Kalla sebisa mungkin menahan semua tangisnya. Padahal, air mata Kalla sudah tersedia di pelupuk mata. Jika Kalla berkedip sekali saja, air mata itu akan jatuh. Membasahi kedua belah pipinya. Namun, Kalla memilih untuk diam dan menahan semuanya. Sembari mengambil makanan yang sudah Gibran buang. Setelah semua beres, Kalla beranjak dari tempat itu.
“Kal, gue rasa, lebih baik Lo putus sama Gibran,” Natasha tiba-tiba datang dan berbicara semaunya.
“Kak Natasha. Kenapa ngomong seperti itu?” Kalla tidak terima karena Natasha masih saja ikut campur dengan hubungannya bersama Gibran.
“Gue jauh lebih kenal Gibran daripada Lo, Kal.”
Kalla masih belum paham niat juga maksud Natasha berbicara kepadanya. Kalla masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Gibran. Sebisa mungkin, Kalla tidak akan mengeluarkan kata putus. Karena lebih banyak kebahagiaan daripada kesengsaraan ketika bersama Gibran.
“Daripada Gibran semakin seenaknya sama, Lo. Lebih baik, Lo akhiri ini semua. Gue kasihan liat Lo diperlakukan seperti ini sama Gibran. Gue tahu, gue nggak suka sama hubungan kalian, tapi gue juga peduli sama Lo,” Natasha terus menambahkan kalimatnya di depan Kalla. Natasha berusaha agar Kalla sadar, jika Gibran sudah berubah dan selalu membuat Kalla tersakiti.
“Gibran juga jadi lebih emosional. Selalu ada aja masalah dengan sahabat Lo itu. Ini semua pasti semakin berat buat Lo kan, Kal?” Natasha masih saja melanjutkan kalimatnya. Dalam nadanya, seperti terdengar bentuk kepedulian yang nyata. Bukan hanya pura-pura ataupun kepalsuan. Kalla tidak menolak kalimat Natasha, hanya saja, Kalla juga tidak mau sembarangan menerima saran dari orang lain. Sebab, yang menjalani hubungan adalah Kalla dan Gibran. Orang lain tidak tahu menahu bagaimana hubungan mereka berjalan.
“Gue kenal Gibran lebih lama, dan gue yakin gue jauh lebih mengenal Gibran daripada Lo,” Natasha menambahkan kalimatnya sebelum meninggalkan Kalla sembari menepuk pundak Kalla. Natasha hanya berniat menguatkan Kalla, dan mungkin, Natasha juga ingin menyadarkan Kalla. Jika apa yang telah Natasha biacarakan itu benar, bukan hanya menebar kebencian.
Lamunan Kalla menemani Kalla melangkah melewati lorong di kampusnya. Kalla pergi dari ruang rapat Gibran dan anak-anak BEM lainnya. Kini, Kall memutuskan untuk masuk ke kelasnya. Walaupun sebenarnya, kelas Kalla masih lama dimulai. Namun, Kalla berpikir di kelas akan lebih membuat Kalla tenang.
Kursi di kelas masih kosong, hanya terisi oleh Kalla saja. Suasana pun menjadi sangat sunyi, hanya terdengar detikan jam juga suara napas Kalla yang sesekali menghembuskan dengan kencang. Kalla tidak ingin menuangkan air matanya di kampus. Cukup kamar saja yang menjadi saksi bagaimana perjalanan hidup Kalla. Entah dengan tangisan ataupun tawa, biar kamar saja yang menjadi teman hidup Kalla sesungguhnya.
Bekal makan yang Kalla siapkan, masih utuh di kotak makan. Kalla membawa kembali bekal makan itu karena Gibran tidak mau menerimanya. Sedih, sangat sedih dan kecewa. Harapan Kalla sungguh jauh dari sekedar kekecewaan ini. Sayangnya, Gibran menghempaskan Kalla dari langit harapan itu, lalu jatuhkan ke bumi. Tanpa Gibran menolongnya. Kalla membuka tutup kotak makan itu. Sedikit saja, sudah bisa terlihat ada apa di dalamnya. Semua masih utuh, tetapi, sudah berantakan. Lemparan Gibran berhasil membuat makanan itu terpecah belah. Tak ada kerapian lagi. Mungkin, jika dilihat sudah tidak ada yang menarik. Ini sangat membuat Kalla merasa bertambah sedih.
“Kalla!” Panggilan dari Meira membuat Kalla tersentak. Kalla yang tadinya sedang membuka kotak bekal makanan, segera menutupnya.
“Apa itu?” Meira seperti biasa, kepo dengan apapun yang Kalla lakukan. Meira merasa apapun yang sedang Kalla rasakan atau alami, Meira harus mengetahuinya.
“Eeee, bukan apa-apa, Mei. Cuma kotak makan aja, kok,” Kalla menjawab dengan penuh ketenangan. Meski sebenarnya sulit sekali tenang dalam kondisi Kalla yang sedang patah.
“Buat siapa, nih? Buat gue?” Meira dengan percaya diri merebut kotak makan itu dari tangan Kalla.
“Mei, jangan!” Kalla berdiri, mencoba merebut dari tangan Meira. Meira sudah mengangkat kotak makan itu, membawanya berputar-putar. Lalu, hampir saja terjatuh.
“Meira!” Kalla terlihat sedikit kesal karena kotak makan itu hampir jatuh dari tangan Meira.
“Yahhh, maaf maaf, Kal. Gue nggak sengaja,” Meira merasa bersalah. Meira pun akhirnya mengembalikan kotak itu kepada Kalla. Namun dengan satu syarat. Kalla harus mau bercerita, sebenarnya kotak makan itu Kalla tujukan untuk siapa.
“Sekarang waktunya Lo cerita ke gue, sebenernya, itu kotak makan buat siapa sih?” Meira masih saja kepo dengan Kalla. Meira tidak ingin terlewat sedikitpun hal tentang Kalla.
“Bu.. buat aku,” Kalla mencoba tidak lagi menanggapi Meira. Karena Kalla tahu, Kalla tidak akan bisa berbohong di depan sahabatnya.
“Lo kenapa? Lagi diet? Atau sakit? Kenapa bawa bekal segala ke kampus? Udah kayak siswa SD aja, deh!” Meira berpikir diluar nalar Kalla. Kalla tidak sampai kesitu pikirannya. Namun, ucapan Meira ini sedikit melegakan.
“Iya, lagi diet!” Kalla langsung menutup mulutnya, lalu menyibukkan diri dengan membuka buku.
Baru beberapa bulan berjalan, namun, Kalla sudah memiliki banyak alasan untuk meninggalkan. Padahal, Kalla ingin Gibran menjadi yang pertama juga yang terakhir untuk Kalla.
“Huhhhh,” ingin sekali Kalla mengeluh. Menceritakan kesedihan kepada angin yang bersahutan, atau menulis kisah di daun yang berguguran. Pun bisa jadi meluapkan tangisannya ke ombak di lautan. Mungkin itu lebih membuat Kalla merasa lega dan baik-baik saja.
Dua sahabat Kalla memang begitu memahaminya. Tetapi, rasanya Kalla tidak ingin menumpahkan segala kegelisahannya kepada mereka berdua. Ada kalanya Kalla ingin mengadu kepada yang lainnya. Sebab, Kalla tidak ingin membangun dinding kebencian, jika kesedihan Kalla bisa membuat perspektif yang berbeda kepada kedua sahabatnya.
Kantin di siang hari cukup membuat keramaian di kampus. Salah satu titik kumpul ketika waktu makan tiba. Entah ketika sarapan, makan siang, bahkan menjelang makan malam kantin masih saja setia menjadi tempat mahasiswa berbahagia menikmati berbagai makanan.
“Meira kemana, Kal?” Aksa datang menyusul Kalla yang sedang duduk sendirian disalah satu meja kantin. Aksa mencari cari keberadaan Meira. Namun, belum juga Aksa temukan.
“Hai, Sa! Eee, Meira kayaknya masih di kelas, deh,” Jawaban dari Kalla selalu terlihat jika Kalla berusaha menutupi sesuatu. Aksa pasti tahu itu.
“Kamu bawa bekal? Tumben?” Aksa heran karena Kalla membawa kotak makan ke kampus. Apalagi, Kalla membawanya hingga ke kantin.
“Iya. Lagi pengen aja masak buat bekal ke kampus,” senyum Kalla berhasil menghapus lukanya tadi pagi saat kotak makan itu ditolak Gibran.
“Mau dong!” Aksa merebut kotak makannya. Dengan cepat, tangan Aksa berhasil membuat tutup kotak makan itu.
“Kenapa berantakan?” Aksa menatap makanan yang ada di kotak bekal itu sejenak. Ada perasaan tidak enak mengganjal begitu saja. Entah mengapa, pikiran negatif tentang Gibran itu selalu muncul di kepala Aksa ketika ada hal aneh menimpa Kalla.
“Iya, tadi kayaknya aku salah posisi bawa,” penjelasan Kalla tidak diterima oleh Aksa. Aksa tahu, ada yang Kalla sembunyikan tentang kotak makan itu.
“Aku makan ya!” Aksa tidak ingin menambah kesedihan dihari Kalla. Sebisa mungkin, Aksa akan memberikan satu senyuman, meski hari itu Kalla sedang merasakan banyak kepedihan.
“Ja.. jangan, Sa!” Kalla sempat melarang, tetapi, ucapan Kalla masih kalah dengan sigapnya tangan Aksa. Aksa sudah melahap beberapa sendok makanan di kotak bekal Kalla. Aksa terlihat sangat menikmatnya.
Kalla terharu dengan sikap Aksa. Mengapa bukan Gibran diposisi Aksa sekarang? Kalla berharap dengan orang lain. Harapan itu ternyata justru dikabulkan oleh sahabatnya sendiri. Melihat Aksa makan dengan lahap, membuat hati Kalla terasa hangat. Seperti ada Yang sedang menenangkan Kalla. Kekhawatiran Kalla akan hari itu pun seolah punah begitu saja. Senyum Aksa, celotehan Aksa, hingga kadang kecerobohan Aksa di depannya sangat cukup merebut perhatian Kalla dari kesedihannya.
“Enak, nggak?” Kalla akhirnya bertanya perihal masakannya itu.
“Kalau nggak enak, nggak akan aku makan,” Aksa masih sibuk mengunyah dan menyendok nasi dari kotak bekal.
“Jadi kamu bohong sama aku?” Gibran datang, menarik tangan Kalla seperti biasa.
“Awwwww,” Kalla tak bisa memungkiri jika dirinya terkejut pun sakit. Tangannya terlalu erat digenggam Gibran, sampai hampir tak ada ruang bernapas untuk tangan Kalla.
“Apa apaan sih, Lo?” Aksa kesal, melepaskan sendok di tangannya, berdiri, lalu menantang Gibran dengan gagah.
“Gue nggak ada urusan sama Lo!” Gibran mendorong Aksa sampai jatuh kembali ke kursi.
“Lo di sini aja, gue ada urusan sama Kalla!” Gibran mengajak Kalla pergi dari kantin.
“Hey! Nggak bisa gitu! Gue harus tau gimana kondisi Kalla!” Aksa melarang Gibran, Gibran sama sekali tidak memperdulikannya. Gibran hanya melambaikan tangan sembari terus berjalan dengan menggandeng tangan Kalla.
“Kejar Kalla, sekarang!” Natasha ada di samping Aksa tiba-tiba. Natasha ingin Aksa merebut Kalla dari Gibran sekarang.
“Kenapa sih Lo selalu ikut campur urusan mereka?” Aksa kesal, namun, Natasha memang ada benarnya.
“Kalo mau ngomelin gue, nanti aja. Lo nggak usah buang waktu, mendingan lo kejar Kalla sebelum dia kenapa-napa!” Natasha terus menyuruh Aksa menghampiri Kalla. Seolah, Natasha tahu suatu hal tentang apa yang akan Gibran lakukan kepada Kalla.