BAB 62

1722 Kata
Sore ini, Gibran lagi lagi tidak bisa mengantar Kalla pulang ke rumah. Agenda rapatnya masih belum juga beres. Masih banyak yang harus dirundingkan bersama rekan kerja lainnya. Kalla pun tidak protes sama sekali, justru Kalla memberikan semangat dan dukungan kepada Gibran. Kalla juga mengingatkan Gibran agar tidak lupa makan dan istirahat. Gibran merasa jika perhatian Kalla itu tidak tulus. Gibran menyangka jika Kalla lebih senang jika Gibran tidak bersamanya. “Kamu seneng ya kalau aku nggak sama kamu?” Gibran menembak Kalla dengan pertanyaan aneh. “Maksudnya?” Kalla keheranan. “Kamu nggak pernah protes sama semua waktu aku yang berkurang buat kamu. Bahkan, kita jarang makan malam bareng sekarang, tapi kamu masih fine fine aja. Kamu nggak pernah merasa kangen sama aku, sepertinya,” Gibran meluapkan kekesalannya. “Astaga, Kak. Bukan itu maksud aku. Aku hanya nggak ingin menambah beban pikiran Kak Gibran aja. Aku Cuma bisa bantu seperti ini, aku nggak mau protes karena itu akan menambah beban Kak Gibran,” Kalla menjelaskan maksudnya. Gibran masih saja dengan wajah masamnya mendiamkan Kalla. Kalla sampai bingung harus bagaimana lagi Kalla menjelaskan kepada Gibran. Gibran sudah kembali ditelepon oleh Natasha dan rekan kerja lainnya. Gibran harus segera kembali ke rumah rapat, semua sudah menunggu Gibran. Tapi, Gibran masih berat meninggalkan Kalla sendirian di parkiran mobil. “Kak, aku udah terbiasa naik taksi online sendiri, aku juga bisa sama Aksa atupun Meira, kan? Jadi, Kak Gibran nggak perlu khawatir soal itu, pliss fokus aja sama rapatnya,” Kalla mengelus punggung tangan Gibran, menenangkan Gibran. “Kamu kasih kabar ke aku, sama siapapun kamu pulang, kamu harus kasih kabar ke aku,” Gibran membalas tangan Kalla. Gibran berlalu dari hadapan Kalla. Kalla sendirian menatap punggung Gibran yang segera menjauh darinya. Ada perasaan aneh ketika Kalla sudah menjadi kekasih Gibran. Ragu, terkadang membungkus semua perasaannya. Lalu, perasaan takut. Takut setiap Kalla akan melakukan sesuatu, takut salah, takut akan mengecewakan Gibran, dan yang pasti takut Gibran marah. Lama-kelamaan, semua ini menjadi tidak nyaman untuk Kalla. Padahal, sebelumnya semua tentang Gibran adalah kenyamanan untuk Kalla. Setelah menjadi sepasang kekasih, rasanya berbeda. Kenyamanan itu lebih banyak Kalla temukan sebelum mereka jadian. Apakah karena Gibran terlalu merasa memiliki Kalla? Kalla tidak bisa bersikap sebaliknya, karena takut jika Gibran tidak nyaman jika Kalla melakukan hal itu. Meira dan Aksa sedang ngobrol berdua di kantin. Aksa sedikit mencurahkan isi hatinya, Aksa rindu dengan Kalla yang dulu. Bukan a yang sudah dimiliki oleh pacarnya. Kalla yang masih polos, lugu, dan Kalla yang masih memiliki banyak waktu untuk sahabatnya. Meira pun demikian, Meira merasa Kalla banyak perubahan semenjak bertemu dengan Gibran. Apalagi, setelah menjadi pacar Gibran. Semua yang Kalla lakukan harus izin dulu dengan Gibran, Gibran harus menyetujui semua yang Kalla lakukan. Termasuk bertemu dengan sahabatnya. Hari itu, kebetulan Aksa bawa motor ke kampus. Aksa sedang bosan dengan mobilnya. Di mobil selalu sendiri, merasa sangat sepi. Makanya Aksa lebih memilih mengendarai motornya ke kampus. Meira tetiba punya ide untuk Aksa. Meria menyuruh Aksa mengantarkan Kalla pulang menggunakan motornya. Sebab, Meira yakin jika Gibran sedang sibuk dengan rapat bersama anggota lainnya. Awalnya Aksa menolak, alasannya Aksa tidak ingin mencari keributan dengan Gibran. Tetapi, Meira memaksa Aksa. Aksa dan Meira mencari Kalla. Beberapa saat kemudian, mereka pun bertemu di depan kampus. Waktu yang sangat tepat, karena Kalla akan pulang ke rumahnya. Meira langsung mengajukan Aksa untuk mengantar Kalla pulang. Kalla sempat menolak Aksa, tetapi, seperti biasa, Meira selalu punya cara untuk memaksa teman-temannya. “Udah deh, Kal. Hemat ongkos, tauk. Lo kan punya sahabat yang baik, kenapa nggak Lo manfaatin aja,” Meira memaksa Kalla pulang bersama Aksa. “Ehh ya nggak gitu dong, Mei. Masak sahabat sendiri dimanfaatin sih,” Kalla menolak. “Duhh, udah deh Kal nggak usah banyak alesan. Yang penting kan Lo sampe rumah dengan selamat, gratis pula. Bisa juga kok makan dulu, kemana kek, yang penting sebelum sampe rumah kalian kenyang. Gue dukung kok, hehehe,” Meira mendorong Kalla dan Aksa berjalan ke parkiran. Meira tidak bisa ikut ke parkiran karena mobil jemputannya sudah datang. Meira hanya bisa menunggu di dalam mobil, menunggu dua sahabatnya itu lewat di depannya bonceng motor. “Kenapa nggak gitu aja sih tiap hari, daripada sama si pawang buaya enek gue liatnya,” ujar Meira ketika sudah melihat Kalla dan Aksa berbonceng naik motor. Kalla dan Aksa kembali mengingat waktu-waktu mereka ketika masih SMA. Setiap hari, pasti momen ini terjadi. Aksa menarik tangan Kalla, meminta Kalla pegangan. Tapi, Kalla menolak. Semua seperti sudah berubah dan tak akan kembali seperti dulu lagi. “Kenapa, kal?” Aksa sengaja bertanya kepada Kalla. “Hmmm? Kenapa? Kenapa, Sa? Aku nggak denger,” Kalla sedikit berteriak ngomongnya. Tidak peduli dengan penolakan Kalla, Aksa tetap menarik tangan Kall kembali. Aksa melingkarkan tangan Kalla ke pinggangnya. Akhirnya, Kalla tidak menolak lagi. Mereka pun sama-sama menikmati perjalanannya di sore hari. Meskipun hanya akan mengantar Kalla pulang ke rumah, bagi Aksa ini sudah cukup membahagiakan. Aksa berharap, Gibran selalu rapat dan selalu sibuk. Supaya tugas mengantar pulang Kalla, jatuh ke tangan Aksa. “Tiap hari kayak gini lagi bisa nggak ya, Kal?” tanya Aksa. “Kenapa, Sa?” Lagi lagi Kalla tidak mendengar ucapan Aksa. “Nggak papa deh, Kal. Capek aku ngomong, kamu Cuma ham Hem aja dari tadi,” Aksa kesal karena Kalla tidak mendengar ucapan Aksa dari tadi. Aksa menurunkan kecepatan motornya, lalu, Aksa mengajak Kalla ngobrol kembali. Kalla kini lebih mendengar ucapan Aksa. Aksa pun lebih leluasa bertanya kepada Kalla. Kalla dan Aksa kembali mengenang masa SMA mereka, masa dimana belum ada Gibran di dalamnya. Aksa senang sekali tangan Kalla melingkar lagi di pinggangnya. Semua ini ingin Aksa hentikan, agar Kalla tidak kembali lagi bersama Gibra. Kalla dan Aksa seru sekali bercanda dan obrolannya. Mereka beberapa kali tertawa kencang, menertawakan hal yang sama berulang-ulang. Tapi masih lucu dan menyenangkan bagi mereka. Tidak lama setelah keheningan yang singkat, motor Aksa tidak sengaja ditabrak oleh mobil lawan arah. Mobil itu kehilangan kendali, sehingga menabrak motor Aksa yang ada di depannya. Braaaak!!! Suara tabrakan itu terdengar sangat kencang di jalan. Semua orang melihat ke arah Aksa dan Kalla. Mereka berbondong-bondong ingin melihat keadaan Aksa dan Kalla. Juga ingin menolong mereka berdua. Aksa dan Kalla tergeletak di jalanan. Kalla tidak sadarkan diri, sementara itu Aksa masih bisa melihat sekeliling. Aksa panik bukan main, ingin menolong Kalla, tetapi, dirinya sendiri pun tidak bisa bangun sendiri. Butuh bantuan orang lain. Setelah kerumunan orang bertambah banyak, ambulance datang untuk membawa Kalla dan Aksa ke rumah sakit. Pengendara mobil tadi menelpon ambulance agar Aksa dan Kalla cepat ditangani. Pengendara itu baik-baik saja, hanya luka ringan saja. Lalu, ikut Kalla dan Aksa pergi kerumah sakit. Sampai di rumah sakit, Aksa dan Kalla langsung dicari identitasnya. Pengendara mobil tadi ingin  menghubungi keluarga Aksa dan Kalla. Mama dan Papa Aksa sudah berhasil dihubungi, tetapi, Mama dan Papa Kalla tidak ada yang bisa dihubungi. Selalu di tolak panggilan dari pengendara mobil yang telah menabrak Aksa dan Kalla.  Pihak rumah sakit pun bingung harus menghubungi siapa. Karena kedua orang tua Kalla tidak ada yang bisa dihubungi. Kalla masih belum sadar dari pingsannya. Aksa sangat cemas dengan keadaan Kalla. Mama dan Papa Aksa sudah sampai di rumah sakit. Mama Aksa sangat khawatir dengan anak semata wayangnya. Mama Aksa langsung bertanya kronologi bagaimana bisa Aksa kecelakaan. Aksa pun menceritakan jika Aksa kecelakaan bersama Kalla. Mama Aksa langsung kesal wajahnya, Mama Aksa juga menyalahkan Kalla tentang kejadian ini. Aksa membela Kalla di depan mamanya. Kalla tidak salah sama sekali, Kalla tidak melakukan apapun. “Ma, tolong, ini bukan salah Kalla. Kalla tidak tahu apa-apa, bahkan sampai sekarang Kalla belum sadar dari pingsan,” Aksa memohon kepada Mamanya agar tidak lagi menyalahkan Kalla. “Kamu tenang dulu, ya. Pikirkan keadaan kamu juga sekarang, pasti Kalla sudah ada yang menangani,” ujar Papa Aksa. “Ini semua memang salah Kalla. Kalau nggak karena dia, kamu nggak akan seperti ini sekarang,” Mama Aksa masih saja terus menyalahkan Kalla. “Maaa, udah, ya. Jangan menyalahkan orang lain. Kalau ini semua salah Aksa, kan kita yang malu, ma. Yang terpenting Aksa baik-baik saja. Tidak ada luka serius yang Aksa derita,” nasihat Papanya kepada Mama Aksa. “Kamu nggak perlu bertemu lagi sama Kalla. Biar pihak rumah sakit yang mengurus Kalla. Kamuu nggak perlu ikut campur lagi,” Mama Aksa melarang anaknya bertemu dengan Kalla. “Tapi, Ma. Ini semua salah Aksa. Nggak mungkin Aksa membiarkan Kalla begitu saja tanpa tahu bagaimana keadaan Kalla, Ma,” ujar Aksa. “Pokoknya Mama nggak mau tahu. Kamu nggak perlu bertemu lagi dengan Kalla, kamu jauhin dia. Kalau perlu kamu nggak usah ketemu lagi dengan Kalla! Mama Aksa semakin melarang Aksa bertemu dengan Kalla. Aksa semakin cemas dengan keadaan Kalla. Dari pihak rumah sakit belum ada yang memberikan kabar tentang Kalla. Aksa belum boleh keluar untuk mencari tahu bagaimana kondisi Kalla. Apalagi di sana ada Mama Aksa, Mama Aksa akan mati-matian menyuruh Aksa tetap berada di ruangan. Setelah berusah cukup lama, akhirnya pihak rumah sakit bisa menghubungi salah satu kontak di ponsel Kalla. Siapa lagi kalau bukan Gibran. Kebetulan, Gibran sedang menelepon Kalla, lalu si pengendara mobil itu yang mengangkat telepon dari Gibran. Gibran sangat cemas dan panik. Gibran pun izin meninggalkan rapat karena takut terjadi sesuatu kepada Kalla. Natasha tidak sempat mencegah Gibran, Gibran sudah pergi terlebih dahulu. Gibran tidak bisa tenang di dalam mobil. Pikirannya kemana-mana, sampai tidak fokus menyetir mobil. Gibran takut sekali terjadi sesuatu dengan Kalla. Tapi, Gibran juga penasaran dengan siapa Kalla bisa kecelakaan seperti ini. Kalla biasanya naik taksi online, namun, Gibran bingung kenapa Kalla bisa jatuh dari motor. Gibran menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai ke rumah sakit, menemui Kalla. Sampai di rumah sakit, Gibran berlari menuju ke resepsionis. Gibran menanyakan dimana keberadaan Kalla. Setelah tahu, Gibran lari ke ruangan itu. Kalla belum juga sadar, masih dalam pemilihan kata dokter. Sempat ada beberapa luka yang harus dijahit, karena sobek di tangan dan kakinya. Kalla pingsan karena shock berat, makanya sampai saat ini Kalla belum juga sadar. “Dok, bagaimana keadaan Kalla dok?” tanya Gibran setelah dokter keluar dari ruang periksa Kalla. “Kita tunggu pasien sampai sadar, ya. Saya permisi dulu,” jawab dokter. Gibran suda diperbolehkan masuk ke ruangan. Melihat keadaan Kalla yang masih belum sadar juga. Gibran duduk di kursi yang ada di dalam ruangan Kalla. Gibran memandangi kekasihnya itu penuh dengan tatapan khawatir. Takut terjadi sesuatu yang serius dengan Kalla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN