BAB 81

1001 Kata
Hidup Kalla layaknya seperti drama di televisi. Semua diatur oleh Mama dan Papanya. Apapun yang terjadi, harus ditutupi. Agar semua tahu jika keluarga Kalla baik-baik saja. Tak ada masalah yang terjadi. Kalla hanya boleh menebar senyum. Dilarang membagikan kesedihannya selama berada di rumah. Karena hal itu akan membuat reputasi Mama dan Papanya turun. Kalla harus mengikuti semua permintaan Mama dan Papanya. Demi karier yang lebih baik, jabatan lebih tinggi, dan reputasi yang juga baik di perusahaan. Bahkan, Mama Kalla menjadi salah satu istri idaman di kantornya. Keluarga Kalla turut menjadi keluarga panutan. Semua itu terjadi karena telah diatur oleh Mamanya. Mama Kalla tidak ingin ada image yang buruk tersebar diluaran. Karena bagi Mama Kalla omongan dan penilaian orang saat ini adalah penting. Kalla turun bersama Mamanya ke ruang tengah. Papa Kalla sudah bersiap di sana. Setelan jas berwarna navy pun sudah rapi membungkus tubuh Papa Kalla yang sekarang terlihat lebih kurus dibanding beberapa tahun lalu. Ada rasa khawatir, karena Papa Kalla terlihat tak sebugar dulu. Terlihat usianya telah bertambah. Garis-garis kerut di wajahnya kini mulai terlihat. Pilu melihatnya. Namun, apa daya, Papa dan Mamanya hanya mementingkan pekerjaan dan pekerjaan saja. Anak mereka hanyalah urusan nomor sekian. “Kalla, hari ini Mama ada wawancara dari sebuah majalah. Mama minta kamu bicarakan apa yang sepantasnya dibicarakan di depan media. Oke?” permintaan Mama Kalla yang tidak bisa untuk Kalla tolak. Meski telah lelah dengan semua kepalsuan, namun, menolak permintaan Mama merupakan salah satu kesalahan terbesar. Akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, Kalla harus mengikuti apapun yang telah Mama Kalau ucapkan. “Ya, ma,” singkat dan jelas. Kalla berusaha mengerti dan memahami apa yang sedang Mama Kalla butuhkan. Demi kedamaian Kalla hari itu dan beberapa waktu kedepan. Jika Kalla berbuat kesalahan lagi, pasti akan ada perang dunia kesekian yang berpusat di rumahnya. “Kapan datang?” Papa Kalla terlihat gelisah menunggu kedatangan media. Sudah bosan melihat majalah yang ada di pangkuannya. “Sebentar lagi. Ini sudah dekat,” Mama Kalla pun terlihat gelisah dan gugup. Sore penuh drama. Senyum palsu dan tawa dusta. Memenuhi rumah mereka kala itu. Pakaian rapi, serta penampilan yang istimewa hanya untuk menjaga apa yang sebenarnya sudah tak utuh. “Pa, ini sudah datang,” Mama Kalla sangat antusias. Langsung menarik tangan Papa Kalla, lalu menggandengnya tanpa perasaan. Kalla dipaksa mengikuti di belakang Mama dan Papanya. Mama, Papa, dan Kalla menunggu di depan rumah. Improvisasi Mama kali ini luar biasa. Di depan para media, Mama merapikan dasi Papa. Merapikan jas, hingga memperhatikan sekali penampilan Papa Kalla. Terlihat Aneh bagi Kalla. Sebab, hal itu terkahir kali terjadi sekitar 10 tahun yang lalu. Bahkan lebih. “Selamat datang di rumah kami,” Sapa Papa Kalla sebagai kepala keluarga yang menyambut tamu penting dari kantor Istrinya. Papa Kalla sangat bersikap profesional. Karena, nantinya Papa Kalla juga sama, akan meminta bantuan Mamanya untuk memerankan drama. Hanya saja bedanya, nanti Papa yang akan menjadi sutradara. “Selamat datang. Bagaimana perjalanannya?” Mama Kalla terlihat sangat ramah. Senyumnya lebar, membuat tamu lebih nyaman. “Terima kasih sambutan hangatnya. Perjalanan kami baik-baik saja, tanpa ada kendala yang serius,” jawab salah satu crew majalah yang bertugas. “Mari, silakan masuk,” Mama Kalla mempersilakan masuk ke dalam rumah. Ada hal yang Kalla tidak sangka. Ternyata, ketika Kalla di kampus, Mama Kalla telah mengatur sedemikian rupa agar rumahnya terlihat rapi, bersih, dan nyaman. Sepertinya Mama Kalla mencari seseorang untuk membantu merapikan rumah melalui aplikasi online. “Pantas saja tadi aku masuk seperti ada yang berbeda,” ujar Kalla dalam hati. Semua crew yang datang telah duduk rapi di ruang tengah rumah Kalla. Obrolan demi obrolan telah menghiasi sore hari di rumah Kalla. Kalla hanya diam saja. Membeku di salah satu sudut kursi. “Mengapa aku harus ada, jika aku tidak dibutuhkan kehadirannya,” Kalla mengeluarkan curahan hatinya. Ya, meski itu dalam hati saja. Tak ada daya untuk mengeluarkan curahan hatinya langsung di depan Mama dan Papanya. Pasti akan mengundang perang kesekian. “Perkenalkan, ini suami saya. Papa dari anak saya, sekaligus kepala keluarga kami,” Dengan nada bangga Mama Kalla memperkenalkan suaminya di depan media. Papa Kalla tersenyum, mengambil tangan Mamanya agar terlihat lebih mesra dan romantis. Kalla tak tertarik dengan permainan drama itu. Diam adalah senjata Kalla saat itu. Wawancara berjalan begitu lancar. Obrolan demi obrolan telah terlewati begitu saja. Tidak ada yang terlihat aneh dan mencurigakan. Meski sebenarnya ini semua adalah kepalsuan. Namun, staf media yang datang terlihat begitu percaya kepada Mama dan Papa Kalla. Kalla tidak bisa berbuat apapun. Kalla hanya mengikuti alurnya saja. Jika Kalla diberikan sebuah pertanyaan, Kalla akan menjawab dengan penuh kebohongan. Karena memang kenyataannya di rumah hanya ada kebohongan. Tidak ada cinta dan kasih sayang. Akhirnya, setelah kurang lebih 1 jam berlalu, drama itu pun berakhir. Tamu yang telah ditunggu Mama Kalla telah meninggalkan rumah. Mama Kalla terlihat sangat lega. Sepertinya, Mama Kalla juga lelah menjalani kebohongan ini. Namun, demi karier yang terjaga dan reputasi yang baik, Mama Kalla rela melakukannya. “Sudah kan, Ma? Kalla balik ke kamar dulu, ya,” Kalla ingin merebahkan bebannya di atas tempat tidur. Meninggalkan semua drama yang telah diperankannya dengan baik. “Iya, Kal,” Mama Kalla mengangkat tangannya agar Kalla menerima kode jika semuanya telah berakhir. Sungguh malam yang melelahkan. Menjadi seorang aktris dadakan. Tak membaca skenario sama sekali. Pun sutradaranya tidak terima masukan apapun. Ya, begitulah kehidupan di rumah Kalla. Harus bisa menjadi orang lain. Apa yang terjadi di dalam rumah, tidak boleh sampai ke luar rumah. Semua harus tersimpan rapat. Karena itu semua akan mengancam karier Mama atupun Papa Kalla. Sampai di kamar, Kalla mengunci pintunya. Memutar lagu kesukaan dan sedikit menaikkan volume suaranya. Dengan begitu, Kalla akan lebih tenang untuk berisitirahat di kamar. Kalla juga tidak akan mendengar apa yang sedang terjadi di luar. Sementara itu, Mama dan Papa Kalla masih di ruang tengah itu. Mama Kalla fokus dengan ponselnya. Sementara Papa Kalla sedang asik bersama majalah di pangkuannya. Tak ada obrolan yang menemani kedua orang tua Kalla itu. Kata terima kasih pun tak terucap dari Mama Kalla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN