BAB 64

1030 Kata
Kalla bingung dengan sikap Gibran kepadanya. Mulai terlalu posesif, namun, Kalla tidak ingin ada salah paham jika Kalla menegurnya. Kalla mulai tidak nyaman dengan sikap dingin Gibran yang kembali. Gibran bersikap dingin kepada semua yang dekat dengan Kalla. Seolah Kalla hanya boleh dekat dengan dirinya saja. Terutama kepada Aksa dan Meira. Gibran sangat tidak suka kepada Aksa dan Meira. Seperti ada kecemburuan tidak jelas di sana. Entah Gibran takut kehilangan Kalla, atau memang Gibran hanya tidak suka jika Kalla dengan dengan orang lain. Gibran hanya menginginkan Dia yang ada di samping Kalla. Malam itu, Gibran menginap di rumah sakit untuk menemani Kalla. Kalla sudah menyuruh Gibran pulang ke rumah, tetapi, Gibran tidak menuruti Kalla. Gibran harus menjaga Kalla di rumah sakit, karena Mama dan Papa Kalla belum ada yang datang menjenguk Kalla. Bahkan, telepon dari pihak rumah sakit pun tidak digubris sama sekali. Jadi, ini tanggung jawab untuk Gibran sebagai kekasih Kalla. Gibran tidur di sofa yang disediakan di ruangan pasien. Gibran memandangi wajah Kalla yang sudah terlelap lebih dulu. Kalla masih terlihat pucat, masih ada luka yang kadang mengeluarkan darah. Kadang Kalla terbangun karena menahan rasa sakit di kaki dan tangannya. Dibagian kakinya ada kulit yang robek, tepatnya di punggung telapak kaki. Lumayan menyiksa jika Kalla ingin menekuk kakinya atau bangun dari tidur. Tangan Kalla juga, bagian tangan kanan di bawah siku, kebagian dijahit juga. Kalla sesekali meringis karena kesakitan. Tapi, semua tidak berlebihan. Hanya suara kecil yang menyuarakan rasa sakit Kalla. Selama di rumah sakit, Kalla sama sekali tidak mau merepotkan Gibran. Meskipun sudah menjadi kekasihnya, tetapi, Kalla masih belum enak hati untuk meminta apapun kepada Gibran. Jika bukan Gibran yang berniat sendirian maka, Kalla tidak akan memintanya. Untung saja Gibran salah satu laki-laki yang peka dan perhatian. Meskipun sikapnya sangat dingin, tetapi bisa menjadi sangat hangat ketika bersama Kalla. Mama Kalla baru saja pulang dari kantor. Larut malam baru sempat masuk ke rumah dan melupakan sejenak pekerjaan yang ada di kantor. Mama Kalla sama sekali tidak mencari keberadaan Kalla di rumahnya. Karena sudah terbiasa pulang larut malam, Mama Kalla pun mengira jika Kalla sudah tidur. Tidak ada kecurigaan jika Kalla belum pulang, atau curiga jika terjadi sesuatu dengan Kalla. Berbeda dengan Papa Kalla, semenjak kejadian kegagalan dilantik menjadi pejabat tinggi di perusahaannya, Papa Kalla lebih sering tidur di luar rumah. Misalnya tidur di penginapan, hotel, atau bahkan menyewa apartemen sendiri. Semua itu dilakukan untuk mengindari Mama Kalla yang selalu membandingkan penghasilan mereka. Papa Kalla sakit hati atas sikap Mama Kalla yang seperti itu. Dari dulu Kalla kecil hingga Kalla sekarang sudah dewasa. Sesekali pulang ke rumah, jika merasa sudah cukup banyak mengeluarkan uang untuk menginap di luar rumah. Beberapa kali, pihak rumah sakit telah menghubungi Mama maupun Papa Kalla. Tapi, mereka sama sekali tidak ada yang menjawab telepo itu. Bahkan sesekali mereka menolak teleponnya. Padahal, telepon itu dari pihak rumah sakit yang akan memberitahu tentang kondisi anaknya. Sayangnya orang tua Kalla tidak ada yang peduli dengannya. Sungguh, Kalla adalah gadis cantik nan malang. Kalla beruntung memiliki kekasih yang sangat perhatian dengannya. Juga memiliki dua sahabat yang tidak pernah meninggalkan Kalla dalam keadaan apapun. Gibran tidak menghubungi orang tua Kalla lagi, karena Gibran paham Kalla sedang menjauhi Mama dan Papanya. Kalla sedang menghindar agar tidak mengungkit masalah di kantor Papanya siang itu. Kalla tidak mau menyakiti hatinya lebih lagi. Jadi, lebih baik untuk saat ini Kalla menjauh dari Mama dan Papanya. Kalla kesakitan karena tidak sengaja tangannya terbentur pinggir tempat tidurnya. Kalla berteriak kecil, tetapi ternyata itu bisa membangunkan Gibran. Gibran bangun dan langsung berlari ke arah Kalla. “Kamu kenapa, kal? Apa yang sakit? Apa perlu aku panggil dokter?” Gibran panik mendengar teriakan kesakitan Kalla. “Ehhh nggak perlu, kak. Tangan aku terbentur tempat tidur, jadi aku teriak. Karena memang sakit banget,” keluh Kalla kembali. Gibran mengambil tangan Kalla, lalu meniup bagian tangan Kalla tangan sakit. Mengelus dengan lembut hingga Kalla tertidur lagi. Kalla merasa sangat nyaman dengan perlakuan Gibran kepadanya. Sangat hangat, tidak bersikap dingin sedikitpun. Tetapi, jika ada Aksa dan Meira semua itu berubah 360 derajat. Gibran bisa menjadi lebih dingin dari salju di kutub Utara. Bahkan bisa lebih beku dari es batu di freezer. Gibran tidak sengaja tertidur di samping Kalla.  Posisinya sangat tidak nyaman, tetapi, Gibran tidak ingin mengganggu istirahat Kalla. Kalla sedang tertidur pulas. Gibran tidak mau membuat Kalla terbangun dari tidurnya. Malam ini, Mama dan papa Aksa sudah tertidur di sofa ruangannya. Aksa berniat untuk melihat keadaan Kalla kembali. Akhirnya, Aksa mencoba kabur ketika melihat Mama dan Papanya sudah tertidur pulas. Aksa berjalan menuju ke ruangan Kalla. Sampai di depan ruangan Kalla, Aksa melihat Gibran yang tertidur di samping tempat tidur Kalla sembari memegang tangan Kalla. Sakit hati sekali Aksa melihatnya. Cemburunya tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata lagi.  Aksa hanya bisa melihat Kalla dari luar ruangan. Di jendela sambil meninggikan badannya. Supaya terlihat jelas Kalla yang sedang tertidur pulas. “Kenapa sekarang kita sejauh ini ya, Kal? Padahal dulu kita tidak ada jarak sama sekali. Lebih dari sekedar teman, sahabat, namun belum menjadi sepasang kekasih,” ucap Aksa sambil mengelus kaca di ruangan Kalla. “Mungkin ini salah aku, karena terlambat menyatakan perasaanku ke kamu. Andai sudah dari dulu aku menyatakan perasaanku, pasti Gibran tidak ada di hidup kamu, Kal,” ujar Aksa lagi. Aksa duduk di depan ruangan Kalla. Menangis di dalam hatinya, karena tidak bisa berada di samping Kalla ketika Kalla sedang terluka seperti ini. Justru orang lain yang menemani Kalla. Hal yang sangat menyakitkan bagi Aksa. Lebih menyakitkan daripada sekedar tidak bisa memiliki. Aksa tidak bisa membantu Kalla, menemani Kalla, sampai menghibur Kalla pun Aksa tidak sanggup. “Semoga ini hanya tentang waktu ya, Kal. Aku berharap di waktu mendatang akan ada kesempatan untuk aku memiliki kamu lebih dari sekedar sahabat. Bahkan lebih dari pasangan kekasih,” ujar Aksa sambil melambaikan tangannya sangat pelan. Aksa kembali ke ruangannya. Bagi Aksa, melihat keadaan Kalla baik-baik saja sudah cukup baginya. Agar malam ini tidak tidur ditemani oleh cemas dan kekhawatiran. Aksa kembali ke ruangannya. Sebelum tidur, Aksa menatap wajah Mama dan papanya. Aksa memikirkan sudah berapa banyak kekecewaan yang telah orang tuanya tanggung, dari sikap dan perilaku Aksa selama ini. Malam ini pun menjadi sangat sendu untuk Aksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN