BAB 72

1024 Kata
Sudah enam bulan lebih Kalla dan Gibran menjadi sepasang kekasih. Rasanya banyak sekali sikap yang mulai saling terbuka satu sama lain. Selama enam bulan ini, Gibran memang selalu ada untuk Kalla, bukan hanya janji seperti yang diucapkan ketika mengatakan cinta kepada Kalla. Kalla pun setiap hari mengerti dan paham, bagaimana kesibukan Gibran dengan organisasinya. Kalla mencoba memahami semua yang ada pada Gibran. Kalla tidak ingin mengganggu konsentrasi Gibran ketika berada dalam organisasi. Jadi, Kalla lebih baik mengalah, daripada harus saling terus menyalahkan satu sama lain. Selama enam bulan ini, banyak sekali yang telah Kalla lewati bersama Gibran. Permasalahan keluarga, permasalahan dengan teman, hingga permasalahan dengan Gibran yang hampir setiap harinya pasti ada saja. Bertengkar sudah hampir menjadi teman hubungan mereka. Mulai dari masalah kecil, hingga masalah yang buat mereka sangat besar dan serius. Tetapi, untungnya Gibran dan Kalla masih bisa bertahan pada hubungan. Mereka tidak menyerah begitu saja. Masih ada ikatan yang ingin mereka pertahankan. Meira dan Aksa, masih sama seperti awal-awal Kalla dan Gibran jadian. Rasanya, ingin menyuruh Kalla untuk berpisah, tapi mereka sadar, mereka siapa. Sahabat tidak akan merusak kebahagiaan sahabatnya, walaupun memang tidak ada perasaan suka dan setuju dari Meira dan Aksa atas hubungan Kalla dan Gibran. Selalu saja ada masalah yang membuat Aksa dan Meira semakin tidak suka dengan sikap Gibran. Semakin ke sini, semakin terlihat bagaimana sikap Gibran sesungguhnya. Kalla tidak menyangka, ada sikap yang belum Gibran tunjukkan kepadanya. Padahal, Kalla sudah sedemikian rupa memikirkan banyak hal baik dari Gibran. Kalla tidak mau berpikiran buruk tentang Gibran. Namun, ternyata memang Gibran baru menunjukkan sisi lain setelah menjalin hubungan dengan Kalla beberapa bulan kemudian. Gibran menjadi lebih kasar, tidak sabaran, cemburuan, hingga kadang kala bersikap sesukanya kepada Kalla. Gibran juga jarang ada waktu untuk Kalla. Tidak seperti sebelumnya, Gibran akan selalu meluangkan waktu sesibuk apapun itu. Janji Gibran memang masih Gibran tunaikan, tidak meninggalkan Kalla dan selalu ada untuk Kalla. Tetapi, waktu yang Gibran berikan sangat terbatas. Ingin rasanya Kalla protes dengan semua ini. Namun, pasti akan menyebabkan masalah lainnya. Pasti akan membuat perdebatan antara Kalla dan Gibran. Sebab, Gibran mulai tidak suka jika Kalla merengek manja. Padahal, dulu Gibran senang sekali ketika melihat Kalla manja kepadanya. Gibran merasa Kalla menganggap Gibran spesial dan berbeda dari lainnya. Sekarang, Gibran berubah. Emosi seringkali menguasai pikiran dan hatinya. Sehingga mudah untuk membentak ataupun berbuat kasar kepada Kalla. ~ Suatu hari, Kalla butuh tumpangan untuk membeli bahan-bahan tugas kuliahnya. Gibran tidak bisa mengantar apalagi menemani Kalla untuk membeli bahan tersebut. Kalla pun menerima tawaran dari Aksa untuk menemaninya membeli bahan juga peralatan lainnya. Kalla dan Aksa hanya pergi berdua, Meira akan pergi sendiri esok harinya. Kalla lupa memberi kabar kepada Gibran, dimana dia sekarang, dengan siapa Kalla pergi, dan lainnya. Kalla terlalu asik menikmati hari berbelanjanya saat itu. Hal yang sangat Kalla suka ketika Kalla berbelanja bahan untuk keperluan tugasnya. Kalla akan sangat merasa sibuk dan seperti tidak ingin diganggu. Kebetulan, ponsel Kalla silent. Jadi, jika ada pesan hingga telepon yang masuk tidak akan terdengar oleh Kalla. Itu yang dirasakan Gibran saat ini. Gibran berung kali menghubungi Kalla. Mengirim pesan, menelepon Kalla, tetapi sama sekali tidak ada jawaban dari Kalla. Gibran sudah mulai kesal dengan sikap Kalla yang sering tidak memberi kabar seharian. Namun, jika Gibran tidak ada kabar seharian, Kalla mencoba mengerti. Berbeda dengan Gibran. “Kemana sih kamu? Kebiasaan banget nggak pernah kasih kabar seharian. Udah tau aku sibuk!” Gibran ngomel sambil masih terus menghubungi Kalla. “Kenapa lagi sih? Emang Lo sama Kalla tuh mending putus aja, deh. Bentar bentar ada masalah, berantem lah apalah, mengganggu pikiran tau nggak sih. Gue yang lihat aja jadi pusing sendiri,” komentar Natasha ketika melihat Gibran sedang bingung mencari keberadaan Kalla. Natasha masih saja ikut campur dengan hubungan Kalla dan Gibran, sebab, Natasha merasa jika di kampus Gibran akan menjadi miliknya dan kampus. Tidak ada orang yang boleh merebut Gibran darinya. Gibran menoleh kearah Natasha, seperti ada hal yang ingin Gibran setujui dari ucapan Natasha barusan. Namun, Gibran tahan, karena di sana masih banyak anggota BEM yang sedang berkumpul. Gibran pun pergi, mencari tempat untuk sendiri. Pesan-pesan yang Gibran kirimkan, belum juga berhasil dibaca oleh Kalla. Gibran semakin kesal dan mulai emosi. Gibran paling tidak suka dengan sikap Kalla yang meremehkan kabar. Gibran selalu ingin ada kabar dari Kalla. Meskipun terkadang, cara Gibran memintanya itu salah. Bahkan tidak seharusnya Gibran melakukan itu kepada Kalla. “Kamu tuh kemana aja sih seharian? Kamu nggak kasih kabar ke aku? Kamu selingkuh ya?!” Gibran mengirimkan chat lagi kepada Kalla. Disisi lain, Kalla masih sibuk dengan dunianya saat itu. Momen belanjanya, ingin Kalla nikmati hingga akhir. Aksa pun dengan setia menemani Kalla belanja. Sesekali Aksa memberi saran untuk Kalla, tentang warna, pattern, bahkan soal pilihan lain. Jika Gibran tahu, Gibran akan sangat marah kepada Kalla. Setelah selesai menemani Kalla berbelanja, seperti biasa Aksa akan mengajak Kalla untuk makan malam bersama. Awalnya, Kalla selalu menolak ajakan Aksa. Karena Kalla takut nantinya akan ada masalah lagi antara Aksa dan Gibran. Tetapi, Aksa meyakinkan Kalla jika Gibran tidak akan tahu hal ini. Kalla pun mengikuti omongan Aksa, sebagai sahabatnya dari kecil, harusnya memang Kalla percaya dengan apa yang Aksa ucapkan. Malam itu, Kalla dan Aksa makan malam ditempat yang belum pernah mereka kunjungi. Banyak sekali obrolan yang mengalir dari mereka. Asik dan seru sekali malam mereka pada saat itu. Tak Kalla sadari, ada yang sedang menguntit Kalla dan Aksa. Sesekali gadis itu memotret kedekatan dan keakraban Kalla bersama Aksa. Kalla dan Aksa sama sekali tidak mengetahui ada yang sedang menguntit mereka. Bahkan, orang disekitar mereka tidak terlalu mereka perhatikan. Terlalu nyaman dengan obrolan, jadi, sekitar hanya sebagai peramai mereka malam itu. Di kampus, Gibran tiba-tiba saja marah. Setelah mendapat pesan dari adinyay, Gea. Gea mengirimkan pesan foto Kalla dan Aksa sedang makan malam berduaan. Bagaimana Gibran tidak marah, Kalla belum membuka bahkan mengubunginya balik, ternyata Kalla sedang bersama Aksa. Gibran langsung meminta Gea untuk share lokasinya saat ini. Gea menuruti kemauan Kakaknya itu. Gea tidak terlalu suka, bahkan jika disuruh memilih, Gea akan lebih memilih Natasha menjadi kekasih Gibran. Sayangnya, suara Gea tentang hal itu tidak akan Gibran dengarkan. Mungkin, ini salah satu jalan agar suara Gea didengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN