Meira, Gibran, Kalla, dan Aksa masih berdiri dengan penuh tanda tanya. Terutama Aksa dan Meira. Aksa sama sekali tidak menyangka akan mendengar berita jadian Kalla dan Gibran sore itu. Aksa masih belum siap akan berita itu tersebar. Aksa masih sangat berharap bisa merebut perasaan Kalla, sayangnya, Kalla bukan membutuhkannya sebagai pasangan. Melainkan hanya sekedar sebagai sahabat. Aksa menguatkan perasaannya ditengah kecemburuan yang memuncak. Ingin marah, tapi Aksa tidak punya hak. Ingin menolak dan melarang, Aksa tidak punya kuasa akan hal itu. Aksa diam sejenak, tidak mengeluarkan komentar apapun atas ucapan Gibran. Aksa masih menelan perlahan kabar baru dari Kalla dan Gibran. Ini adalah salah satu hari yang tidak ingin Aksa tunggu. Sebab, sakit dan patah hati itu akan menyerang perasaannya.
Meria meminta penjelasan kepada Kalla. Mengapa 2 hal penting dalam hidup Kalla, Meira sama sekali tidak tahu apa-apa. Meira bahkan seperti orang bodoh ketika mendengar 2 kenyataan di sore itu. Kalla kesal juga kecewa, tetapi juga ingin mendengar penjelasan dari Gibran juga Kalla.
“Kal, yang Kak Gibran bilang itu bener?” Meira bertanya sekali lagi dengan lembut namun diiringi nada kekecewaan.
Kalla menatap Gibran sejenak, lalu, ada ragu di sorot matanya. Tetapi, Kalla juga tidak seharusnya menyembunyikan ini semua dari Aksa dan Meira. Meskipun sebenarnya tidak ada niatan Kalla untuk menyembunyikan ini dari sahabatnya itu. Kalla hanya ingin mencari waktu yang pas untuk menceritakan tentang kisah cintanya dengan Gibran. Sayangnya, momen tidak pas ini justru membuka kisahnya dengan Gibran. Terpaksa, Kalla harus menjelaskan saat itu juga kepada Aksa juga Meira.
“Iya emang gue sama Kalla udah jadian. Udah jelas, kan? Kenapa dipertanyakan lagi, sih?” ujar Gibran sedikit kesal karena Kalla sedang bersedih masih saja dicerca banyak pertanyaan.
“Gue tanya sama Kalla, bukan sama Lo, kak,” jawab Meira sinis.
“Lo nggak liat Kalla lagi sedih, panik kayak gini? Masih Lo cerca sama pertanyaan ga jelas Lo itu? Semua udah jelas, Mei,” Gibran mencoba memberi penjelasan, tapi, Meira tidak mau mengerti.
“Gue mau denger dari Kallanya sendiri, kak,” Meira semakin kesal dengan Gibran yang ngeyel.
“Mei, gue anter Lo pulang, ya. Ini udah mau malam, nanti Lo dicariin sama bokap nyokap, Lo!” Aksa mengajak Meira pulang daripada harus berdebat dengan Gibran di rumah Kalla.
“Yaudah deh, emang lebih baik gue pulang. Daripada di sini nggak dianggep sama sekali,” ujar Meira sinis sekali. .
“Aku sama Meira pulang dulu, ya,” pamit Aksa kepada Kalla yang masih saja terbungkam.
“Makasih ya kalian udah anter aku pulang,” Kalla menjawab dengan sangat hati-hati.
Aksa dan Meira memilih untuk pulang dari rumah Kalla karena tidak ingin terjadi keributan di sana. Apa lagi, Kalla sedang sedih dengan sikap Papanya. Jadi, lebih baik Kalla hanya berdua saja dengan Gibran. Laki-laki yang sekarang sudah dipilih Kalla menjadi kekasihnya. Di jalan, Aksa masih terus diam, di pikirannya masih selalu ada Kalla. Aksa sama sekali tidak bisa menghapus Kalla dari pikirannya. Kalla selalu saja datang di dalam perasaan juga pikiran Aksa, dimanapun dan kapanpun Aksa berada.
Meira paham betul akan perasaan Aksa saat ini. Kecewa, cemburu, sakit hati, hingga patah hati Aksa rasakan dalam satu waktu. Meira tidak bisa berbuat banyak untuk Aksa, selain memberikan wadah jika Aksa butuh tempat bercerita. Aksa tetap tegar di hadapan Meira. Menyembunyikan semua perasaannya yang sesungguhnya. Aksa tidak ingin orang tau betapa hancurnya perasan Aksa saat itu.
“Sabar ya, Sa. Kalau memang Kalla bukan untuk Lo, gue yakin ada wanita baik setelah ini yang Tuhan kirimkan buat, Lo,” Meira mencoba menghibur Aksa.
Tetapi, Aksa hanya menjawab dengan senyum diiringi suara lirih dari ketawa renyah Aksa. Aksa tidak mau menanggapi lebih dari ucapan Meira. Sebab, Aksa masih berharap jika mereka masih bisa bersatu kembali suatu saat nanti. Walaupun Aksa sendiri pun ragu akan harapan itu, tetapi perasaan Aksa tetap akan menyimpan harapan itu hingga menjadi sebuah kenyataan.
“Gue baik-baik aja, Mei. Lo jangan khawatir, ya. Gue tahu, Lo marah kan saat ini sama Kalla? Tapi, gue yakin Kalla nggak ada maksud menyembunyikan ini semua dari kita. Kalla hanya sedang mempersiapkan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya ke kita,” ucap Aksa sebelum Meira melanjutkan obrolannya.
“Tanpa Lo ngomong, gue udah tau kalau hari ini Lo parah hati. Lo kehilangan harapan kan? Tapi gue yakin, harapan Lo ini hanya salah waktu aja, di waktu yang tepat harapan Lo akan jadi kenyataan,” Meira kembali memberi semangat untuk Aksa.
Aksa tersenyum sembari mengelus halus rambut Meira. Aksa mengaminkan dalam hati, dari ucapan Meira tersebut. Meski tidak mengucapkan langsung di depan Meira.
Gibran meggantikan Aksa dan Meira di rumah Kalla. Kalla masih enggan masuk ke dalam rumahnya. Sulit untuk Kalla masuk ke dalam ruang yang telah memberinya bertumpuk kesedihan. Kalla sedang tidak bisa menampung semua kesedihan itu. Gibran mengajak Kalla masuk ke dalam mobilnya. Gibran membiarkan Kalla duduk dan menenangkan diri. Gibran tidak banyak bertanya, hanya menemani dan sesekali mengelus punggung tangan Kalla. Perasaan Kalla semakin tidak enak semenjak Aksa dan Meira tau hubungan antara Kalla dan Gibran. Pikiran Kalla sangat bercampur aduk. Ingin berteriak, mengeluarkan semua permasalahannya lewat suara. Tetapi, banyak yang tertahan di dalam pita suaranya.
“Kita makan, yuk?” Gibran mencoba mengajak Kalla berbicara.
Kalla belum menjawab, hanya menengok saja ke arah Gibran. Rasanya tidak bisa terungkapkan saat itu.
“Kamu pasti belum makan, kan? Kita makan dulu, yuk!” Gibran mengulangi ajakannya.
Kalla pun menuruti ajakan Gibran. Kalla memilih meninggalkan rumahnya sejenak, agar pikirannya lebih jernih ketika nanti masuk ke rumahnya lagi. Gibran mengajak Kalla makan di rumah makan pinggir jalan. Gibran sengaja tidak mengajak Kalla makan di restoran besar, sebab, kebanyakan yang makan di sana adalah keluarga yang utuh. Papa, Mama, dan Anak. Gibran sedang ingin memikirkan perasaan Kalla saat ini.
Di pinggir jalan, Kalla bertemu banyak sekali orang-orang yang bermacam-macam. Ada yang masih bekerja mencari barang bekas, anak kecil berjualan koran, ada juga yang menghibur Kalla sampai Kalla bisa tertawa lebar. Gibran sangat berterima kasih kepada adik kecil, pengamen yang telah membuat Kalla tertawa malam ini. Sebab, dirinya sebagai kekasih pun sulit untuk menghibur Kalla. Gibran tidak bermaksud memaksa Kalla untuk bersyukur, tetapi hanya sedang menjaga perasaan Kalla saja.