BAB 77

1107 Kata
Bulan ke 7 ditanggal yang sama dengan hari pertama Kalla dan Gibran jadian. Dulu, Kalla menjadi seorang ratu untuk Gibran. Kalla selalu dilindungi, waktu selalu ada untuk Kalla, bahkan apapun yang Kalla butuhkan akan selalu Gibran perjuangkan. Tidak ada kata meminta waktu sejenak, atau meninggalkan Kalla saat Kalla sedang kesulitan. Namun, ternyata waktu merubah segalanya. Sekarang Kalla harus meminta waktu kepada Gibran supaya bisa bertemu. Kalla tak lagi memiliki pelindung seperti dulu. Rasanya seperti dua orang asing yang saling berhubungan. Terasa hambar. Ingin pergi, tapi tak ingin patah hati. Jika dengan Gibran membuat sakit, maka tanpa Gibran lebih sakit baginya. Bukan berlebihan, namun, memang Gibran lali-laki yang ada disaat Kalla terpuruk. Saat Aksa tak menjadi sahabat yang sigap, Gibran beralih posisi. Wajar saja jika sebenarnya Kalla tidak ingin kehilangan Gibran. Pagi ini, Kalla menyiapkan sarapan untuk Gibran. Setelah sekian lama memiliki hubungan spesial dengan Gibran, akhirnya Kalla menyiapkan bekal makanan untuk Gibran. Kalla berharap besar. Semoga dengan perhatian kecil ini bisa merubah kembali sikap Gibran yang dingin menjadi lebih hangat. Kalla tidak ingin sikap dingin Gibran merenggangkan hubungan mereka. “Semoga kak Gibran suka dan makanan ini bisa membuat suasana hari Kak Gibran menajdi lebih hangat,” Kalla menutup kotak bekal makannya. Lalu memasukkannya ke dalam tas yang telah Kalla sediakan. Dengan langkah percaya diri, Kalla keluar dari rumah, menenteng bekal untuk sang kekasih. Hati itu, Kalla harus mandiri. Karena Gibran sedang sibuk-sibuknya dengan organisasi. Kalla tidak mau, kesibkan Gibran menjadi pemicu pertengkaran mereka selalu. Jadi, untuk saat ini biar Kalla yang mengalah. Biar Kalla yang menunggu, mengukur waktu untuk melepas rindu. Suatu saat Kalla berharap, pasti akan ada waktunya Gibran meminta Kalla untuk selalu bersamanya. Sepeti saat Kala dan Gibran pertama menajdi sepasang kekasih. Masuk ke halaman kampus, Kalla langsung menuju ke arah Gibran sedang rapat. Kali ini, Gibran ada di salah satu tempat serba guna di kampus. Di sana semua pengurus BEM berkumpul. Awalnya Kalla ragu dan tak ingin mewujudkan niatnya itu. Tetapi, Kalla ingat, bisa jadi semua perhatian kecil yang Kalla berikan untuk Gibran sekarang akan merubah sikap Gibran yang kembali dingin. Senyum Kalla mengembang, tidak sabar akan respon Gibran setelah melihat dirinya membawa bekal makanan untuknya. “Kak Gibran suka nggak, ya? Selama ini kan aku belum pernah menyiapkan bekal makanan untuk kak Gibran. Semoga respon Kak Gibran nggak akan mengecewakan,” Kalla terus saja bergumam seperti itu sampai Kalla berdiri tepat di depan aula serba guna yang ada di kampus. Kalla berdiri di sana sendirian. Mengambil ponselnya ditengah banyak anak-anak pengurus BEM yang sedang sibuk kesana-kemari. “Cari siapa?” tanya salah satu orang di sana. Kalla canggung dan ragu menjawab. Namun, posisinya Gibran juga belum menerima panggilan dari Kalla maupun menjawab pesan darinya. Mau tidak mau, Kalla harus meminta salah satu orang di sana untuk memanggil Gibran untuknya. “Eee, boleh aku minta tolong, kak?” “Iya, ada apa, ya? Cari siapa?” tanyanya kembali kepada Kalla. Kalla masih belum percaya diri sepenuhnya untuk menjawab dan meminta bantuan kepada orang lain. Takut jika keputusannya ini jutsru membuat kesalahan. “Kak Gibran...” “Ohhhh, Lo ceweknya Gibran, ya? Tunggu, gue panggilan si Gibran. Gimana sih Gibran, punya cewek dianggurin gitu aja di depan gedung,” ujar perempuan itu sembari masuk lalu memanggil Gibran untuk Kalla. Beberapa orang di sana menatap Kalla dengan tatapan heran dan anenh. Kalla hanya bisa menunduk, diam, dan tidak ingin semakin banyak orang yang memperhatikannya di sana. Bekal makanan ini ingin Kalla lempar saja rasanya. Agar tidak menjadi pusat perhatian ditengah orang yang sedang sibuk rapat. “Gibran, lain kali kalau lagi rapat, jangan ajak pacar Lo, lah! Profesional, bro! Lo kan juga ketua di sini, masak kasih contoh yang nggak baik buat anggota Lo!” protes salah satu orang ketika Gibran datang menghampiri Kalla. . Gibran menatap Kalla dengan sikap dinginnya. Wajah Gibran tak ada senyum sama sekali. Sapaan dari Gibran pun tak terlontar. Kalla sudah menyimpan kecemasan dalam hatinya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres jika Gibran sudah mengeluarkan wajah masamnya. “Kal, jangan bikin malu aku di depan anak-anak BEM dong! Aku ketua di sini, mereka mencontoh aku!” Gibran membuka kemarahannya setelah membawa Kalla ke samping tempat rapat. Gibran tidak ingin. Ada yang melihat jika Gibran sedang berbicara dengan kekasihnya. Kalla disembunyikan dari banyak pandangan orang. Gibran tidak mau mengambil resiko. “Maaf, kak. Aku Cuma mau anter ini untuk kamu,” Kalla masih menunduk. Belum berani menatap sotor mata Gibran yang saat itu pasti penuh dengan kemarahan. Tangan Kalla memberikan bekal makanan yang telah disiapkan untuk Gibran. “Apa ini?” Gibran tidak langsung menerima pemberian dari Kalla. Banyak pertanyaan yang Gibran layangkan, sebelum Kalla menjawab. Apa isi dari Tote bag yang Kalla bawa. Dengan penuh keberanian, Kalla menatap wajah Gibran. Memperlihatkan melas wajahnya, berharap Gibran bisa memberikan sedikit perhatian untuk Kalla Saat itu. Namun, Gibran malah memalingkan pandangan dari Kalla. “Kak, hari ini tepat 7 bulan kita jadian. Jadi, aku ingin memberikan sesuatu untuk Kak Gibran. Aku ingin kita jauh lebih baik dari kemarin-kemarin. Aku nggak mau selalu ada kemarahan dalam hubungan kita. Kita memulai ini semua dengan baik-baik saja, jadi, aku harap kita bisa menjalaninya dengan penuh kasih sayang dan rasa cinta.” Kalla mulai mengeluarkan isi hatinya di depan Gibran. “Kal, kita ini udah dewasa. Nggak perlu lah merayakan hal nggak penting seperti ini. Apalagi aku sedang sibuk, kamu berani-beraninya datang ke sini, minta waktu aku untuk membicarakan hal yang nggak penting?” Gibran sama sekali tidak memberikan respon seperti yang diharapkan Kalla. Seperti ada sayatan pisau dalam hati Kalla saat itu. Ucapan Gibran lebih menyakitkan, dari banyaknya cacian orang di luar sana. “Tapi ini hari penting untuk kita, Kak. Setidaknya, tolong terima ini, ya!” Kalla memberikan tentengan bekal itu ke tangan Gibran. Ada perasaan ingin mengambil bekal itu, namun, beberapa anggota Gibran melihat Gibran di sana. Meledek habis-habisan. Gibran sangat kesal dengan Kalla dan semua orang di sana. Entah dengan sengaja atau tidak, Gibran melempar makanan dari Kalla hingga kotak makan itu jatuh ke lantai. “Brak!!” “Kak!” Mata Kalla berkaca-kaca. Hatinya sesak, sakit, perih jadi satu. Sikap dingin Gibran sudah membeku. Sulit akan dicairkan lagi. Kalla sekuat tenaga menahan tangisnya di sana. Jika Kalla menangis, Gibran akan semakin marah dan memakinya. “Aku nggak minta, Kal! Kamu lihat kan aku jadi bahan ledekan anak-anak BEM. Kamu tuh emang bisanya bikin aku malu, ya!” Gibran membentak Kalla, meski suaranya tidak terlalu lantang. “Pergi dari sini, dan bawa makanan kamu itu!” Gibran meninggalkan Kalla yang sedang mengambil kotak makan di lantai. Ingin sekali Kalla menghapus ingatan tentang hari itu. Sungguh, menyakitkan sekali diperlakukan seperti itu oleh orang tersayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN