BAB 68

1434 Kata
Seperti kemarin, Gibran belum juga muncul dijam biasanya ia menjemput Kalla. Kalla berulang kali membuka jendelanya untuk memastikan Gibran sudah datang atau belum. Tetapi, nyatanya tidak ada siapapun di bawah. Mama dan Papa Kalla sudah berangkat ke kantor seperti biasa. Tinggal Kalla saja di rumah seorang diri. Hari ini Kalla harus ke kampus lebih pagi karena ada kelas pukul 8. Namun, hampir pukul setengah 8 Gibran belum juga sampai di rumah Kalla. Kalla memutuskan berangkat sendiria, naik ojek online agar lebih cepat sampai ke kampus. Baru saja menutup pintu rumahnya, di depan sudah ada mobil yang menjemput Kalla. Kalla tersenyum ramah, Kalla kira itu adalah Gibran. Ternyata, Kalla salah sangka. Beliau adalah bapak-bapak separuh baya yang menyetir mobil putih. Kalla mendekatinya, lalu bertanya ada keperluan apa berhenti di depan rumah Kalla. Perasaan takut ada dibenak Kalla, tetapi, Kalla beranikan diri. Siapa tahu bapak itu tidak ada niat jahat sama sekali. “Permisi, bapak cari siapa, ya?” tanya Kalla dengan sangat ramah. “Selamat pagi, mba. Maaf, apa ini benar rumahnya Mba Kalla?” driver itu balik tanya kepada Kalla. “Iya benar, pak. Saya sendiri. Ada perlu apa ya, pak?” Kalla sedikit gemetaran karena tidak menyangka jika driver itu ternyata mencarinya. “Saya disuruh jemput Mba Kalla dan mengantarkan ke kampus,” driver itu menjawab dengan sopan. “Maaf, pak. Disuruh siapa, pak?” Kalla semakin tidak enak perasaannya. “Disuruh Mas Gibran, mba,” Bapak driver menjelaskan jika beliau datang ke rumah Kalla untuk menjemput Kalla ke kampus. “Kak Gibran? Tapi kenapa Kak Gibran tidak ada omongan apa-apa ya sama aku,” Kalla masih belum sepenuhnya percaya dengan bapak driver itu. “Tunggu sebentar ya, pak. Biar saya hubungi dulu Kak Gibra,” Kalla melipir sebentar di pinggir pagar rumahnya untuk menelepon Gibran. Beberapa kali berdering, Gibran belum menjawab telepon Kalla. Kalla belum akan percaya jika belum mendengar langsung dari mulut Gibran. Kalla akan menunggu sampai Gibran menjawab teleponnya. Setelah beberapa saat mengulang telepon Gibran, akhirnya Gibran pun menjawab telepon Kalla. “Iya, halo? Ada apa, Kal? Kamu baik-baik aja, kan?” Gibran malah khawatir dengan Kalla. “Aku baik-baik aja, kak. Cuma ini apa bener kak Gibran yang panggil driver untuk jemput aku ke kampus?” Kalla langsung to the point. “Iya, benar. Emang aku yang memesan driver untuk menjemput kamu. Biar kamu nggak berangkat ke kampus sama Aksa. Aku lagi sulit percaya sama Aksa. Dia nggak bisa jagain kamu dengan baik,” Gibran malah membahas Aksa di telepon. “Kak Gibran harusnya nggak perlu berlebihan kayak gini, dong. Kalau Kakak nggak bisa jemput aku, aku kan masih bisa naik taksi online atau ojek online,” Kalla memberikan alasan supaya Gibran tidak melakukan hal itu lagi. “Kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Yang penting aku udah kirim driver kepercayaan aku, jadi, kamu nggak perlu repot pesan taksi atau bahkan ojek online. Aku nggak mau dan nggak ngizinin kamu,” Gibran ngomel. “Aku harus lanjut rapat pagi ini, kamu hati-hati, ya. Sampai di kampus langsung kasih kabar ke aku,” Gibran menutup teleponnya. Kalla geleng kepala dengan sikap Gibran yang semakin posesif. Awalnya Kalla senang karena Gibran memberikan perhatian yang lebih kepada Kalla. Tetapi, semakin ke sini Gibran semakin aneh. Bisa dibilang Gibran semakin posesif kepada Kalla. Kalla tidak boleh pergi jika tidak bersama Gibran. Bahkan dengan sahabatnya pun Kalla tidak diizinkan. “Kak Gibran, semakin ada aja sikapnya,” Kalla mengeluh sejenak lalu menuruti omongan Gibran untuk naik driver pesanan Gibran. Gibran bilang, ini adalah driver kepercayaan Gibran. Gibran akan lebih percaya jika Kalla ke kampus diantar oleh driver kepercayaan Gibran. Sampai di kampus, Kalla tidak langsung menghubungi Gibran. Ingin menikmati suasana kampus terlebih dahulu, sebelum Gibran datang menghampiri Kalla. Jika sudah bersama Gibran, pasti suasana akan berbeda. Pandangan Kalla akan selalu tertuju pada Gibran, tidak bisa menikmati sudut kampus dengan bebas. “Huhhh, untung saja belum terlambat ke kampusnya,” ujar Kalla sembari berjalan menuju ke ruang kelasnya pagi ini. Hari-hari di kampus belum membosankan untuk Kalla. Suasana seperti ini selalu ingin Kalla miliki ketika di rumah. Ramai, banyak keceriaan, juga tidak ada sudut yang sunyi. Semua memiliki penggemarnya masing-masing. Melihat seperti ini rasanya cukup menenangkan untuk Kalla. Terlebih ramai yang cukup menghibur itu. Karena di rumah, tidak akan Kalla temui suasana seperti ini. Kalla masuk ke dalam kelas. Menyiapkan semua materi untuk presentasi hari ini. Sebelum ada fashion show ala anak kampus, Kalla dan semua mahasiswa jurusannya akan mempresentasikan konsep dan temanya. Setiap anak boleh memiliki lebih dari 1 konsep, tetapi, harus memuaskan hasilnya. Karena tidak ingin resiko yang terlalu sulit, Kalla hanya membuat 1 konsep dan tema. Dengan tema alam, konsepnya tentang baju musim semi. Semu akan menyatu dengan alam, dari mulai pattern dan warnanya. Kalla tidak sabar untuk mempresentasikan hasil kerjanya beberapa Minggu belakangan ini. ~ Gibran masih saja sibuk di ruang rapat bersama pengurus BEM yang lain. Banyak agenda yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Tetapi, mereka juga harus menyelesaikan semua tugas-tugas kuliah, agar nilai mata kuliah mereka tidak down. Gibran dan anak-anak pengurus lainnya harus bisa membagi waktu dengan baik, supaya organisasi tidak menjadi penghalang mereka mendapatkan nilai cumlaude ketika nanti lulus kuliah. Gibran dan Natasha masih berdiri di depan ruang rapat. Natasha selalu setia mendampingi Gibran. Natasha dulunya melamar menjadi ketua BEM, namun, Natasha kalah dengan Gibran. Gibran memenangkan banyak hati para mahasiswa, terutama mahasiswi. Hampir semua mahasiswi yang ada di kampus memilih Gibran sebagai ketua BEM. Kedudukan Natasha sebagai anak dari pemilik yayasan pun terkalahkan oleh pesona Gibran. Natasha mau tidak mau harus terima, karena jika tidak, makan namanya sendiri yang akan jelek. Natasha pun akhirnya menjadi wakil ketua. Banyak yang bilang jika Natasha dan Gibran pacaran, tetapi, Gibran sama sekali tidak pernah membenarkan rumor itu. Sebab, semua perempuan yang pernah dekat dengan Gibran, hanya Kalla saja yang berhasil merebut hatinya. Bahkan, Natasha yang sudah bertahun-tahun bersama pun, masih belum sanggup mencuri hati Gibran. Natasha hanya bisa mencuri suara untuk menjadi wakil Gibran. Gibran pun selalu profesional jika sedang dalam organisasi, entah itu dengan Natasha atau anggota lainnya. Aksa beralih ke kantin karena hari ini tidak ada kelas sama sekali. Semua dosen yang harusnya mengisi kelasnya, izin semua. Ada keperluan mendadak, mahasiswa di kelas Aksa pun bubar dari kelas. Ada yang memutuskan untuk pulang, ke kantin, bahkan pergi ke belahan sudut lain di kampus. Kelas menjadi sunyi, tidak ada penghuni. Aksa memilih ke kantin karena merasa sangat lapar. Di kantin Aksa juga berharap bertemu dengan Kalla. Kantin adalah salah satu tempat yang sering Kalla kunjungi selama di kampus. Kalla tidak suka pergi ke ruang atau lapangan olahraga. Jadi, kantin salah satu tujuan yang tepat ketika kelas sudah selesai. Namun, sudah hampir 30 menit Aksa menunggu kedatangan Kalla, Kalla tidak kunjung datang ke kantin. Aksa pun seperti orang hilang di sana. Hanya berteman handphone, minuman di meja makan, dan kesunyian di tengah ramainya kantin. Aksa ingin menghubungi Kalla, tetapi takut jika Kalla sedang bersama Gibran. ~ Presentasi pun akhirnya selesai. Semua konsep dan tema dari Kalla disetujui oleh dosennya. Kalla senang sekali, merasa tidak ada yang sia-sia dari pekerjaannya selama ini. “Mei, temenin aku ke kantin, yuk?” Kalla mengajak Meira ke kantin. “Yuk, gue laper banget,” Meira ternyata lebih merasa lapar dibanding Kalla. Meira bergegas menuju ke kantin bersama Kalla. Belum ada sepuluh langkah keluar dari kelas, Gibran datang menghampiri Kalla. Gibran menahan tangan Kalla sambil memanggil namanya. Gibran menyuruh Meira untuk pergi ke kantin sendiri. “Kamu mau kemana? Kamu belum ketemu sama aku dari tadi pagi, kamu juga nggak kasih kabar ke aku waktu kamu sampai di kampus,” protes Gibran kepada Kalla. “Dih apaan sih ini orang, bucin banget nggak berwibawa banget kayak pertama ketemu,” ujar Meira dari dalam hati. “Mei, Lo ke kantin sendiri, ya. Kalla biar sama gue,” Gibran mengajak Kalla pergi dari depan kelasnya dan membiarkan Meira pergi ke kantin sendirian. “Woyyy! Gimana sih, Kalla main dibawa gitu aja!” Meira kesal, tetapi, Gibran tidak menggubris Meira. “Mau kemana kita sih, kak?” Kalla bertanya ketika Gibran mulai menarik tangannya. “Keluar kampus, buat makan siang,” Gibran menjawab tapi tidak melepaskan tangan Kalla sama sekali. Setelah sekitar satu bulan Gibran dan Kalla jadian, Gibran justru semakin memperlihatkan bagaimana sikap aslinya. Gibran merasa sangat memiliki Kalla. Kalla sulit untuk berkumpul dengan kedua sahabatnya. Gibran juga tidak membiarkan Kalla pergi dengan orang lain, selain dirinya. Kini, Gibran juga melarang Kalla terlalu dekat dengan teman cowok, meskipun itu Aksa. Karena Gibran tidak suka. Gibran semakin posesif, padahal waktu pendekatan Gibran selalu terlihat sisi manisnya. Sisi dingin dari Gibran pun tersembunyi. Kini, Gibran jutsru memperlihatkan sisinya yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN