Meira kesal sekali dengan Gibran karena secara tidak langsung Gibran telah merebut Kalla dari Meira juga Aksa. Gibran seperti tidak memberikan kesempatan Kalla untuk berinteraksi lagi dengan sahabatnya. Padahal, jauh sebelum Kalla mengenal Gibran, Kalla selalu bersama Aksa dan Meira. Kini, Meira merasa tidak terima dengan sikap Gibran yang seolah terlalu memiliki Kalla. Gibran pun terlihat tidak suka dengan kedua sahabat Kalla. Seperti ada ketidak nyamanan yang tercipta ketika Gibran masuk dalam lingkaran Aksa dan Meira. Meria jalan ke kantin dengan cemberut. Sesekali ngomel tentang Gibran yang menarik Kalla dan mengajak Kalla makan berdua.
“Kenapa sih itu ketua BEM nggak ada sopan-sopannya sama orang. Mentang-mentang sama junior jadi seenaknya,” Ujar Meira sembari memasuki area kantin.
“Lo kenapa, Mei?” Aksa tidak sengaja melihat Meira yang kesal dan menggerutu sepanjang memasuki area kantin.
“Sahabat Lo, tuh!” Meira cari tempat duduk.
“Kenaoa lagi sama Kalla?” Aksa bisa mengerti apa yang Meira rasakan.
“Mana boleh sekarang Kalla nongkrong sama kita. Pawangnya nggak pernah ngasih kesempatan,” Meira kesal sekali dengan Gibran.
“Kenapa sih?” Aksa masih belum paham dengan apa yang diomongin Meira.
“Emang kenapa si Kalla? Bukannya dari tadi dia sama Lo, kan?” Aksa heran.
Aksa dan Meira membahas tentang Kalla dan Gibran di kantin. Meira merasa jika sekarang Gibran berbeda dari sebelumnya. Sebelum jadian dengan Kalla, Gibran masih bisa menghargai kedua sahabat Kalla itu. Tetapi, sekarang Gibran seolah lebih berkuasa atas Kalla. Kalla juga tidak bisa menolak apapun yang Gibran katakan kepadanya. Kalla selalu saja menuruti apa yang Gibran ucapkan. Hal itu membuat Meira heran dan kesal. Meira belum pernah melihat Kalla seperti ini kepada laki-laki. Dulu, waktu dekat dengan Aksa pun, Kalla tidak sebucin ini. Kalla masih ada jarak dengan Aksa, tidak semua ingin Kalla habiskan waktunya dengan Aksa. Sekarang berbeda, apapun harus dengan Gibran. Bahkan tidak ada kesempatan untuk sahabatnya lagi membatu Kalla ketika Kalla sedang dalam kesulitan.
“Gue khawatir sama Kalla, Mei. Gue takut kalau Kalla kecewa sama sikap Gibran. Gibran kelihatan beda banget sekarang. Bucinnya dia bahaya,” ujar Aksa tiba-tiba.
“Iya gue rasa juga begitu, Sa.” Meira setuju dengan Aksa.
Siang itu, Meira menghabiskan waktu makan siangnya berdua dengan Aksa di kantin. Meira meluapkan semua emosinya tentang hubungan Kalla dan Gibran.
“Kalla kemana?” Natasha tiba-tiba datang dan menanyakan keberadaan Kalla.
“Kenapa, kak? Tumben nyariin Kalla?” Meira heran dengan pertanyaan Natasha.
“Gue bukan cari Kallanya, gue cari Gibran.”
Natasha sedang mencari Gibran untuk melanjutkan kegiatannya hari itu. Gibran menghilang ketika makan siang. Gibran juga sama sekali tidak bisa dihubungi oleh Natasha. Natasha merasa kesal karena Gibran menjadi bucin dan tidak profesional lagi berada di organisasi. Natasha tidak mau urusan pribadi Gibran mengganggu urusan organisasi. Apalagi Gibran adalah seorang yang penting di kampus.
“Heran gue, semua yang ada di sekitar Gibran tuh pasti menyebalkan,” Keluh Meira kepada Natasha ketika sudah pergi dari hadapannya.
~
“Kak, kenapa kita harus makan keluar sih? Kenapa nggak di kantin kampus aja?” Kalla protes dengan keputusan Gibran yang mengajak Kalla makan siang keluar kampus.
“Kan kita juga butuh waktu untuk berdua dong,” Gibran santai menjawab.
“Di kantin kan juga bisa,” Kalla mengelak lagi.
“Aku nggak mau diganggu sama kedua sahabat kamu itu,” Gibran to the point.
“Memangnya kenapa mereka, kak? Mereka kan sahabat aku, jadi wajar dong kalo mereka ada di samping aku?” Kalla masih mau membela sahabatnya.
“Jadi kamu lebih pilih mereka daripada aku?” Gibran kesal dengan pernyataan Kalla.
“Bukan gitu, kak. Aku juga nggak akan mau milih antara kalian, tapi kan kita nggak perlu menjauh dari mereka,” Kalla tetap membela Aksa dan Meira. Itu membuat Gibran kesal dengan Kalla.
“Kamu kan pacar aku, jadi prioritas kamu itu aku,” Gibran tidak mau berdebat lagi dengan Kalla. Gibran hanya ingin menjadi nomor satu di setiap hari Kalla.
Kalla dan Gibran kembali ke kampus setelah menyendiri dari kerumunan di kantin. Gibran membuka ponselnya sebelum turun dari mobil. Sudah banyak pesan masuk dan panggilan gak terjawab dari Natasha. Gibran hanya bisa menggelengkan kepala, karena merasa jika Natasha tidak pernah memberikan Gibran ruang untuk sendiri. Gibran hanya boleh berada di organisasi bersama Natasha saja.
“Kenapa sih Natasha nih nggak pernah kasih aku waktu untuk sendiri. Tadi udah sepakat kalau hari ini kita ada jeda makan siang, karena agenda nggak terlalu padat,” Gibran menggerutu.
“Kak Natasha cari kamu ya?” Kalla sudah paham dengan kalimat Gibran.
“Biasa dia kan emang nggak suka lihat aku seneng,” Gibran berpikir negatif.
“Mungkin ada yang urgent, kak,” Kalla malah membela Natasha.
“Kok kamu jadi bela dia, sih?” Gibran kesal.
“Bela apa sih, kak? Kan aku Cuma nebak aja. Lagian kak Natasha nggak mungkin cariin kamu kalau nggak ada maksud dan tujuan,” Kalla membela Natasha di depan Gibran.
“Pulang dari kampus, tungguin aku temuin kamu. Kalau aku belum nemuin kamu, kamu nggak boleh pulang dulu. Oke?” Gibran memberikan pesan sebelum Kalla dan Gibran berpisah lagi.
Kalla mengangguk, tanpa memberikan protesnya lagi. Ucapan protes dari Kalla nanti akan memancing perdebatan lagi diantara mereka. Jadi, lebih baik Kalla menuruti aja apa kata Gibran.
“Yaudah aku lanjut rapat lagi ya, sayang,” Gibran pamit sambil mengelus lembut kepala Kalla.
“Kasih kabar ke aku jangan lupa. Apapun itu,” Gibran menjadi lebih hangat kembali.
Kalla tersenyum malu ketika Gibran melakukan itu kepadanya. Kalla merasa Gibran yang selama ini mencuri perhatiannya adalah Gibran yang bersikap hangat kepadanya, namun akan bersikap dingin kepada orang asing atau orang lain di kampus.
~
“Semenjak Gibran sama Lo, dia jadi nggak profesional di organisasi,” Natasha menghampiri Kalla.
“Kak Natasha?” Kalla tidak paham dengan apa yang Natasha katakan kepadanya.
“Kal, gue ingetin sama Lo, ya! Hati-hati sama Gibran. Gibran itu ketua BEM di kampus. Dia sangat ambisius,” Natasha memberi peringatan.
“Oh iya satu lagi, tolong kasih tahu Gibran kalau ada di kampus sebaiknya kalian nggak usah deket-deket, nggak enak dilihatnya. Masak ketua BEM bucin di kampus,” Natasha menambahkan peringatannya.
Kalla tidak menjawab apa-apa, Kalla hanya bingung harus mendengarkan ucapan Natasha atau justru diabaikan saja. Kadang, Kalla percaya dengan apa yang Natasha ucapkan, tetapi, tak jarang ucapan Natasha juga membuat bumerang sendiri untuknya.
“Kal, udah nggak usah dipikirin omongan senior galak itu!” Meira datang ketika Kalla sedang dilema.
“Dia Cuma iri sama Lo!” Meira sinis dengan sikap Natasha.
“Kamu baik-baik aja, kan? Nggak ada masalah apa-apa, kan?” Aksa cemas melihat Kalla yang terus diserang oleh seniornya sendiri.
“Enggs kok, nggak papa.”
“Oh iya, nanti gue punya waktu buat nongkrong, nih,” Meira antusias menceritakan waktu luangnya.
“Ngumpul, yuk!” ajak Meira.
“Boleh, ayo aja!” Tanggapan Aksa sangat menyenangkan.
“Yuk Kalla!” Meira mendesak Kalla.
Kalla tersenyum ragu, tidak bisa menjawab saat itu juga karena Kalla sudah janji dengan Gibran. Kalla tidak ingin membuat Gibran kecewa dan marah lagi. Kalla bukan takut, tetapi tidak ingin ada masalah lain selain di rumahnya. Rumah Kalla sudah cukup membuat Kalla merasa penuh dengan masalah, jadi, Kalla hanya ingin menikmati hubungannya dengan Gibran. Seperti seorang kekasih lainnya. Aksa dan Meira masih menunggu jawaban dari Kalla. Kalla mengubah topik pembicaraan, sambil memikirkan alasan apa yang akan Kalla berikan kepada dua sahabatnya itu.