BAB 74

1364 Kata
Beberapa bulan berlalu, sikap Gibran semakin terbuka kepada Kalla. Gibran yang tadinya hangat, kembali menjadi sedingin es batu. Bahkan kadang lebih dari itu. Perhatian Gibran pun berkurang drastis. Tak seperti ketika mereka sedang pendekatan. Perhatian yang Gibran berikan sangatlah lebih dari cukup. Namun, sekarang, Gibran seolah memilih dunia dan kesibukannya sendiri. Semua tentang Kalla hanya menjadi status saja. Tanpa ada tindakan nyata. Kalla masih bertahan, karena hanya ingin menyelesaikan masalahnya saja, bukan hubungannya. Kalla masih berharap Gibran bisa kembali seperti saat mereka masih pendekatan ataupun awal-awal pacaran. Itu masih menjadi harapan Kalla dalam hubungannya. Meski, entah akan sampai kapan harapan Kalla ini mengambang. Yang pasti, Kalla tidak ingin semuanya hilang begitu saja. Mama dan Papa Kalla semakin asing, seperti tidak mengenal tetapi tinggal satu atap. Kalla sangat tidak nyaman melihatnya. Papa dan Mamanya hanya mementingkan kesibukan masing-masing. Selama tidak berkaitan dengan pasangan, maka, Mama dan Papanya akan selalu mengasingkan satu sama lain. Kalla pun hanya dianggap sebagai hiasan. Jarang sekali diperhatikan, bahkan ditengok pun bisa dihitung dalam satu bulan. Kalla tak lebih penting dari sebuah pekerjaan. Tak lebih berharga dari materi yang ada. Rasanya semakin hampa. Rumah mewahnya semakin kosong, tak ada isinya. Terutama perihal kasih sayang dan cinta. Pagi ini, Kalla melihat kesibukan di bawah. Mamanya sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Sebenarnya, Kalla tidak ingin ikut campur, tetapi, Kalla memang harus turun dan segera berangkat ke kampus. Pasti akan melewati tangga, dan dapur yang berada di bawah. “Kenapa harus ada kelas pagi. Ini artinya aku harus melihat setiap kesibukan yang ada di dapur ketika Mama dan Papa akan berangkat ke kantor,” Kalla mengeluh dalam hatinya sambil berjalan menuruni tangga. Itu pun sangat perlahan. Seperti tak ada semangat, pun teramat malas menuju tempat tujuan. “Sarapan untuk aku mana?” Papa Kalla baru saja bersiap dari kamar tamu yang ada di bawah. Pakaiannya sudah rapi, memakai dasi, bersepatu, pun sudah tercium harum parfum. Menandakan Papa siap untuk ke kantor. Mama Kalla hanya menyiapkan satu sarapan saja. Untuk dirinya seorang. Tidak ada makanan lain di meja makan. Tinggal beberapa roti tawar tersisa. Itu pun masih dalam balutan plastik seperti ketika habis dibeli dari supermarket. “Siapkan saja sendiri yang kamu butuh. Aku pun tidak pernah meminta nafkah dari kamu,” Mama Kalla menjawab sembari berlalu dari meja makan. Kebetulan sarapannya memang sudah selesai. Mama Kalla pun beranjak dari kursi, meletakkan peralatan makannya, lalu pergi begitu saja tanpa peduli Papanya belum makan sedikitpun. Melihatnya seperti itu, Kalla miris. Mengapa sudah tidak ada rasa cinta lagi diantara mereka. Mengapa materi bisa membuat dua sejoli saling mencintai menjadi saling membenci? Apakah materi memang sepenting itu dalam hidup? Apakah cinta tak lebih penting dari sebuah materi? Ah entahlah, Kalla terdiam sejenak di tangga menuju ke bawah. Berpegangan di sisi tangga, menatap ke bawah. Melihat bagaimana Papa dan Mamanya berinteraksi dalam kebencian. Rasanya sakit, namun, tak ada lagi yang bisa Kalla lakukan selain diam dan hanya bertahan. “Rumah ini dibangun juga atas uangku! Bukan hanya yang kamu! Mobil kamu, semua yang ada di rumah, sampai keperluan Kalla pun aku yang memenuhi. Kamu masih bilang aku tidak pernah mencukupi nafkah?” Papa Kalla tidak terima atas ucapan Mama Kalla. Semua terasa sangat menyakitkan. Karena Papa Kalla sudah sedemikian berusaha agar bisa mencukupi semua kebutuhan dalam hidup keluarganya. Namun, Mama Kalla selalu merasa kurang. Sebab, gaji Mama Kalla masih jauh lebih besar daripada Papa Kalla. Papa Kalla gagal mendapatkan gaji dan jabatan tinggi karena kejadian Kalla waktu itu. Semua hilang tak berkabar. Hanya sia-sia belaka. Rasa bersalah Kalla memang ada dibenaknya. Tetapi, kecewa Kalla lebih besar dari semua rasa bersalah itu. “Aku juga ikut membantu memenuhi kebutuhan. Apa itu artinya cukup memberi nafkah untuk aku? Kamu pun lebih banyak berinteraksi, ngobrol, bahkan menghabiskan waktu dengan teman kantormu yang perempuan. Tidak pernah menjaga perasaan istri, apa itu bisa membuat aku menjadi baik-baik saja?” Mama Kalla membela diri, terus mencari kesalahan Papa Kalla. Setelah mengucapkan hal itu, Mama Kalla berlalu di depan sang suami. Hampir saja Papa Kalla berbuat yang tidak seharusnya kepada Mamanya. Kalla berlari turun, supaya Papa tidak jadi melakukan tindakannya. Kalla paham, pasti ada rasa kecewa juga sakit hati ketika sang istri tak lagi bisa menuruti apa kebutuhan juga mau suami. Tetapi, Kalla tidak ingin ada kekerasan di dalam rumahnya. Cukup perdebatan yang tiada pernah selesai saja. Jangan ada main tangan di dalamnya. Itu akan lebih membuat Kalla merasa sakit dan pasti menyisakan trauma. Setelah melihat Kalla turun, Papanya tidak jadi melayangkan tangannya ke pipi Mama Kalla. Semua tindakan mendorong pun dihentikan. Mama Kalla berkesempatan untuk pergi terlebih dahulu. Secara tidak langsung, Kalla menyelamatkan Mamanya. “Masih saja harus aku tanggung. Kebencian yang ada di keluarga. Mengapa tidak berpisah, jika memang sudah saling berbeda arah?” Batin Kalla dipenuhi dengan pertanyaan tentang kedua orang tuannya. “Mengapa masih bersama, kalau memang cinta sudah tak ada lagi di dalamnya? Hanya sakit hati saja yang diterima, pun anaknya semakin trauma dengan semua ini. Sayangnya tidak ada yang peduli,” Kalla terus menggumam sembari berjalan menuju tempat taksi onlinenya. Sudah beberapa Minggu, Gibran tak menjemput Kalla untuk pergi ke kampus. Semakin banyak kesibukan Gibran yang terlihat. Artinya, semakin sedikit waktu yang Gibran berikan untuk Kalla. Kalla masih sabar, karena tidak ingin menjadi pacar yang menyalahkan keadaan. Kalla ingin belajar tentang arti pengertian. Saling memahami masih Kalla pegang. Agar tidak ada perpisahan sebagai jalan keluar. ~ Semua kelas telah selesai hari itu. Lelah sekali rasanya dari pagi belum sempat untuk sekedar bersantai di kampus. Sibuk melanda Kalla juga Meira. Entah bagaimana dengan mahasiswa lainnya. Sama ataukah lebih menyenangkan harinya. Kalla dan Meira memutuskan pergi ke kantin setelah merasa perutnya kelaparan. Tempat tujuan yang selalu dinanti, ketika semua kelas telah usai. “Akhirnya makan juga!” Makanan yang Kalla dan Meira pesan sudah datang. Semua terasa sangat menggoda. Apalagi mie Yamin di atas meja. Sudah tidak sabar untuk Meira melahapnya. Sebelum Meira makan, Meira menarik tangan Kalla untuk bergeser karena meja di dekat Kalla basah. Namun, respon Kalla sangat membuat Meira terkejut. Kalla kesakitan ketika Meira menarik tangannya. Napsu makan Meira tertunda sejenak. Meira ingin mencari tahu, ada apa di tangan Kalla. Pasti ada yang Kalla sembunyikan darinya. “Lo kenapa? Tangan lo sakit?” Meira cemas melihat respon Kalla ketika Meira menarik pelan tangannya untuk sekedar bergeser tempat duduk saja. “Eee, eenggak, Mei. Baik-baik aja, kok. Nggak ada apa-apa,” Kalla menahan sakit sedemikian rupa. Agar Meira tidak ada prasangka buruk kepada siapapun. “Nggak bisa bohong lo sama gue!” Meira dengan sigap melihat semua tangan Kalla. Kanan, kiri, bagian siku, telapak tangan, pergelangan, sampai Meira menemukan suatu yang janggal. Lebam sangat terlihat jelas di tangan Kalla. Namun, Kalla berusaha untuk menutupinya. Kalla sadar ini semua perbuatan Gibran. Makanya, Kalla tidak ingin Meira tahu. Atau bahkan Aksa sampai tahu. Jika mereka tahu, akan ada pertengkaran lagi antara pacar dan kekasih Kalla. “Astaga, Kal. Kenapa tangan lo bisa lebam begini? Lo habis ngapain sih?” Meira masih belum sadar jika yang menyebabkan tangan Kalla lebam adalah Gibran. “Jatuh, Mei. Jatuh di tangga rumah. Hehehe,” Kalla tak henti-hentinya menutupi perlakuan Gibran. “Hati-hati dong Lo kalau jalan,” Meira mengaduk mie yamin, memberi sambal, kecap, pun saus ke dalam mie nya itu. “Ha? Jatuh? Nggak mungkin!” Meira baru sadar semua yang Kalla katakan adalah sebuah kebohongan. “Lo nggak bisa bohongin gue, Kal. Gue tahu Lo kayak apa. Nggak mungkin Lo jatuh dari tangga dan Cuma tangan Lo aja yang lebam.” Meirs menatap tajam mata Kalla. Mencari kebenaran di sana. Ternyata memang benar adanya, kebohongan sedang Kalla utarakan kepada sahabatnya itu. Meira meletakkan sumpit, yang sudah dipegang erat olehnya. Perhatian Meira beralih penuh ke Kalla. “Lo harus putus sih!” Meira dengan lantang mengucapkan hal tersebut. Meira tahu ini semua ulah Gibran, pacar Kalla yang sekarang sudah berani berbuat kasar kepada Kalla. Meira sudah tidak terima lagi sahabatnya diperlukan seperti ini. Beberapa pengunjung kantin mendengar ucapan Meira. Sampai menengok ke arah Meira dan Kalla. Kalla menutup mulut Meira, supaya tidak melanjutkan omongannya. Lalu, Aksa datang begitu saja. Mendengar cerita Kalla dan Meira barusan. Aksa menatap Kalla dengan penuh kecemasan. Kalla berbalik menatap Aksa, matanya ingin mengatakan jika dia pasti akan baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN