Kalla, Aksa, dan Meira terlihat lebih akrab dan hangat dibanding biasanya. Banyak hal menarik yang mereka bahas di kantin kampus. Mulai dari salah paham yang berlarut-larut, kenangan di masa SMA, lalu saling menceritakan beberapa kejadian lucu ketika Aksa jauh dari Meira dan Kalla. Kalla dan Aksa masih menyimpan canggung, namun, sekarang mulai membuka pikiran mereka masing-masing. Aksa mencoba menerima kedekatan Gibran dan Kalla. Begitu juga Kalla, Kalla menerima semua keputusan yang telah Aksa ambil akhir-akhir ini. Kalau boleh jujur, Kalla adalah salah satu alasan Aksa untuk tetap tinggal di Indonesia. Tetapi, kejujurannya ini akan membuat sakit hati Mamanya dan pasti Kalla akan lebih dibenci oleh Mama Aksa. Sebab, Kalla telah menghalangi impian Mama Aksa untuk melihat anak semata wayangnya sekolah di Amerika.
Dari kejauhan, Gibran melihat Kalla sedang asik dengan kedua sahabatnya itu. Ada rasa tidak nyaman di hati Gibran tiba-tiba saja. Padahal, sebelumnya Gibran merasa biasa saja ketika Kalla sedang bersama kedua sahabatnya itu. Kalla juga pasti akan lebih memilih Gibran, saat Aksa datang. Namun, entah kenapa saat ini Gibran memiliki perasaan yang aneh. Gibran hanya ingin melihat Kalla tertawa saat bersamanya. Lamunan Gibran dipecahkan oleh panggilan Natasha. Rekan kerja di organisasi sekaligus bestie nya dari dulu. Hanya saja, sejak kedatangan Kalla posisi Natasha tergeser jauh dari Kalla. Natasha paham betul dari sorot mata Gibran, ada kecemburuan di sana. Tapi, Natasha tidak suka dengan sikap Gibran yang terlalu bucin kepada Kalla. Kebucinan itu ditakutkan akan membuat pengaruh buruk pada hubungan mereka kedepannya. Sayangnya, selama ini Natasha tidak dipercaya oleh Gibran dalam permasalahan percintaannya.
Tawa diantara mereka sejenak hening. Setelah mendengar dering telepon dari ponsel Kalla. Kalla menerima panggilan dari Gibran. Kalla menjawab telepon Gibran, Gibran meminta Kalla untuk segera pulang bersamanya. Gibran menunggu di dekat kantin. Ingin hati menolak permintaan Gibran, sebab, Kalla masih ingin bersama dengan Aksa dan Meira. Tetapi, Kalla juga tidak mau Gibran kecewa karena Kalla memilih keegoisannya. Kalla pamit kepada Aksa dan Meira. Wajah mereka seketika berubah. Tadinya sumringah, menjadi sedikit kesal dan kecewa. Jarang ada waktu berkumpul untuk mereka bertiga, apalagi sejak kehadiran Gibran. Sekalinya kumpul, pasti ada saja yang membuat Kalla pergi terlebih dahulu.
“Kayaknya aku pulang duluan, deh. Nggak papa kan?” tanya Kalla dengan penuh rasa sungkan.
“Mau pulang sama siapa? Kan ada aku,” ujar Aksa sembari ingin menolak ucapan Kalla.
“Aksa siap kali nganterin Lo kemanapun Lo mau, Kal,” Meira menambahkan.
Kedekatan Meira, Kalla, dan Aksa baru saja terjalin lagi. Meskipun belum sepenuhnya clear permasalahan mereka, tetapi, ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Suasana hati Kalla merubah kedekatan mereka. Kalla yang sedang berbunga, melapangkan hatinya agar tidak mengingat kembali salah paham antara Kalla dan Aksa.
“Gue udah ditunggu sama Kak Gibran,” jawab Kalla sedikit ragu.
“Biar gue aja yang ngomong deh sama Kak Gibran, gue jarang punya waktu bareng kalian berdua. Mumpung gue juga belum ada yang jemput, nih,” Meira masih bersikukuh agar Kalla tetap bersamanya dan Aksa.
“Besok aku janji, kita akan sering kumpul lagi, ya?” Kalla mencari alasan agar tetap pergi bersama Gibran.
Aksa dan Meira tidak punya alasan yang kuat untuk menahan Kalla tetap bersama mereka. Akhirnya, Aksa dan Meira pun membiarkan Kalla pergi bersama kekasih barunya. Meskipun, Kalla belum berani jujur kepada kedua sahabatnya itu tentang statusnya dengan Gibran. Ada rasa tidak enak dalam hati Kalla ketika Kalla meninggalkan Meira dan Gibran begitu saja. Tetapi, Kalla juga ingin membagi waktunya bersama Gibran.
Gibran sudah menunggu Kalla di lorong dekat kantin kampus. Gibran tersenyum memandang Kalla, lalu menggandeng tangan Kalla tanpa izin dulu. Gibran sudah berani memegang tangan Kalla, karena merasa status diantara mereka sudah jelas. Suasana kampus pun sudah sepi, jadi, Gibran lebih leluasa bersama dengan Kalla.
Hari pertama Gibran dan Kalla resmi menyandang status pacaran, mereka ingin merayakan bersama. Gibran ingin mengajak Kalla makan malam, dengan suasana yang lebih romantis dari biasanya. Sikap dingin Gibran sama sekali tidak terasa setelah mereka berdua memutuskan untuk menjalin hubungan spesial. Meskipun romantisnya orang bersikap dingin dengan orang yang beneran romantis itu sangatlah berbeda. Gibran sangat membutuhkan effort yang besar untuk bisa romantis. Kadang, Gibran frustasi sendiri dengan ketidak berhasilannya dalam menjalankan misi untuk romantis.
~
Setelah makan malam yang melukiskan kesan yang manis, Kalla meminta Gibran untuk mengantarnya pulang ke rumah. Meskipun, Kalla masih belum sepenuhnya tenang ketika berada di dalam rumahnya. Permasalahan dengan Papa dan Mamanya belum selesai. Sejak kejadian di kantor Papanya, Kalla belum bertemu lagi dengan kedua orang tuannya.
Suasana di rumah masih membuat Kalla ketakutan. Takut jika tidak sengaja Kalla ketahuan ke gap sedang masuk ke dalam rumah, atau tidak sengaja bertemu dengan Mama atau Papanya. Kalla belum siap menghadapi masalah baru dengan orang tuanya. Kalla tidak mau mendengar kemarahan yang seharusnya itu tidak boleh terjadi. Karena semua itu salah Papanya. Kalla tahu, pasti ada kekecewaan dari Papanya saat kejadian kemarin. Karier Papanya pun bergantung kepadanya. Tetapi, itu bukan satu-satunya cara untuk mendapatkan peningkatan karier. Kalla tidak mau dirinya dipermainkan bak sebuah boneka, hanya untuk kesenangan yang semua. Seperti kenaikan jabatan di kantor, menyenangkan bagi sebagian orang. Tetapi akan menyakitkan bagi Kalla sebagai korban perasaan.
Kalla sering mendengar Papa dan Mamanya berteriak memanggil nama Kalla, mencari keberadaan Kalla di setiap sudut rumah. Tetapi, Kalla selalu berhasil sembunyi dari orang tuanya. Kamar Kalla pun sempat ingin didobrak, tetapi, Mama Kalla melarang karena tidak ingin mengeluarkan biaya untuk renovasi kamar. Pasti akan mengeluarkan uang jika pintu kamar Kalla rusak. Kalla selama beberapa hari terakhir tidak pernah makan di rumah, Gibran selalu membawakan bekal untuk Kalla makan malam hari. Paginya, Gibran selalu membawa Kalla untuk sarapan di luar rumah. Supaya Kalla merasa lebih tenang dan tidak perlu was-was setiap saat.
Malam ini, Kalla berniat untuk membuka buku sketsanya. Melanjutkan membuat gaun-gaun impian di atas kertas putih kosong. Kalla duduk di meja belajarnya, bersiap dengan pensil di jarinya. Lalu, Kalla memasang earphone dan memulai menggerakkan tangannya sesuai dengan perintah otak. Kalla sangat menikmati malam itu. Menggambar desain baru adalah hal favorit Kalla. Kali ini, Kalla ingin membuat satu tema desain dengan beberapa model pakaian. Dalam bayangan Kalla, Kalla ingin membuat peragaan busana dengan konsep musim semi. Kalla menyiapkan beberapa desain dress. Wajahnya terlihat serius, tangannya sangat sibuk mengembangkan semua ide yang muncul. Bibirnya sesekali mengikuti lirik dari lagu yang didengarnya. Malam itu, Kalla menikmati dengan sangat tenang.