BAB 83

1145 Kata
Tatapan dari sorot mata Gea penuh dengan kekecewaan dan juga kemarahan. Memang, dari awal Gea tidak terlalu menyukai Kalla. Bagi Gea, Kalla telah merebut kakak semata wayangnya. Dulu, sebelum mengenal Kalla, Gea adalah prioritas Gibran. Namun, setelah Kalla hadir di kehidupan Gibran, Gibran lebih mementingkan Kalla daripada Gea. Hal ini membuat Gea sangat cembur. Juga pastinya sangat kehilangan perhatian dari Gibran. Waktu Gibran bersama Gea menjadi berkurang. Apalagi, Gibran juga sibuk dengan kegiatan organisasi di kampusnya. Gea semakin merasa sendirian. Ketika melihat Kalla tertawa bersama cowok lain, Gea merasa tidak terima. Gibran sudah direbut oleh Kalla. Tetapi, Kalla malah seenaknya membuang Gibran begitu saja. Begitulah yang ada di dalam pikiran Gea. Gea tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Kalla. Apa yang Kalla ucapkan tidak akan Gea percaya. Kalla dan Aksa terkejut mendengar gebrakan meja Gea. Gea menatap Kalla dengan penuh kebencian. Gea seperti ingin memaki Kalla di sana. Namun, seperti biasa Aksa selalu menjadi garda terdepan untuk Kalla. “Hey, apaan sih? Nggak sopan tau gebrak meja sembarangan!” Aksa kesal dengan Gea yang selalu membuat Kalla dalam masalah. “Yang harusnya marah itu gue, bukan kalian!” Gea semakin dipuncak emosinya. Apalagi setelah mendengar ucapan Aksa. Gea sudah tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Yang Gea ingin hanya melabrak Kalla dan mempermalukan Kalla di cafe itu. “Gea, tenang dulu, ya. Bisa kita bicarakan baik-baik. Ada apa sebenernya?” Kalla mencoba meredam emosi Gea. Kalla berdiri, mengelus lengan Gea dengan lembut. “Nggak udah pegang tangan gue!” Gea mendorong Kalla sampai jatuh duduk di kursinya kembali. Gea sangat marah dengan Kalla. Ini waktunya melampiaskan semua kecemburuannya selama ini. “Eh, jangan kasar dong!” Aksa terus membela Kalla. Aksa tidak ingin siapapun mencelakai Kalla. Apalagi orang itu ada di hadapannya. “Lo nggak usah ikut campur! Ini urusan gue sama Kalla!” Gea menunjuk Aksa. Gea tidak suka Aksa selalu ikut campur dengan Gea dan Kalla. Gea merasa risih dan terganggu dengan sikap Aksa. Saat itu rasanya Gea ingin menghilangkan Aksa, agar bisa sepuasnya melabrak Kalla. “Ge, ada apa, sih?” Kalla kembali bertanya dengan lembut. Menginginkan sebuah kejelasan dari emosi Gea yang berapi-api. Kalla tetap tenang, meskipun sebenarnya ada kepanikan yang Kalla simpan sendiri. Kalla tidak ingin membuat Aksa khawatir dan terus membelanya di depan Gea. “Ada apa Lo bilang? Lo masih tanya kenapa gue labrak Lo di sini sekarang? Heran gue sama cewek sok polos kayak Lo!” Gea meninggikan suaranya. Para tamu di cafe melihat kejadian tersebut. Hampir semua penghuni cafe menyaksikan betapa emosinya Gea ketika menghampiri Kalla bersama dengan Aksa. Gea terus mengeluarkan unek-uneknya. Dengan nada yang cukup tinggi dan mungkin jika orang lain bisa protes, mereka akan protes karena terganggu dengan suara Gea. Namun, Gea sama sekali tidak peduli akan itu semua. Bagi Gea, paling penting sekarang adalah meluapkan segala kebenciannya kepada Kalla. Meira tak kunjung datang ke mejanya. Meira terlalu lama di toilet, sehingga membuat Gea semakin salah paham dengan Kalla dan Aksa. Gea mengira Kalla dan Aksa memang sengaja datang ke cafe itu berdua. Sebelum melabrak Kalla dan Aksa, Gea sudah memotret bagaimana serunya obrolan Aksa dan Kalla. Mereka tertawa lepas. Foto itu akan Gea tunjukkan kepada Kakaknya, Gibran. Gibran pasti akan kecewa dan marah kepada Kalla karena sudah bertemu dengan Aksa. Apalagi foto itu hanya terlihat Aksa dan Kalla, tanpa Meira. Pasti akan mengundang kemarahan dari Gibran. “Gue akan bikin kak Gibran mutusin lo! Bisa-bisanya ya, Lo selingkuhi kakak gue! Salah apa Kak Gibran, kal?” Salah paham Gea mulai terdengar oleh Kalla. Kalla menggelengkan kepalanya, lalu, mencoba berdiri lagi dan mengajak Gea keluar dari cafe. Kalla tidak ingin membuat keributan di dalam cafe tersebut. “Gea, kita selesaikan di luar saja, yuk! Di sini nggak enak jadi pusat perhatian banyak orang. Nggak enak juga dengan pengunjung lain kalau ada keributan di sini,” Kalla tetap dengan ketenangan dan kelembutannya. Kalla melarang Aksa untuk ikut campur. Kalla meminta Aksa untuk diam sejenak. Kalla akan menyelesaikan masalah ini sendiri, tanpa bantuan Aksa. Kalla tidak ingin Gea semakin marah dan salah paham, karena Aksa terus membela Kalla di depan Gea. “Nggak perlu. Biar semua orang tahu, kalau Lo itu selingkuh sama dia! Biar semua seiisi cafe ini tahu kalau Lo bukan cewek polos seperti yang mereka tahu! Biar semua tahu kejelekan Lo!” Gea menolak untuk keluar. Gea justru sengaja melabrak Kalla di dalam cafe itu, supaya semua orang di dalam cafe tahu jika Kalla berselingkuh dengan Aksa. Meski tidak sesuai dengan realita, Gea tetap tidak mau mendengar apapun penjelasan dari Kalla maupun Aksa. “Denger, ya! Gue sama Kalla nggak selingkuh. Kita udah kenal jauh lebih lama. Gibran dan Kalla baru aja kenal, gue jauh mengenal Kalla lebih dulu. Kita sahabat! Lagian kita nggak datang Cuma berdua doang, kok! Jadi perempuan jangan suka menebar fitnah dan kebencian!” Aksa kesal karena terus dituduh sebagai selingkuhan Kalla. Aksa mengeluarkan semua unek-uneknya kepada Gea. “Halah, nggak usah banyak alasan ya kalian berdua. Udah jelas di sini daritadi hanya bedua. Sekarang masih tetap mau alasan? Lo juga, kenapa sih mau aja jadi selingkuhan Kalla? Emang Kalla itu sebaik apa sih sama Lo?” Gea terus melanjutkan kalimatnya.” Aksa menarik Gea keluar dari cafe. Aksa sudah tidak nyaman dengan kalimat yang Gea utarakan di depan umum. Ini semua sudah keterlaluan. Gea sudah memfitnah Kalla dan Aksa. Semua orang juga memperhatikan meja mereka. Sebelum kena teguran, Aksa mengeluarkan Gea dari cafe. Kalla mengejar Aksa yang menarik Gea keluar dari cafe. Kalla pasti akan menjadi yang disudutkan kembali, karena Aksa terus membela Kalla. Gea semakin emosi dan marah ketika Aksa menariknya keluar dari cafe. “Beraninya Lo narik tangan gue dengan kasar? Cowok kasar sama cewek itu sama aja kayak pengecut!” Gea berteriak melepas tangan Aksa dari pergelangan tangannya. Gea membentak Aksa di depan wajah Aksa. “Gue nggak akan ikut campur kalo Lo nggak bawa-bawa gue. Gue juga nggak akan ikut campur kalo Lo nggak kasar sama Kalla! Sampe sini paham, kan?” Aksa merendahkan nada suaranya. Aksa merasa bersalah karena telah menarik Gea dengan kasar. Bukan niat Aksa untuk bersikap kasar seperti itu. Tetapi, demi kenyamanan semua Aksa terpaksa melakukannya. “Gue minta maaf udah kasar. Tapi, gue nggak maksud seperti itu. Kalau Lo nggak keterlaluan di dalam tadi, gue nggak akan kasar sama Lo!” Aksa minta maaf kepada Gea. Gea tidak menyangka Aksa akan berucap lembut kepadanya. Kalla memperhatikan Aksa dan Gea dari jauh. Langkah Kalla terhenti ketika Kalla melihat Gea sudah lebih tenang dibanding waktu di dalam cafe. Kalla merasa sedikit lebih lega. Gea seketika langsung gugup dan merasa kikuk. Lalu, Gea memilih untuk pergi dari hadapan Aksa. “Gea tunggu!” Kalla memanggil Gea, karena merasa salah paham diantara mereka belum selesai. Kalla ingin menjelaskan jika Kalla dan Aksa tidak ada hubungan apapun selain pertemanan. Sayangnya, Gea tidak mau menoleh. Gea terus berjalan, mengabaikan suara Kalla yang berteriak menyebut namanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN