BAB 59

1872 Kata
Kicauan burung masih saja terdengar. Padahal ini sudah tidak terlalu pagi. Kalla sudah sampai di kampus bersama Gibran 30 menit lalu. Gibran meninggalkan Kalla sendirian di kantin karena Gibran ada rapat penting. Kalla membiarkan Gibran sibuk seperti biasanya. Tidak ada protes dari Kalla meskipun sebenarnya Kalla sedang butuh seseorang untuk menemaninya mengobrol. Meira dan Aksa belum terlihat di kampus. Sesekali Kalla melihat ke ponselnya, ingin memastikan ada pesan masuk atau tidak. Sudah beberapa kali Kalla lakukan, pesan masuk tidak ada sama sekali. Kalla memesan minuman kesukaannya di kantin, es coklat khas kantin kampusnya. Kalla meneguknya sampai setengah gelas. Kalla membuka buku sketsanya di kantin. Daripada harus melamun sendirian, lebih baik Kalla menunggu jam kuliahnya sembari menggambar desain baru atau menyusun konsep tugasnya. Sudah 15 menit berlalu, Kalla masih saja belum melihat keberadaan Meira ataupun Aksa. Kalla memutuskan untuk mencari Meira. Karena kelas akan dimulai beberapa menit kedepan. Kalla menghabiskan es coklatnya, setelah pembayaran selesai Kalla bergegas pergi dari kantin. Kalla berjalan menengok ke arah kanan, kiri, mencari Meira. Siapa tahu Meira baru saja datang, atau dari ruangan lain yang ada di kampus. Sampai di depan kelas, Kalla belum juga menemukan Meira. Kalla heran, kenapa Meira tidak kunjung datang ke kampus. Kelas akan segera dimulai. Kalla merasa cemas dan panik. Takut terjadi sesuatu dengan Meira. Kalla berjalan ke arah kelas Aksa. Kalla ingin menanyakan dimana Meira. Siapa tahu, Aksa tahu Meira dimana, atau bahkan Meira sedang bersama dengan Aksa. Kalla mencari-cari Aksa di kelasnya. Tapi, Aksa tidak ada di sana. Salah satu temannya bilang jika Aksa baru saja keluar, sedang ada keperluan. Kalla pun berniat pergi dan kembali ke kelasnya sebelum kelasnya mulai. Baru saja membalik badan dari kelas Aksa, Aksa muncul di depan Kalla. Kalla terkejut, hampir salting juga karena wajah Aksa dekat sekali dengan wajahnya. “Ada apa, Kal? Kenapa?” Aksa langsung to the point, karena Aksa juga takut terjadi sesuatu dengan Kalla. “Eeee, engga papa. Aku Cuma mau cari Meira. Meira belum datang ke kampus, aku kira Meira sama kamu sekarang,” “Meira belum Dateng?” Aksa mengulang pertanyaan. “Belum,” Kalla menggeleng sembari menatap ke sekitar kampus. “Tumben banget,” Aksa juga heran karena Meira tidak ada kabar hari itu. “Yaudah deh, nanti aku kasih kabar ke kamu kalau Meira udah datang, ya. Aku ke kelas dulu,” Kalla pamit kepada Aksa karena kelas akan segera dimulai. Sudah sampai kelas terakhir, Meira tidak kunjung datang ke kampus. Ponsel Meira pun tidak bisa dihubungi. Kalla mulai tambah cemas dan khawatir kepada Meira. Tidak biasanya Meira seperti ini. Meira selalu mudah dihubungi, karena orang tuanya yang sangat posesif kepadanya. Jadi, Meira tidak mungkin mematikan ponselnya. Kalla mencoba untuk menghubungi Meira lagi. Namun nihil hasilnya. Meira sama sekali tidak memberikan kabar apapun kepada Kalla. Kemudian, Kalla kembali pergi ke kelas Aksa untuk membicarakan soal Meira. Sampai di kelas Aksa, Kalla harus menunggu selama beberapa waktu. Sebab, Aksa belum selesai kelas terakhirnya. Setelah semua berkahir, Aksa langsung menghampiri Kalla yang telah menunggunya di depan ruang kelas. “Gimana, Kal? Meira udah ada kabar?” Aksa langsung bertanya soal Meira. Kalla menggelengkan kepalanya, memberi kode jika Meira belum ada kabar sampai saat ini. “Sa, kita ke rumah Meira aja gimana?” Kalla mengajak Aksa ke rumah Meira. Kalla takut terjadi sesuatu kepada Meira. “Iya, boleh. Kita ke sana sekarang, ya?” Aksa mengiyakan permintaan Kalla. Kalla dan Aksa jalan berdua menuju ke parkiran mobil. Awalnya Aksa mau menggandeng tangan Kalla, karena biasanya itu yang Aksa lakukan ketika berjalan dengan Kalla. Tetapi, Aksa mengurungkan niatnya ketika melihat Kalla ragu menerima tangan Aksa. Samapi di mobil Aksa, Aksa membukakan pintu untuk Kalla. Namun, ada yang menahan pintu mobil itu. Gibran sudah ada diantara mereka berdua. Gibran menahan Kalla sejenak. Kalla tidak memberi kabar sedari tadi pagi. Sejak Gibran rapat dengan pengurus BEM, Kalla tidak memberi kabar. “Kamu mau kemana?” Gibran langsung memegang tangan Kalla. “Kak Gibran, kok udah ada di sini?” Kalla bingung dengan kehadiran Gibran. “Dari tadi aku tungguin kabar dari kamu, tapi kamu sama sekali nggak ngasih kabar ke aku,” Gibran tidak menjawab pertanyaan Kalla. “Iya maaf, kak. Tadi di kelas banyak banget yang harus aku kerjakan. Jadi, aku nggak sempet untuk kasih kabar,” Kalla mencoba menjelaskan alasannya. . “Sekarang kamu mau kemana? Kok sama Aksa?” “Kita mau ke rumah Meira, kak. Meira hari ini nggak datang ke kampus. Jadi, aku sama Aksa memutuskan untuk datang ke rumahnya. Takut terjadi sesuatu sama Meira,” Kalla menjawab dengan penuh ketenangan. “Kamu sama aku aja, aku antar ke rumah Meira, ya,” ujar Gibran sambil menggandeng tangan Kalla menuju ke mobilnya. “Ehhh tunggu!” Aksa menahan tangan Gibran yang menarik Kalla. “Kenapa?” Gibran menatap Aksa dengan sedikit sinis. “Kalla kan mau ke rumah Meira sama gue. Kenapa Lo tarik Kalla ke mobil Lo, sih?” Aksa protes dengan Gibran. “Biar gue yang antar Kalla, Lo di belakang gue. Bisa kan?” Gibran menjawab protes Aksa. “Ribet banget hidup Lo. Kalla biar sama gue, gue bakal tanggung jawab kok. Kalla akan baik-baik aja sama gue!” Aksa mulai terpancing emosi. “Ribet? Menurut Lo aja kali, gue engga ngerasa sih. Kalla kan cewek gue, jadi wajar kan gue mau nganterin Kalla kemana aja,” Gibran tambah sinis. “Udah udah, jangan dilanjutin lagi,” Kalla menengahi Aksa dan Gibran. “Kak, biar aku sama Aksa aja, ya. Aku Cuma mau ke rumah Meira aja, kok. Setelah itu aku pulang,” Kalla izin terlebih dahulu dengan Gibran agar tidak ada salah paham lagi antara Aksa dan Gibran. “Iya aku tahu. Aku kan juga Cuma mau anter kamu ke rumah Meira. Sama aja kan tujuannya?” Gibran masih saja ngeyel dengan pendiriannya. “Kan ada Aksa, kak. Aksa juga pasti akan jagain aku, kok,” Kalla mencoba menenangkan Gibran. Gibran sudah mulai merasakan cemburu seperti yang sebelumnya Aksa rasakan. Gibran tidak suka melihat Kalla dekat dengan Aksa. Apalagi pergi berduaan. Meskipun mereka sahabat, tetapi, rasanya Gibran tidak rela jika harus membiarkan kekasihnya itu pergi berduaan dengan sahabatnya. Sebab, Aksa juga ada rasa yang spesial kepada Kalla. Salah satu penyebab Gibran tidak percaya kalau Kalla jalan berdua dengan Aksa. “Biar sama aku aja, ya. Ayo sekarang kita berangkat. Lo di belakang gue, ya,” Gibran tetap akan mengantar Kalla ke rumah Meira meski ada Aksa bersama Kalla. Di depan mobil, Gibran berhenti karena ponselnya berdering. Gibran menjawab telepon masuk terlebih dahulu. Ada nada kesal ketika Gibran menjawab telepon entah dari siapa. “Kenapa harus sekarang? Kenapa nggak besok aja? Kita baru aja selesai rapat, dan semua juga udah pulang, kan?” Gibran kesal terdengar dari nada suaranya. Gibran bertambah kesal ketika Natasha mulai ikut campur dalam pembicaraan. Gibran tidak bisa menolak jika itu permintaan dari Natasha. Natasha akan bersikap seenaknya jika kemauannya tidak dituruti. Natasha ingin mengadakan rapat dadakan untuk evaluasi. “Maafin aku, ya. Aku nggak jadi anterin kamu ke rumah Meira,” Gibran lemas dan kecewa dengan dirinya sendiri. “Kenapa, kak? Ada apa?” Kalla sedikit panik, karena Gibran tidak jadi mengantar Kalla ke rumah Meira selesai menerima telepon. “Ada rapat untuk evaluasi sore ini,” Gibran menahan kesalnya. “Ohhh, rapat lagi, ya?” Kalla mencoba mengerti agenda Gibran. “Iya nggak papa, untung Aksa belum berangkat, kan. Jadi, aku masih bisa sama Aksa ke rumah Meira,” ujar Kalla. “Kalau udah selesai rapatnya, nanti kabarin aku, ya,” ucap Kalla sebelum menutup pintu mobil Aksa. Gibran akhirnya merelakan kekasihnya itu pergi berdua dengan sahabatnya. Tetapi, tetap saja, Gibran tidak membiarkan Aksa memperlakukan Kalla spesial. Hanya Gibran yang boleh memperlakukan Kalla istimewa. Gibran menunggu Kalla sampai tidak terlihat di depannya, setelah itu pergi segera ke ruangan rapat dengan wajah cemberut. “Kenapa Gibran jadi berubah, Kal?” tiba-tiba saja Aksa menanyakan tentang sikap Gibran yang berubah. “Berubah kenapa?” Kalla masih tidak paham yang dimaksud oleh Aksa. “Kan Gibran tau, aku sahabat kamu. Aku juga bisa jagain kamu kalau nggak ada dia. Gibran takut banget aku ngapa-ngapain kamu,” Aksa sewot. “Eeee, bukan gitu maksud kak Gibran,” Kalla membela Gibran di depan Aksa. “Gibran juga sebelumnya nggak posesif dan cemburuan kayak gini, deh,” Aksa menambahkan. Kalla tidak bisa menjawab apa-apa. Kalla juga bingung dengan perubahan sikap dari Gibran. Gibran sudah mulai terlihat sedikit cemburuan, posesif, dan ingin selalu berada di dekat Kalla. Gibran tidak mau Kalla bersama yang lainnya, meskipun itu sahabat Kalla sendiri. Gibran juga harus menerima kabar dari Kalla, walaupun Gibran dalam keadaan sibuk sekalipun. Tetapi, semua perasaan Kalla tentang Gibran itu Kalla tutupi. Kalla tidak ingin Aksa khawatir dengan perasannya. “Kamu sama Gibran tapi baik-baik aja, kan? Nggak ada masalah yang serius? Dia baik kan sama kamu?” Aksa mulai khawatir dengan Kalla. “Iya, baik-baik saja, kok. Tadi mungkin Kak Gibran terlalu khawatir aja sama aku,” Kalla membela kekasihnya. Sepanjang jalan ke rumah Meira, Kalla dan Aksa membahas tentang perubahan sikap Gibran. Gibran semakin terlihat memiliki Kalla. Sampai sampai Aksa pun sulit untuk berdua dengan Kalla. “Sa,” Kalla membuka percakapan lain. “Iya, kenapa?” Aksa menjawab panggilan Kalla. “Kamu nggak marah sama aku?” Kalla tanya dengan setengah keraguan. “Tentang?” Aksa penasaran. “Tentang kemarin,” Kalla mengingatkan Aksa dengan kejadian kemarin di rumahnya. “Ohhhhh,” Aksa tidak memberikan jawaban yang akalla inginkan. “Kamu nggak marah sama aku?” Kalla mengulang pertanyaannya. “Kecewa pasti ada, Kal. Aku sahabat kamu dari belasan tahun yang lalu. Tapi, sekarang kamu malah milih orang baru untuk kamu jadikan sandaran. Apalagi masalah kemarin itu masalah serius. Dan juga, kamu menyembunyikan status kamu sama Gibran dari aku. Aku pasti kecewa dan marah,” Aksa membuka suara. “Tapi,” ucapan Aksa menggantung. “Tapi kenapa?” Kalla tidak sabar mendengar lanjutan dari kalimat Aksa. “Tapi aku nggak bisa marah sama kamu dalam waktu lama,” Aksa melanjutkan kalimatnya. “Aksa awas!” Kalla tiba-tiba berteriak. Aksa sampai tidak fokus menyetir karena memandangi wajah Kalla. Ada motor yang menyeberang di depan mobil Aksa secara tiba-tiba, untung saja Aksa masih sempat rem mobilnya. Kalla dan Aksa aman-aman saja, begitupun pengendara motor yang baru saja melintas. “Kamu nggak papa, kan?” Aksa khawatir dan merasa bersalah dengan Kalla. “Iyaa nggak papa, kok. Kamu baik-baik aja, kan?” Aksa mengangguk dengan tatapan rasa bersalahnya kepada Kalla. “Kamu fokus nyetirnya, ya. Hati-hati,” Kalla mengingatkan Aksa agar tidak terjadi lagi. Sesampainya di rumah Meira, Kalla dan Aksa mengetuk pintu rumahnya yang terlihat sepi dari luar. Tidak ada mobil di depan rumah Meira, seperti tidak ada orang di dalamnya. Tetapi, ada beberapa suara perabotan dapur yang sedang diletakkan oleh seseorang. Kalla yakin jika itu adalah asisten rumah tangga di rumah Meira. Kalla memperkeras suaranya. “Permisi... Meira,” Kalla mengetuk pintu rumah Meira lebih keras lagi. “Permisi......” Aksa ikut mengetuk pintu rumah Meira dan memanggil Meira, membantu Kalla agar cepat terdengar dari dalam rumah. Seseorang dari dalam berjalan ke luar untuk membuka pintu rumah. Mempersilakan Kalla dan Aksa masuk ke dalam rumah. Kalla dan Aksa diajak masuk ke rumah secara diam-diam. Sebab, Mama dan Papa Meira sedang tidak ada di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN