BAB 75

1151 Kata
Aksa kabur begitu saja setelah mendengar obrolan Meira dan Kalla. Awalnya Meira dan Kalla hanya melihat Aksa dengan tatapan aneh. Namun, semakin ke sini, Kalla sadar jika Aksa akan melakukan sesuatu. Kalla meninggalkan makanan lezatnya di meja kantin. Menyiarkannya di sana, padahal perutnya sudah sangat berharap Kalla akan memakan makanan itu. Kalla mengejar Aksa, mencegah agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Meira pun sadar, lalu menyusul kedua sahabatnya itu. “Aksa tunggu!” Kalla memanggil Aksa sambil mempercepat langkah kakinya. Kalla sempat menjadi perhatian beberapa anak kampus. Karena berteriak memanggil Aksa juga berlari sendiri. Aksa mendengar panggilan dari Kalla, tapi, ia tak menghiraukannya. Aksa masih terus berjalan, mencari seseorang untuk melampiaskan kemarahannya. “Kal tunggu gue, deh!” Meira ikut berlari, namun, tertinggal jauh oleh Aksa dan Kalla. Mata Aksa penuh dengan kemarahan. Berjalan secepat mungkin agar segera menemukan siapa yang dia cari. Aksa tidak terima dengan apa yang terjadi kepada Kalla. Selama Aksa mengenal Kalla belasan tahun, Aksa pun tidak berani sedikit pun melukai Kalla. Membuat Kalla menangis saja sudah akan membuat Aksa merasa bersalah seumur hidup. Apalagi membuat Kalla terluka dan bersikap kasar kepadanya. Itu akan menjadi penyesalan seumur hidup Aksa. Namun, kini, lelaki yang baru beberapa bulan mengenal Kalla telah melarikan itu semua. Aksa merasa tidak terima. Harus ada balasan yang diterimanya karena sudah membuat Kalla terluka. Aksa juga akan memaksa Kalla untuk meninggalkan kekasihnya itu. Karena sekarang, ia telah berbuat kasar kepada Kalla. Sampailah Aksa ke depan pintu ruang rapat. Awalnya sempat berpikir dua kali untuk menggedor pintu ruangan itu. Aksa juga memikirkan perasaan orang lain. Pun Aksa tidak ingin membuat keributan di kampus. Aksa hanya ingin menyelesaikan urusannya dengan Gibran. Namun, mengingat tangan Kalla dan perasaan Kalla yang pasti terluka, Aksa tak segan-segan untuk menggedor pintu itu. “Lo harus dapet pelajaran dari gue!” Aksa bergumam sambil mengepalkan tangannya. Baru saja tangannya dilayangkan untuk menggedor pintu, ada tangan lain yang menghalangi tangan Aksa berlaga. Kalla ada di sana. Kalla sudah berhasil mencegah Aksa meluapkan emosinya di depan pintu ruangan rapat. “Aksa Jangan!” Kalla memohon kepada Aksa agar tidak melakukannya. Kalla tidak ingin terjadi keributan, dan keributan itu yang menyebabkan adalah dirinya. Kalla tidak mau Natasha ikut andil dalam masalah ini. Kalla sudah cukup memiliki banyak masalah dalam kehidupannya, tidak ingin menambahnya lagi. Meskipun hanya sedikit. “Kal, lepasin!” Aksa meminta Kalla untuk melepaskan genggaman tangannya. Aksa masih berusaha keras agar pintu itu Aksa dobrak. Kalla masih belum melepaskan. Kalla melarang Aksa dengan sekuat tenaga. Karena tidak ingin membuat Kalla sakit, akhirnya Aksa memilih untuk berteriak memanggil Gibran. Aksa yakin Gibran berada di dalam sana. “Gibran, kelura Lo!” Aksa memaksa Gibran segera keluar untuk menyelesaikan masalah dengannya. Apapun yang Gibran lakukan kepada Kalla, selagi itu membuat Kalla sakit hati ataupun terluka, maka dia harus berurusan dengan Aksa. “Gibran, keluar Lo! Keluar Lo sekarang, hadapin gue!” Aksa semakin emosi karena Girban tak kunjung keluar dan menemui Aksa. “Aksa, jangan!” Kalla menarik dan mengajak Aksa pergi dari depan ruangan rapat. Kalla tidak mau semua orang di sekitar ruang itu menyoroti Aksa dan Kalla. “Aksa pliss ikut aku!” Kalla memohon kepada Aksa agar mau mengikutinya. Kalla mencegah agar tidak ada pertengkaran antara Gibran dan Aksa. Kalla tidak ingin salah satu dari mereka terluka. Kalla menyayangi keduanya. Tanpa bisa memilih salah satu dari mereka. “Kenapa sih, Kal? Dia harus menerima balasan dari aku. Karena dia udah berani bikin kamu terluka. Dia juga berani kasar sama kamu, aku harus kasih pelajaran ke dia!” Aksa membalik badannya dan akan menuju ke ruang rapat lagi. Tapi, Kalla menahannya dengan sekuat tenaga. “Aksa, aku mohon jangan!” Kalla merengek di depan Aksa supaya Aksa tidak melakukan hal aneh kepada Gibran. “Kak Gibran nggak salah apa-apa. Kak Gibran juga udah jagain aku dengan baik. Dia nggak pernah berbuat kasar. Kak Gibran selalu jaga aku, sayang, dan perhatian.” “Kal, jangan selalu bela dia. Dia salah tetap salah! Jangan pernah kamu bela!” “Aku nggak membela Kak Gibran sama sekali. Tapi memang ini yang terjadi. Aku nggak papa, aku baik-baik aja kok. Jadi, aku mohon jangan bikin keributan, apalagi di kampus. Sa, tolong ngertiin aku,” Kalla merengek kembali di depan Aksa. Melihat raut wajah Kalla Aksa tidak tega. Aksa pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk memberi pelajaran kepada Gibran di kampus. Namun, Aksa tetap menyimpan dendam kepada Gibran. Suatu saat, Aksa akan memberikan pelajaran itu tanpa sepengetahuan Kalla. Kalla dan Aksa pergi dari ruang rapat. Kalla berhasil membuat Aksa berubah pikiran. Aksa bukan tidak berani kali itu. Tetapi, Aksa masih menghargai Kalla. Aksa juga tidak ingin membuat Kalla semakin tersudutkan. Aksa hanya ingin Kalla aman saat ini. ~ Pulang dari kampus, Kalla menerima telepon dari Aksa. Aksa mengajak Kalla untuk pulang bareng. Aksa ingin menjaga Kalla lebih ketat lagi, agar Gibran tidak bisa melukai Kalla lagi. Kalla baru menggeser layar untuk menerima panggilan dari Aksa, Gibran datang di sebelahnya. Langsung merebut ponsel Kalla. Gibran tidak mengizinkan Kalla menerima panggilan dari Aksa. “Aku udah bilang, hapus nomor Aksa dari hp kamu!” Gibran kesal karena ucapannya tidak dituruti oleh Kalla. Gibran sudah beberapa kali bilang jika Gibran ingin Kalla menghapus nomor Aksa. “Kak, Aksa itu sahabat aku. Aku nggak mungkin melakukan itu.” “Kenapa enggak? Yang pacar kamu sekarang itu aku. Bukan dia! Jadi, kamu cukup butuh aku. Kamu nggak butuh sahabat kamu itu. Lagian, dia orang yang paling sering membuat kita berantem.” Gibran memaksa Kalla untuk menghapus nomor Aksa dari ponselnya. Karena Kalla tidak mau masalah ini menjadi panjang dan rumit, Kalla menuruti dulu apa mau Gibran. Setelahnya, Kalla akan menyimpan nomor Aksa kembali. Tak disadari, Aksa telah memantau Gibran dan Kalla di depan kelas Kalla. Semua kelas sudah sepi, jarang ada mahasiswa yang berkeliaran di sekitar sana. Ini saatnya Aksa melampiaskan dendamnya kepada Gibran. Aksa harus memberi Gibran pelajaran, karena selalu membuat Kalla tertekan, melukai Kalla, dan berani kasar dengan Kalla. Aksa tidak peduli akan ada pertengkaran atau lainnya. Paling penting bagi Aksa, Kalla baik-baik saja, dan Gibran tidak berani lagi membuat Kalla terluka. Aksa mendekati Gibran, lalu langsung memukul bagian pipi Gibran. Kalla dan Gibran sangat terkejut dengan kedatangan Aksa. Mereka tidak menyadari jika Aksa telah memantau dari beberapa waktu yang lalu. Ponsel yang Girban pegang sampai jatuh ke lantai. Kalla bergegas mengambil hp nya dan menarik Gibran agar Aksa tidak lagi memukul Gibran. “Aksa stop!” Kalla mulai marah dengan sikap Aksa yang masih terus emosian. “Gue harus kasih pelajaran buat Lo! Lo udah bikin Kalla luka, Lo udah kasar sama dia, dan Lo juga udah bikin Kalla selalu merasa tertekan! Gue nggak terima!” Aksa mau melayangkan tangannya lagi ke pipi Gibran. Tetapi, dengan sigap Kalla langsung menghalangi Aksa. Meski dengan memejamkan mata karena takut tangan Aksa justru mengenai pipinya, Kalla tetap menjaga Gibran. Namun, Gibran menyingkirkan Kalla hingga Kalla jatuh ke lantai. Gibran ingin membalas perbuatan Aksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN