Sampai di rumah Kalla, Gibran sudah menanti kedatangan Kalla. Menyenderkan badannya ke mobil, menekuk tangannya, sambil sesekali memainkan kakinya dengan batu. Sudah hampir satu jam Gibran menunggu di rumah Kalla. Telepon dan pesan Gibran juga tidak dijawab oleh Kalla. Ada perasaan khawatir, cemas, juga marah di benak Gibran. Kalla dan Aksa turun dari mobil. Kalla bergegas menghampiri Gibran yang sudah menunggunya lama. Kalla merasa tidak enak, karena tidak memberi kabar dan membuat Gibran menunggu.
“Kak Gibran?” Kalla berjalan mendekati Gibran.
“Astaga, Kal. Kamu dari mana aja sih?” Gibran meraih badan Kalla dan memeluknya. Semua kecemasan hilang seketika, setelah melihat Kalla hadir di depan mata.
“Maaf, kak. Hp aku mati, aku nggak bawa charger,” Kalla menjelaskan dipelukan Gibran.
“Kan bisa kamu minta tolong Aksa, biar aku nggak cemas kayak gini,” Gibran melepas pelukannya.
“Lo nggak percaya banget sama gue. Gue nggak bakal biarin Kalla kenapa-kenapa lah,” Aksa protes karena merasa dituduh oleh Gibran.
“Lo kan bisa bantu Kalla buat cari charger kek, atau pinjem hp Lo sebentar aja buat kasih kabar ke gue. Gue khawatir sama Kalla,” Gibran ngegas.
“Kak udah, ya. Kan aku sekarang udah pulang, aku juga baik-baik aja. Jangan berantem sama Aksa,” Kalla mengelus punggung tangan Gibran.
Melihat Kalla mengelus punggung tangan Gibran, hati Aksa seperti disayat. Meski sudah mencoba merelakan sahabatnya berbahagia dengan laki-laki lain, tetapi, perasaan itu belum hilang. Aksa masih memiliki perasaan yang sama. Itu tidak akan berkurang, entah sampai kapan.
“Lain kali, kamu nggak boleh ngilang. Kalau perlu, kamu kemanapun harus sama aku,” Gibran menatap wajah Kalla.
“Jangan gila deh, Lo. Kalla juga punya teman lain, bukan Cuma Lo doang kali di hidup Kalla. Lo baru aja Dateng di hidup Kalla, dan seolah semua itu udah jadi hak milik?!” Aksa kesal dengan sikap Gibran.
Gibran mulai menghampiri Aksa. Gibran tidak suka Aksa ikut campur dengan hubungannya. Kalla takut sekali terjadi sesuatu dengan mereka berdua. Salah paham di pinggir jalan waktu itu cukup menjadi perkelahian pertama dan terakhir kalinya.
“Gue pacar Kalla, Kalla juga mengakuinya kok. Jadi, gue berhak atas Kalla. Lo Cuma temennya doang, tolong hargai gue yang ada di hati Kalla,” Gibran membalas Aksa dengan perkataannya.
“Hah?” Aksa bertambah kesal dengan jawaban Gibran.
Aksa menunjuk d**a bagian kanan Gibran. Sudah mulai ada kemarahan diantara Gibran dan Aksa. Kalla langsung menarik Gibran, agar tidak terjadi pertengkaran yang tidak diinginkan.
“Kak, udah ya,” suara lembut Kalla meluluhkan hati Aksa dan Gibran.
“Kamu pulang, ya. Makasih udah anter aku pulang ke rumah,” pinta Kalla kepada Aksa.
“Iyaa,” Aksa menjawab sangat singkat. Lalu berbalik menuju ke mobilnya.
Ada kekecewaan yang Akan bawa pulang ke rumah. Harapan Aksa yang diberikan oleh Kalla di rumah makan tadi pun sudah kembali sirna. Aksa kembali menelan kepahitan tentang kisah cintanya. Kini, Aksa hanya bisa menahan semua perasaan. Tak bisa diungkapkan, tidak akan ada yang bisa mengerti. Pasti akan ada yang disalahkan, jika perasaan Aksa dipaksa untuk diutarakan.
“Mau masuk?” Kalla menawarkan Gibran masuk ke dalam rumahnya.
“Papa sama Mama kamu udah pulang?”
Kalla langsung menengok ke arah dimana Papanya selalu memarkirkan mobilnya. Di sana belum ada mobil Mama ataupun Papanya. Kalla sedikit bernapas lega, karena saat Kalla masuk ke dalam rumah, Kalla tidak melihat wajah Papa dan Mamanya. Kalla tidak ingin mengingat sakit hatinya lagi hari ini. Kakak mau mengistirahatkan perasaannya terlebih dahulu.
“Udah malam, Kak Gibran pulang aja, ya?” Kalla berubah pikiran.
“Kamu nggak suka aku di sini?” Gibran salah sangka.
“Bukan, Kak Gibran seharian rapat, pasti capek. Aku Cuma nggak pengen Kak Gibran sakit,” Kalla memberi penjelasan.
“Kamu baik-baik di rumah, ya,” Gibran menuruti kemauan Kalla.
“Iya, Kak Gibran hati-hati, ya,” pesan Kalla sebelum Gibran masuk ke mobilnya.
Gibran meraih kepala Kalla mengelusnya sejenak, lalu mendaratkan kecupan di kening Kalla. Ada perasaan canggung ketika Gibran selesai mendaratkan kecupannya, tapi, Kalla tidak mau membuat ada kecanggungan diantara mereka. Kalla hanya membalas dengan senyuman.
“Aku pulang, ya,” Gibran mengelus tangan Kalla sebelum masuk ke mobil.
Kalla melipat tangannya di belakang, menunggu Gibran sampai hilang dari pandangan. Setelah Gibran pulang, Kalla bergegas masuk ke rumah sebelum Papa dan Mamanya sampai di rumah. Semenjak kejadian di kantor Papanya, Kalla dan orang tuanya semakin berjarak. Tidak pernah bertemu, tidak pernah saling menyapa, bahkan seperti tak saling peduli lagi. Papa dan Mamanya juga jarang berdua di satu tempat. Pasti saling menghindar. Entah menghindari pertengkaran atau memang tidak ingin melihat wajah satu sama lain. Kalla sedang tidak ingin menyakiti hatinya lebih dalam lagi. Kalla hanya ingin menikmati masa kuliahnya, sampai Kalla bisa lulus dengan baik dan lulus tepat waktu.
Baru saja Kalla mematikan lampu kamarnya dan bersiap untuk tidur, ponsel Kalla berdering. Kalla bangun lalu mencari keberadaan ponselnya itu. Gibran, terlihat nama itu setelah Kalla menemukan ponselnya. Ingin tidak menjawab, tapi, pasti Gibran akan salah paham lagi kepadanya. Padahal, Kalla sudah sangat mengantuk dan ingin sekali beristirahat.
“Halo?” sapa Kalla saat sudah menjawab telepon dari Gibran.
“Kamu belum tidur? Aku ganggu kamu?” Gibran basa basi terlebih dahulu.
“Baru mau tidur,” Kalla tidak basa basi menjawabnya.
“Yaudah, kamu tidur, tapi jangan matiin ya teleponnya,” pinta Gibran yang membuat Kalla bingung.
“Kak Gibran nggak salah, kan?” Kalla heran dengan sikap Gibran.
“Engga, aku Cuma pengen seperti pasangan lain. Bisa tidur sambil telepon,” ujar Gibran sambil tertawa kecil.
“Ya ampun, kak. Nggak perlu seperti itu juga, dong. Kita kan setiap hari ketemu. Baru beberapa menit yang lalu juga ketemu, kan?” Kalla tidak setuju dengan keinginan Gibran.
“Kamu nggak suka ya, Kal?” Gibran menelan kekecewaan.
“Bukan. Bukan nggak suka, tapi nggak perlu sampai seperti itu, Kak. Kan kita nggak Ldr,” Kalla memberi pengertian kepada Gibran.
Gibran mencoba mengerti maksud Kalla. Akhirnya telepon Gibran berakhir. Kalla pun tertidur nyenyak berselimut hangat. Sampai Kalla tidak ingat, mimpi apa yang ada di tidur Kalla tadi malam.
Seperti biasa, Kalla akan turun lebih pagi agar tidak bertemu dengan Mama dan papanya. Kalla masih menghindari orang tuanya. Masih ada rasa sakit yang belum sembuh, dan Kalla tidak ingin menambahnya lagi.
Gibran sudah siap di depan rumah Kalla. Kalla tidak kaget lagi melihat kekasihnya ada di depan rumahnya. Kini sudah menjadi rutinitas setiap pagi, Gibran akan berdiri di depan rumahnya sambil menunggu Kalla keluar. Setelah Kalla datang, Gibran menggandeng tangan Kalla, lalu membukakan pintu mobil untuk Kalla. Mereka akan sarapan bersama. Bubur langganan mereka atau hanya makan roti yang Kalla bawa dari rumah. Sudah beberapa waktu rutinitas itu berulang begitu saja. Tanpa ada protes dari Kalla maupun Gibran. Gibran menikmati masa-masanya jatuh cinta dengan Kalla, dan diperlakukan dengan baik.
Baru saja Gibran parkit mobil di parkiran kampus, Natasha sudah datang menghampiri Gibran dan Kalla. Natasha bilang jika rapat akan segera dimulai. Akan ada agenda baru di kampus, jadi, Gibran harus segera mengurusnya. Tanpa Gibran meminta, Kalla sudah memberikan pengertian. Kalla mendukung penuh apapun yang dilakukan oleh Gibran, selagi itu masih positif. Kalla akan selalu memberikan support, agar komunikasi mereka berjalan baik.
“Jangan lupa kasih kabar ke aku, ya,” pinta Gibran kepada Kalla sebelum meninggalkan Kalla sendirian.
Natasha berjalan bersama Gibran. Memasang wajah masamnya, setelah mendengar keromantisan Kalla dan Gibran.
“Udah ditinggal pawangnya?” Aksa datang tiba-tiba.
“Ya ampun, kamu bikin kaget aja,” Kalla menepuk pundak Aksa perlahan.
“Mana pawang kamu?”
“Pawang apaan sih? Pawang hujan? Pawang buaya?” Kalla ngeles.
“Pawang Kalla yang galak melebihi senior di kampus,” Ledek Aksa kepada Kalla.
“Aksaaa,” Kalla menghentikan ledekan Aksa.
“Siapa maksud Lo?” Gibran ternyata kembali ke mobilnya, berniat mengambil barang yang tertinggal.
“Kak Gibran?” Kalla terkejut dan merasa tidak enak. Kalla takut jika Gibran mendengar pembicaraannya dengan Aksa.
Aksa tidak menjawab pertanyaan Gibran, takut terjadi perdebatan panjang. Hari itu masih cukup panjang dan akan melelahkan jika dimulai dengan perdebatan.
“Aku anter ke kelas, ya?” Gibran menawarkan kepada Kalla, karena sudah selesai mengambil barang yang tertinggal.
“Hmmm? Nggak usah, kak. Kan ada Aksa,” Kalla menunjuk Aksa di sebelahnya.
Aksa terlihat cuek, tetapi, dalam hatinya senang karena merasa menang dari Gibran.
“Kak Gibran langsung aja ke ruang rapat, nanti Kak Natasha ke sini lagi,” Kalla mengingatkan Gibran.
“Yaudah deh, jangan lupa kasih kabar ke aku, ya. Jangan pulang sendiri, kalau aku belum jemput kamu dari kelas,” pesan Gibran lalu Gibran menuju ke ruang rapat.
Setelah Gibran pergi, Aksa pun kembali mendekati Kalla. Aksa bisa bernapas lega, ketika Gibran ada di samping Aksa, napas Aksa seperti tertahan. Tidak bisa leluasa bernapas.
“Ke kantin aja, yuk!” Ajak Aksa, Kalla menurutinya.
Meira menyusul Aksa dan Kalla di kantin. Hari ini, Meira sudah kembali bisa beraktivitas seperti biasa. Sebab, semua hukumannya sudah selesai. Meira tidak mau lagi berbuat seenaknya, karena hukumannya tidak lebih enak. Meira akan menuruti omongan Papa dan Mamanya, supaya tidak dihukum lagi. Kalla dan Aksa pun mendukung Meira, mereka juga akan membantu Meira ketika Meira membutuhkan sesuatu. Seperti kemarin, Kalla dan Aksa datang ke rumah Meira, ketika Meira sedang butuh teman.
“Pawang Lo kemana, kal?” Meira gantian meledek Kalla.
“Pawang apaan sih? Kalian jangan kayak gitu, deh. Kak Gibran kan sekarang udah jadi pacar aku, aku harus hargain setiap sikapnya ke aku. Aku tahu, karena dia sayang sama aku, makanya sikap Kak Gibran lebih protektif ke aku,” Kalla sangat membela Gibran.
“Widiiiihhh, dibelain muluk nih pacarnya,” Meira tambah meledek Kalla.
Kalla kesal dengan Meira dan Aksa karena tidak berhenti meledek Kalla. Kalla meninggalkan kedua sahabatnya itu di kantin. Kalla memilih kembali ke kelas, sebelum kelasnya dimulai. Aksa dan Meira mengejar Kalla, karena merasa tidak enak sudah meledek Kalla terlalu lama.