BAB 82

1185 Kata
Semester ini, Kalla akan menjalani fashion show kembali. Kalla harus mempersiapkan tema dan konsep yang matang agar hasilnya lebih baik dari semester sebelumnya. Namun, Kalla masih belum menemukan tema juga konsep yang pas. Hari ini, kelas Kalla hanya sampai siang hari. Kalla berniat mengajak Gibran pergi ke toko kain. Mencari setiap kebutuhan Kalla untuk praktik nanti. Kalla mencoba menghubungi Gibran lewat telepon, Gibran tidak menjawab. Pesan yang Kalla kirim pun tak Gibran balas. Kalla berjalan menyusuri kampus, mencari ruang mana yang sedang Gibran kunjungi. Rapat kali ini tidak di ruang biasanya. Ruang rapat BEM terlihat sepi dan kosong. Anak-anak BEM tidak berada di sana. Jalan sendirian, menoleh ke kanan dan kiri. Mencari keberadaan sang kekasih hati. Kalla ingin Gibran yang menemaninya berbelanja. Sebab, Kalla rasa Gibran sudah kembali menjadi pribadi yang hangat dan penuh kejutan seperti sebelumnya. Kalla juga tidak ingin ada kesalahpahaman lagi antara Gibran dan Aksa seperti beberapa bulan lalu. Pertengkaran di tempat umum yang akan sangat Kalla hindari. “Dimana ya anak-anak BEM kumpul? Katanya hari ini mereka sedang kumpul?” Kalla tidak menemukan dimana keberadaan Gibran. Sudah 15 menit berkeliling kampusnya, tetapi, keberadaan Gibran masih menjadi misteri. Kalla memutuskan untuk pergi ke kelas Gibran. Siapa tahu, Gibran ternyata sudah berada di kelasnya sejak beberapa saat lalu. Kalla langsung berjalan menuju ke kelas Gibra. Di sana pun terlihat kosong. Ternyata, jadwal Gibran hari ini hanya sore hari saja. Beberapa senior menggoda Kalla ketika mencari Gibran. Kalla diam, tidak berani membuka suaranya. Takut dan gugup menguasai perasaannya saat itu. “Permisi, Kak,” Kalla memberi sapaan, meski wajahnya masih terus menunduk. Kalla meninggalkan kelas itu dengan cepat. Langkahnya seperti berlomba dengan waktu. “Bruk!” Kalla tidak sengaja menabrak seseorang di depannya. Kalla tidak ingin melihat siapa orangnya. Kalla takut jika itu adalah salah satu senior di kampusnya. Pasti Kalla akan menjadi pusat perhatian, juga menjadi bulan-bulanan di sana. Kalla diam, berhenti sejenak dari langkahnya yang hampir secepat kilat. “Kamu ngapain di sini?” suara itu Kalla kenali. Seperti tidak asing lagi di telinga Kalla. “Suara itu, sepertinya aku kenal,” ujar Kalla dari dalam hati saja. Mulutnya masih terbungkam. Tak berani bersuara sedikitpun. “Kamh ngapain nunduk kayak gitu?” suara itu kembali memberi Kalau pertanyaan. Kalla berpikir, terus mengingat suara siapa itu sebenarnya. Mengapa saat itu Kalla sulit sekali mengingat milik siapa suara itu? “Kalla?” setelah suara itu menaikkan nadanya, Kalla baru berani menolah dan mengangkat wajahnya. Suara kekasihnya sendiri bisa terlupakan. Terlalu gugup dan malu di sekitar senior, membuat Kalla lupa. Kalla akhirnya berani mengangkat wajahnya, ketika Gibran meninggikan suaranya. “Kak Gibran,” suara Kalla terdengar penuh dengan kelegaan. Semua kegugupannya kali ini sudah terhapus, begitu Gibran ada dihadapannya dan meneriaki namanya. “Kamu ngapain di sini sih, Kal? Kamu mau digodain sama senior-senior kamu? Kamu cari perhatian ke mereka?” Gibran kembali dengan suara dinginnya. Sikap Gibran hari ini tak terbuka kepada Kalla. Kalla takut, bibirnya sudah cemberut. Menatap Gibran dengan wajah memelas. “Aku ke sini cari Kak Gibran,” wajah melas Kalla masih terlihat ketika Kalla menjawab pertanyaan dari Gibran. Gibran menarik tangan Kalla, lalu seperti biasa menggeret Kalla menjauh dari senior-senior yang tadi sudah menggoda Kalla. “Awwww, Kak sakit!” kali ini Kalla berani berontak dengan Gibran. Kalla tidak mau tangannya kenapa-kenapa lagi. “Kak Gibran stop!” Kalla menarik Gibran sekuat tenaga, mengehentikan Gibran supaya tidak terus berjalan menarik badannya. “Jangan di tempat umum, malu, Kal!” Gibran menahan emosinya, suara Gibran pun tertahan. Tak ada teriakan, namun bisikan suara Gibran sudah menandakan jika Gibran marah kepada Kalla. “Aku mau pulang,” keinginan Kalla hari itu Kalla musnahkan begitu saja. Lebih baik Kalla pergi sendiri. Kalla melepaskan tangan Gibran yang mencengkeram erat. Tatapan matanya mengucapkan kekecewaan Kalla kepada Gibran siang itu. Semuanya sudah tersalurkan lewat tatapan mata Kalla. Begitu Gibran lengah, Kalla berlari kecil, meninggalkan Gibran sendirian. Gibran sempat beberapa kali memanggil Kalla, namun, Kalla sama sekali tidak menoleh. Gibran tidak mau mengejar Kalla, karena hal itu pasti akan membuat seisi kampus geger. Sampai di depan kampus, ada yang memanggil Kalla kembali. Kali ini suaranya berbeda dari sebelumnya. Kalla tetap tidak mau menoleh, masih ada kemarahan yang tak bisa Kalla ungkapkan ketika Gibran dengan kasar menarik tangan Kalla dan menggeretnya berjalan. “Kalla! Tunggu!” kembali ada panggilan untuk Kalla. Suara langkah kaki yang berlari menyusul panggilan tersebut. Kalla masih enggan menoleh. Kakinya terus berjalan, sampai hampir tiba diujung gerbang kampusnya. “Kal!” Tangan Kalla telah diraih oleh Aksa. Aksa menahan Kalla agar tidak terus berjalan sendirian. “Kamu kenapa sih, aku panggil dari tadi nggak mau noleh? Pasti dilarang sama cowok kamu itu, kan?” Aksa sudah mulai membicarakan Gibran. “Ihhh, engga kok. Aku kira ada yang iseng aja,” jawaban Kalla tidak masuk akal. Kalla hanya tidak ingin menceritakan kepada Aksa apa yang terjadi sebelumnya. “Terus kenapa? Suara aku hampir habis, Cuma manggil kamu tapi nggak ada tanggapan,” Aksa mengeluh. “Lebay deh kamu,” Kalla sudah mulai mencair. Suasana tidak semenyebalkan sebelumnya. Kalla mulai bisa bercanda dengan Aksa di sana. “Mana Meira?” Kalla bertanya dengan Aksa. Karena sejak tadi Kalla keluar dari kelas, Kalla tidak berjumpa lagi dengan Meira. “Kan yang satu ruangan sama Meira kamu, kenapa tanya ke aku?” Kalla tak bisa menjawab apapun, karena memang kesalahan terletak padanya. “Woyyy!” suara Meira terdengar tiba-tiba. Meira berlari ke arah Aksa dan Kalla. “Ngumpul nggak ngajak-ngajak, deh. Heran gue!” Meira salah paham kecil. Obrolan Kalla, Meira, dan Aksa berlanjut hingga ke sebuah cafe. Aksa mengajak kedua sahabatnya itu pergi ke cafe. Sekedar untuk ngobrol, atau saling berbagi cerita tentang hari ini saja. Aksa sudah lama tidak merasakan vibes seperti itu. Jadi, tidak ada salahnya ketika Aksa menculik sahabatnya itu ke cafe langganannya. Suasana siang itu cukup terik. Membuat Aksa, Kalla, dan Meira memesan minuman dingin. Rasanya tenggorokan mereka ingin asupan yang segar. Supaya terik matahari tak terlalu berasa. Mereka memulai candaan juga obrolannya. Tawa ikut hadir di meja pilihannya. Meira si selalu penghidup suasana, berhasil membuat Kalla dan Aksa tidak canggung. Bahkan tertawa mereka berdua sangat lepas. Karena terlalu banyak tertawa dan juga asupan minum, Meira izin ke toilet sejenak. Kini, hanya ada Aksa dan Kalla saja di meja itu. Tak lama, Gea adik Gibran datang ke cafe yang sama dengan Kalla. Gea lagi-lagi melihat Kalla yang sedang berduaan dengan Aksa. Gea sudah mulai kesal. Gea tidak habis pikir, kenapa Gibran bisa menyukai gadis seperti Kalla. Di belakang Gibran, Gea selalu melihat Kalla berjalan dengan orang lain. Lebih tepatnya Aksa. Dari kejauhan, Gea melihat Aksa dan Kalla begitu akrab. Obrolan mereka terlihat sangat seru. “Gue harus samperin mereka berdua. Kali ini gue harus labrak sendiri. Enak aja, kakak gue diselingkuhin gitu aja!” Gea salah paham minat Kalla dan Aksa yang sedang asik duduk berdua di satu meja. Padahal, Gea tidak tahu, sebenarnya memang ada Meira di sana. “Hei!” Gea menggebrak meja tempat Kalla dan Aksa duduk. Beberapa tamu cafe itu pandangannya tertuju ke meja Kalla. Kalla dan Aksa tak kalah terkejutnya dengan gebrakan meja Gea. Gea sudah dipuncak emosinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN