BAB 66

2036 Kata
Kondisi Kalla sudah jauh lebih baik. Kalla sudah diizinkan untuk masuk ke kampus dan beraktivitas seperti biasa kembali. Momen yang sudah Kalla tunggu sejak beberapa Minggu terakhir ini. Sangat membosankan berada di dalam kamar, di rumah, dan hanya sendirian tanpa ada teman yang bisa diajak untuk sekedar berbagi cerita tentang hari itu. Akhirnya, Kalla bisa menikmati kembali perjalanan menuju kampus. Bisa merasakan udara di kampus, dan tak ketinggalan bisa mendengar keramaian yang tak pernah absen dari kampusnya. Kebahagiaan Kalla tak lebih dari itu sekarang. Semua itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada permintaan lain yang Kalla inginkan dalam waktu dekat ini. Sampai di kampus, Kalla pun mendapat sambutan hangat dari semua teman-teman di kelasnya. Banyak yang memberi sapaan, hingga membuka obrolan singkat dengan Kalla. Terlebih tentang kondisi setelah kecelakaan yang dialaminya bersama Aksa. Kalla membalas dengan sangat ramah dan hangat. Kalla merasa dipedulikan dan dianggap oleh semua teman-temannya. Pagi itu, Gibran tidak bisa menjemput Kalla, karena tiba-tiba saja Natasha meminta Gibran untuk menjemputnya. Gibran dan Natasha akan pergi ke kampus lain, ada acara yang harus mereka hadiri. Gibran sangat merasa bersalah dan pastinya tidak tenang ketika tidak bisa menjemput Kalla. Tetapi, pada akhirnya Kalla yang bisa membuat kecemasan Gibran berakhir. Kalla memilih naik taksi online ke kampus, karena Gibran pasti tidak mengizinkan Kalla untuk pergi ke kampus bersama Aksa. “Kallaaaaaa!” teriak Meira ketika sudah melihat Kalla berada di kampus. “Ahhh seneng banget akhirnya Lo bisa masuk ke kampus. Jadi gue bisa bebas sama Lo, nggak perlu minta izin ke pawang Lo itu!” Meira kesal kepada Gibran. “Ihhh apaan sih, mau ketemu sama aku tuh bisa kapan aja dong. Nggak perlu izin sama siapa-siapa. Emangnya aku idol k-pop?” Kalla menanggapi Meira dengan becandaan. “Yah Lo nggak tau aja gimana pawang Lo kayak gimana ke gue sama Aksa,” Meira membalas Kalla dengan sedikit sinis karena membahas tentang Gibran. “Mei, kan kak Gibran Cuma lagi khawatir aja sama aku. Tapi, aslinya kak Gibran itu baik kok,” Kalla membela kekasihnya. Meira mengajak Kalla ke kantin karena jam istirahat sudah berlangsung. Meira sangat hati-hati menggandeng tangan Kalla, karena luka bekas jahitan itu masih terasa sakit dan nyeri. Meira tidak mau membuat kesalahan saat menyentuh Kalla, sehingga bisa membuat Kalla kesakitan. “Lo mau pesen apa, Kal?” tawaran dari Meira kepada Kalla. “Seperti biasa aja,” jawab Kalla sembari menarik kursi di kantin. Saat Kalla mau duduk di kursi, ternyata ada barang milik Kalla yang jatuh. Kaki kanan Kalla masih sangat sulit untuk jongkok. Kalla memaksakan diri untuk mengambil barang yang jatuh, tapi, hampir membuat Kalla justru jatuh tersungkur karena kakinya tidak bisa menahan badannya. “Astaga, Kalla!” Aksa lari langsung menangkap badan Kalla yang hampir tersungkur di lantai karena mengambil barang di kolong meja. Kalla memaksakan kakinya ditekuk, tapi ternyata kakinya tidak kuat menahan beban badannya. “Kamu mau ngapain sih?” tanya Aksa sedikit cemas karena kursi sebagai sandaran Kalla hampir saja jatuh ke badan Kalla. “Eeee Aksa,” Kalla kesulitan bangun. “Sini aku bantuin kamu bangun dulu,” Aksa mengangkat badan Kalla supaya lebih mudah untuk bangun dan duduk di kursi. “Ya ampun, Kal. Lo kenapa?” Meira panik sembari membawa makanan pesanan Kalla dan pesanan dirinya sendiri. “Aku Cuma mau ambil barang aku yang jatuh di bawah meja, Cuma kaki aku nggak kuat jongkok ternyata. Kursi yang aku pegangin juga ternyata ga kuat nahan beban badan aku,” Kalla menjelaskan sambil usaha tidak terdengar panik. “Kaki kamu jangan dipaksain ditekuk kalau memang belum bisa. Nanti malah jahitannya itu kebuka lagi, Kal. Lagian kan kamu bisa tunggu Meirs datang aja,” ujar Aksa dengan tatapan cemasnya. “Cuma mau ambil barang aku yang jatuh doang, kok. Kenapa harus minta tolong sama orang lain?” Kalla tidak suka karena ucapan Aksa membuat Kalla seolah tidak bisa apa-apa. “Iya bukan gitu maksud aku, Kal. Kaki kamu belum bisa buat menopang badan kamu ketika jongkok atau ditekuk. Apalagi kamu pegangan kursi yang bisa bergeser kapanpun. Kamu pasti,” Aksa belum selesai berbicara. “Sa, udah deh. Aku nggak kenapa-kenapa kok. Aku baik-baik aja,” Kalla sedikit kesal karena Aksa terlalu berlebihan kepadanya. “Lo lihat sendiri, kan? Kalla Cuma mau ambil barang yang jatuh di kolong meja aja sampai kesulitan. Itu semua gara-gara Lo!” ujar Gibran yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Kalla, Aksa, dan Meira. “Kak Gibran?” Kalla merasa tidak enak dengan ucapan Gibran. “Engga, bukan gitu maksud aku, Sa,” Kalla mencoba menjelaskan kepada Aksa. “Maafin aku ya, Kal. Ini emang salah aku,” Aksa kembali merasa bersalah kepada Kalla. “Bukan, ini bukan salah kamu. Aku nggak nyalahin kamu, Sa. Cuma tadi,” omongan Kalla dipotong oleh Gibran. “Emang semua ini salah dia, Kal!” Gibran menunjuk Aksa. Gibran membuat suasana menjadi dingin dan menegangkan. “Lo ada masalah apa sih sama gue? Nggak bisa bersikap biasa aja setiap ada gue?” Aksa mulai terpancing emosi. “Masalah apa? Lo masih tanya?” “Cukup ya, kak. Tanpa Lo bilang semua ini salah Aksa, Aksa udah tau itu. Aksa juga pasti merasa bersalah. Tapi ini semua nggak Aksa sengaja. Ini semua murni kecelakaan!” Meira mulai emosi. “Salah Lo juga! Lo kan yang nyuruh Kalla pulang sama Aksa?” Gibran menyalahkan Meira. “Kok lo jadi nyalahin gue?” Meira tambah emosi dengan Gibran. “Nggak usah bawa-bawa orang lain. Ini nggak ada hubungannya sama Meira. Meira nggak salah apa-apa!” Aksa membela Meira, Aksa pun mendorong Gibran karena merasa kesal. Gibran membalas dorongan Aksa. Aksa dan Gibran nyaris bertengkar di kantin. “Lo udah gila, ya?” Natasha datang menarik Gibran dari keributannya dengan Aksa. Natasha menyelamatkan Gibran dari citra buruk karena bertengkar di kantin kampus. “Lo kenapa diem aja sih, Kal? Ini cowo Lo!” Natasha kesal dengan Kalla yang hanya bisa diam saja. Kalla tidak menjawab apapun dari omongan Natasha. Kalla sudah terlalu lelah menengahi perdebatan Aksa dan Gibran. Tidak tahu harus dengan cara apa lagi agar Aksa dan Gibran bisa rukun, seperti harapannya. “Mei, kamu bawa Aksa pergi dari kantin, ya,” Kalla menyuruh Meira membawa Aksa keluar dari kantin. Kalla akhirnya menarik Gibran agar pergi juga dari kantin. Hanya tersisa Natasha sendiri di sana. “Kok jadi gue yang ditinggalin sih?” Natasha kesal karena Kalla, Aksa, Gibran, dan Meira meninggalkan Natasha sendiri di kantin. Kalla membawa Gibran ke parkiran mobil. Kalla menahan sakit ditangannya karena menarik badan Gibran yang lumayan berat untuk tangan Kalla. “Kak anterin aku pulang aja, ya. Aku pengen pulang aja,” pinta Kalla kepada Gibran. “Kamu kenapa? Sakit?” Gibrab mulai panik. “Engga, aku Cuma pengen pulang aja. Lagian kelas aku Cuma sampe siang doang di kampus,” ujar Kalla. Di dalam mobil, Kalla hanya diam. Kalla menyembunyikan semua kekesalannya atas sikap Gibran. Gibran selalu bersikap seenaknya kepada Aksa dan Meria. Padahal Kalla sudah mengingatkan Gibran berulang kali, tetapi, Gibran masih tetap saja seperti itu. “Kamu marah sama aku?” Gibran membuka obrolan. “Kak Gibran aku boleh nggak minta sesuatu?” Kalla mulai membuka suara. “Apa?” “Tolong bersikap baik sama Meira dan Aksa, ya. Mereka sahabat aku, aku nggak mungkin memilih salah satu dari kalian. Aku hanya nggak mau antara Kak Gibran ataupun sahabat aku ada yang hatinya terluka gara-gara aku,” Kalla memohon kepada Gibran. “Kal, tapi memang semua ini salah Aksa. Aku nggak mau kamu celaka lagi, Kal. Aku hanya peduli dan khawatir sama kamu,” Gibran masih tetap membela dirinya. “Aku tahu kamu khawatir, tapi bukan seperti ini caranya. Ini justru akan menjauhkan aku dari kedua sahabat aku, kak,” Kalla tidak terima atas pembelaan Gibran. “Jadi kamu lebih pilih mereka daripada aku?” Gibran mulai mengeluarkan keegoisannya. “Pilih? Aku kan tadi udah bilang sama Kak Gibran, aku nggak aku milih siapapun diantara kalian. Kalian itu selalu punya tempat di hati aku,” jawaban Kalla tidak ingin membuat salah paham dengan Gibran. “Tolong lah, kak. Bersikap baik sama Aksa dan Meira, seperti kak Gibran bersikap baik sama junior di kampus,” Kalla kembali memohon. “Oke, akan aku coba,” Gibran menjawab dengan singkat. Lalu mulai menginjak gas. ~ Gibran mulai bertambah sibuk dengan organisasinya. Pertengkaran demi pertengkaran sudah mulai terjadi dalam hubungan Kalla dan Gibran. Kalla bermaksud ingin selalu mengerti apapun kegiatan dan kesibukan yang Gibran punya. Tetapi, Gibran justru salah paham atas sikap Kalla tersebut. Gibran menganggap jika Kalla tidak peduli dengannya. Karena Kalla tidak pernah mencari atau bahkan meminta Gibran menemuinya seperti kebanyakan perempuan. “Kamu kemana aja sih? Kenapa dari tadi nggak kasih kabar ke aku?” Gibran ngomel lewat telepon karena masih rapat dengan anggota BEM lainnya di kampus. “Aku di rumah, Kak. Aku nggak kemana-mana kok,” Kalla menjawab dengan santai. “Kamu nggak peduli banget kayaknya sama aku,” ujar Gibran ketika Kalla tidak memberikan pertanyaan lain kepadanya. “Aku Cuma nggak ingin ganggu konsentrasi kamu aja, Kak. Nanti kalau kamu udah beres rapat, pasti kamu hubungin aku, kan?” Kalla bertanya dengan sangat polos. Gibran mematikan teleponnya. Kalla tidak berani telepon balik karena takut mengganggu rapat Gibran. Kakak juga berpikir pasti Natasha akan ikut campur jika tahu Kalla telepon Gibran saat Gibran sedang rapat. Pulang dari kampus setelah menyelesaikan rapatnya yang panjang, Gibran langsung menuju ke rumah Kalla. Gibran membawakan beberapa makanan kesukaan Kalla. Sampai di rumah Kalla, pemandangan di rumah Kalla sedikit berbeda. Mobil Mama dan Papa Kalla sudah terparkir rapi di luar rumah. Itu tandanya Papa dan Mama Kalla sudah ada di rumah. Gibran langsung parkir sedikit lebih jauh dari biasanya, lalu mengambil ponselnya untuk memberi tahu Kalla jika Gibran ada di luar rumahnya. Sudah beberapa kali Gibran menelepon Kalla, tetapi tidak ada jawaban dari Kalla. Pesan Gibran pun tidak ada yang Kalla baca. Semua hanya terlihat status terkirim saja. Tiga puluh menit sudah Gibran berada di depan rumah Kalla, tetapi, Kalla tak kunjung turun dari kamarnya lalu keluar menemui Gibran. Telepon dan pesan dari Gibran pun tak ada jawaban dari Kalla. Gibran masih menunggu, sampai Kalla menjawab teleponnya. Gibran tidak mau mengetuk pintu rumah Kalla, sebelum Kalla menjawab teleponnya. Karena Gibran tahu, Kalla dan kedua orang tuannya sedang tidak baik-baik saja. Gibran tidak ingin Kalla bertambah masalah hanya karena kehadiran Gibran. Sementara itu, di kamar, telepon Kalla masih terus menyala tanpa ada dering yang terdengar. Kalla sudah tertidur pulas. Ponselnya ada di meja belajar Kalla, layar yang menyala di meja pun tidak akan bisa membuat Kalla bangun karena sudah tertidur pulas di tempat tidurnya. “Kamu kemana sih? Kenapa nggak jawab telepon aku?” Gibran sudah mulai agak kesal karena menunggu lama di bawah tanpa ada jawaban dari Kalla. Akhirnya, Gibran memutuskan untuk pulang dari rumah Kalla. Gibran masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintu mobil dan bergegas meninggalkan rumah Kalla. Tak sengaja Kalla terbangun, mendengar suara pintu mobil yang tertutup. Kalla bangun dari tempat tidur, berlari ke arah jendela kamarnya. Kalla melihat ada mobil Gibran yang akan segera pergi. Kalla mencoba memanggil Gibran, namun, Gibran tidak akan mendengar suara Kalla. Kalla berlari membuka pintu kamar dan turun dari kamarnya. Membuka pintu rumah dengan sangat terburu-buru, hampir saja membuat Mama dan Papanya terbangun. Kalla berusaha mengejar mobil Gibran, ternyata mobil Gibran sudah cukup jauh. Suara teriakan Kalla pun tidak mampu menembus telinga Gibran. Kalla mencari ponsel di kantong piyamanya. Setelah sadar tidak ada di kantong piyamanya, Kalla lari ke kamar untuk mencari ponsel. Kalla ingin segera menghubungi Gibran. Betapa terkejutnya Kalla, melihat sudah ada banyak pannggilan tak terjawab, juga pesan yang belum terbaca dari Gibran. Pesan itu sudah hampir satu jam yang lalu masuk di ponsel Kalla. “Astaga, Kak Gibran udah lama nunggu aku di bawah,” Kalla merasa bersalah kepada Gibran.   Kalla menelepon balik Gibran. Sayangnya nomor Gibran tidak bisa dihubungi. Sepertinya ponsel Gibran mati karena terlalu lama menunggu Kalla di depan rumahnya dan juga terlalu banyak menelepon Kalla tanpa ada jawaban. Kalla pun langsung mengirimkan pesan kepada Gibran, supaya Gibran tidak salah paham kepadanya. Kalla juga meminta maaf, karena Kalla tidak turun ke bawah untuk menemui Gibran. Kalla merasa Gibran pasti sangat kecewa kepadanya. “Dihhh kak Gibran, maafin aku, ya,” Kalla khawatir sambil menggenggam ponsel di tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN