Terungkap

2264 Kata
Sudah beberapa minggu status jadian resmi disandang oleh Gibran dan Kalla. Mereka menikmati masa awal pacaran. Kalla terlihat nyaman dengan keberadaan Gibran sebagai kekasihnya. Gibran pun demikian, semakin hangat sikapnya. Tidak lagi dingin seperti saat awal bertemu dengan Kalla. Setiap pagi, jadwal Gibran bertambah satu, yaitu menjemput Kalla dan mengantar Kalla ke depan kelasnya. Gibran sudah tidak malu atas perlakuannya ke Kalla. Namun, Natasha selalu menentang sikap bucin Gibran. Karena menurut Natasha itu akan merusak citra Gibran yang selama ini dikenal sebagai senior berwibawa. Meski begitu, Gibran sering mengabaikan Omelan dari partnernya itu. Hari ini Gibran sangat merasa bersalah karena tidak bisa mengantar Kalla pulang ke rumah. Gibran ada rapat dadakan yang tidak bisa ditinggal. Natasha juga mengingatkan Gibran agar bersikap profesional meskipun Gibran sudah memiliki kekasih. Gibran masih dengan keprofesionalannya, sebagai ketua BEM di kampus. Kalla sangat mengerti keadaan Gibran. Kalla justru mendukung Gibran sepenuhnya, tanpa bermaksud ingin mengganggu urusan organisasi Gibran. Kalla meninggalkan Gibran yang sudah mulai kembali masuk ke ruang rapat. Kalla berjalan sendiri ke arah depan kampus. Lalu, berhenti sejenak untuk mencari ponselnya. Kalla akan memesan taksi online untuk mengantarnya pulang ke rumah. Aksa dan Meira kebetulan belum pulang dari kampus. Aksa baru saja menyelesaikan beberapa tugasnya di kampus, sedangkan Meira belum ada yang menjemput. Meira dan Aksa tidak sengaja bertemu di kantin. Aksa berniat mengantar Meira pulang ke rumah, ketika sedang berjalan menuju parkiran, Aksa dan Meira melihat Kalla sendirian. Meira mengajak Aksa menghampiri Kalla. “Lo tumben belum pulang? Ngapain di sini sendirian? Bukannya tadi sama Kak Gibran?” tanya Meira ketika sudah berada di samping Kalla. “Kak Gibran lagi rapat, jadi aku pulang sendiri,” jawab Kalla dengan tenang. “Kamu masih punya aku sama Meira, Kal. Kamu bisa pulang sama aku, kan?” ujar Aksa dengan nada sedikit kecewa. “Bukan gitu, Sa. Cuma tadi aku lihat kamu lagi sibuk sama temen-temen kamu. Jadi, ya aku pilih buat pulang sendiri,” Kalla menjelaskan alasannya. “Terus gue? Lo anggep apa?” Meira ngegas. “Mei, apaan deh. Kan tadi kamu udah pamit sama aku mau pulang. Terus ini kenapa masih di sini?” Kalla balik bertanya kepada Meira. “Eeee... Gue belum ada yang jemput, terus Aksa nawarin mau anter gue pulang,” jawab Meira. “Nah, berarti kita pulang bertiga hari ini!” Meira sangat antusias. “Iya, kamu pulang sama aku aja sekarang,” Aksa menggandeng tangan Kalla. “Ehemmmmmm... Gue masih di sini kali! Lo pikir gue jin bisa tiba-tiba hilang!” Meira menyindir Aksa yang hampir meninggalkannya. Kalla terkekeh mendengar ucapan Meira. Kalla menggandeng tangan Meira dengan tangan kirinya. Karena Aksa belum melepaskan gandengannya. Meira membukakan pintu untuk Kalla agar Kalla mau duduk di depan. Meira selalu duduk di belakang, agar bisa sedikit memberi Aksa kebahagiaan. Meskipun di dalam mobil bertiga. “Sa, anterin Kalla dulu, yuk! Udah lama nih gue nggak ke rumah Kalla,” ajak Meira. “Boleh!” Aksa tertarik dengan ajakan Meira. “Ehhh nggak usah. Kita anterin Meira dulu aja. Gimana?” Kalla menolak Aksa dan Meira ke rumahnya. “Kenapa sih? Tumben banget?” Meira sedikit curiga atas penolakan Kalla. Kalla tidak bisa memberikan alasan yang jelas mengapa Kalla menolak Meira dan Aksa untuk sejenak singgah di rumahnya. Mau tidak mau, Kalla harus menerima Meira dan Aksa sebagai tamunya sore ini. Meira sangat antusias, begitupun Aksa. Sayangnya, Kalla seperti banyak beban. Kalla saat ini masih menghindari Mama dan Papanya. Oleh sebab itu, Kalla melarang sahabatnya itu datang ke rumahnya. Tetapi, apa daya Aksa dan Meira memaksa untuk tetap ke rumahnya. Sesampainya di rumah Kalla, Kalla tidak langsung turun dari mobil Aksa. Kalla melihat keadaan sekitar. Memastikan jika Mama dan Papanya belum pulang ke rumah. Di tempat biasa mobil kedua orang tuanya terparkir terlihat masih sepi. Artinya, Mama dan Papa Kalla belum pulang ke rumah. “Kal, kenapa sih?” Meira sangat kepo dengan sikap Kalla sedikit aneh. “Ada sesuatu?” tanya Aksa sembari ikut melihat keadaan di sekitar rumah Kalla. “Hmmm? Eeee... Engga, aku Cuma lagi lihat sekeliling rumah aku aja. Harus ada yang diperbaiki sepertinya,” Kalla memberikan alasan yang menurut Aksa dan Meira tidak masuk akal. “Sejak kapan Lo peduli sama tatanan rumah Lo? Biasanya Lo terima terima aja, deh,” Meira protes. Kalla mengajak Aksa dan Meira turun dari mobil. Kalla segera mengajak sahabatnya masuk ke rumah, karena seperti yang Kalla lihat, rumahnya masih aman. Mama dan Papanya belum pulang ke rumah. Namun, di luar dugaan. Ternyata ada mobil yang terparkir lagi setelah Kalla, Meira, dan Aksa turun dari mobil. Kalla sama sekali tidak menyangka jika Papanya akan pulang secepat ini. Jantung Kalla langsung berdebar kencang. Wajahnya terlihat lebih pucat, tangannya dingin, hatinya tidak tenang, cemas dan gelisah. Kalla tahu, pasti setelah ini akan ada keributan di rumahnya. Kalla sudah tidak bisa lagi menyangkal pertemuan dengan Papanya. Kalla sudah tidak memiliki waktu lagi untuk bersembunyi. Kini, Kalla harus menghadapi, bukan lari. “Huhhh..,” Kalla mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak stabil. Aksa dan Miera saling menatap. Mereka bingung dengan sikap Kalla yang aneh. Wajahnya terlihat pucat, tangannya dingin, terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu. “Kamu baik-baik aja, kan?” tanya Aksa kepada Kalla yang masih menunduk di depan pintu rumahnya. Papa Kalla sudah mulai mendekati Aksa, Meira, dan Kalla. Kalla semakin tidak bisa berkutik. Meira dan Aksa semakin mematung. Diam dan hening menyelimuti mereka semua. Tidak ada yang bersuara, sesekali hanya ada suara angin. “Kal, Papa mau bicara,” Papa Kalla mengajak Kalla masuk ke rumah. “Aku ke dalam sebentar, ya,” Kalla pamit kepada kedua sahabatnya itu. “Semua baik-baik aja, kan?” Aksa mulai khawatir dengan Kalla. Kalla mengangguk lalu berjalan mengikuti Papanya masuk ke dalam rumah. Aksa dan Meira hanya bisa saling menatap. Sebab, wajah Papa Kalla sudah tidak enak dilihat sejak turun dari mobil. Seperti ada emosi yang tertahan sejak lama. Namun, Aksa dan Meira tidak sanggup berbasa-basi kepada Papa Kalla. “Sa, kenapa, ya? Kalla baik-baik aja, kan? Kok tumben banget bokapnya ngajak Kalla ngobrol?” Meira sudah mulai panik dan khawatir dengan keadaan Kalla. “Gue juga nggak tau, Mei,” Aksa tidak berhenti memerhatikan Kalla dari belakang. Kalla dan Papanya sudah berada di ruang tengah. Kalla semakin sesak dadanya, pikirannya sudah menyebarkan rasa ketakutan. Papa Kalla kini sudah ada di depannya. Selama beberapa Minggu ini, Kalla selalu menghindar dari Papa dan Mamanya. Namun, hari ini semua itu sudah tidak bisa terjadi. Papa Kalla menatap Kalla dengan sejuta kemarahan yang tertunda. Kalla menatap matanya, ada air mata yang tertahan, tetapi lebih besar emosi dan rasa kecewa yang tinggal di sana. Kalla langsung menunduk, tidak tahan dengan keadaan mencekam saat itu. “Kenapa kamu selama beberapa Minggu ini menghindari Mama dan Papa?” Papa Kalla membuka pembicaraan diantara mereka. Kalla tidak bisa membuka mulutnya untuk bersuara. Air matanya sudah mengepung di pelupuk mata. Tinggal sekali kedipan, semua akan runtuh. “Jawab Papa?” Papa Kalla sedikit menaikan nada suaranya. “Pa, Kalla minta maaf,” Kalla membuka suaranya lalu matanya menjatuhkan air lumayan deras di pipinya. “Setelah semua masalah yang kamu buat, kamu memilih untuk kabur, sekarang kamu Cuma bilang minta maaf? Apa itu semua bisa mengembalikan keadaan?” Papa Kalla kembali menaikan nada suaranya. “Tapi, Pa,” Kalla mencoba menjelaskan. “Kamu sama sekali nggak berguna untuk Mama dan Papa!” Papa Kalla menumpahkan kemarahannya dengan satu kalimat yang sangat menyakitkan untuk Kalla. Tangisan Kalla semakin memuncak setelah mendengar ucapan dari Papanya. “Kamu tahu, kan. Bagiamana Mama kamu selalu merendahkan Papa di rumah? Mama bilang kalau Papa punya penghasilan lebih rendah dari Mama dan jabatan Papa pun nggak jelas di kantor. Kamu tahu itu, kan?” kata Papa Kalla sembari menatap anaknya dengan kekecewaan. “Tapi, pa,” Kalla kembali mencoba menjelaskan alasannya. “Apa? Tapi apa? Tapi kamu yang udah bikin semuanya berantakan. Semua hinaan Mama akan berakhir kalau kamu nggak kabur hari itu, Kal! Papa bisa mendapatkan jabatan yang tinggi di kantor! Papa akan mendapatkan apa yang Papa inginkan dari dulu. Tapi kamu, malah menghancurkan semuanya!” “Maksud Papa, Papa mau jual aku?” Kalla menaikan nada suaranya sambil menangis sesenggukan. Papa Kalla hampir saja berhasil menampar pipi Kalla yang basah karena air mata. Untung saja Aksa memaksa masuk ke rumah Kalla karena terlalu khawatir dengan keadaan Kalla. “Apa apaan kamu? Siapa kamu? Nggak usah ikut campur urusan saya dan anak saya!” Papa Kalla marah ke Aksa. “Maaf, om. Tapi saya nggak tega dengar Kalla teriak-teriak sambil nangis. Apalagi om mau tampar Kalla, saya nggak tega, om. Tolong om, jangan lakuin ini ke Kalla saya mohon!” Aska memohon kepada Papa Kalla agar tidak berbuat seenaknya. “Haaaah!!” Papa Kalla emosi, lalu pergi ke kamarnya. Kalla berlari ke luar rumahnya sambil masih menangis. Aksa mengejar Kalla. “Kal, tunggu, Kal!” Aksa meminta Kalla berhenti. “Sa, ada apa?” Meira panik melihat Kalla dan Aksa saling berkejaran. Aksa masih tidak menjawab Meira, Aksa masih sibuk menghentikan Kalla. Kalla menjauh dari Aksa dan Meira karena tidak ingin mereka tahu tentang masalah ini. Kalla tidak ingin mengingat bagaimana sakitnya Kalla ketika Papanya menukarkan dirinya dengan jabatan di kantor. Kalla masih mau melanjutkan kuliahnya, Kalla juga ingin menjadi seorang desainer sukses. Bukan menikah dengan orang yang tidak Kalla cintai bahkan tidak Kalla kenal. “Kal, tunggu!!” Meira ikut mengejar Kalla. Akhrinya, Kalla berhenti. Meira dan Aksa langsung menghampiri Kalla. Kalla masih menangis sesenggukan. Sulit rasanya berhenti dari menangisnya itu. Sesak di d**a Kalla belum juga lebih baik, masih sangat penuh rasanya. “Kal, ada apa sih sebenernya? Bokap Lo nggak mungkin semarah itu sama Lo kalo nggak ada apa-apa,” Meira mencoba bertanya kepada Kalla. “Masuk ke mobil dulu, ya,” Aksa mengajak Kalla masuk ke mobil agar Kalla lebih tenang. Kalla meneguk air mineral yang Aksa berikan untuknya. Setelah beberapa tegukan, Kalla merasa lebih lega. Tidak sesak seperti sebelumnya. “Lo tenang dulu sekarang, ya,” Meira memeluk Kalla dan menenangkan Kalla. Kalla mencoba lebih tenang dan tidak ingin kedua sahabatnya khawatir dengan keadaannya. “Sekarang kamu coba ceritain ke kita, ada apa sebenernya? Kenapa Papa kamu bisa semarah itu sama kamu?” Aksa ingin penjelasan dari Kalla. Beberapa Kalla menarik napasnya, lalu menghembuskan secara perlahan. Agar Kalla merasa lebih tenang. Setelah air matanya berhenti dan sesak di dadanya sudah mulai surut, Kalla memulai cerita tentang hari itu. Kalla mengawali dengan permintaan maaf karena Kata tidak memberi tahu Aksa ataupun Meira. Kalla bercerita jika Papanya akan menjodohkan Kalla dengan anak petinggi di perusahaan tempat Papanya bekerja. Kalla bilang jika Kalla mau menerima perjodohan itu, maka, Papa Kalla akan memiliki jabatan penting di perusahaan tersebut. Namun, Kalla menolak, karena Kalla tidak ingin menikah muda. Apalagi menikah dengan orang yang sama sekali Kalla tidak kenal. Kalla kembali menangis ketika mengingat hari itu. Meira dan Aksa tidak menyangka atas kejadian yang Kalla alami. Namun, mereka juga menyalahkan Kalla, mengapa Kalla sama sekali tidak bercerita kepada mereka tentang hal sepenting ini. Terutama Aksa, Aksa kecewa karena Kalla seperti sudah tidak menganggapnya lagi. “Kal, kenapa kamu nggak bilang sama aku atau Meira? Ini bukan hal kecil loh, Kal,” ujar Aksa ketika Kallas selesai bercerita. “Aku sama Meira masih kamu anggap sahabat, kan?” Aksa kembali bertanya. Kalla tidak bisa menjawab apapun tentang pertanyaan Aksa. Bingung harus mengeluarkan kata-kata apa agar tidak ada salah paham diantara mereka bertiga. “Bukan itu maksud aku, tapi ini bukan hal yang mudah untuk aku menceritakan ke kalian,” Kalla membela dirinya. “Sa, udah dulu dong Lo main tembak pertanyaan terus. Udah tau Kalla lagi sedih!” Meira protes atas sikap Aksa. “Iya iya sorry,” Aksa mulai menenangkan diri sebelum mengeluarkan pertanyaan lagi. “Terus gimana cara Lo kemarin keluar dari kantor bokap Lo?” Meira penasaran. “Ada kak Gibran,” Kalla menjawan dengan lirih diikuti setengah keraguan. Aksa dan Meira saling menatap. Ada kekecewaan di hati mereka, tetapi, mereka tidak bisa protes karena keadaannya memang darurat saat itu. “Kenaoa kamu nggak telepon aku juga? Kenapa Cuma tunggu Gibran aja? Coba kalau Gibran nggak bisa, atau Gibran ada kendala buat jemput kamu,” Aksa bertambah cemburu. Aksa terkejut ketika ada seseorang yang mengetuk jendela pintu mobilnya. Aksa kira itu Papa Kalla, ternyata Gibran. Gibran datang ke rumah Kalla setelah menyelesaikan rapat pentingnya di kampus. Kalla, Aksa, dan Meira keluar dari mobil untuk menemui Gibran yang baru saja datang. Kalla ditarik oleh Gibran, karena Gibran melihat wajah Kalla sangat sendu. Wajah yang baru saja dipenuhi air mata. “Kamu nggak papa? Kamu baik-baik aja, kan?” Gibran mulai panik. “Kalla nggak papa, baik-baik aja. Untung aja gue tadi langsung datang ke dalam rumah, sebelum Kalla dipukul sama bokapnya sendiri,” ujar Aksa kepada Gibran. Gibran sangat terkejut mendengar ucapan dari Aksa. “Kok bisa? Kenapa? Kenapa kamu nggak bilang sama aku?” Gibran mulai panik berlebihan. “Kan lo di kampus, di sini Cuma ada gue dan Meira doang,” ujar Aksa. “Makasih ya, udah jagain cewek gue,” Gibran berterima kasih kepada Aksa dan Meira. Ucapan Gibran barusan membuat Aksa dan Meira terkejut. Aksa sampai tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat. “Maksudnya, kak?” Meira ingin kejelasan dari ucapan Gibran. “Emang kurang jelas?” Gibran tidak ingin mengulang pernyataannya. Dalam hati, Aksa sangat kecewa dengan Kalla. Kejadian di kantor Papa Kalla Aksa tidak tahu menahu, ditambah dengan hubungan Kalla dan Gibran yang sudah berganti menjadi sepasang kekasih. Seperti petir di siang terik, menyambar begitu saja. Tak ada persiapan apa-apa. Kecewa sekali hatinya, tapi Aksa sadar, bukan dia pilihan Kalla sebagai kekasihnya. “Kalian jadian?” Meira memperjelas pertanyaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN