Drama pertengkaran ini disebabkan karena Gea yang memberitahu Gibran jika Kalla sedang bersama dengan Aksa. Jika Gea tidak melihat keberadaan Aksa dan Kalla di restoran itu, maka, drama perdebatan ini tidak akan terjadi. Ada unsur kesengajaan dari Gea, supaya Gibran dan Kalla bertengkar. Setelah pertengkaran itu, maka, kaya putus akan mudah diucapkan oleh salah satu dari mereka. Gea tidak setuju akan kedekatan Kalla dan Gibran. Bagi Gea, Kalla seperti merebut kakak semata wayangnya. Dulu, Gea selalu dimanja dan diperhatikan oleh Gibran, namun, setelah adanya Kalla di hidup Gibran, Kalla lebih diperhatikan daripada adiknya sendiri. Kecemburuan itu pun muncul, sehingga ada niat licik Gea untuk memisahkan Gibran dengan sang kekasih.
Gibran buru-buru dari kampus pergi ke restoran yang telah Gea kirimkan alamatnya. Gea tidak sabar, akan terjadi apa setelah kakaknya datang ke sana. Penasaran semakin memuncak, ketika Gea telah melihat mobil kakaknya bertengger di parkiran restoran. Gibran tak mencari dimana Gea, melainkan langsung mencari dimana Kalla duduk bersama Aksa. Setelah ketemu tempat duduk mereka, Gibran menarik tangan Kalla lumayan kasar. Itu membuat Kalla sangat terkejut. Kalla sempat berteriak sakit, sehingga membuat orang-orang disekitar menengok ke arahnya. Namun, demi kenyamanan pengunjung lain, Kalla menahan semua sakit di tangannya itu.
“Awwwww,” Kalla teriak kecil sambil berdiri karena Gibran menarik dengan kuat.
“Hey! Lepasin Kalla!” Aksa emosi melihat Gibran memperlakukan Kalla seperti itu.
“Diem di situ!” Gibran tidak mau Aksa ikut mendekati Kalla.
“Jangan kasar dong sama Kalla!” Aksa semakin emosi karena Gibran tidak kasihan melihat Kalla kesakitan. Jika tidak menghargai kenyamanan pelanggan lain, Aksa akan memukul Gibran saat itu juga. Membalas rasa sakit dan malu Kalla di tarik tangannya seperti itu.
“Gue udah bilang berkali-kali sama Lo, jauhin Kalla! Kalla sekarang udah jadi cewek gue. Gue berhak nentuin siapa aja yang boleh Deket sama Kalla!” Gibran kembali menjelaskan kepada Aksa jika Gibran tidak suka Aksa dan Kalla jalan berdua.
“Gue yang lebih kenal Kalla dulu, Lo nggak bisa merebut Kalla dari sahabatnya, dong. Kalla juga nggak mau Lo jauhin dari sahabat-sahabatnya!” Aksa semakin tidak terima dengan ucapan Gibran.
“Cuma sahabat, nggak ada hubungan dan status apapun. Jadi, Lo nggak berhak atur hidup Kalla!” Gibran emosi mendengar ucapan Aksa barusan. Gibran tidak suka Aksa dan Kalla masih sering berduaan. Sebab, Gibran tahu, Aksa masih menyimpan rasa kepada Kalla. Rasa itu tidak pernah hilang, sulit sepertinya menghilangkan perasaan Aksa terhadap Kalla. Salah satu hal yang membuat Gibran cemburu buta dengan Aksa. Aksa tidak menyangkal tentang perasaan itu.
Aska mendekati Gibran, hampir saja pukulan dari tangannya mendarat di wajah Gibran. Aksa lebih emosian dari Gibran. Kalla tahu itu. Makanya, Kalla langsung menghalangi Gibran dari tangan Aksa yang sudah akan melayangkan pukulannya ke Gibran.
“Aksa jangan!” Kalla berteriak sambil menghalangi tangan Aksa yang akan memukul Gibran. Kalla tidak ingin ada keributan antara Aksa dan Gibran lagi. Apalagi, di sana banyak sekali pengunjung. Ini akan memperlakukan mereka berdua, begitu juga dengan Kalla.
Akhirnya, Kalla memilih untuk meninggalkan Aksa. Tak lupa, barang belanjaan Kalla pun tertinggal di sana. Gibran tidak peduli dengan apa yang Kalla bawa. Terpenting bagi Gibran adalah Kalla sudah bersamanya. Gibran membawa Kalla keluar dari restoran itu. Beberapa pengunjung merngarah ke mereka. Emosi Gibran bisa dilihat oleh beberapa pengunjung restoran yang peka. Kalla berusaha tidak terlihat kesakitan, berusaha terlihat baik-baik saja.
“Masuk!” Gibran menyuruh Kalla masuk ke dalam mobil dengan kasar. Lelah Gibran sudah mulai diujung kepala, membuat Gibran mudah terpancing emosi.
“Iya aku masuk, kak. Tapi plis, kamu bisa kan lebih lembut lagi?” Kalla protes akan kekasaran Gibran. Gibran tidak lagi membuka pintu untuk Kalla. Membiarkannya membuka pintu itu sendiri, lalu, Gibran menyusul Kalla masuk ke dalam mobil. Tak berhenti disitu, mereka kembali berdebat. Mempertahankan opini masing-masing.
“Aku kan udah bilang, kasih kabar ke aku! Seharian kamu nggak kasih kabar ke aku, dan sekarang kamu malah berduaan jalan sama Aksa? Apa itu bukan selingkuh namanya?!” Gibran to the point dengan pertanyaannya. Semua ini berawal dari ketidak sengajaan Gea yang melihat Aksa bersama Kalla sedang makan di restoran. Jika Gea tidak melaporkan ke Gibran, keributan ini tidak akan terjadi. Gibran hanya akan marah karena Kalla tidak memberinya kabar, bukan karena masalah jalan bersama Aksa. Kalau sudah begini, apa boleh buat. Kalla pun tidak bisa membela dirinya sendiri. Sekalipun tidak ada niat buruk sedikit saja, tentang hubungannya dengan Aksa.
“Boleh aku jelasin dulu, kan?” Kalla meminta waktu untuk membeli penjelasan kepada Gibran supaya Gibran tidak salah paham kepada Kalla maupun Aksa.
Dari jauh, Gea melihat mobil Kakaknya. Ada senyum kemenangan di sana, merasa jika semua yang dilakukan itu benar. Sebentar lagi orang yang menyingkirkan Gea dari samping Gibran akan tersingkir dengan sendirinya. Gea tidak perlu repot-repot lagi meminta bantuan orang lain, Kalla sudah memberi umpan kepada Gea supaya Gea bisa memisahkan Kalla dengan Gibran secara tidak langsung.
“Nggak perlu capek-capek cari masalah, Kalla sendiri yang ngasih umpan ke gue, hahaha!” Gea merasa berhasil membuat pertengkaran antara kakaknya dan sang kekasih. Semua itu berawal dari kecemburuan Gea, semenjak adanya Kalla di hidup Gibran, pikiran Gibran hanya ada tentang Kalla, Kalla, dan Kalla. Gea sangat iri. Kesal pula, karena tidak lagi diperhatikan seperti dulu lagi.
“Sebentar lagi mereka pasti akan putus. Nggak ada lagi deh yang akan ngejauhin aku dari Kak Gibran!” Gea tertawa kecil, sembari melihat perdebatan di dalam mobil Gibran, meski tidak jelas, namun, Gea yakin itu ada di sana.
“Jadi ini ulah Lo?” Aksa datang menghampiri Gea. Aksa mendengar ucapan Gea. Tentang niat Gea menjauhkan Kalla dan Gibran, serta membuat Kalla dan Gibran putus.
Gea terkejut akan kedatangan Aksa. Gea salah tingkah. Tidak tahu harus bersikap bagaimana. Karena Gea tahu, Aksa pasti telah mengerti apa niat utamanya. Gea menarik napas dalam, mengeluarkannya perlahan, agar tidak terlihat jika dirinya gugup. Takut jika Aksa akan menyalahkannya lebih dari ini.
“Ini semua kan salah Lo. Udah tahu Kalla punya pacar, kenapa tetep Lo ajak jalan?” Gea berbalik menyerang Aksa dengan pertanyaan. Gea tidak mau kalah dengan Aksa yang sudah menyalahkannya.
“Kita Cuma sahabat, sahabat jauh dari sebelum Gibran kenal sama Kalla. Nggak mungkin hubungan Gibran dan Kalla bisa menghapus semua memori tentang kebersamaan Kalla dan sahabatnya!” Aksa membela dirinya.
“Lo nggak usah sembunyi dibalik kata sahabat, deh! Kalo Lo mau ngerebut Kalla, ya rebut aja sekalian. Tapi, jangan diam-diam dibelakang kakak gue!” Gea tidak menerima penjelasan dari Aksa. Justru Gea semakin menuduh Aksa akan merebut Kalla dari Gibran.
Aksa dan Gea mulai berdebat kecil. Aksa kesal dengan sikap Gea yang seolah ingin membuat Kalla celaka. Dengan bawaan belanjaan Kalla, Aksa memutuskan untuk pergi dari samping Gea. Tidak ada gunanya bicara dengan anak kecil, pemilik hati licik. Aksa pasti akan terpancing emosi lebih lagi jika berada di sana.
“Kamu denger, ya. Aku nggak akan kasih izin lagi kamu ketemu sama Aksa maupun Meira! Jelas?” Gibran mengancam Kalla.
“Kak, nggak bisa seperti itu, dong. Aku, Meira, dan Aksa sudah lebih kenal dulu dibandingkan aku mengenal Kak Gibran.”
Kalla mulai mencoba membela dirinya sendiri. Kalla tidak ingin hubungan dengan sahabatnya kembali renggang. Bagi Kalla, mereka bertiga memiliki porsi sendiri dalam kehidupanya. Kalla tidak mungkin meninggalkan salah satu dari Gibran, Aksa, maupun Meira.
“Kenapa nggak mungkin? Kalau kamu masih mau ngelanjutin hubungan sama aku, tinggalin mereka!” Gibran kini mengancam lebih menyakitkan.
Kalla tidak habis pikir Gibran bisa berpikir seperti itu. Dalam benak Kalla, tidak ada pikiran untuk berpisah dari Gibran sedikitpun. Meski Gibran sekarang jarang ada waktu untuk Kalla. Bahkan, untuk menelepon atau mengubunginya pun sulit. Kalla harus menunggu berjam-jam, tak jarang Kalla menunggu seharian untuk menerima balasan pesan dari Gibran. Meminta waktu Gibran bertemu pun harus dengan merengek, tak seperti dulu, Gibran akan selalu ada ketika pagi, siang, kapanpun Kalla butuhkan di kampus hingga saat Kalla di rumah. Sekarang, semua mengalami perbedaan. Suara Gibran jika berbicara dengan Kalla pun berbeda. Tak lagi hangat seperti saat itu, kini lebih dari dingin. Menyakitkan bagi Kalla.
Hari pertengkaran itu ditutup dengan Gibran mengantar Kalla pulang ke rumahnya. Nomor Aksa dan Meira sudah tak lagi ada di ponsel Kalla. Semua sudah Gibran hapus. Kalla tak bisa berkutik, jika Kalla tidak ingin membuat Gibran semakin marah dan berbuat kasar kepadanya. Hubungannya dengan Gibran lebih penting. Kalla akan melakukan hal yang Gibran suruh, daripada harus menyudahi hubungannya.
Gibran sudah membuat Kalla jatuh hati sedalam ini. Perjalanan jatuh cinta kepada Gibran pun panjang. Penuh keraguan, pun sesekali ada rasa takut dikecewakan. Kalla dibuat jatuh yang dalam, namun, Gibran pulang yang membuat Kalla terkurung dalam rasa cintanya itu. Semua yang Gibran lakukan selama ini sudah cukup membuat Kalla percaya. Menghilangkan debu keraguan di setiap pikiran Kalla. Sehingga, apapun yang Gibran lakukan, telah menutup mata Kalla. Kalla tak akan menganggapnya buruk. Karena Kalla terlalu sulit untuk keluar dari perasannya sendiri terhadap Gibran.