Kampus masih ramai dengan tawa para mahasiswanya. Semua bersuka cita di sana. Tak ada sedih yang terlihat. Hanya celotehan juga tawa yang terdengar di setiap sudutnya. Hari semakin siang, terik semakin terasa. Namun, semangat mereka masih sama saja. Pertemanan lebih membuat mereka bersemangat. Karena, support terbaik di kampus adalah dari seorang teman. Seperti halnya Kalla, Aksa, dan Meira. Mereka selalu saling support. Bagiamana pun keadaannya. Aksa selalu ada untuk Kalla. Begitu juga untuk Meira. Aksa akan selalu ada untuk kedua sahabatnya itu. Meski, terkadang harapan lebih Aksa lambungkan kepada Kalla. Perasaan selain sahabat masih ada. Belum Aksa buang, apalagi lupakan. Aksa masih berharap semua ini bisa terjadi. Suatu saat nanti, sahabat tidak akan menghalangi mereka saling mencintai. Harapan Aksa, semoga Kalla bisa membuka hatinya, tak menutup seperti saat pertema mengetahuinya.
Aksa berlari kecil, menjelajahi setiap sudut kampus mencari keberadaan Gibran dan Kalla. Panik sudah terlihat di wajahnya. Aksa takut terjadi sesuatu dengan Kalla. Aksa tak sanggup melihat Kalla tersakiti, apalagi yang menyakiti Kalla adalah orang yang baru Kalla kenali. Aksa terus berjalan, sesekali Aksa bertanya dengan teman-teman kampusnya. Apakah mereka melihat Gibran dan Kalla? Kemana Gibran dan Kalla pergi? Aksa kesal karena kehilangan jejaknya.
“Ahhhh, apa Gibran sengaja menghilangkan jejak dari gue, ya? Supaya gue nggak ngikutin mereka?” Aksa sudah berpikir buruk tentang Gibran. Aksa berhenti sejenak, berpikir kemungkinan terbersar. Kemana perginya Kalla dan Gibran.
“Gue tahu, nih. Pasti mereka menuju ke parkiran mobil. Kemana lagi kalau bukan kesana,” Aksa berlari sekencang mungkin menuju parkiran mobil yang ada di kampus. Aksa tidak ingin ketinggalan sedikitpun. Sebab, Aksa terlalu khawatir dengan Kalla. Aksa tidak ingin terjadi sesuatu kepada Kalla.
Gibran menggandeng tangan Kalla dengan manis. Meski sikap dinginnya masih terbawa, setidaknya hari itu Gibran tidak membuat tangan Kalla kesakitan. Gibran berjalan bersampingan dengan Kalla. Bukan lagi menggeret Kalla, seolah seperti menculik seseorang.
“Kak, ini kita mau kemana sih?” Celetuk Kalla ketika sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Kalla terus bertanya hingga berhasil menerima jawaban yang diinginkan.
“Nanti kamu juga tahu,” Gibran sulit memberikan klue untuk Kalla. Gibran ingin, semua ini menjadi kejutan. Bahkan, Kalla tidak bisa menebak apa yang akan Gibran berikan kepada Kalla.
Gibran dan Kalla tidak menuju ke parkiran mobil. Gibran mengajak Kalla keluar kampus. Di sana ada sebuah taman kecil yang biasa dijadikan tempat berkumpul ketika mahasiswa sedang jenuh. Kalla tidak menyangka Gibran akan membawanya ke sana.
“Ada apa, kak?” tanya Kalla semakin penasaran.
“Kal, nanti kamu juga akan tahu apa yang terjadi,” jawaban Gibran sedikit bercampur dengan kesinisannya. Kalla pun tak memungkiri rasa takutnya. Kalla masih trauma dengan beberapa hari belakangan, sebab, Gibran selalu saja berusaha berbuat kasar dengannya. Kalla mencoba berpikir positif. Sayangnya, itu seperti membuat pikiran Kalla saling bertengkar di kepala.
Gibran ternyata masih memiliki simpati kepada Kalla. Gibran masih bisa merasakan rasa bersalah kepada Kalla. Beberapa hari, bahkan sudah beberapa bulan terakhir ini Gibran selalu berbuat seenaknya kepada Kalla. Gibran tidak pernah mau meluangkan waktu untuk Kalla. Jika sedang sibuk, Gibran selalu lupa memberi kabar. Hari ini, Gibran ingin mengganti semua itu dengan satu buah kejutan. Gibran berharap jika kejutannya kali ini, bisa membuat Kalla percaya lagi kepadanya. Semoga tidak ada k
ata putus yang akan Kalla lontarkan dalam waktu dekat ini. Gibran masih ingin menjalani hubungan bersama Kalla. Meski, keegoisan Gibran masih menguasai pikirannya.
Taman yang sempit, namun dengan pemandangan yang lumayan membuat mata terbuka. Angin sejuk menerpa Gibran dan Kalla. Sesekali suara burung, juga beberapa kupu-kupu terbang bebas di sana. Kalla senang sekali berada di taman. Meski hanya sebelah kampus saja, setidaknya ini sudah menjadi salah satu usaha Gibran yang harus Kalla hargai. Gibran telah menyiapkan makan siang romantis berdua di sana. Ada sebuah tikar yang sudah tergelar rapi di sana. Di tengahnya, sudah tersedia makanan juga minuman kesukaan Gibran dan Kalla. Tak ketinggalan, bunga mawar pun ikut bertengger di atas tikar. Senyum Kalla sangat lebar melihat apa yang telah Gibran siapkan.
“Ini semua buat kita berdua?” Kalla masih belum percaya jika itu dari Gibran untuk Kalla. Rasanya seperti sedang terbang ke langit bersama Gibran, saling bergandengan, meski Kalla tahu, pasti akan ada saatnya Kalla terjatuh dengan sengaja.
“Makasih, kak,” Kalla memeluk Gibran, matanya berkaca-kaca. Sulit rasanya menahan bahagia. Hal sederhana ini telah menjadi alasan Kalla bahagia hari ini.
“Sekarang kita makan, yuk!” setelah Gibran memeluk kekasihnya itu, Gibran mengajak Kalla untuk menikmati makanannya. Kalla tak kuasa menahan tangisnya. Bahagia Kalla memang dari hal kecil yang diberikan untuknya.
“Kal, kenapa nangis, sih?” Gibran mengelap air mata Kalla. Gibran tidak suka jika sedang berbahagia, Kalla justru fokus dengan air matanya.
“Iya, maaf, kak. Aku seneng banget,” ujar Kalla dengan suara sedikit gemetar.
Gibran menyiapkan makanan untuk Kalla. Ada nasi goreng seafood kesukaan Kalla di atas piring putih yang cantik di atas tikar itu. Kalla menanti nasi goreng itu di depannya.
“Makan, ya,” Gibran menyiapkan nasi goreng itu, lalu memberikan ke Kalla. Setelah itu, Gibran mengambil minum untuk Kalla. Jus jambu dalam kemasan, yang seringkali Kalla minum ketika dalam perjalanan.
Gibran melahap nasi goreng seafood yang ada di piring lain. Tatapan mereka berdua sama-sama ke depan. Melihat beberapa pohon yang berbunga, lalu, ada juga memang beberapa bunga yang tumbuh mekar di sana. Menambah suasana menjadi lebih romantis, pun lebih terasa indah. Sesekali Kalla melirik ke arah Gibran. Memastikan Gibran juga menikmati momen ini. Tidak ada keraguan lagi dalam hati Kalla, ketika Gibran sudah memberikan Kalla kejutan manis ini. Bagi Kalla, mungkin selama ini hanya Kalla yang kurang sabar menanti waktu temu. Terkadang juga sering memaksakan, agar mereka bisa menghabiskan waktu berdua.
“Kaoan kamu nyiapian ini semua, kak?” Kalla lagi-lagi penasaran atas kejutan yang Gibran berikan.
“Ini kan kejutan, kan. Nggak seru kalau aku ceritain ke kamu prosesnya,” Gibran tetap tidak ingin memberitahu bagaimana proses Gibran memberikan kejutan manis untuk Kalla.
Disisi lain, Aksa masih bingung mencari Kalla dan Gibran. Sudah berkeliling parkiran mobil, namun, tidak menemukan mereka di sana. Aksa masih belum menyerah. Tidak ada kata menyerah bagi Aksa ketika itu ada sangkut pautnya dengan Kalla. Bagi Aksa, tidak akan pulang sebelum Aksa tenang melihat Kalla baik-baik saja. Sudah lebih dari 30 menit Aksa mencari-cari sepasang kekasih itu. Sulit bagi Aksa membiarkan mereka berdua saja. Aksa belum bisa percaya kembali kepada Gibran. Gibran sendiri yang telah merusak kepercayaan Aksa kepadanya.
“Gibran bawa Kalla kemana sih?” Aksa panik sekali.
“Sa! Lo ngapain sih? Daritadi gue lihat Lo nggak ada tenang-tenangnya jadi cowok. Lo cari siapa?” Meira datang, menepuk pundak Aksa. Meira juga merasa tidak nyaman juga tidak tenang melihat Aksa sedang kebingungan.
“Gue lagi cari Kalla sama Gibran,” jawaban singkat itu sudah mewakili apa yang sedang terjadi. Meira telah menyimpulkan semuanya. Meira justru lebih panik dari Aksa. Sekarang, Aksa semakin kerepotan karena Meira ada di sisinya.
“Duhh Mei! Kenapa jadi Lo yang panik, sih? Gue nggak bisa fokus dong cari Kalla dan Gibran ya!” Aksa kesal karena Meira membuat keadaan menjadi lebih runyam.
“Iyaa sorry, gue khawatir sama keadaan Kalla. Jangan-jangan......,”
“Udah, mendingan sekarang cari mereka sampai ketemu! Lo mau ikut nggak?” Aksa menawarkan Meira mencari Kalla dan Gibran.
Aksa kini berdua dengan Meira. Berjalan menyusuri setiap sudut kampus. Sesekali bertanya kepada siapapun yang ada di sana. Siapa tahu, ada yang melihat kemana dia sejoli itu pergi. Sayangnya, tidak ada satupun anak kampus yang melihat Kalla dan Gibran pergi.
“Sa, gimana dong?” Meira semakin khawatir dengan Kalla. Meira takut, Gibran akan berbuat seenaknya. Kasar juga membentak Kalla jika mereka sedang bertengkar. Rasanya tidak rela, ketika sahabat sendiri terluka karena orang lain.
Aksa dan Kalla keluar kampus, berjalan menuju ke sebuah taman yang berada di dekat kampus mereka. Berharap, di sana Kalla dan Aksa akan menemukan Gibran juga Kalla.
“Coba kita ke sini, Mei!” Aksa menunjukkan jalan menuju ke taman di dekat kampus itu.
“Ini jalan mau kemana?” Meira tidak pernah tahu jalan itu, karena memang Meira juga tidak pernah merasakan nongkrong bersama teman-teman di sana. Meira terlalu anak rumahan. Jadi, sulit baginya menemukan tempat yang terpencil seperti itu.
Setelah hampir satu jam berlalu, Aksa dan Meira akhirnya melihat wajah Kalla dan Gibran. Ada kekecewaan di sana. Terutama dalam hati Aksa. Kalla sedang tersenyum lebar namun bukan Aksa yang menjadi alasannya. Kalla dan Gibran sedang menikmati waktu berdua. Tanpa ada orang lain di sana. Ketika sudah melihat Kalla dalam keadaan baik-baik saja, Aksa membalik badan lalu ingin segera kembali ke kampus. Meira pun melihatnya ada perasaan lega, namun, ada juga perasaan yang mengganjal. Apakah ini akan berlaku selamanya? Atau hanya hari ini saja?
“Ini orang berdua, nggak tahu apa yang nyariin sampai keringat dingin. Mereka malah asik asik makan berdua. Mana romantis pula,” Omelan Meira tak masuk ke telingan Aksa. Berjalan mendahului Meira untuk kembali ke kampus.
“Tadi khawatir banget, sekarang main tinggal gitu aja. Dasar cowok bucin!” Meira menyusul Aksa karena tidak ingin mengganggu sahabatnya yang sedang bahagia.