Setelah diizinkan pulang dari rumah sakit, Kalla memutuskan untuk beristirahat di rumah selama beberapa hari. Gibran juga tidak mengizinkan Kalla untuk berangkat ke kampus sampai kondisinya lebih baik. Gibran datang ke rumah Kalla pagi dan sore hari. Membawakan Kalla makanan dan sekedar menemani Kalla ngobrol. Mama dan Papa Kalla hanya bertanggung jawab membawa pulang Kalla ke rumah. Selebihnya, semua Kalla lakukan sendiri. Mengganti perban pada lukanya, menyiapkan obat, dan lain sebagainya. Mama dan Papa Kalla tetap sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Bedanya, hanya saat pulang Kalla akan mendapatkan makanan dari Mamanya. Untuk Kalla makan malam agar bisa minum obat. Biasanya, hal tersebut sama sekali tidak pernah terjadi. Karena bagi Mama dan Papa Kalla, yang paling penting sudah memberikan uang saku yang cukup untuk anak semata wayangnya.
Kalla beruntung telah memiliki Gibran di hidupnya. Setidaknya, hidup Kalla tidak terlalu menyedihkan juga kesepian. Gibran selalu ada untuk Kalla, selalu di samping Kalla, saat Kalla sedih, senang, maupun saat Kalla sedang kesulitan. Mungkin saat ini orang yang paling ada untuk Kalla hanyalah Gibran. Meira, sahabat Kalla tetapi sulit untuk bisa selalu di samping Kalla. Meira adalah salah satu anak yang memiliki banyak larangan dari kedua orang tuanya. Jadi, tidak bisa selalu menjaga Kalla seperti Gibran. Sedangkan Aksa, kini dibentengi oleh Mamanya sendiri. Mama Aksa sekarang sudah melarang Aksa dekat dengan Kalla. Padahal, dulu Kalla sudah dianggap seperti anak perempuan di keluarga Aksa. Sekarang, semua keadaan sudah berbeda.
Siang ini, Gibran sedang tidak ada kelas. Rapat pun tiada, artinya saatnya Gibran ke rumah Kalla. Sebelumnya, Gibran akan menghubungi Kalla agar bisa tahu apa yang Kalla inginkan. Tetapi, seringkali Kalla menolak semua tawaran Gibran. Alasannya selalalu sama, Kalla tidak mau merepotkan orang lain. Walaupun itu kekasihnya sendiri. Gibran pun selalu memakai inisiatifnya sendiri jika mau membelikan sesuatu untuk Kalla. Kalla termasuk orang yang menghargai pemberian dari orang lain.
Sampai di rumah Kalla, di sana sudah ada mob Aksa yang terparkir rapi di depan rumah Kalla. Gibran sudah mulai mengepalkan tangan dari depan rumah Kalla. Gibran tidak suka melihat kedatangan Aksa ke rumah Kalla. Apapun alasannya, Gibran tidak mengizinkan Aksa bertemu dengan Kalla terlebih dahulu.
“Kak Gibran,” sapa Kalla dengan senyum lebar. Kalla masih bisa melihat Gibran meskipun di depannya ada Aksa dan Meira.
“Ngapain Lo di sini?” Gibran langsung menarik badan Aksa agar menjauh dari Kalla.
“Eh mau ngapain Lo?” Aksa kesal karena Gibran tiba-tiba saja menarik badannya.
“Gue nggak suka dan nggak ngizinin Lo ketemu sama Kalla. Apalagi sekarang! Mendingan sekarang Lo pulang!” Gibran mengusir Kalla dari rumah Kalla.
“Apa apaan sih, kak? Lo nggak bisa kayak gitu dong? Ini juga rumah Kalla, Lo nggak berhak ngusir siapapun dari rumah Kalla!” Meria ikut angkat bicara.
“Lo tau kan yang menyebabkan Kalla kayak gini itu siapa? Ya dia!” Gibran menunjuk Aksa.
“Aksa nggak mungkin sengaja, kak!” Meira tetap membela Aksa.
“Lo masih belain temen Lo yang satu ini, setelah lihat Kalla kayak gini? Temen macam apa Lo?” Gibran kesal mendengar Meira membela Aksa.
“Ya gue bakal belain temen gue, lah! Aksa nggak 100% salah! Semua ini kecelakaan, murni kecelakaan” Meira ngegas.
Kalla, Gibran, Aksa, dan Meira terjebak dalam satu ruangan yang penuh dengan kecanggungan. Apalagi sejak kedatangan Gibran, semua suasana yang cair kini kembali dingin. Awalnya, Meira sama sekali tidak tahu tentang kejadian kecelakaan ini. Setelah Meira tahu, Meira juga marah dengan Aksa dan Kalla. Karena, mereka berdua kecelakaan tidak ada yang memberi kabar ke Meira. Meira sama sekali tidak tahu jika Aksa dan Kalla dirawat di rumah sakit. Meira kecewa dengan kedua sahabatnya itu, merasa tidak dianggap sebagai sahabat. Apalagi Meira justru tahu dari orang lain di kampus. Perasaan Meira campur aduk. Ada perasaan marah, kesal, kecewa, namun Meira juga khawatir dengan keadaan kedua sahabatnya itu. Meira akhirnya mengesampingkan semua kecewanya itu, yang paling penting saat ini adalah kondisi Kalla dan Aksa. Terutama kondisi mental mereka berdua.
Meria lebih khawatir dengan kondisi Aksa. Sebab, Aksa pasti akan sangat merasa bersalah dengan keadaan ini. Aksa pasti menyalahkan dirinya sendiri. Meira pun ikut merasa bersalah, karena waktu itu Meira lah yang memaksa Kalla untuk pulang bersama Aksa. Aksa sangat menyesali semua ini. Semua Aksa anggap sebagai kesalahannya. Aksa menganggap dirinya tidak becus menjadi seorang sahabat, tidak pantas menjadi teman baik Kalla. Aksa juga merasa jika dirinya hanya bisa mempersulit keadaan Kalla. Hal yang paling menyedihkan lagi, ketika Aksa tidak bisa melihat keadaan Kalla setelah kecelakaan, padahal yang menyebabkan Kalla kecelakaan adalah Aksa.
“Mendingan kalian berdua pulang aja, deh! Mei, ajak temen Lo ini pergi dari rumah Kalla. Gue nggak mau Kalla kenapa kenapa lagi. Sekarang biarin gue yang jagain Kalla,” Gibran kembali mengusir Aksa dari rumah Kalla.
“Kak, jangan gitu, dong. Biarin Aksa sama Meira di sini,” Kalla memohon kepada Gibran.
“Udah deh, Kal. Mendingan gue sama Aksa balik dulu. Besok gue ke sini lagi. Yang penting gue udah ketemu sama Lo, udah lihat keadaan Lo. Gue udah lega Lo udah jauh lebih baik,” ujar Meira dengan sangat kecewa.
“Mei, it’s oke. Di sini aja temenin gue, ya,” Kalla memohon kepada Meira agar tidak pulang.
“Ada aku, Kal,” ucap Gibran melarang Kalla dekat dengan Meira dan Aksa.
“Aku pulang dulu ya, Kal,” Aksa pamit dengan nada sangat kecewa dan sedih.
Aksa dan Meira memilih mengalah dari Gibran. Mereka tidak ingin ada keributan di rumah Kalla dan membuat Kalla semakin down. Semua yang terjadi kepada Kalla sudah terlalu bertubi-tubi. Meira tidak ingin menambah beban lagi jika terjadi keributan di rumah Kalla. Meskipun marah dan kecewa sangat besar dirasakan, Meira bisa menahan itu semua. Begitu juga dengan Aksa. Aksa rela berbohong kepada Mamanya, demi bertemu dengan Kalla. Tetapi, di rumah Kalla malah diusir oleh Gibran. Rasa kecewanya sangat besar, tetapi rasa sayangnya ke Kalla bisa menutupi semuanya.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Meira masih marah-marah atas sikap Gibran. Meira tidak terima diusir begitu saja oleh Gibran. Meira memendam dendam kepada Gibran, dan suatu saat Meira ingin melampiaskan.
“Gilak ya itu orang, baru pacar beberapa Minggu udah merasa memiliki! Liat aja, gue nggak akan merestui kalian sampe kapanpun!” Meira ngomel di mobil.
“Udah lah, Mei. Ini semua juga salah gue, wajar aja kalau Gibran masih marah. Pasti Gibran kecewa sama gue nggak bisa jagain Kalla,” ujar Aksa masih tetap menyalahkan dirinya sendiri.
“Lo diem aja digituin sama senior songong itu?” Meira tambah kesal.
“Terus gue harus gimana, Mei? Gue harus adu panco di sana?”
“Adu panco juga Lo pasti kalah,” Meira marah dengan setengah meledek Aksa.
“Gue yang salah, jadi ya lebih baik gue gue yang ngalah dulu,” Aksa mengakhiri debat singkatnya di mobil bersama Meira.
Kalla sedih sekali melihat sahabat dan kekasihnya selalu berdebat. Selalu ada masalah diantara mereka. Padahal, mereka bertiga ada di hati Kalla tanpa terkecuali. Kalla ingin orang terdekat Kalla bisa rukun, tidak ada dendam dan saling membenci. Tapi sayangnya, sulit mengharapkan itu kepada Gibran, Aksa, dan juga Meira.
“Kak, nggak seharusnya tadi kamu ngusir Aksa dan Meira dari rumah. Kasian mereka udah bela-belain ke sini, malah Kak Gibran usir,” Kalla protes dengan Gibran.
“Kal, Aksa yang udah bikin kamu masuk rumah sakit. Udah bikin kamu kecelakaan, dan sekarang liat tangan dan kaki kamu? Ini semua gara-gara Aksa!” Gibran masih marah.
“Tapi ini kan nggak sepenuhnya salah Aksa, kak. Kak Gibran juga udah tahu kan ada orang yang mengaku kalo dia yang udah nabrak aku sama Aksa? Jadi ini semua bukan salah Aksa, Kak,” Kalla menjelaskan agar Gibran tidak lagi menyalahkan Aksa.
“Udah deh, jangan belain Aksa terus,” Gibran mulai tidak suka dengan Kalla yang terus membela Aksa.
“Aku nggak belain Aksa, kak. Tapi itu memang fakta. Aksa ke sini mau jenguk aku, kenapa nggak boleh?”
“Mulai sekarang, siapapun yang mau ketemu sama kamu harus izin aku,” Gibran tidak melanjutkan perdebatannya dengan Kalla.
Sore menjelang malam, Gibran menyiapkan semua makan malam untuk Kalla sekaligus obat yang harus Kalla minum. Sebelum Gibran pulang, Gibran memastikan semua keadaan Kalla aman. Gibran juga membantu Kalla mengganti perban, dan memberi obat pada lukanya. Gibran juga menemani Kalla makan dan minum obat. Karena Mama dan Papa Kalla tidak akan memberikan sedikit waktunya hanya untuk menemani Kalla makan malam.
“Aku pulang, ya. Kamu baik-baik di rumah. Kamu kunci pintu, terus kamu masuk ke kamar. Aku tunggu di depan rumah sampai kamu masuk ke kamar,” ujar Gibran sebelum meninggalkan Kalla sendirian di rumahnya.
“Kamu hati-hati ya, kak,” Kalla pun mengkhawatirkan Gibran.
“Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku, ya,” Gibran mencium kening Kalla.
Kalla menutup pintu dan mengunci pintunya dari dalam. Setelah itu, Kalla mengikuti omongan Gibran untuk segera masuk ke kamar. Kalla membuka jendelanya, melambaikan tangan ke Gibran agar Gibran bisa pulang dengan tenang. Kalla menelepon Gibran, memberi ucapan sebelum Gibran pulang ke rumah.
“Kamu kasih kabar ke aku ya kalau udah sampai di rumah,” ucap Kalla lewat telepon. .
“Iya. Baik-baik ya di rumah. Istirahat di kamar, nggak usah kemana-mana,” pesan Gibran.
Gibran masuk ke mobil dan meninggalkan Kalla sendirian di rumah. Kalla masih belum mau masuk ke dalam kamarnya lagi. Masih betah di jendela untuk menikmati suasana malam melalui jendela kamarnya. Tidak lama, mobil Mama dan Papa Kalla pulang. Pemandangan yang sangat langka karena mobil Mama dan Papanya memasuki area depan rumah Kalla secara bersamaan. Entah ada janji apa yang telah diucapkan, atau hanya sebuah ketidak sengajaan saja. Mama dan Papa Kalla turun dari mobil, melihat ke atas. Tidak sengaja menatap Kalla yang sedang melamun di balkon kamar tidurnya. Tidak ada ucapan apapun yang keluar dari Mama ataupun Papanya. Kalla juga hanya menatap sejenak, lalu memutuskan kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.