Beberapa bulan ini, Gibran telah mengisi hari-hari Kalla. Meski tidak bermaksud menggantikan sosok Aksa, kini Gibran lebih dekat dengannya. Kalla juga tak lagi menolak kedekatan yang terjalin diantara mereka. Tidak seperti beberapa tahun lalu, selalu ada penolakan ketika laki-laki lain mendekatinya. Setelah kejadian lucu semala, Kalla pun bisa tidur nyenyak dan sejenak melupakan kejadian menyedihkan sebelumnya. Walaupun, tetap saja akan menjadi salah satu hari yang menghancurkan perasaan Kalla. Gibran yang telah membuat hati Kalla semakin merasa lebih baik. Sakit hatinya bukan sekedar patah hati biasa. Sebab, yang menyebabkan luka itu adalah cinta pertamanya sendiri, Papa Kalla.
Kalla mencoba mendengarkan suasana di luar kamarnya. Apakah Mama dan Papanya sudah berangkat bekerja atau masih berada di rumah. Kalla menempelkan telinganya ke pintu. Berusaha menangkap suara sekecil apapun itu yang terdengar di rumahnya. Sayangnya, sama sekali tidak terdengar apa-apa. Kalla mengganti strateginya. Kini, mata Kalla yang menempel di bagian kunci kamarnya. Kalla melepas kuncinya agar ada bolongan yang bisa melihat ke arah luar. Ternyata sama saja, tidak ada gerak gerik orang berada di rumahnya. Namun, Kalla masih tetap was-was jika tiba-tiba Papa atau Mamanya bertemu dengannya. Permasalahan kemarin, pasti akan membuat keributan yang besar di rumahnya. Lalu, Kalla kembali mengunci pintu kamarnya. Beberapa kali berjalan mengelilingi kamar. Kalla sedang mencari jalan keluar untuk bisa pergi ke kampus, tanpa bertemu dengan Mama dan Papanya.
Kalla ingat tangga yang semalam Gibran ambil entah dari mana asalnya. Kalla langsung lari ke arah jendela kamar. Tangganya masih berada di depan kamarnya. Kemudian, Kalla memiliki ide menggunakan tangga itu. Tapi, tangga itu pun tak mudah untuk Kalla raih. Strategi lain pun siap untuk Kalla pikirkan. Sampai sudah beberapa lama, Kalla masih mondar-mandir di kamarnya. Padahal, waktu terus berjalan. Tidak peduli Kalla sudah menemukan strategi ataupun belum. Tak lama kemudian, Kalla menemukan ide. Kalla akan turun menggunakan kain panjang yang ada di dalam kamarnya. Kalla akan mengikat tali itu, untuk pegangan Kalla turun ke bawah. Dengan segera, Kalla mengambil peralatan yang dibutuhkan. Setelah semua lengkap, Kalla memakai tasnya di pundak sebelah kanan, dan membawa semua keperluan ke kampus. Ketika semua sudah siap, Kalla segera mengikat tali itu ke salah satu bagian di balcon kamar Kalla. Untung saja, pemilihan otfit Kalla mendukung untuk melakukan misinya.
“Semoga Mama dan Papa nggak lihat aku,” kata Kalla sambil berusaha mengikat kainnya dengan kencang.
Lima menit berlalu, namun, Kalla masih belum mengikat kainnnya dengan benar. Kalla takut jika talinya tidak kuat, akan membuat Kalla jatuh ke bawah. Kalla berulang kali mengikat kain panjang itu, agar memudahkan Kalla untuk turun dari dalam kamarnya.
“Nahh, akhirnya sudah cukup kuat kainnya. Sekarang waktunya aku turun ke bawah. Sebelum Mama dan Papa keluar rumah,” ujar Kalla sambil mencoba naik ke balcon dan berusaha turun.
Ketika Kalla sedang menuruni balkon, Gibran datang ke rumah Kalla. Gibran melihat Kalla sedang berusaha turun dari kamarnya. Gibran langsung turun dari mobilnya dan berlari menghampiri Kalla. Saat Gibran berlari, Gibran tidak sengaja melihat ada Mama dan Papa Kalla sedang berada di meja makan. Papanya sedang menerima telepon sambil marah-marah. Sedangkan Mamanya sibuk berkaca sambil menghabiskan sarapannya.
“Kal, kamu apa? Kalau kamu jatuh bagaimana?” Gibran khawatir melihat Kalla yang nekat turun menggunakan kain panjang.
“Kak Gibran?” Kalla terkejut karena tiba-tiba saja sudah ada Gibran di bawah kamarnya.
“Kamu loncat saja, biar aku yang tangkap kamu,” Gibran menawarkan bantuan agar Kalla tidak perlu berusaha lebih keras.
“Nggak perlu, kak. Aku bisa sendiri,” Kalla masih berusaha sekuat tenaganya.
Kalla hampir sampai ke tanah di bawah kamarnya. Kalla memutuskan meloncat agar cepat sampai. Tapi, hal itu malah membuat Kalla jatuh. Gibran yang mau membantu Kalla malah tertimpa badan Kalla.
“Aaaaaaa,” Kalla berteriak karena jatuh menimpa badan Gibran.
Kalla dan Gibran saling bertatapan. Wajah mereka sangat dekat, nyaris bibirnya saling bersentuhan. Ketika sadar, Kalla menjauhkan wajahnya dari Gibran. Gibran dan Kalla berusaha bangun. Saat mereka sedang berusaha bangun, terdengar Mama dan Papa Kalla memanggil -manggil nama Kalla. Ada ucapan kemarahan Papa Kalla ketika memanggilnya. Kalla dan Gibran bersembunyi di samping dinding di bawah kamar Kalla. Kalla takut sekali jika bertemu dengan Papanya. Secara tidak langsung, Kalla sudah menggagalkan Papanya naik jabatan. Tetapi, Kalla tidak mau memaksakan perasaannya hanya untuk kemenangan semu.
“Kamu nggak papa, kan?” Tanya Gibran cemas melihat Kalla.
Kalla mengangguk penuh kebohongan. Dibalik anggukannya itu tersimpan sejuta ketakutannya. Namun, Kalla tidak ingin Gibran lebih mencemaskannya lagi.
“Bagaimana caranya kita pergi ke kampus, kak?” Kalla bertanya kepada Gibran untuk segera pergi dari rumahnya.
“Kamu tunggu sebentar, ya. Aku akan cek ke depan rumah kamu. Mama dan Papa kamu tadi ada di ruang makan,” ucap Gibran.
Gibran berjalan seolah habis mencuri, sangat hati-hati serta menghindari tuan rumahnya. Gibran mengintip ke arah dalam rumah Kalla, jika dia rasa aman, Gibran akan memanggil Kalla agar segera berlari ke arah mobilnya.
“Kalla!” Gibran memberi Kalla agar segera berlari ke arah mobilnya.
Kalla berlari sekuat tenaga ke mobil Gibran. Kalla berusaha agar tidak terlihat oleh Mama dan Papanya. Gibran menyusul Kalla berlari. Mereka berdua segera masuk ke mobil, Gibran pun bergegas menginjak gasnya agar segera pergi dari rumah Kalla.
“Huhh,” suara kelegaan dari Kalla terdengar di mobil.
“Mau minum?” Gibran memberikan air mineral yang ada di mobilnya.
“Makasih, kak,” Kalla mengambil air mineralnya dan meneguknya beberapa kali.
Sampai di parkiran kampus, Kalla dan Gibran tak kunjung keluar dari mobil. Gibran meminta Kalla untuk bertahan di dalam mobilnya sejenak. Ada hal yang ingin Gibran sampaikan ke Kalla. Kalla pun mengiyakan permintaan Gibran. Kalla masih tetap berada di mobil Gibran sambil menunggu apa yang ingin Gibran bicarakan.
“Kak Gibran mau ngomong apa?” Kalla sudah penasaran.
“Kamu nggak mau kasih jawaban ke aku tentang kemarin?” Gibran kembali menanyakan jawaban dari ungkapan perasaannya.
“Yang mana?” Kalla seolah pura-pura tidak tahu yang Gibran maksud.
“Kamu mau jadi pacar aku?” Gibran mengambil tangan Kalla, lalu kembali bertanya kepada Kalla.
Kalla cukup terkejut dengan pertanyaan Gibran di dalam mobil itu. Kalla rasa ini masih terlalu pagi untuk menanyakan tentang jawaban dari perasaan Gibran.
“Eeee,” Kalla berpikir sejenak.
Gibran menunggu Kalla menjawab. Gibran masih memegang tangan Kalla, Kalla pun tidak berniat untuk melepaskannya. Kalla mengawali jawabannya dengan senyum manis yang membuat Gibran semakin gugup. Gibran tidak tahu jawaban apa yang akan Kalla berikan kepadanya. Namun, yang pasti Gibran berharap lebih kepada Kalla.
“Iya, kak. Aku mau,” Kalla membuka suaranya.
Gibran tidak percaya setelah mendengar jawaban dari Kalla. Namun, memang ini jawaban yang Gibran harapkan. Gibran menarik pergelangan tangan Kalla, lalu memeluk Kalla dengan wajah yang sumringah.
“Aku sudah nggak perlu izin lagi kan kalau mau meluk kamu, atau gandeng kamu?” tanya Gibran ketika masih memeluk Kalla.
Kalla diam, hanya tersenyum geli dan ikut memeluk Gibran. Kalla tidak menyangka semua ini akan cepat terjadi. Dulu, Kalla akan merasa tidak nyaman jika ada yang mendekatinya, Aksa juga pasti akan sangat posesif dengan teman baru Kalla. Tapi kali ini, Gibran telah membuat semuanya berubah.