Kutatap wajah Mas Roni. Dia datang lagi dan kami duduk di salah satu kursi dalam kafe. Tetap ganteng seperti dulu, hanya saja sekarang terlihat makin kurus. Mas Roni terus meyakinkan agar tidak bercerai, tapi dengan catatan tidak mau melepas bocah itu. Aku juga tetap tidak akan setuju selagi Hania ada dalam kehidupannya. "Kalo begitu, aku akan laporkan kasus pembunuhan ini dan menuntut kalian," ancam Mas Roni. "Jadi Mas mengancam aku?" tanyaku. Aku tidak menyangka dia berkata seperti itu. Mas Roni menarik rambutnya ke belakang sambil mendengkus. "Seira, kenapa kau keras kepala. Aku tidak mau bercerai." "Apa susahnya melepas anak itu. Apa karena aku belum bisa memberi Mas seorang anak?" Mas Roni diam. Aku menatapnya tapi dia membuang muka. Mungkin dia tidak bisa menjawab pertanyaanku.

