
Gibran dan Kalla berjalan bersama masuk ke restoran. Bak sepasang kekasih, mereka sangat serasi tampilannya di sore hari itu. Dari pakaian, gesture, juga dari langkah kaki mereka. Tak lupa, sebelum Gibran menggandeng tangan Kalla, Gibran selalu meminta izin kepada Kalla. Jika Kalla tidak mengizinkan, Gibran tidak akan melakukannya. Setelah menemukan tempat duduk, Gibran segera meminta pelayan restoran mengambilkan air putih untuk Kalla. Sebab, Kalla masih terlihat pucat dan belum seperti biasa. Meskipun sudah ada sedikit senyum di wajahnya, namun, ketakutan Kalla belum mampu Kalla tutupi sepenuhnya.
“Makasih, mba,” ujar Gibran kepada pelayan restoran yang membawakannya segelas air putih.
“Kamu minum dulu, ya,” Gibran menyodorkan gelas itu kepada Kalla.
Perlahan, Kalla meneguk air putih itu hingga tinggal setengah. Tenggorokan Kalla terasa lebih baik. Perasaannya sedikit berubah, setelah meneguk air putih dan merasakan perhatian dari Gibran.