Aksa pulang ke rumah dengan wajahnya masam. Ada kekecewaan terdalam hari ini. Setelah berharap ada celah untuk memasuki ruang hati Kalla, hari ini waktu memupuskannya kembali. Aksa melihat Kalla dan Gibran kembali mesra. Saling mengatakan cinta, meski bukan lewat kata. Mereka saling menikmati waktu kebersamaan. Kalla tidak tahu, ada hati yang sakit melihatnya bahagia dengan orang lain. Aksa, ya, siapa lagi kalau bukan Aksa. Aksa masih saja menyimpan patah hatinya, meski sudah setengah tahun lebih mengetahui jika Kalla dan Gibran resmi menjadi sepasang kekasih. Hati Aksa masih utuh untuk Kalla. Tidak berkurang sebesar biji kacang pun. Aksa tetap mempertahankan perasaannya. Aksa percaya, suatu saat nanti, semesta akan mempersatukan Kalla dengan Aksa.
Mama Aksa melihat sang anak dengan tatapan yang muram. Seperti ada yang tidak menyenangkan dalam harinya.
“Hai sayang, udah pulang?” sapa Mama Aksa dengan senyum. Mama Aksa selalu menyapa anak dan suaminya dengan senyum. Walaupun terkadang berat melewati hari-harinya, namun, jika sudah bertemu dengan kedua lelakinya Mama Aksa akan melebarkan senyumnya. Agar lelakinya merasa baik-baik saja dan nyaman di rumah.
“Hai, ma,” Aksa mencium tangan Mamanya dan mencium pipi kanan juga kiri. Aksa menyimpan semua wajah masamnya. Aksa tak ingin melihat sang Mama sedih dan memikirkan apa yang terjadi dengan anak semata wayangnya. Aksa tidak mau itu semua mengganggu pikiran mamanya.
“Happy hari ini?” Mama Aksa mulai mengintrogasi anaknya. Sebab, Mamanya tahu, anaknya sedang tidak baik-baik saja. Aksa butuh kasih sayang dan perhatian mamanya lebih dari biasanya.
“Happy dong, ma!” Aksa menjawab dengan senyum palsunya. Semua Aksa sembunyikan, meski sebenarnya Mama Aksa tahu, itu semua palsu.
“Yakin?” keraguan mulai Mamanya ungkapan.
“Yakin, Ma. Mama nggak perlu khawatir dengan Aksa, ya. Aksa akan selalu baik-baik saja, selama ada Mama, Papa di samping Aksa,” Aksa melebarkan senyum di depan Mamanya.
“Bisa aja kamu. Kamu bersih-bersih, ya. Setelah itu kita makan malam bersama. Tunggu sebentar lagi pasti Papa pulang,” Ujar sang Mama dengan hati suara yang lembut dan menenangkan.
Rumah Aksa dipenuhi dengan kasih sayang. Cinta tersebar di setiap sudut rumah. Tawa ada dimana saja. Ruang makan, kamar, hingga ruang keluarga, pasti akan selalu ada suka dan tawa keluarga Aksa. Setiap hari Aksa merasakan hal yang sama. Tak akan pernah bosan dan lelah Aksa menikmatinya. Sebab, banyak orang yang iri dengan keadaan keluarganya. Aksa termasuk salah satu anak yang beruntung. Memiliki orang tua yang utuh, keluarga yang selalu support, begitu juga memberikan kasih sayang sangat besar. Hingga kini, Aksa tumbuh dengan cinta dan besar oleh kasih sayang.
Mungkin keberuntungan Aksa hanya kurang lengkap saja. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan sudah merasakan patah hati yang terlalu dalam. Sahabat sendiri yang membuat Aksa merasakannya. Hal itu yang membuat hidup Aksa menjadi kurang lengkap. Semua akan sempurna, jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Aksa juga telah memiliki sahabat setia seperti Meira. Ya, bisa juga Kalla dianggap seperti itu. Namun, Aksa ingin lebih dari sekedar sahabat. Di ruang hatinya, Kalla hanya akan menjadi ratu.
~
Pulang dari kampus, Kalla sendiri. Gibran pamit pergi karena harus segera datang ke tempat rapat. Kalla tidak ingin mengganggu waktu pening Gibran. Sebelum rapat, Gibran sudah memberikan waktu terindah untuknya. Jadi, Kalla tidak akan lagi mengganggu gugat kegiatan organisasinya. Kalla hanya ingin menjadi kekasih yang bisa mengerti dan memahami tentang kesibukan Gibran. Agar, hubungannya bisa berjalan dengan panjang, lancar, dan bertahan dari segala macam rintangan.
Ditemani dengan beberapa tas di tangan dan beberapa barang tentengan, Kalla masuk ke dalam rumah. Kalla melihat sudah ada Mama dan Papanya di ruang tengah. Sore masih belum selesai, malam juga belum datang. Tetapi, mama dan papanya sudah berada di rumah. Salah satu hal yang mengejutkan. Entah ada masalah apa lagi, yang jelas, Kalla hanya ingin menikmati sisa harinya pada hari itu tanpa ada air mata dan sejenisnya.
Papa dan Mama Kalla sudah bersitegang sejak tadi, hanya saja ketika Kalla pulang, pandangan mereka sejenak berpindah ke anak semata wayangnya itu. Tatapan kedua orang tuanya berbeda dari orang tua lainnya. Aneh. Tidak ada cinta di sana. Hanya ada kebencian yang mencoba disebarkan lewat tatapannya. Mama dan Papa Kalla masih bersama, meski sudah tak memiliki cinta. Mereka masih bersatu, karena tidak ingin pekerjaannya berpindah tangan hanya karena kabar miring tentang perceraian atau perpisahan. Kalla sudah tidak bisa lagi memberikan masukan, saran, bahkan sekedar membagi rasa cintanya. Kalla hanya sebagai pajangan di rumah. Sesekali di tengok, dilihat dari jauh, namun tak pernah dimengerti ataupun dipahami. Semua kebutuhan sekolah Kalla memang sudah dipenuhi. Mulai dari biaya kuliah, pakaian, keperluan praktik, hingga uang saku semua aman. Kalla tidak pernah merasa kekurangan akan hal itu. Kalla justru merasa kekurangan hal lain, seperti kasih sayang. Kalla hanya tumbuh dengan uang dan materi. Selebihnya, semua hanya bonus dari Tuhan. Terutama hati Kalla, bisa sekuat ini karena Tuhan telah memberikan kekuatan yang lebih untuk Kalla.
Senja sudah mulai terasa, keributan di rumah Kalla semakin ramai terdengar. Kalla tidak ingin tahu apa permasalahannya. Kalla ingin dirinya bahagia, meski bukan Mama dan Papa sebagai alasannya. Di luar, Papa dan Mamanya saling berebut sebagai juara. Bukan berdebat perihal bagiamana menjadi orang tua. Papa dan Mama Kalla hanya memikirkan bagaimana bisa lebih sukses dari pasangannya. Agar bisa mendapat gaji besar dan tidak diinjak harga dirinya.
“Uang yang aku berikan itu sudah lebih dari cukup! Kamu itu nggak pernah ada rasa terima kasih atau bersyukur sudah aku biayai dengan baik,” Sang Papa tidak terima jika Mamanya terus meminta tambahan uang untuk memenuhi segala kebutuhan yang sebenarnya tidak penting dalam kehidupan. Mama Kalla hanya ingin terus terlihat mampu, kaya, dan yang pasti tidak ingin terlihat jika keluarganya dalam kesulitan. Semua barang mewah ingin dibeli oleh mamanya. Papa Kalla tidak pernah menambah uang belanja, karena bagi Papa Kalla, kesenangannya lebih berharga.
Papa Kalla lebih suka menghabiskan uangnya untuk hobi pribadinya. Seperti membeli barang antik, atau pergi kesana kemari berkumpul dengan para sahabatnya. Uang papa selalu habis dengan hobinya. Begitu juga Mama, Mama selalu menghabiskan uang belanjanya untuk tas mewah, jam tangan mewah, sepatu, hingga mobil. Padahal, gaji Mama lebih besar daripada Papa. Namun, Mama masih belum merasa cukup.
“Makanya, mas. Jadi laki-laki itu jangan dibawah perempuan. Gaji kok lebih rendah dari aku. Memangnya untuk makan cukup?” Mama Kalla selalu memulai pertengkaran dengan kalimat itu. Mama dan Papa Kalla pulang ke rumah karena akan kompromi untuk wawancara dari kantor Mama Kalla. Namun, seperti biasa. Jika disatukan, pertengkaran sulit ditolak.
“Baru jadi manajer aja bangga! Itu juga atas bantuan aku! Kalau bukan karena aku, kamu nggak akan bisa seperti sekarang! Harusnya aku lebih kaya dari kamu, kalau uang aku nggak selalu kamu minta,” kekesalan sudah memuncak. Rumah dipenuhi oleh perdebatan yang tak penting.
Meski terlihat cuek dan seolah tidak peduli, Kalla ternyata mencoba mendengarkan pembicaraan Mama dan Papanya. Kalla menempelkan telinganya ke pintu kamar. Namun, sunyi yang Kalla dengar. Sudah tidak ada lagi keramaian seperti beberapa saat lalu.
“Tok tok!” Kalla tersentak. Hampir saja Kalla jatuh ke belakang karena terlalu kaget mendengar ketukan di pintu kamarnya.
“Kalla?” Mama Kalla sudah sampai di depan kamar Kalla. Pantas saja, di bawah sudah tidak ramai dan bising lagi. Pemerannya sudah berpindah lokasi.
“Ya, ma?” Kalla menjauh dari pintu kamarnya sejenak. Lalu, berpura-pura jalan mendekati pintu.
“Ada apa, Ma?” Kalla sudah siap menemui Mamanya. Meski penasaran sudah tak masuk akal karena Mamanya tiba-tiba saja datang ke kamarnya.
“Mama butuh bantuan kamu,” tidak ada basa basi yang terlontar dari Mamanya. Walaupun dengan kalimat sudah makan atau belum saja, Mama Kalla tidak mengucapkannya. Sungguh, Kalla seperti tinggal di sebuah kontrakan bersama pemilik yang suka bertengkar. Bahkan, pemilih kontrakan saja bisa jauh lebih peduli dengan penghuninya.
“Iya ada apa, Ma?” Kalla membalas to the point.
Kalla mengikuti sang Mama turun ke bawah setelah selesai berganti pakaian juga berdandan. Tidak ada komentar apapun tentang penampilan Kalla. Karena baju dan semua aksesoris sudah disiapkan oleh Mama Kalla.