Bunyi klakson mobil belum juga terdengar setelah Papa dan Mama Kalla pergi ke kantor. Kalla kini sendirian di rumah, menunggu Gibran menjemputnya ke kampus. Untung saja, Kalla tidak ada kelas pagi. Jadi, masih aman menunggu Gibran datang ke rumah, lalu bersama berangkat ke kampus. Biasanya, Gibran sudah sampai di depan rumah Kalla. Sudah beberapa kali Kalla turun dan membuka pintu, masih belum muncul juga Gibran di sana. Kalla berulang kali menghubungi Gibran, tetapi tidak ada hasil yang didapatkan. Akhirnya, Kalla memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Mengambil dua potong roti tawar, meletakkan selai coklat ditaburi keju dan ditumpuk dengan roti yang sudah diambil. Potongan roti tawar memenuhi mulut Kalla pagi itu. Coklatnya sampai melebar ke bagian pinggir bibir. Tissue langsung menjadi incaran Kalla, lalu membersihkan sisa-sisa coklat yang menempel di bagian pinggir bibir.
Gibran masih belum juga datang. Kalla takut terlambat pergi ke kampus, alhasil, Kalla memutuskan untuk naik taksi online. Setelah menunggu sekitar 15 menit, Kalla sudah dijemput oleh taksi online pesanannya. Di jalan menuju kampus, mobil yang Kalla tumpangi mogok. Sang driver turun untuk mengecek bagian mesin mobilnya. Kalla masih duduk di dalam sembari membuka handphone nya. Kalla masih menunggu kabar dari Gibran. Pesan Kalla belum terkirim, Gibran juga belum telepon balik. Kalla heran sekaligus sedikit ada rasa khawatir. Kemana sebenarnya Gibran pergi. Tidak seperti biasanya Gibran seperti ini.
“Mba, maaf, sepertinya saya tidak bisa antar mbak sampai ke kampus. Saya harus bawa mobil ini ke bengkel. Saya nggak tahu apa yang rusak, mba,” ujar Sang driver dengan rasa bersalahnya.
“Hah? Nggak bisa ya, pak?” Kalla sedikit terkejut, tetapi Kalla juga menjaga perasaan driver agar tidak merasa bersalah kepadanya.
“Iya, mba. Saya mohon maaf sekali ya, mba.”
“Iya, pak. Nggak apa-apa, kok. Yaudah, berapa ongkosnya, pak?” Kalla menanyakan ongkos perjalanannya.
Driver tidak membiarkan Kalla membayar ongkosnya, karena mobilnya mogok tidak jauh dari rumah Kalla. Akhirnya, Kalla menuruti apa kata driver taksi online itu. Kalla berjalan menuju halte yang ada di dekat sana. Kalla berniat memesan taksi online lagi, sembari duduk dan berteduh karena sudah terasa panas. Tak lama kemudian, ada mobil yang berhenti tepat di depan halte bus. Padahal, Kalla belum berhasil menemukan driver taksi online di aplikasinya. Kalla menunduk, takut akan orang asing yang berusaha mendekatinya. Kalla masih menyimpan trauma sejak kejadian di kantor Papanya beberapa waktu lalu. Kalla menundukkan kepala, sampai sulit melihat wajah orang asing yang berhenti di depannya. Bukannya mempercepat gerakan tangan Kalla, suasana itu justru membuat Kalla gugup. Perasaan takut pun langsung muncul seketika. Tangan Kalla bergetar, karena sang pemilik mobil turun. Kalla masih menunduk, sesekali menggerakkan tangannya agar tidak terlihat jika Kalla gugup.
“Kamu ngapain di sini sendirian?” tanya Aksa.
Orang asing yang Kalla maksud itu ternyata Aksa. Aksa yang membawa mobil dan parkir di depan halte bus, tempat Kalla duduk beristirahat untuk memesan taksi online lagi. Setelah mendengar dan mengenali jika itu suara Aksa, Kalla langsung menegakkan kepalanya. Lega sekali rasanya ketika tahu itu adalah Aksa. Pikiran Kalla sudah buruk, takut terjadi sesuatu seperti saat Kalla berada di kantor Papanya.
“Kal?” Aksa kembali memanggil Kalla karena belum mendapatkan jawaban.
“Eeee, iya... A.. aku lagi pesan taksi online lagi,” jawab Kalla.
“Udah nggak usah. Udah ada aku di sini, sama aku aja ke kampusnya,” ajak Aksa.
Aksa menggandeng tangan Kalla untuk masuk ke mobilnya, Aksa tidak membiarkan Kalla memesan taksi online lagi.
“Gibran nggak marah kan kalo aku sama kamu berangkat bareng ke kampus?” Aksa menginjak gas mobilnya.
“Engga, Sa. Nggak akan marah, kok,” Kalla menenangkan Aksa, tetapi, dirinya sendiripun takut jika Gibran akan salah paham kepada Aksa.
Aksa dan Kalla memasuki kampus, Aksa menuju parkiran mobil. Sampai di sana, Aksa tidak langsung keluar dari mobilnya. Aksa membukakan pintu untuk Kalla. Awalnya Kalla hanya diam, dan memerhatikan Aksa yang sedang membantunya membuka pintu.
“Aku sendiri juga bisa kok, Sa,” Kalla seperti menolak, tetapi tidak enak hati karena Aksa sudah membuka pintu untuknya.
“Makasih ya,” ucap Kalla dengan manis.
“Kamu kenapa bisa sama Aksa?” Gibran datang menarik tangan Kalla. Gibran memindahkan Kalla ke belakangnya, Gibran mulai pertengkarannya dengan Aksa.
“Kak Gibran, jangan salah paham!” Kalla mengingatkan Gibran sebelum emosi dengan Aksa.
“Kamu kenapa bisa sama dia? Kalau kamu kenapa-kenapa lagi gimana?” Gibran cemas berlebihan.
“Heh, hanya ya omongan Lo! Lo pikir gue mau nyelakain Kalla? Gila ya, Lo!” Aksa terbawa emosi karena Gibran selalu menuduhnya.
“Emang kenyataannya gitu, kan?” Gibran pun tersulut emosi.
“Kak, nggak enak diliatin sama anak-anak di kampus. Kak Gibran juga pasti akan kena masalah kalau bertengkar di kampus,” Kalla kembali mengingatkan sambil menarik badan Gibran menjauh dari Aksa.
“Kal, tolong bilangin sama pacar kamu. Aku yang jauh lebih dulu kenal sama kamu, jadi, nggak mungkin aku celakain kamu. Bagaimana pun keadaannya,” ujar Aksa sebelum pergi meninggalkan Kalla dan Gibran di parkiran mobil.
Gibran tidak menjawab ucapan Aksa, Gibran membawa Kalla ke mobilnya. Ada yang ingin Gibran bicarakan dengan Kalla. Gibran ingin berbicara di dalam mobil supaya tidak terdengar oleh anak-anak lain di kampus.
“Kamu kemana semalem? Sama Aksa juga?” Gibran membahas persoalan tadi malam.
“Engga, kak. Aku di rumah,” jawab Kalla masih santai menanggapi Gibran.
“Terus kenapa kamu nggak turun, keluar rumah? Aku udah nunggu 1 jam di luar, tapi kamu sama sekali nggak nemuin aku,” Gibran masih kesal dengan kejadian semalam.
“Kak, Maaf, ya. Aku semalem emang ketiduran, handphone aku silent, jadi aku nggak bisa denger telepon dari Kak Gibran,” Kalla menjelaskan alasannya semalam tidak menemui Gibran.
Gibran mulai mengeluarkan emosinya kepada Kalla. Kalla masih sabar dan tenang menghadapi Gibran. Kalla tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan Gibran, apalagi mereka sedang ada di kampus. Natasha juga bisa tiba-tiba saja muncul, pasti akan ikut campur dengan masalah mereka. Gibran masih terus membahas permasalahan semalam, sampai Kalla tidak tahu harus dengan cara apa lagi agar Gibran mau mendengarkan penjelasan Kalla.
“Aku bela-belain ke rumah kamu setelah aku pulang rapat, aku capek, Kal. Tapi aku masih sempetin waktu untuk ketemu kamu. Kamu nggak ada kabar sama sekali,” Gibran kecewa dengan Kalla.
“Kak, maafin aku, ya. Aku sama sekali nggak ada niat buat menghilang dan nggak ada kabar. Aku bener-bener nggak sengaja tidur dan keadaan hp aku silent. Kak Gibran tahu nggak, kalau semalam aku kejar Kak Gibran, tapi kak Gibran nggak denger?” Kalla membela dirinya.
“Kenapa nggak telepon aku aja?”
“Aku nggak pegang hp, kak. Aku denger suara mobil Kak Gibran, waktu aku ke bawah, kak Gibran udah pergi.”
Kalla menenangkan Gibran dengan sabar. Kalla mengalah karena memang saat itu Kalla yang salah. Mau bagaimana pun, dalam hubungan mengalah itu perlu. Mengalah bukan berarti kalah, bagi Kalla. Akhirnya masalah semalam pun selesai. Namun, bertambah lagi 1 masalah baru. Sepertinya masalah ini semakin membuat Gibran emosi, siapa lagi kalau bukan Aksa.