Malam itu di rumah Kalla hening dan lumayan membuat suasana menjadi kikuk. Mama dan Papa Kalla masuk ke kamar dan mungkin melanjutkan perdebatannya di kamar. Kalla dan Gibran berada di ruang tamu. Masih ada rasa khawatir Kalla kepada Gibran setelah Gibran yang menjadi sasaran Papanya melempar barang. Padahal Kalla tahu, jika Papanya tidak mungkin sengaja melempar barang atau sengaja menyakiti orang lain di rumahnya. Gibran sama sekali tidak merasa marah. Gibran justru menenangkan Kalla, membuat Kalla agar tidak merasa terpukul dengan kejadian yang ada di depan mata tadi. Kalla membuatkan Gibran teh hangat. Asapnya masih menari di atas cangkir dengan air yang berwarna coklat hampir pekat.
“Kak, kamu benar baik-baik aja?” Kalla mengulangi pertanyaan yang sama beberapa kali dalam satu waktu itu.
“Iya, Kal. Tenang aja, aku nggak papa. Nggak ada yang luka sama sekali,” Gibran memberi jawaban agar Kalla lega dan tidak terlalu memikirkan kejadian tadi.
“Apa mau aku periksa? Takut ada yang luka, tapi kamu nggak ngerasain,” Kalla tetap cemas dan khawatir.
“Udahlah, Kal. Nggak papa, it’s oke. Buktinya nggak ada darah kan?” Gibran tidak mau membuat Kalla semakin kepikiran.
Kalla mengizinkan Gibran pulang setelah menghabiskan teh hangat yang telah Kalla siapkan. Teh itu lumayan menghangatkan suasana pula. Mereka jadi lebih cair dan tidak canggung lagi. Setelah Gibran pulang, Kalla memutuskan segera naik ke atas menuju ke kamarnya. Tidak sabar rasanya merebahkan segala beban yang ada hari itu.
“Akhirnyaaaaa,” ucap Kalla lega ketika badannya sudah telentang di atas tempat tidur kesayangan.
Sudah lama tidak ada pertengkaran Mama dan Papanya di rumah. Sebab, Kalla selalu menghindari kedua orangtuanya. Kalla tidak ingin mengingat kejadian siang di kantor Papa Kalla. Lebih baik Kalla menghindari pertemuan sengaja maupun tidak sengaja dengan Mama dan Papanya, daripada harus sakit bertemu karena mengingat kejadian yang sama sekali tidak Kalla inginkan.
~
Pagi ini Kalla tidak sengaja ke kampus bersama Aksa. Gibran tidak memberi kabar kepada Kalla, karena mungkin sudah berada di kampus sejak pagi. Kalla mencoba mengerti posisi Gibran dan tidak ingin mengganggu setiap kesibukannya. Akhirnya, Kalla menerima tawaran Aksa untuk menjemputnya pagi itu. Sampai di parkiran mobil, Kalla turun. Kalla sama sekali tidak melihat Gibran ada di samping mobil Aksa. Gibran menarik tangan Kalla dan menjauhkan Kalla dari mobil Aksa.
“Awwww,” Kalla berteriak kecil karena terkejut juga sakit.
“Lo Gila, ya?!” Aksa emosi karena Gibran berbuat kasar dengan Kalla. .
Aksa menghampiri Gibran, lalu, mendorong Gibran untuk melampiaskan emosi Aksa karena Gibran sudah kasar dengan Kalla.
“Jangan kasar ya Lo sama cewek! Apalagi lo kasar sama Kalla, gue nggak akan pernah tinggal diem!”
“Awwww,” Gibran mengeluh sakit bagian punggungnya ketika Aksa mendorongnya.
“Aksa stop!” Kalla malah membela Gibran yang tadi sudah mendorong Gibran.
“Kak kamu nggak papa, kan?” Kalla cemas, karena ingat kejadian semalam.
Aksa heran, padahal ia tak terlalu keras mendorongnya, tetapi respon Gibran lebih dari ekspektasi Aksa.
“Punggung kamu luka, ya?” Kalla langsung menebak jika punggung Gibran terluka gara-gara lemparan barang Papa Kalla semalam.
Kalla membawa Gibran ke klinik kampus. Natasha tak sengaja melihat keduanya menuju ke klinik kampus. Kalla memaksa Gibran untuk membuka bajunya, karena Kalla harus melihat bagian punggung Gibran. Gibran menuruti apa mau Kalla. Ketika Gibran sudah membuka, ternyata benar, punggung Gibran memar. Tidak ada luka atau goresan, justru yang terlihat memar. Kalla panik dan langsung menyalahkan Gibran. Kalla merasa bersalah karena sudah membuat Gibran menahan sakit semalaman. Kalla mengambil air es untuk mengompres punggung Gibran. Kalla terlihat sangat cemas dan khawatir, pun rasa bersalah cukup menghantui Kalla saat itu. Gibran hanya diam saja, sesekali meringis menahan sakit lebam di punggungnya. Gibran menahan semalaman, karena tidak ingin membuat Kalla semakin cemas dan menambah beban pikirannya. Kalla sudah terlalu banyak pikiran jika berada di rumah, kesepian pun Kalla alami, jadi, Gibran tidak ingin menambahnya semakin merasa tersudut.
Gibran meninggalkan Kalla ketika Kalla sudah selesai mengobati luka Gibran. Gibran memulai kesibukannya kembali. Tak Kalla sangka, Natasha justru menyalahkan Aksa tentang kejadian ini. Natasha mengira Aksa yang telah membuat Gibran terluka punggungnya. Aksa tidak tahu menahu soal ini, tapi, Natasha tetap saja dengan percaya diri menuduh Aksa atas apa yang Gibran alami.
“Lo ada masalah apa sama Gibran? Sampai berani banget sama senior. Mau sok jagoan di kampus?” Natasha bertanya sinis dengan Aksa yang sudah berada di kelas.
Aksa langsung menjadi pusat perhatian di kelas. Semua tertuju pada Aksa dan Natasha. Natasha tidak peduli dengan kerumunan orang di kelas Gibran, dosen akan segera masuk, dan apapun itu yang terpenting Natasha bisa melampiaskan emosinya itu. Padahal, bukan Aksa pelaku sebenarnya.
“Maksud Lo apa?” Aksa tidak takut kepada seniornya sendiri. Aksa merasa dirinya benar dan tidak bersalah. Aksa juga sudah terlalu muak dengan tingkah Natasha yang terus menerus membela Gibran, apapu masalahnya.
“Kita bicarakan nanti setelah gue rapat. Urusan kita belum selesai,” Natasha mengancam Aksa. Aksa masih santai dan tidak menganggap ucapan Natasha.
Hari itu, Kalla tidak fokus dengan mata kuliahnya. Pikirannya selalu tertuju pada Gibran. Kalla masih merasa bersalah atas perbuatan Papanya semalam. Gibran harus menahan sakit semalaman, hanya karena melindungi Kalla dari papanya sendiri. Ini salah satu hal yang tidak bisa membuat Kalla jauh dari Gibran. Gibran selalu menyelamatkan Kalla dari hal tak terduga. Gibran yang selalu ada ketika Kalla sedang dalam keadaan sulit, bahkan keadaan berbahaya sekalipun. Kalla juga tidak pernah meminta Gibran harus selalu ada, tetapi, Gibran selalu menepati janjinya untuk terus menjaga Kalla. Dari sebelum mereka jadian sampai sekarang, janji itu masih Gibran tunaikan.
Gibran dan Natasha terlibat adu mulut ketika kegiatannya sedang istirahat. Natasha kesal, semenjak Gibran jadian dengan Kalla, selalu ada saja kesialan yang menimpa Gibran. Gibran juga sering terlibat perkelahian, terutama dengan Aksa. Natasha tidak suka itu terjadi. Gibran adalah seorang pemimpi BEM di kampusnya. Jadi, semua image Gibran harus baik, bagus, dan tidak boleh ada kejadian yang membuat naman Gibran tercoreng. Natasha sebisa mungkin ikut campur dengan apapun masalah yang Gibran miliki. Entah itu masalah pribadinya, masalah percintaan, atau masalah dengan anak-anak kampus. Karena bagi Natasha mereka harus menjadi panutan, tidak boleh ada kesalahan.