Hal Manis

1166 Kata
Selesai makan, Gibran tidak kunjung membawa Kalla pulang ke rumah. Gibran bilang, ada yang ingin disampaikan kepada Kalla. Kalla pun tak menolak ajakan Gibran. Gibran mengajak Kalla ke bagian restoran yang sudah Gibran pesan. Tanpa sepengetahuan Kalla, tenyata Gibran telah memesan meja spesial untuknya dan Kalla. Ini adalah pertama kalinya Gibran melakukannya untuk seorang wanita. Masih sedikit kaku dan canggung, namun, Gibran harap semua ini akan berjalan dengan lancar. “Kak Gibran kenapa pesan meja lagi?” Tanya Kalla dengan sangat polos. “Yang tadi sempit, jadi aku mau kita pindah,” jawab Gibran sesukanya. “Kan kita udah selesai makan, ngapain pesan meja lagi, kak?” Kalla bertambah polos setelah mendapat jawaban dari Gibran. “Duduk dulu, yuk!” Gibran mempersilakan Kalla duduk terlebih dahulu. Sebelumnya, Gibran tidak ingin ada banyak hal romantis di sana. Gibran hanya ingin privasinya terjaga saja. Sebab, Gibran termasuk salah satu orang yang sulit sekali untuk romantis. Pasti Gibran akan malu sendiri jika melakukan hal itu. Makanya, Gibran tidak terlalu memberikan momen romantis untuk Kalla malam itu. “Aku minta waktu kamu sebentar ya malam ini,” izin Gibran kepada Kalla sebelum memulai pembicaraan yang serius.   “Eee, iya nggak apa-apa sih, kak. Cuma, ada apa, ya?” Kalla sangat penasaran dengan sikap Gibran tersebut. “Coba deh kamu bisa tebak, nggak?” Gibran selalu memberikan jawaban yang membuat Kalla semakin bingung. Kalla hanya tertawa sambil melemparkan pandangannya ke sekitar meja. Gibran terlihat sedang mengatur napas. Meskipun sering bicara di depan ribuan orang, Gibran masih saja gugup bicara di depan Kalla. Ini kali pertama Gibran ingin mengungkapkan perasaannya kepada seorang perempuan. Rasanya tidak percaya diri, tetapi Gibran juga tidak ingin melewatkan momen ini begitu saja. “Huhhhhh,” Gibran menghembuskan napasnya sampai Kalla mendengar. “Kenapa, kak?” Kalla terkejut mendengar Gibran membuang napasnya kencang. “Grogi di depan kamu,” lagi-lagi Gibran dengan cuek menjawab pertanyaan Kalla. Kalla heran dengan sikap Gibran ini. Tidak ada ekspektasi apapun yang Kalla letakkan dalam pikirannya. Karena hari itu sudah terlalu banyak kecewa yang melanda. Jadi, Kalla hanya ingin mengikuti arusnya saja. Tanpa ada ekspektasi apapun di sana. “Kal, sebelumnya aku belum pernah melakukan ini kepada perempuan mana pun. Kamu yang pertama, semoga akan jadi yang terakhir juga,” Gibran membuka obrolannya. Kalla yang tadinya sedang menikmati suasana jadi fokus menatap Gibran. Lama kelamaan Gibran semakin gugup, dan itu terlihat dari wajahnya. Tangan Gibran pun dingin sekali. Seperti ada hal besar yang akan terjadi kepadanya. “Ada apa sih, kak?” Kalla meminta penjelasan kepada Gibran. “Hari ini, aku mau menghapuskan kekecewaan kamu. Aku mau, kecewa kamu berubah menjadi tawa. Meskipun sederhana, tapi setidaknya hari kamu tidak sekelam yang kamu pikirkan,” Gibran kembali memberikan kata-kata. “Iya... Terus?” “Kal, kamu tahu kan aku gugup?” ucapan Gibran mengundang tawa Kalla. “Aku penasaran kak, kak Gibran ini mau ngapain sebenernya,” Kalla masih dengan tawa kecilnya. “Aku mau minta kamu jadi pacar aku. Kamu mau?” Gibran pun akhirnya to the point. Mata Kalla terbelalak ketika mendengar pernyataan dari Gibran. Gibran memintanya menjadi pacarnya, sedangkan itu sama sekali tidak pernah terbayangkan dalam benak Kalla dalam waktu dekat ini. Mungkin sebenarnya memang ada, tetapi, Kalla yang berusaha menutupi harapannya itu. Agar tidak ada kecewa dikemudian hari. “Kak Gibran nggak salah, kan?” Kalla mencoba meyakinkan Gibran atas pernyataan juga pertanyaannya. Gibran langsung berdiri, membuktikan kepada Kalla jika permintaannya ini serius. “Kamu mau jadi pacar aku?” Gibran mengulangi pertanyaannya. “Sebelumnya aku ragu buat menyatakan ini ke kamu. Tapi, setelah banyak hal yang aku lalui sama kamu, aku jadi yakin, aku ada perasaan spesial untuk kamu. Nggak mungkin aku khawatir sampai sebegitunya, kalau hati aku nggak ada maksud apa-apa. Kamu menghilang sebentar saja, aku udah nggak tenang, Kal. Aku juga cemburu kalau kamu sama orang lain. Bukannya itu udah cukup meyakinkan kalau memang aku sayang sama kamu lebih dari sekedar teman, ataupun senior ke juniornya?” Gibran menjelaskan panjang lebar tentang perasaannya. “Kak.... Aku bingung mau jawab apa,” Kalla tidak bisa berkata apa-apa. Kalla masih tidak menyangka hari itu akan datang. Hari dimana Gibran menyatakan perasaannya. Dipikiran Kalla, Gibran akan lebih lama menggantung hubungan mereka tanpa status. “Kak, tapi jujur aku sama sekali nggak berpikiran tentang hal ini sekarang. Yang ada dipikiran aku hanya bagaimana aku bisa kembali ke rumah dengan perasaan yang baik-baik saja. Setelah semua yang terjadi sama aku tadi siang,” Kalla mencoba menjelaskan perasaannya. “Oke... Aku paham. Sekarang kita pulang aja, ya. Kita bahas obrolan ini lain kali,” Gibran dengan bijak mengganti topik obrolan mereka. Gibran tidak ingin menambah beban pikiran Kalla hari itu. Sebenarnya, niat Gibran justru mengganti hari yang menyedihkan bagi Kalla menjadi hari yang menyenangkan. Bahkan hari yang manis untuk dikenang. Sayangnya, pernyataan cinta Gibran kepadanya tidak cukup manis, sehingga Kalla belum bisa melupakan kemalangannya hari itu. Gibran memahami dan tidak ingin memaksakan kehendaknya. “Bukan gitu maksud aku, kak,” Kalla mencoba menjelaskan maksud omongannya tadi. “Aku paham, kal. Tapi, aku Cuma ingin mencoba mengganti hari buruk kamu aja. Siapa tahu, pernyataan cinta aku ini bisa menjadi hari yang manis untuk kamu kenang. Ternyata, tidak semudah itu. Maafin aku, ya,” Gibran mencoba memahami keadaan Kalla yang masih terluka atas sikap Papanya. Kalla memeluk Gibran dari belakang ketika Gibran akan kembali ke kursinya. Mereka hanya menikmati momen itu, tanpa ada obrolan yang keluar dari salah satunya. Kalla memejamkan mata, mengingat semua yang telah Gibran berikan serta lakukan kepadanya. Semua cukup membuatnya lebih tenang. “Makasih kak udah selalu ada untuk aku, sebagai orang spesial,” ucap Kalla sembari merekatkan lagi pelukannya. Gibran salting jika dilihat dari arah depan. Pipi Gibran memerah, wajahnya tersipu malu. Belum pernah sebelumnya Gibran merasakan pelukan dari perempuan yang bukan keluarganya. Kalla melakukan ini agar tidak mengecewakan Gibran. Gibran sudah banyak berkorban untuknya. Kekecewaan tidak pantas untuk Gibran dapatkan dari Kalla. Kalla pun melakukan ini sebagai tanda terima kasihnya. Gibran berbalik badan, lalu menarik Kalla ke pelukannya. Kini, mereka lebih romantis lagi. Gibran mengelus rambut Kalla dengan lembut. Lalu, mendaratkan kecupan di kepala Kalla. Kalla sempat terkejut dengan apa yang Gibran lakukan. Tetapi, bukankah itu wajar? Perasaan mereka sebenarnya sama, hanya saja belum ada status yang merekatkan perasaan mereka lagi. “Aku takut pulang ke rumah, kak,” ucap Kalla di pelukan Gibran. “Papa pasti akan marah besar sama aku. Atau, Papa akan bikin aku luka lagi seperti tangan dan kaki aku kemarin?” Kalla merengek. “Aku akan jagain kamu, sampai kamu merasa tenang. Aku nggak akan membiarkan orang lain nyakitin kamu lagi. Meskipun itu Papa kamu sendiri,” Gibran menenangkan Kalla. Sikap Gibran memang dingin, tetapi bisa hangat jika bersama dengan Kalla. Apalagi ketika Kalla sedang merasa tidak baik-baik saja, pasti kehangatan itu akan muncul dengan sendirinya. Semua orang menilai Gibran dingin juga kaku, berbeda saat bersama Kalla. “kak Gibran kan pulang, akan ninggalin aku sendirian di rumah,” Kalla merengek kembali. “Aku akan cari cara, supaya Papa kamu nggak lihat kamu pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN