Sore hari Kalla masih terlihat sibuk di kampus. Mempersiapkan segala kebutuhannya untuk penilaian praktik beberapa waktu ke depan. Semua teman kelas Kalla pun sama, sibuk dengan urusan masing-masing. Kadang hening, sesekali juga ramai karena saling melempar pertanyaan. Kampus pun terasa lebih ramai hari itu. Sudah semakin sore, senja semakin terlihat, tetapi, masih banyak sekali mahasiswa yang berkerumun di kampus. Kampus masih bising dengan teriakan-teriakan mahasiswanya. Tawa di sana sini, lalu ada juga suara sorak Sorai di ruang olahraga, nyanyian di ruang musik, sampai saut-sautan dari anak teater. Semua masih berkumpul di satu kampus yang sama, meskipun dipenjuru yang berbeda.
Kalla dan Meira masih berada di dalam kelas. Belum ada tanda-tanda mereka akan pulang dalam waktu cepat. Masih ada beberapa yang harus mereka selesaikan, seperti menentukan bahan, warna, model, hingga detail yang ada di pakaian pun harus mereka pikirkan saat itu. Oh iya, satu lagi, mereka juga harus memilih dimana mereka akan mengambil bahan sesuai dengan pakaian yang nantinya akan mereka buat.
“Nggak kelar kelar deh tugas gue, perasaan dari tadi gue kerjain,” keluh Meira sambil membereskan beberapa tugas terakhirnya hari itu.
“Sama, Mei. Ternyata masih ada yang kurang kalau kita teliti lagi,” Kalla menjawab keluhan dari Meira.
“Laperrr gue, haus, capek,” Meira kembali mengeluh.
“Ahh Meira ngeluh Mulu deh, Lo!” saut salah satu teman sekelas Meira dan Kalla. Mereka meledek Meira yang bekerja tetapi sambil mengeluh terus.
“Makan apa ya yang enak, nanti?” Meira sambil membayangkan makanan apa yang bisa disantap setelah mengerjakan semua tugasnya untuk praktik.
Kalla hanya memberikan senyum kecil untuk menanggapi ocehan dari Meira. Setelah semua selesai dengan kesibukannya, kelas mulai perlahan sepi. Satu per satu dari penghuninya keluar dan meninggalkan kampus. Kalla hampir menjadi yang terakhir di kelas, untung saja Meira setia menemani Kalla.
“Lo masih lama, Kal?” tanya Meira ketika Kalla masih sibuk membereskan yang ada di mejanya.
“Emm, engga, kok. Sebentar lagi juga selesai. Kalo kamu mau duluan, nggak papa, Mei,” Kalla menawarkan Meira untuk keluar kelas duluan.
“Gue tungguin, deh. Walaupun lo sering ninggalin gue kalo ada Gibran, tapi, gue nggak tega ninggalin Lo sendiran di kelas,” Meira meledek Kalla.
Kalla dan Meira keluar kelas dengan lega, karena semuanya sudah kelar hari itu juga. Kalla dan Meira akan berganti kesibukan lagi. Senja pun sudah datang, langit hampir berganti dengan kegelapannya. Kampus masih dengan keramaiannya, tetapi, kapasitasnya sudah berkurang. Mobil yang terparkir di parkiran kampus sudah mulai berkurang, tak sepenuh ketika siang hari. Semua memilih pergi dengan tujuan yang berbeda lagi. Aksa menyusul temannya yang lain, berjalan sendirian menuju ke parkiran. Tidak banyak teman Aksa di kampus, hanya ada Meira dan Kalla saja yang terdekat. Memang Aksa tidak berniat mencari banyak teman. Cukup Meira dan Kalla saja, selebihnya biar formalitas saja.
“Pulang sama gue, aja?”Aksa menawarkan diri ketika melihat dua sahabatnya itu sedang bertengger di depan kampus. Yang satu menunggu jemputan, yang satu lagi sedang menanti kabar dari sang kekasih.
“Aksa? Boleh juga, tuh!” Meira menyetujui tawaran Aksa.
“Udah deh yuk balik, Kal!” Meira mengajak Kalla segera masuk ke mobil Aksa.
Kalla tidak langsung menyetujui ucapan Meira, di pikirannya masih menunggu kabar dari Gibran. Padahal, hatinya ingin sekali pergi bersama kedua sahabatnya itu.
“Kal, udahlah naik aja. Gibran juga masih sibuk, kan?” Aksa memaksa Kalla masuk ke dalam mobilnya.
Dengan senyum kecil, Kalla membuka pintu mobil Aksa. Baru berniat untuk masuk, tangan Kalla sudah ditarik oleh Gibran dari belakang. Meira dan Aksa melihat Gibran menarik tangan Kalla dengan sangat kasar. Aksa langsung keluar dari mobil, protes dengan sikap Gibran yang kasar.
“Heh Lo jangan kasar dong sama Kalla!” Aksa emosi melihat Kalla dikasari.
“Lo diem nggak usah ikut campur!” Gibran menolak Aksa untuk ikut campur urusannya dengan Kalla.
“Awww, Kak sakit! Lepasin dulu!” Kalla meminta Gibran untuk melepaskan pegangan tangannya yang sangat kencang itu.
“Lo denger kan Kalla bilang apa?” Aksa membantu Kalla melepaskan tangannya.
“Gue bilang Lo nggak usah ikut campur!” Gibran semakin kencang menarik Kalla.
Gibran mengajak Kalla pergi, meninggalkan mobil Aksa juga Meira di dalamnya. Kalla kesakitan karena Gibran terlalu kencang menarik tangan Kalla. Kalla tidak bisa protes lagi, karena jika Kalla protes maka tarikan tangan Gibran akan lebih kencang. Gibran emosi karena cemburu, entah mengapa Gibran menjadi sering cemburu buta.
“Kak, sakit tangan aku!” Kalla menarik tangannya dari Gibran.
“Aku udah bilang kan tadi? Kasih kabar ke aku, jangan pulang sama dia!” Gibran mulai membuka omongannya.
“Ya tapi kenapa sih, kak? Kan Aksa juga temen aku?”
Gibran tidak terima pembelaan dari Kalla. Gibran langsung membuka pintu mobilnya untuk Kalla, menyuruh Kalla masuk ke mobil. Gibran yang akan mengantarkan Kalla pulang ke rumah. Kalla diam saja di dalam mobil, perasaannya sangat kecewa dengan perlakuan Gibran. Setelah memakai sabuk pengaman, Kalla langsung menyenderkan badannya dan menghadap ke jendela. Sepanjang perjalanan, Kalla hanya melihat ke kiri saja. Tanpa mau melihat ke arah Gibran sama sekali.
“Kamu yang salah, kenapa kamu yang marah sama aku?” Gibran memulai perdebatan.
“Apa lagi sih, kak?” Kalla males meladeni Gibran yang selalu memulai perdebatan.
Gibran meminggirkan mobilnya, karena tidak ingin berkendara dalam keadaan emosi.
“Kamu kenapa sih susah banget untuk kasih kabar ke aku? Aku selalu mikirin kamu, meskipun saat aku lagi rapat. Aku mikirin bagaimana kamu pulang, sama siapa, aman atau engga, gimana di jalan,” Kalla memotong omongan Gibran.
“Kak, Aksa nggak mungkin bikin aku celaka, kan? Jangan terlalu cemas sama aku, aku juga bisa jaga diri, kok,” Kalla mencoba menenangkan emosi Gibran. Namun, Kalla salah strategi. Kalla justru membuat Gibran semakin emosi karena membawa nama Aksa di dalamnya.
“Aksa lagi Aksa lagi! Kapan sih kamu berhenti mikirin Aksa? Dia yang udah bikin kamu celaka. Sedangkan aku yang mati-matian untuk jaga kamu!” Gibran sedikit membentak Kalla.
Mata Kalla berkaca-kaca, tidak kuat mendengar ucapan Gibran dengan nada sedikit lebih tinggi. Ini kali pertamanya Gibran membentak Kalla, hari Kalla seperti disayat, rasanya seperti ada harapan yang hilang setelah mendengar Gibran membentaknya.
“Kak tolong buka pintunya!” Kalla meminta sambil menahan air matanya.
Kalla berusaha keluar dari mobil Gibran. Kalla tidak mau menangis hanya karena masalah sepele, Kalla memutuskan untuk pergi dari Gibran, karena Gibran sudah tersulut emosi yang tinggi. Gibran tidak membuka pintu untuk Kalla, justru Gibran mengunci pintu mobilnya dan menginjak gas. Kalla tidak habis pikir dengan Gibran, sebegitu emosinya ketika Kalla membela sahabatnya sendiri.
Sampai di depan rumah Kalla, Kalla langsung keluar dari mobil Gibran tanpa basa basi. Jika Kalla membuka sedikit obrolan, Kalla yakin itu akan membuat Kalla menangis. Baru saja Kalla menarik pintu untuk membuka, Kalla sudah disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa menyakitkan. Mama dan Papanya sedang bertengkar hebat. Papa Kalla hampir saja melempar barang ke arah Mama Kalla, Mama Kalla menangkis dan barang itu hampir saja mengenai wajah Kalla yang ada di balik pintu. Untung saja Gibran dengan sigap menghalangi barang itu, meskipun punggung Gibran yang terkena timpukan. Kalla panik, karena yang dilempar barang yang sedikit tajam. Gibran memeluk Kalla, melindungi Kalla dari barang yang terlempar dari tangan Papanya. Kalla menutup wajahnya, karena tidak tahu jika Gibran akan menghalangi. .
“Kak, kamu baik-baik aja?” Kalla panik ketika Gibran meringis setelah punggungnya terkena lemparan.
Kalla langsung menarik Gibran ke samping. Melihat keadaan Gibran, apakah ada yang terluka atau tidak.