Pagi ini berbeda dari sebelumnya. Kalla mengubah statusnya menjadi kekasih Gibran. Meski ada keraguan dalam diri Kalla, namun, keyakinan yang Kalla miliki lebih besar dari ragu itu sendiri. Akhirnya, Kalla memilih untuk menoba menjalin hubungan dengan Gibran. Gibran dan Kalla masih enggan melepas pelukan mereka di dalam mobil. Gibran merasa sangat memiliki Kalla. Gibran akhirnya telah menjatuhkan pilihan kepada Kalla.
Obrolan mereka dimulai kembali setelah saling melepas pelukan. Gibran mengungkapkan perasaannya yang begitu sumringah. Kalla sampai tersipu mendengar ucapan dari Gibran. Gibran dan Kalla menghabiskan waktu berdua di mobil sebelum mereka menuju ke kelas masing-masing. Sayangnya, Natasha merusak momen itu. Ketika hampir saja Gibran mendaratkan ciumannya di kening, ponsel Gibran berdering. Natasha memanggil lewat ponsel. Gibran awalnya tidak mau menjawab panggilan dari Natasha, tetapi, Kalla seperti biasa, tidak memperbolehkannya. Gibran pun menjawab panggilan itu meski dengan wajah yang cemberut dan kesal.
“Ya, Halo?” Gibran menyapa Natasha yang ada di sebrang sana.
“Apa sih pacaran di kampus? Nggak modal banget,” ujar Natash sewot.
Gibran terkejut mendengar perkataan dari Natasha. Ternyata Natasha melihat keberadaan Kalla dan Gibran. Gibran merasa sangat terganggu. Natasha selalu ingin mengetahui apapun yang Gibran lakukan, walaupun itu urusan pribadinya.
“Dimana sih, lo?” Gibran menanyaakan keberadaan Natasha.
“Ini di belakang, Lo!” Natasha menjawab, disusul dengan tengokan Gibran.
Gibran melihat mobil Natasha ada di belakangnya. Gibran kesal, karena merasa seperti tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Semua waktunya milik kampus dan organisasi. Terlebih ketika berada di kampus, Natasha akan memiliki seutuhnya.
“Apa sih ngikutin gue?” Gibran kesal dengan Natasha.
“Siapa yang ngikutin Lo? Gue dari tadi memang di sini, dan nggak sengaja liat orang pacaran di depan gue. Nggak enak dilihat anak-anak kampus lain!” Natasha tambah sewot.
Gibran tidak menjawab apapun, kemudian mematikan ponselnya. Suasana hati Gibran berubah drastis. Tadinya senang dan berbunga-bunga kini menjadi kesal, semua gara-gara Natasha.
“Kenapa, kak? Ada Kak Natasha?” Kalla pun ikut panik.
“Iya, di belakang kita,” jawab Gibran.
“Hahhh?” Kalla kaget mendengar jawaban dari Gibran.
Kalla merasa tidak enak sekaligus tidak nyaman dengan keberadaan Natasha di belakangnya. Ini pasti akan menjadi masalah baru untuknya. Sebab, apapun yang dilakukan oleh Kalla akan menjadi urusan Natasha ketika Gibran ada di dalamnya. ‘
“Terus bagaimana?” Kalla panik sendiri.
“Ya nggak papa dong. Sudah, nggak usah dipikirin si Natasha!” Gibran menenangkan Kalla.
“Terus Kak Gibran kenapa mukanya jadi berubah begitu?”
“Kesel saja sama Natasha,” Gibran mewakili perasaannya.
~
Setelah kejadian tadi pagi, Gibran dan Kalla memutuskan untuk keluar dari mobil dan menuju ke kelas masing-masing sebelum Natasha semakin ikut campur. Kalla bilang, Natasha tidak selalu salah. Mungkin hanya penyampaiannya saja yang kurang tepat. Kalla selalu membela Natasha, apapun masalahnya dengan Gibran. Ketika Natasha sudah berbohong kepada Kalla pun, Kalla tidak pernah menyalahkan Natasha sama sekali. Justru Natasha yang semakin membenci Kalla, karena Kalla menjadi lebih dekat dengan Gibran daripada Natasha.
Siang ini terasa sangat terik. Kalla mengajak Meira ke kantin untuk membeli minuman dingin. Saat jalan berdua, Aksa datang menghampiri mereka dan merangkul Kalla.
“Haiii!” sapa Aksa kepada Kalla dan Meira.
Kalla terkejut karena tangan Aksa tiba-tiba ada di pundaknya. Kalla tidak menyingkirkan, karena memang itu sudah kebiasaan Aksa sejak dulu.
“Tumben lo ikutin kita?” Meira sewot karena Aksa jarang jalan bertiga di kampus.
“Soalnya teman lo yang satu lagi sibuk PDKT,” Aksa menyindir Kalla.
“Ihhh apaan sih pada nyindir segala,” Kalla mencubit pinggang Aksa.
Aksa kangen dengan masa-masa Kalla bisa bebas bersamanya. Bercanda dengannya, lalu selalu mencubit pinggang Aksa ketika Kalla tidak suka digoda dengan Aksa.
“Sudah baikan lo berdua?” Meira to the point.
Kalla dan Aksa tidak ada yang bisa menjawab.
“Baikan kenapa?” Kalla pura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Yuk buruan ke kantin, aku haus bangetttt!” Kalla menarik tangan Meira agar segera pergi ke kantin.
Aksa mengikuti kedua sahabatnya itu. Suasana hati Kalla lebih baik dari sebelumnya. Kalla bisa bercanda dengan Aksa tanpa ada canggung. Hal ini membuat Aksa merasa Kalla kembali lagi kepadanya. Aksa, Meira, dan Kalla duduk bertiga di kantin kampus. Mereka mulai obrolan receh mereka.
“Ehh, pertanyaan gue belum kalian jawab tadi,” Kalla mengingatkan Kalla dan Aksa untuk menjawab pertanyaannya.
“Gue sih sellu merasa baik-baik saja sama Kalla, mungkin Kalla yang jaga jarak sama gue,” Aksa membuka jawaban dari pihaknya.
“Engga kok, siapa yang jaga jarak?”
“Aku tahu Gibran yang sekarang lebih deket dan lebih banyak punya waktu buat kamu. Tapi, gue yang sudah lebih banyak menghabiskan waktu sama kamu,” Kalla terdiam setelah mendengar ucapan Aksa.
“Gini deh, mumpung suasana hati kalian lagi baik-baik saja, gue ingin kita memperbaiki hubungan kita. Nggak usah pura-pura semua aman-aman saja, gue tonjok nih kalo ada yang bilang kayak begitu!” Meira mengancam Kalla dan Aksa.
Kalla, Aksa, dan Meira sedang ngobrol serius. Kantin menjadi wadah mereka memperbaiki hubungan yang selama beberapa bulan terakhir renggang. Meira ngotot ingin memperbaiki hubungan mereka bertiga. Ingin bisa kumpul seperti biasa, tidak ada jarak lagi diantara mereka. Seperti ketika saat mereka belum mengenal dunia kampus.
“Kal, aku minta maaf untuk semua hal yang sudah terjadi. Tentang perasaanku terutama. Aku nggak bisa memilih dengan siapa aku akan jatuh cinta. Aku juga nggak bisa menahan jika aku jatuh hati. Aku hanya berkuasa untuk mengungkapkan atau menyembunyikan,” Aksa memulai obrolan serius itu.
“Tapi sekarang aku sadar, mungkin yang kamu butuhkan dari aku bukan cinta dari seorang pasangan. Melainkan sayang dari seorang sahabat,” Aksa melanjutkan kalimatnya.
“Aku janji, akan jagain kamu sampai kapanpun, walaupun aku nggak memiliki kamu sebagai pasangan,”Aksa menutup pembicaraannya.
“Aksa... Kamu ngomong apa sih,” Kalla bingung harus merespon apa, makanya Kalla mengelak dengan semua yang Aksa bicarakan.
Meira kesal dengan Kalla yang tidak mau jujur dengan perasaannya sendiri. Kalla juga tidak mau menerima hal yang telah terjadi. Seperti perasaan Aksa kepadanya.
“Kal, ayolah, lo harus jujur sama perasaan lo. Lo harus menerima kalau memang Aksa itu punya perasaan yang lebih sama lo!” Meira geregetan.
“Sa, aku sayang sama kamu lebih dari seorang teman. Tapi, bukan berarti itu bisa menjadi celah untuk kita sebagai pasangan. Aku butuh kamu lebih dari itu,” Kalla mulai berbicara.
“Aku tahu, selama ini aku saja yang masih menutup diri dari semua yang terjadi. Aku minta maaf atas semua jarak yang akhir-akhir ini aku bangun. Aku minta maaf atas semua kesalahpahaman yang sudah menghalangi kedekatan kita. Semoga aku bisa memperbaiki, bahkan jauh lebih dari sebelumnya,” Kalla menambahkan dengan tatapan serius.
Kalla dan Aksa membicarakan tentang kesalahpahaman mereka selama ini. Tentang Gibran, tentang kegagalan Aksa berangkat ke Amerika, hingga tentang Mama Aksa yang sikapnya berubah drastis kepada Kalla. Semua tidak selesai begitu saja, tetapi, mereka mencoba menjelaskan satu per satu agar tidak semakin mengikat dalam salah paham.