BAB 76
Emosi Aksa sudah dipuncak setelah melihat Gibran membuat Kalla jatuh di depannya. Aksa sudah ingin mengampuni Gibran, rasanya ingin menghajar Gibran saat itu juga. Namun, Aksa masih berpikir untuk menolong Kalla terlebih dahulu. Ternyata, Gibran lebih dulu menolong Kalla. Gibran menarik tangan Kalla dengan kasar, sampai Kalla bisa berdiri lagi. Gibran menyuruh Kalla menyingkir dari pandangannya. Belum sempat mengepalkan tangan, Aksa sudah mendahului Gibran. Aksa telah melayangkan kepalan tangannya ke pipi Aksa sebelah kanan.
“Gue udah bilang, jangan kasar sama Kalla!” Aksa membentak Gibran tanpa ada rasa segan. Aksa melampiaskan emosinya dengan kepalan tangan.
“Lepasib Kalla sekarang juga! Jangan bikin dia sengsara sama Lo!” Aksa kembali membentak Gibran, Gibran mendorong Aksa hingga Aksa jatuh.
Kampus sudah mulai sepi, namun, setelah Aksa berteriak, kampus menjadi ramai kembali. Anak-anak di kampus mencari sumber suaranya. Mereka penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Natasha ikut kepo dengan teriakan Aksa. Natasha pun berlari, mendahului semua anak-anak kampus yang mencari keberadaan suara itu.
“Misi misi misi,” Natasha menggeser anak-anak kampus yang menghalangi jalannya. Natasha yakin ini semua pasti ada sangkut pautnya dengan Gibran.
“Bener kan dugaan gue,” Natasha sudah melihat Aksa dan Gibran dari jauh. Kesal sudah masuk ke pikiran Natasha. Natasha bergegas mendekati Aksa dan Gibran.
“Lo apa-apaan sih?” Natasha menarik Aksa yang hampir memukul Gibran lagi.
“Lo nggak usah ikut campur!” Aksa hampir berhasil mendorong Natasha.
“Jangan berani sama perempuan, Lo!” Gibran membela Natasha yang akan didorong oleh Aksa. Aksa tertegun mendengar kalimat Gibran. Tak ada ampun kali ini untuk Gibran. Karena Gibran sudah keterlaluan menurutnya. Tadi, Kalla didorong hingga jatuh, ditarik hingga kesakitan. Sekarang, Natasha hampir didorong pun Gibran bela dengan lantang.
“Cewek Lo itu Kalla, bukan Natasha!” Aksa kembali mendorong Gibran. Rasanya Aksa ingin menghabisi Gibran karena sudah terlalu muak dengan topengnya.
“Lo diem aja cowok Lo sama junior tukang bikin masalah ini berantem di depan Lo?” Natasha menghampiri Kalla yang tidak berbuat apa-apa. Kalla bingung harus bersikap bagaimana. Ingin marah, tetapi Kalla tak kuasa menahan Aksa sendirian. Aksa terlalu kuat dengan emosinya, sehingga sulit untuk dilarang. Gibran pun demikian, Kalla akan jatuh dan bahkan terkena pukulan jika ikut campur. Namun, Kalla juga tidak ingin mereka berdua bertengkar.
“Aku udah coba melerai mereka, kak. Tapi aku sendiri...,”
Natasha menghentikan Kalla yang sedang membela diri. Jawabn dari Kalla akan selalu salah di mata Natasha, karena Natasha memang tidak suka dengan Kalla dari awal perjumpaan.
“Berenti nggak gue bilang!” Natasha berteriak dan mendorong Aksa menjauh dari Gibran. Gibran dan Aksa sedang saling menjatuhkan satu sama lain dengan kata-kata. Aska mengeluarkan semua unek-uneknya, mengenai ketidaksukaan Aksa atas hubungan Kalla dan Gibran.
“Lo nggak usah ikut campur! Bukan urusan Lo!” Aksa masih terus membela diri, dan tidak ingin Natasha ikut campur atas masalah ini.
“Ini kampus gue, gue berhak mengatur semua yang ada di kampus!”
“Gue bayar di kampus ini! Gue bebas mau ngapain aja di kampus. Apa lagi ada orang yang cari masalah sama gue, gue nggak akan tinggal diam!” Aksa kini emosi dengan Natasha. Natasha yang selalu ada disaat Aksa dan Gibran sedang menyelesaikan masalah.
“Bran! Ini masih di kampus, kenapa sih Lo ladenin junior Lo yang nggak punya etika ini? Semua anak-anak kampus akan merhatiin Lo. Sekarang kalian jadi pusat perhatian. Lo nggak malu?” Kali ini Natasha menyalahkan Gibran yang sedang mengelap darah diujung bibirnya. Gibran meringis sedikit, setelah merasa perih.
“Kak, kita pulang!” Kalla menarik tangan Gibran dan mengajak Gibran pulang. Tangan Kalla masih terasa sakit setelah Girban menariknya dengan kasar. Namun, Kalla masih bisa menahannya.
“Kal, kenapa kamu masih belain cowok kamu yang kasar itu, sih?” Aksa mengejar Kalla dan menghentikan Kalla berjalan bersama Gibran.
“Sekarang lepasin Gibran, pulang sama aku,” Aksa memohon kepada Kalla agar melepaskan Gibran dan pulang bersamanya. Aksa tidak ingin Kalla disakiti lagi oleh Gibran. Ini terlalu menyakitkan bagi Aksa.
“Sa, kamu pulang, ya. Malu sama anak-anak kampus lainnya. Kita di sini jadi pusat perhatian. Pliss, sekarang kamu pulang. Biar aku pulang sama Kak Gibran,” Kalla masih saja keras kepala. Baru di pikirannya masih sulit dipecahkan oleh Aksa. Aksa hampir frustasi.
“Aku akan jaga diri, aku pasti baik-baik saja,” Kalla berbisik kepada Aksa. Ini membuat Aksa sedikit lebih tenang.
Kini, giliran Natasha yang berperang pendapat dengan Aksa. Natasha masih tidak terima Karena Gibran selalu babak belur karena Aksa. Natasha terlalu membenci junior yang tidak punya etika kepada seniornya.
“Tunggu!” Natasha melarang Aksa pergi dari hadapannya. Natasha sudah sangat tidak sabar bisa melampiaskan emosinya lewat Omelan.
“Gue nggak ada urusan sama, Lo!” Aksa pergi begitu saja. Mengabaikan panggilan dari Natasha. Tanpa menoleh ke arah Natasha, Aksa pergi tanpa pamit, hanya meninggalkan kalimat tersebut. Natasha terpancing emosi. Bagi Natasha yang gila hormat, Aksa sudah keterlaluan.
~
Perjalanan pulang menjadi perjalanan yang panjang bagi Kalla dan Gibran. Gibran sama sekali tidak menegur Kalla. Gibran hanya terdiam, fokus menyetir mobil. Tidak ada obrolan yang terucap dari mulut Gibran. Wajahnya pun terlihat sangat tidak nyaman. Emosi masih tersisa di hari Gibran. Namun, kali ini Gibran masih ingin menahannya.
“Ada yang mau aku bantu obatin lukanya?” Kalla membuka obrolan dengan Gibran. Gugup awalnya, namun, Kalla memaksakan diri. Kalla khawatir dengan keadaan Gibran. Wajahnya sudah terlihat ada yang lebam. Masih ada sisa darah kecil di ujung bibirnya. Ah! Sungguh sulit posisi Kalla saat itu.
“Nggak perlu, obatib saja sahabatmu yang sok tau itu!” Gibran sinis sekali menjawab pertanyaan Kalla. Gibran tidak menatap Kalla, masih dengan tatapan lurus ke depan sembari menjawab pertanyaan Kalla.
“Kak, maafin Aksa, ya,” Kalla memohon maaf lagi setelah apa yang telah Aksa lakukan kepada Gibran. Kalla tidak menyangka Aksa akan bersikap seperti itu kepada kekasihnya. Kalla juga tidak bisa melarang Aksa.
Girban menurunkan Kalla tanpa ada sepatah katapun. Langsung menginjak gas, dan berlalu dari pandangan Kalla begitu saja. Tidak ada kata pamit dari Gibran, berbeda dari biasanya. Kalla merasa Gibran berubah. Sikap dinginnya semakin membekukan perlakuannya.
“Kemana sikap hangatnya yang dulu? Kenapa sekarang seolah aku hanya beban untuknya?” Kalla menyalahkan diri sendiri atas perubahan sikap dari Gibran.
Semakin lama semakin hambar hubungannya dengan Gibran. Kasih sayang yang dulu Gibran curahkan begitu deras, sekarang surut. Bahkan hampir saja kering. Girban sudah tak lagi hangat, sekarang Gibran hanya menganggap Kalla ada. Bukan lagi istimewa.