Damian terdiam menatap kedua mata Dasha yang basah dan mengalihkan pandangan darinya. Perempuan itu menarik selimut sampai batas lehernya, air matanya kembali mengalir. "Maaf, Damian. Tapi, entah kenapa aku teringat Laura, aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, apa ia hidup dengan tenang atau tidak," ujar Dasha serak, matanya menatap ke langit-langit kamar. "Kau tahu, dia ... adalah satu-satunya keluarga yang ku punya, jadi ...." Damian bangkit berdiri, mata Dasha mengikutinya dan tiba-tiba Damian menunduk lalu memeluk dirinya. Hal itu malah membuat Dasha semakin menangis, perasaannya sedang sangat tinggi sekarang. "Dan kau punya aku sekarang," ujar Damian lembut sembari mengecup puncak kepala Dasha tak kalah lembutnya. Sebelah tangan Dasha dengan perlahan bersandar pada pungg

