Aku berjalan ke sana ke mari di depan ruang operasi Mister X sambil terus berdoa. Sudah sejak tadi berlangsung tapi belum ada satu pun dokter yang keluar. Jangan tanya bagaimana cemasnya aku. Pintu terbuka. Seorang dokter keluar. Aku langsung menanyakan keadaanya. Akhirnya lega juga, operasi berjalan lancar. Peluru sudah dikeluarkan. Mister X dipindahkan ke ruang pasien. Dia belum siuman. Aku duduk di samping ranjangnya. Menatap pria itu dengan perasaan yang benar-benar takut. Ketika mendengar suara tembakan di Pulau Monarc kemarin, kupikir aku tak akan melihat dia selamanya. Rasa ngantuk mulai menyerang. Aku menyandarkan kepala di tepi ranjang, dan selanjutnya tidak tahu apa-apa lagi. Seseorang mengelus rambutku. Rasanya nyaman sekali. Malah terasa cubitan di pipi. Aku membuka mata. T

