Setelah Kalla sadar, dokter kembali memeriksa keadaan Kalla. Gibran semakin khawatir akan terjadi sesuatu kepada kekasihnya itu. Kedua orang tua Kalla pun tidak ada yang datang ke rumah sakit untuk menjenguk dan melihat keadaan Kalla. Hanya Gibran yang setia ada di sana. Aksa juga belum terlihat mengunjungi ruangan Kalla. Aksa masih ditahan oleh Mamanya, belum boleh keluar ruangan. Perasaan Aksa sudah campur aduk. Semua cemas, gelisah, khawatir sudah bersatu dalam pikirannya. Ingin sekali kabur dari ruangannya, tapi, Aksa masih memikirkan Kalla. Jika Aksa kabur dari ruangan, Mamanya akan semakin membenci Kalla.
Dokter sudah memeriksa Kalla, kondisi Kalla jauh lebih baik. Juga tidak ada luka yang serius.
“Dok, semua baik-baik aja kan, dok?” tanya Gibran dengan penuh kekhwatiran.
“Iya, pasien baik-baik saja. Lukanya juga sudah ditanganin dengan baik. Tidak ada luka serius yang diderita pasien. Hanya saja masih sedikit syok,” jawab dokter menjelaskan keadaan Kalla.
“Syukurlah kalau begitu, dok. Terima kasih, dok,” ucap Gibran sebelum dokternya meninggalkan ruangan.
Gibran langsung menghampiri Kalla. Wajah cemas Gibran sudah bisa terbaca oleh Kalla. Kalla menenangkan Gibran, supaya tidak terlalu mencemaskannya lagi. Kalla juga menjelaskan jika dirinya baik-baik saja. Hanya ada luka kecil di bagian kaki dan tangannya.
“Kamu pulang sama siapa? Kenapa nggak kasih kabar ke aku?” Gibran sudah mulai mengeluarkan posesifnya.
“Kak, ini bukan salah Aksa. Ini beneran kecelakaan, bukan salah Aksa sama sekali,” Kalla tidak mau jika Gibran kembali menyalahkan Aksa.
“Kamu pulang sama Aksa?” Gibran terlihat sangat kesal dengan Aksa.
“Iya, aku pulang sama Aksa. Meira yang minta aku pulang sama Aksa, biar aku lebih aman,” ujar Kalla tetap membela sahabatnya itu.
“Tapi nyatanya? Nggak aman sama sekali buat kamu. Aksa justru yang membuat kamu celaka seperti ini,” Gibran tidak menerima pembelaan dari Kalla.
“Tapi, kak. Ini bukan salah, Aksa,” Kalla menjelaskan lagi.
“Permisi,” ucapn seseorang asing ke ruangan Kalla.
“Iya, ada apa, ya?” Gibran dengan sigap langsung membelakangi Kalla.
“Saya pelaku yang sudah membuat mbak ini dirawat di rumah sakit. Sebelumnya saya mau memohon maaf kepada Mbak dan Mas yang sudah saya tabrak,” ucap lelaki itu.
“Oh jadi Lo yang udah bikin pacar gue kayak gini?” Gibran sudah mulai memuncak emisinya.
“Kak, dengerin dulu penjelasannya,” Kalla menarik tangan Gibran sambil menahan sakit.
“Mas, saya mohon maaf sekali. Saya benar-benar tidak sengaja dan khilaf. Saya dalam keadaan syok mendengar berita dari telepon, jadi, saya tidak lihat ke arah depan. Saya langsung membanting setir ke kiri, lalu terjadilah tabrakan antara saya dan motor yang mbak ini tumpangi,” lelaki itu memberi penjelasan kepada Gibran.
“Gimanapun alasan Lo, ini semua tetap salah Lo. Pacar gue bisa saja laporin lo ke polisi dan bawa kasus ini ke jalur hukum,” ujar Gibran.
“Saya mohon jangan, mas. Saya mohon sekali. Saya hanya supir taksi online, mas. Saya sedang mencari rejeki di jalan. Saya mohon maaf, mas. Tolong maafkan saya. Saya akan bertanggung jawab,” lelaki itu memohon kepada Gibran.
“Mas, saya udah maafin kok. Asalkan lain kali tidak akan terjadi hal seperti ini lagi,” ucap Kalla dengan senyum manisnya.
“Beneran, mba? Saya nggak akan dibawa ke jalur hukum?” Lelaki itu terharu.
“Engga, nggak ada yang akan bawa ke jalur hukum. Terima kasih udah bantu saya hubungi kerabat saya, ya,” ucap Kalla dengan ramah.
“Terima kasih banyak, mba. Terima kasih sekali lagi saya ucapkan,” ujar lelaki itu dengan sangat terharu.
Lelaki itu pun pergi dari ruangan Kalla. Gibran sempat tidak setuju dengan tindakan serta keputusan Kalla. Tetapi, Gibran tidak bisa berbuat apa-apa selain mendukung semua keputusan Kalla. Akhirnya, Gibran membiarkan lelaki itu pergi meninggalkan ruangan Kalla tanpa ada kekerasan yang Gibran berikan kepadanya.
“Kamu belum makan, kan? Mau makan apa? Biar aku siapin,” Gibran memanjakan Kalla yang sedang kesulitan Bergerak.
“Aku belum lapar, kak,” jawab Kalla sambil berusaha tiduran di kasurnya.
“Kak, aku udah boleh pulang belum ya malam ini? Masak aku harus nginap di rumah sakit lagi, sih?” Kalla tidak ingin menginap di rumah sakit lagi.
“Untuk malam ini, biarin kamu tidur di sini dulu, ya. Supaya dokter juga lebih mudah meriksa kamu. Takutnya ada hal keluhan lain, jadi, biar bisa cepat ditangani oleh dokter,” ujar Gibran melarang Kalla pulang terlebih dahulu.
“Iya, deh,” Kalla nurut.
Aksa mulai tidak tenang, gelisah sekali di kamar inapnya. Aksa ingin segera melihat keadaan Kalla. Apakah Kalla baik-baik saja, atau ada sesuatu yang terjadi dengan Kalla. Aksa ingin segera tahu bagaimana keadaan Kalla.
“Ma, aku mau ke toilet, ya?” pamit Aksa kepada Mamanya.
“Di dalam ada toilet, nak. Nggak perlu keluar ruangan,” ujar Mama Aksa sambil menunjukkan ada toilet di dalam ruangan Aksa.
Aksa memberi kode kepada Papanya. Aksa ingin keluar berdua bersama Papa, agar Papa Aksa bisa membantu Aksa bertemu dengan Kalla.
“yaudah, ma. Biarin Papa aja yang ngantar Aksa, ya,” Papa Aksa membantu Aksa berdiri.
Papa dan Aksa berhasil keluar dari ruangan Aksa.
“Pa, tolongin Aksa. Aksa ingin sekali bertemu dengan Kalla. Aksa ingin tahu bagaimana keadaan Kalla, pa. Ini semua salah Aksa, Aksa akan menyalahkan diri Aksa sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengan Kalla,” Aksa memohon kepada Papanya.
“Iya, Papa akan bantu. Tapi ingat, kamu juga harus memikirkan keadaan kamu sendiri,” Papa Aksa memberi nasihat sebelum membantu anaknya menemukan ruangan Kalla.
Setelah beberapa kali memutari ruangan di rumah sakit, akhirnya Papa Aksa dan Aksa menemukan ruangan yang dimaksud oleh suster tadi. Aksa meminta Papanya untuk menunggunya di luar, sebab, Aksa ingin bicara empat mata dengan Kalla. Papa yang sabar menunggu anaknya di depan ruangan Kalla. Papa juga akan menjaga Aksa gar Mamanya tidak curiga.
“Kalla,” panggil Aksa ketika masuk ke ruangan Kalla.
“Ehh tunggu! Mau ngapain Lo ke sini?” Gibran langsung melarang Aksa bertemu dengan Kalla.
“Gue mau ketemu sama Kalla. Gue mau tahu bagaimana kondisi Kalla,” jawab Aksa sambil mendekati Kalla.
“Gue nggak ngijinin Lo ketemu sama Kalla. Sekarang lebih baik Lo keluar dan pergi dari sini!” Gibran mengusir Aksa dari ruangan Kalla.
“Lo nggak bisa seenaknya kayak gini dong! Gue juga berhak tahu bagaimana keadaan Kalla sekarang!” Aksa tidak kalah marah kepada Gibran.
“Gue pacarnya, jadi gue lebih berhak daripada Lo. Sekarang Lo keluar dari ruangan Kalla, atau gue akan hajar Lo sekarang juga!” Gibran semakin kesal dengan Aksa.
“Kak, Kak udah. Jangan bertengkar di sini, ini rumah sakit!” Kalla melerai Gibran dan Aksa yang bisa bertengkar dimanapun.
“Biarin Aksa di sini sebentar,ya,” Kalla memohon kepada Gibran.
“Engga! Aku nggak akan membiarkan dia ada di sini, Kal. Dia yang udah bikin kamu celaka kayak gini. Sekarang kamu masih mau belain dia?” Gibran marah.
“Ini bukan salah Aksa, kak. Ini kecelakaan,” Kalla membela Aksa.
“Maafin aku ya, Kal. Harusnya aku bisa jagain kamu lebih dari ini. Maafin aku udah bikin kamu terluka seperti ini,” Aksa sangat merasa bersalah dengan Kalla.
“Sa, ini bukan salah kamu, kok,” Kalla membalas ucapan Aksa sambil berusaha bangun dari tidurnya.
“Kalla, kamu nggak perlu bangun,” Gibran melarang Kalla bangun dan membiarkannya kembali berbaring.
“Lo puas lihat Kalla dijahit bagian kaki dan tangan? Lo puas lihat Kalla pingsan di jalanan? Lo puas nggak? Masih kurang puas Lo? Sekarang Lo masih punya muka buat datang ke sini dan lihat kondisi Kalla?” Gibran bertambah emosi ketika Kalla membela Aksa.
“Gue nggak sengaja? Gue nggak mungkin tega melakukan ini ke Kalla. Lo Gilak ya? Bisa-bisanya punya pikiran kayak gitu ke gue, ha?” Aksa terpancing emosi.
“Gue udah jagain setengah mati, dan Lo seenaknya bikin Kalla celaka?” Gibran mendorong Aksa sampai Aksa hampir terjatuh.
“Kak Gibran, stop!” Kalla melarang Gibran menyentuh Aksa.
“Kamu kenapa sih masih belain dia terus? Aku ini lagi belain kamu, Kal. Aku lagi melindungi kamu dari cowok yang nggak bertanggung jawab ini,” Gibran masih tetap mendorong Aksa.
“Gue nggak sengaja, gue nggak akan pernah tega melihat Kalla kesakitan! Lo harus tahu itu!” Aksa membentak Gibran.
“Lo mendingan keluar dari sini sekarang! Sebelum habis kesabaran gue!” Gibran sudah mulai tidak sabar dan ingin menghajar Aksa secara langsung.
“Aksa, kamu balik ke ruangan kamu aja, ya. Aku udah baik-baik aja. Aku udah nggak kenapa kenapa. Di sini ada kak Gibran yang jagain aku, jadi, kamu tenang aja. Aku akan baik-baik aja. Ini juga bukan salah kamu,” Kalla menyuruh Aksa pergi dari ruangan agar tidak terjadi pertengkaran lagi.
“Oke oke, gue pergi sekarang. Tapi gue mohon, jagain Kalla. Jangan sampai dia terluka lagi,” Aksa memohon kepada Gibran.
“Gue akan jagain Kalla lebih baik dari pada Lo!” Gibran menjawab dengan sinis.
Aksa meninggalkan ruangan Kalla dengan rasa kesal dan marah kepada Gibran. Semenjak Gibran menjadi kekasih Kalla, semua yang ingin bertemu dengan Kalla harus Gibran setujui. Aksa pun selalu dihalangi untuk bertemu dengan Kalla. Padahal, rasa khawatir Aksa kepada Kalla sangat membuat Aksa tidak tenang. Aksa tidak bisa berbuat apa-apa, karena di sini Mamanya pun melarang Aksa bertemu dengan Kalla. Jika semua itu dilanggar, maka Mamanya akan semakin membenci Kalla. Aksa tidak mau itu terjadi. Sudah cukup Kalla merasa diasingkan oleh keluarganya, Aksa tidak mau Kalla merasa diasingkan lagi oleh orang lain. Terlebih mamanya sendiri. Sebelum kejadian kegagalan Aksa kuliah di Amerika, Mama Aksa sangat menyayangi Kalla. Bahkan mungkin Kalla telah dinggap menjadi anak kedua. Sayangnya, kekecewaan itu telah menghapus rasa kasih sayang itu. Semua cinta dari Mama Aksa melebur jadi satu dengan benci. Kalla sendiri tidak paham, salah apa sebenarnya dirinya kepada Mama Aksa. Sehingga membuat Mama Aksa sangat membencinya saat ini. Apalagi, Kalla telah memiliki seorang kekasih. Pasti Mama Kalla tambah tidak suka dengan Kalla. Kalla dianggap sebagai kacang yang lupa kulit. Juga memberi harapan palsu kepada Aksa. Padahal, Kalla sama sekali tidak pernah memberi harapan kepada Aksa lebih dari perasaan sahabat.