Kalla dan Gibran sudah sampai di depan rumah Kalla. Gibran memarkir mobilnya lebih jauh dari biasanya. Agar tidak ada orang rumah yang menyadari kehadiran Kalla dan Gibran. Sebelum keluar mobil, Kalla masih terlihat takut dan cemas. Persoalan tadi siang sangat membuat mental Kalla jatuh. Semua yang menimpanya justru berasal dari orang tua. Itu salah satu yang membuat Kalla semakin down. Kalla tak lebih berarti daripada materi. Padahal, hanya Kalla yang Papa dan Mamanya punya. Mungkin saja, beliau belum menyadari, jika Kalla adalah dunianya. Bukan materi yang selama ini Papa dan Mamanya cari.
Gibran menggenggam tangan Kalla, supaya Kalla tidak takut lagi. Gibran memberikan Kalla kekuatan, agar bisa melewati kepahitan hidupnya. Kalla dan Gibran sedang memantau, apakah aman jika Kalla dan Gibran turun dari mobil sekarang. Mereka masih memantau beberapa menit lagi, untuk memastikan Mama dan Papanya sudah tidur. Setelah lewat 10 menit, Gibran meyakinkan Kalla untuk keluar dari mobil. Kalla masih ragu untuk masuk ke rumahnya sendiri. Tetapi, seperti biasa. Gibran hadir sebagai dorongan Kalla supaya melepas segala keraguannya.
“Kal, sekarang kita keluar, ya?” Gibran mengajak Kalla keluar dari mobilnya. Namun, Kalla masih saja belum siap.
“Tunggu deh, kak! Kalau Mama dan Papa belum tidur bagaimana?” Kalla masih saja ragu.
“Kan kita sudah pantau dari tadi, Kal. Mama dan Papa kamu juga nggak ada yang keluar rumah, kan?” Gibran menjawab berusaha agar tidak membuat Kalla semakin ragu.
“Iyasih. Tapi, kalau kita keluar Mama dan Papa bangun?”
“Astaga, Kal. Emangnya kita mau bangunin sahur. Kita kan jalannya juga pelan-pelan, Kal,” Gibran sedikit frustasi menghadapi keraguan Kalla.
“Iyadeh, kita keluar sekarang,” Kalla sudah membulatkan tekad keluar dari mobilnya.
Gibran dan Kalla membuka pintu mobilnya, lalu, mereka keluar dari mobil sambil mengawasi keadaan. Mereka juga sangat berhati-hati ketika menutup mobilnya. Takut jika ada suara bisa membuat Mama dan Papanya terkejut.
“Aman sepertinya, kak,” Kalla menengok ke arah Gibran dan memberikan kode jika keadaan aman.
Gibran dan Kalla pun berjalan menuju ke depan kamar Kalla. Setelah sampai di depan kamar Kalla, Gibran memikirkan sejenak bagaimana cara agar Kalla bisa naik ke atas kamar tanpa harus masuk ke dalam rumah.
“Kak, naiknya aku bagaimana?” Kalla bertanya hal yang saat itu sedang Gibran pikirkan.
“Kamu ada tangga?”
“Tangga? Ada kak di dalam rumah,” Kalla menjawab dengan sangat polos.
“Maksud aku bukan itu, Kal. Tangga yang ada di luar rumah. Yang suka untuk manjat pohon, bersih-bersih atau apalah,” Gibran mencoba menjelaskan apa yang Gibran maksud.
Kalla mulai pasrah dengan keadaan. Kalla tidak tahu ada apa di sekitar rumahnya. Karena memang Kalla tidak lagi peduli dengan setiap sudut rumahnya, semenjak cinta di rumahnya hilang.
“Kamu tunggu dulu di sini, ya. Aku cari dulu tangganya,” Gibran mencari keberadaan tangga di sekitar rumah Kalla.
Kalla menunggu di depan kamarnya sendirian. Sesekali menggesekkan kakinya, karena ada banyak nyamuk yang menempel di kakinya. Tangannya pun tak diam begitu saja. Kalla berusaha menghangatkan badannya menggunakan tangan. Sedangkan, Gibran berkeliling di area rumah Kalla. Mencari tangga agar Kalla bisa masuk ke kamar tanpa ada harus masuk ke rumah. Setelah beberapa saat menunggu, Gibran datang membawakan tangga untuk Kalla.
“Kal, sudah nemu tangganya!” Gibran sangat antusias.
Gibran berlari kecil sambil keberatan membawa tangganya. Napas yang ngos-ngosan menjadi backsound malam itu di depan rumah Kalla. Tangganya sudah Gibran letakkan di bagian bawah kamar Kalla, sayangnya, tangga itu tidak cukup tinggi untuk mencapai balcon kamar Kalla.
“Yahhh, kak,” Kalla mengeluh setelah melihat tangganya yang tidak cukup tinggi.
“Kenapa, Kal?”
Kalla memberi kode ke Gibran agar melihat ke tangganya.
“Kurang tinggi, ya?” Gibran juga kecewa dengan tangganya.
Gibran dan Kalla duduk di rumput sejenak. Memikirkan cara lain agar bisa sampai ke kamar Kalla. Setengah jam sudah berlalu, mereka masih saja duduk terpaku. Belum ada cara lain yang menggerakkan mereka lagi. Justru Gibran dan Kalla semakin malas untuk berbuat apapun. Tak lama kemudian, ada mobil yang datang ke rumah Kalla. Tetapi, parkirnya jauh di belakang mobil Gibran. Ternyata itu mobil Papa dan Mama Kalla. Gibran dan Kalla langsung berdiri. Gibran memutar otak agar Kalla bisa langsung masuk ke rumahnya sebelum mobil Mama dan Papanya sampai.
“Kak, itu mobil Papa. Tapi, kenapa nggak masuk ke sini?” Kalla keheranan.
Gibran juga masih menunggu Papa dan Mama Kalla masuk. Sudah beberapa waktu, mobil Mama dan Papa Kalla masih saja di belakang mobil Gibran. Ternyata, mobil Gibran menghalangi. Gibran langsung mendapatkan ide, Gibran akan menghalangi mobil itu sampai Kalla masuk ke dalam rumah.
“Kamu bawa kunci rumah, kan? Sekarang masuk ke rumah, lari ke kamar. Aku tunggu di sini. Kalau kamu sudah di kamar, telepon aku. Aku akan nyingkirin mobilnya,” Gibran langsung menyurh Kalla masuk ke rumah.
Kalla berlari sambil mengambil kunci rumahnya. Karen gugup beberapa kali kunci rumahnya jatuh, akhirnya pintu rumah Kalla pun terbuka. Kalla langsung masuk ke dalam rumah dan menguncinya dari dalam. Setelah itu, Kalla naik ke kamarnya.
“Kak, aku sudah di kamar,” suara Kalla di ponsel Gibran.
Gibran berlari ke arah mobilnya.
“Maaf om, tante, saya nyasar. Saya kira ini rumah nenek saya, dari tadi saya ketuk pintunya tidak ada yang membukakan pintu,” Gibran menyamar menjadi anak culun agar Mama dan Papa Kalla tidak mengenalinya.
“Ini mobil kamu?” Mama Kalla turun dari mobil.
“Heyyy jalan dong! Parkir sembarangan di rumah orang!” Papa Kalla emosi karena mobil Gibran menghalangi cukup lama.
“Lain kali, jangan parkir sembarangan di rumah orang ya!” Mama Kalla berjalan ke dalam rumahnya.
Gibran pun memutar mobilnya dan pergi dari rumah Kalla. Mama dan Papa Kalla sama sekali tidak mengenali jika itu Gibran. Acting Gibran berhasil. Jika Gibran dan Kalla tahu Mama dan Papanya belum pulang, Gibran tidak akan susah-susah mencari tangga untuk Kalla memanjat ke kamarnya. Di dalam mobiL, Gibran tertawa sendiri. Mengingat beberapa kejadian lucu barusan. Kalla pasti sangat ketakutan, sampai tidak berpikir jika mobil Papanya belum pulang ke rumah.
Sampai di kamar, Kalla langsung mengunci pintunya dan mematikan lampu kamarnya. Kalla menyisakan lampu tidur saja agar tidak terlalu gelap. Setelah selesai bersih-bersih, Kalla menuju ke tempat tidurnya. Kalla senyum-senyum sendiri mengingat kejadian barusan. Gibran sudah mencari tangga susah payah, ternyata Papa dan Mama Kalla tidak ada di dalam rumah.
“Kak Gibran kasihan, sudah bawa tangga sebesar itu tapi tidak terpakai,” Kalla tertawa kecil.
“Kenapa aku bisa nggak ingat kalau mobil Papa belum ada di rumah, ya?” Kalla heran dengan dirinya sendiri.
Tak berhenti di situ, Kalla juga tertawa melihat Gibran yang berlagak menjadi anak culun. Anak culun nyasar malam-malam. Rambutnya dibelah tengah, kaos kakinya dipanjangkan, celananya dinaikkan hingga tinggi sekali. Anak yang biasanya bersikap dingin bisa menjadi sekonyol itu demi Kalla. Kalla senang sekali dengan apa yang sudah Gibran lakukan hari ini.