BAB 60

1551 Kata
Meira mendapat hukuman dari orang tuanya. Kemarin, setelah pulang dari rumah Kalla, Meira disidang oelh orang tuanya. Orang tua Meira memang terkenal sangat posesif dengan anaknya. Tidak ada kebebasan yang diberikan untuk Meira. Meira harus selalu memberi kabar ketika berada di luar rumah. Namun, kemarin, Meira sama sekali tidak memberi kabar kepada Mama ataupun Papanya. Bahkan Meira tidak bilang jika akan pulang bersama Aksa. Sedikit berlebihan, namun, orang tua pasti punya maksud tersendiri kepada anaknya. Meskipun bagi Meira sangat tidak menyenangkan, sebenarnya Papa dan Mama Meria sangat menyayangi Meira, hanya saja salah cara mengungkapkannya. Mungkin, lebih tepatnya kurang pas jika diungkapkan dengan sikap tersebut. Kalla dan Aksa berhasil masuk ke rumah Meira. Bibi membantu Aksa dan Kalla masuk ke kamar Meira. Meira senang sekali Kalla dan Aksa bisa datang ke rumahnya. Tetapi, Meira juga khawatir jika Papa dan Mamanya tahu, pasti Kalla dan Aksa akan kena masalah juga. Kalla dan Aksa tidak peduli akan hal itu. Yang terpenting, Kalla dan Aksa hari itu sudah melihat Meira dengan keadaan baik-baik saja. Meira hanya sedikit murung, karena di kamar seharian. Tidak boleh keluar kamar, memegang ponsel, bahkan menonton televisi di luar kamar. Meira hanya membaca buku, menggambar, dan makan di kamar saja seharian. Itu membuat Meira sangat suntuk. Untung saja Kalla dan Aksa punya ide untuk menghampiri Meira ke rumahnya. Meira menatap Kalla, masih dengan tatapan kekecewaan seperti kemarin. Meira kecewa dengan sikap Kalla sekarang. Seperti ada jarak diantara mereka ketika Kalla sudah mengenal Gibran. Hal ini membuat Aksa dan Meira semakin salah paham dengan Gibran. Mereka mengira jika Gibran lah yang menyuruh Kalla menjaga jarak kepada dua sahabatnya, padahal Gibran sama sekali tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada Kalla. “Kamu masih marah sama aku, Mei?” tanya Kalla saat suasana sedang sunyi. “Emangnya Aksa udah nggak marah sama Lo?” Meira malah balik bertanya kepada Kalla. Kalla menggeleng, menatap Meira dengan penuh rasa bersalah. Tidak ada maksud untuk mengindar, Kalla hanya menunggu waktu yang tepat saja. Tetapi, semuanya malah membuat salah paham lagi. “Maafin aku ya, Mei. Aku sama sekali nggak ada maksud untuk menyembunyikan semua dari kalian. Aku Cuma belum siap untuk bercerita aja,” Kalla memohon kepada Meira sembari memegang tangan Meira. Meira menatap Kalla, seperti tidak tega tapi juga masih ada rasa marah dan kecewa. “Kamu mau kan maafin aku, Mei?” “Semenjak ada Gibran, Lo jadi lupa sama gue dan Aksa.” “Engga sama sekali, aku nggak pernah lupa sama kalian. Cuma memang waktu kita aja yang sulit untuk bertemu,” Kalla membela dirinya. Aksa tidak menyalahkan Kalla, namun juga tidak membela Kalla. Aksa hanya menyimak pembicaraan Kalla dan Meira. Aksa pun tidak mendukung Meira, tetapi, Meira juga ada benarnya. Aksa merasa tidak lagi dianggap oleh Kalla. Aksa sedih sekali, Kalla memberi jarak dalam hubungan mereka. “Kak Gibran nggak pernah menyuruh aku untuk jauhin kalian. Cuma, karena memang aku lebih sering bareng Kak Gibran, jadi kalian merasa aku menjauh. Padahal engga sama sekali,” Kalla menjelaskan lagi. Kalla dan Aksa sudah mencoba menutup semua salah paham yang terjadi sebelumnya. Mulai dari pertengkaran dengan Gibran di jalan, sampai salah paham soal kegagalan Aksa berangkat ke Amerika. Aksa janji, akan membuat Mama Aksa kembali percaya lagi kepada Kalla. Sebab, ini semua bukan salah Kalla. Meskipun sebenarnya, memang Kalla alasan Aksa tetap bertahan di Indonesia. “Lain kali, apapun yang terjadi sama Lo, sebisa mungkin cerita sama kita. Kita yang lebih tau dan dekat sama Lo, Kal. Gue dan Aksa akan selalu ada buat Lo, meskipun suatu saat Gibran udah ninggalin Lo, kita tetap ada di sini,” Ujar Meira dengan sedikit wajah dunia ketika menyebut nama Gibran. Kesalahpahaman mereka pun selesai sudah. Ego mereka dikalahkan oleh rasa peduli satu sama lain. Rasa marah di hati Meira melebur setelah mendengar permintaan maaf dari Kalla. Aksa pun begitu, tidak sanggup jika harus mendengar Kalla memohon maaf kepadanya. Sebelum ada permohonan maaf dari Kalla, Aksa akan selalu membuka hatinya dengan lebar. Aksa tidak ingin melihat gadis yang ia cintai merasa terbebani. Sudah hampir malam, Meira menyuruh Aksa dan Kalla segera pulang. Meira tidak ingin Mama dan Papanya tahu jika hari ini Meira bertemu dengan teman-temannya. Meira juga tidak mau Kalla dan Aksa terlibat dalam masalah keluarganya. Meira menyuruh bibi mengantar Kalla dan Aksa keluar rumah sebelum Mama dan Papanya pulang. Kalla dan Aksa pun menuruti ucapan dari Meira. Mereka bergegas keluar dari kamar Meira, dan meninggalkan rumah Meira. Sampai di mobil, tidak lama kemudian Mama dan Papa Meira sampai di rumah. Untung saja Kalla dan Aksa tidak bertemu. Meira pun sudah kembali Ke kamarnya, pintu sudah terkunci dari luar. Semoga semua aman terkendali tanpa ada hukuman tambahan dari orang tua Meira. Di perjalanan pulang, Aksa berniat mengajak Kalla makan malam bersama. Aksa ingin mengobrol lebih lama dengan Kalla. Sudah lama Kalla dan Aksa tidak merasakan hal seperti ini lagi. Momen ini sulit terjadi ketika Kalla terlah masuk ke kampus impiannya, dan bertemu dengan pujaan hati. Aksa tidak memaksa, namun sangat berharap Kalla mau menerima tawarannya. Kalla pun memberikan Aksa waktu untuk sekedar makan malam bersama. Aksa senang bukan kepalang. Rasanya seperti habis mendapatkan hadiah tak terduga. Waktu Kalla sangatlah berarti untuk Aksa saat ini. Aksa memilih restoran yang dekat dari rumah Meira. Sebab, Aksa tidak ingin lama di jalan. Aksa juga khawatir dengan Kalla yang belum makan sedari tadi. Aksa dan Kalla turun dari mobil bersama. Mereka memilih tempat duduk sedikit masuk ke dalam restoran. Di sana suasananya lebih tenang dan hening. Tidak seramai di area depan. Kalla dan Aksa akan lebih leluasa untuk berbincang. “Kamu mau makan apa, Kal?” tanya Aksa sembari membuka daftar menu yang diberikan oleh pelayan restoran. “Nasi goreng seafood boleh, deh,” jawab Kalla sembari menunjuk gambar yang ada. “Minumannya?” Aksa kembali bertanya. Kalla mengerutkan keningnya sebelum menjawab pertanyaan Aksa yang kedua. “Hot coklat seperti biasa aja,” ujar Kalla sembari menyenderkan punggungnya ke kursi. Sebenarnya tidak ada hal yang tidak Aksa tahu dari Kalla. Aksa pasti tahu menu makan apa yang akan dipesan Kalla saat ini, hanya saja Aksa takut jika dirinya salah. Pasti Aksa akan merasa tidak lagi mengenal Kalla dengan baik. Itu membuat Aksa lebih sakit lagi, daripada hanya sekedar tidak bisa memiliki untuk saat ini. “Aku kangen sama kita yang dulu, Kal,” ucap Aksa disela-sela mereka makan. Kalla tersedak, lumayan terkejut dengan ucapan Aksa yang tiba-tiba itu. Kalla mengambil minum, lalu mencoba menelaah ucapan Aksa barusan. Dalam hatinya, Kalla juga pasti merindukan semua momen kebersamaan mereka. Tetapi, entah kenapa Kalla sulit sekali mengungkapkan itu kepada Aksa. Seperti ada penghambat ketika Kalla akan mengucapkannya. “Kamu enggak, ya?” Aksa menanyakan perasaan Kalla. “Hmmm? Aku?” Kalla menenangkan diri supaya tidak terlihat canggung juga kikuk. “Iya, aku kangen sama momen kita berdua. Kamu nggak kangen? Ya entah itu Cuma sebagai sahabat atau lebih, intinya aku kangen,” ujar Aksa sambil meletakkan sendok di piringnya dan memilih menatap Kalla. “Kangen juga, kok. Kangen masa-masa kota sekolah juga, ya,” jawab Kalla sedikit ada perasaan canggung di sana. “Gimana sih sebenarnya perasaan kamu? Memang nggak ada aku di sana? Atau kamu hanya menyembunyikan di hati paling dalam?” pertanyaan Aksa tidak kalah mengejutkan Kalla. “Maksud kamu?” “Kal, kita kan Cuma berdua di sini. Aku pengen ada obrolan intim diantara kita. Aku Cuma pengen tahu bagaimana perasaan kamu kok. Walaupun misalnya memang nggak ada aku di dalam hati kamu, nggak papa. Yang penting aku dengar sendiri itu kamu yang berbicara,” Aksa menjawab panjang lebar. “Pasti ada kamu kok, Sa,” Kalla menjawab dengan singkat. “Lalu?” Aksa ingin kejelasan dari jawaban Kalla barusan. “Ya mungkin memang waktu belum memberikan kesempatan untuk kita,” Kalla memberikan jawaban yang lebih membuat Aksa kembali berharap. Aksa masih ingin terus membahas permasalahan itu, tetapi, Gibran sudah menelepon Kalla. Ketika Kalla akan menjawab telepon Gibran, ponsel Kalla mati. Kalla panik, takut jika Gibran marah karena Kalla belum memberi kabar kepada Gibran sejak tadi siang. Aksa heran, mengapa Kalla bisa berubah seperti itu. Menjadi milik orang lain, padahal tumbuh bersama Aksa. Aksa melihat sosok lain dalam diri Kalla, seperti bukan Kalla yang dulu. “Duhh gimana, nih. Hp aku mati, Kak Gibran pasti nyariin aku,” Kalla panik sambil memegang ponselnya. “Udah, Kal. Tenang aja, habis ini juga kita pulang kok. Kamu kasih kabar kalau kamu udah sampai di rumah aja,” Aksa memberi jalan keluar. Kalla sama sekali tidak tenang saat menghabiskan makanannya. Kalla terus memikirkan Gibran. Takut sekali Gibran marah lagi, karena Kalla tidak memberi kabar sejak pulang dari kampus. Gibran juga ternyata beberapa menelepon Kalla. Hanya saja, Kalla tidak tahu ada telepon dari Gibran. Kalla sedang menikmati waktu bersama kedua sahabatnya itu. “Sa, kita pulang, yuk!” Ajak Kalla padahal makanannya belum habis semua. “Kamu belum habis makannya,” Aksa menolak ajakan Kalla. “Udah, kok. Aku udah kenyang banget. Udah keburu malem juga,” jawaban Kalla terdengar sangat panik. Aksa hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menatap heran ke arah Kalla. Kalla belum pernah seperti ini, biasanya Kalla akan menghabiskan makanan. Lalu, menunggu beberapa saat sampai makanan itu turun. Baru Kalla akan mengajak pulang. Tapi, sepertinya pacar sudah membuat perubahan dalam diri Kalla. Aksa tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menuruti kemauan Kalla. Siapa Aksa tidak melihat ada kekhawatiran di mata Kalla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN