Takut Salah
Jika disampai
Hati jauh untuk menggenggam
Sudah disampai
Cacat hati menarik-narik
Jalan terjal takut diberi
Dosa jua diri sendiri
***
''Jika aku berbagi tentang apa yang tidak aku miliki, bagaimana mungkin kamu bisa memilikinya dari apa yang aku beri?''
***
Jiwa Gadis berjilbab merah hati itu sedang dilanda kobaran api semangat untuk menjamah imajinasi dari aksara-aksara sebuah novel. Maka, ia sudahi menyantap soal-soal ekonomi yang sulit ditelannya. Ia sisipkan buku tulisnya di antara lembaran-lembaran buku cetak. Lalu melirik ke arah sebuah novel berlabelkan nama Aksa Buana sambil tersenyum. Beberapa adegan di novel tersebut sudah singgah di mata dan otaknya sebelum azan maghrib. Sekarang, sudah pukul setengah 9 malam, maka akan ia temui lagi para tokohnya.
Kamarnya cukup besar untuk ditempati sebuah kasur bermerk, lemari berbahan kayu terbaik berdiri di sudut ruangan, dan sebuah meja belajar yang justru menjadi tempat terdamparnya buku-buku secara sembarangan. Gadis itu membiarkan dirinya belajar di atas kasur. Menyandarkan punggungnya di dinding. Sedangkan indera pendengaran masih dibaitkan puisi terindah dari Allah dengan bahasa yang tiada duanya. Ayat-ayat suci itu dibacakan dengan merdu oleh seorang qori. Keluar dari mulut pengeras suara ponsel.
''Jihan! Anter Umi ya, Nak?'' Pintu kamar Jihan dibuka. Memang, Jihan tidak mengunci kamarnya. Kunci kamar hanya tergantung tak sampai diputarkan agar pintu terkunci rapat. Jihan menoleh kepada sang ibu seraya mengecilkan volume murrotal.
''Ke mana, Mi?''
''Ke warung di desa sebelah. Mau beli sayur buat besok. Umi lupa kalau di kulkas sayurannya udah habis.'' Segaris senyum mendarat di bibir Alis, sang ibu. Ia menjatuhkan tubuhnya pelan di tepian kasur. Jihan mengangguk dengan sekilat. Mematikan audio ponsel dan bergegas bangkit dari kasur.
Kemudian kini perjalanan yang tak seberapa jauh itu Jihan tempuh bersama umi. Malam cukup menggigil memeluk tubuhnya yang sekadar dibalut kaos lengan panjang, kerudung, rok, dan kaus kaki. Bekas hujan sore tadi suhu udaranya cukup bertahan lama.
Tiba di tempat tujuan, Jihan memilih untuk menunggu saja di bangku panjang warung besar itu. Rak-rak tingginya tampak dari luar dengan segala macam barang dagangan. Seusainya, Umi langsung mengajak pulang. Sekantong plastik belanjaan cukup untuk mewakili asupan makan tiga insan di rumahnya. Ya, hanya Alis, Burhan sang suami, dan Jihan si buah hati. Anak tunggal dari pasangan suami istri yang sukses dalam berwirausaha alat-alat bangunan dan konter HP dalam skala besar.
''Ini, uang jajan untuk besok.'' Baru saja Jihan membuka pintu rumah, umi sudah menyerahkan uang senilai 200 ribu kepadanya. Jihan tersenyum semringah menerima. Esoknya sudah ada niatan dalam hati apa yang akan ia lakukan. Sementara detik berikutnya, isi kepala gadis berwajah tegas itu seolah menerima peringatan dari ingatannya yang sempat terkubur.
''Oh iya, Jihan mau baca novel!''
Ia membawa langkah kaki masuk rumah, meninggalkan umi di luar seorang diri sambil menggeleng-geleng kepalanya. Umi hendak masuk, tetapi sebuah pancaran lampu mobil menempa dinding rumah. Suara klaksonnya dibunyikan tiga kali. Umi mengurungkan diri untuk masuk. Memilih menyambut sang suami pulang dari toko konter HP di sebuah pusat perbelanjaan.
Maka, di sanalah Jihan kini. Di dalam dapur menyobek sudut bungkus cokelat bubuk lantas dicurahkannya ke dalam gelas bermotif upin ipin bernamakan namanya. Lantas, uapnya pun mengepul-ngepul ke udara usai segelas air panas dari termos mencairkan bubuk cokelat tadi. Hal ini adalah ritual yang harus ada menjadi pendamping imajinasinya yang siap berkelana karena membaca novel. Di ruang tengah, ia melihat abi sedang menyandarkan punggungnya di sofa. Memegang sebuah tablet.
''Eh, Abi udah pulang?''
''Iya, Sayang. Kamu belum tidur? Ini udah malam, loh.'' Tangannya terjulur untuk dikecup Jihan. Setelah sebelumnya sempat ia angkat jua pecil bulat yang bertahta di kepala.
''Mau baca novel dulu, Bi.'' Jihan meringis.
''Jangan begadang, nanti gak bangun buat qiyamul lail lagi.''
''Siap, Abi. Eh Insya Allah ding.'' Setelahnya kelima jemari tangan kanan gadis itu dibekapkan ke mulut.
Jihan melangkah cepat ke kamar tanpa sempat mendengar perkataan abi, katanya, ''Ada-ada aja. Bisa segila itu sama novel.'' Abi hanya bisa tersenyum keheranan.
Mulai berjalanlah ruang imajinasi di kepala Jihan. Posisinya sekarang memang duduk di meja belajar, sedangkan di dimensi yang lain ia sedang merasa berajalan di sebuah taman kota. Huruf-hurufnya laksana hidup membentuk segala bangunan, benda, dan bentuk wajah di dalam imajinasi. Sesekali bibirnya tersenyum mengembang saat menemui adegan, quote, dan pesan-pesan yang manis. Jihan meraih pulpen dan buku kecil di samping gelas cokelatnya. Menyimpan quote yang ia temui.
''Ada beberapa hal sederhana yang tidak bisa diluputkan untuk tak berdoa beberapa di antaranya ialah ketika antara adzan dan iqamah, saat hujan, doa orang yang terdzalimi, doa orang yang sedang berpuasa, dan qiyamul lail. Kamu tahu? Di sana pasukan anganmu sedang dituntun hingga langit untuk Allah terima dan Allah kembalikan kepada hamba-Nya dalam bentuk yang nyata. Tak lagi kata-kata.''
Difokuskan lagi jua pikiran Jihan terhadap novel tebal itu. Jam dinding sudah melaju satu jam setengah, selama itu pula Jihan tak merasa sedang berpijak di lantai kamar, di bawah atap rumah, dan terduduk di kursi. Dunia imajinasi terasa seolah sungguh-sungguh ada dan tak mudah diganggu oleh siapa saja.
Pukul sebelas, ia bungkus lagi dimensi lain itu. Dibaringkannya jua pembatas buku di akhir bacaan Jihan pada nomor 159. Qiyamul lail pesan dari Abi sudah segar lagi di ingatan Jihan. Maka, ia sudahi dulu meski sangat penasaran dengan nasib si tokoh dalam cerita.
Segelas cokelat pun Jihan kandaskan segera sebelum terjun ke alam mimpi. Sikat gigi, berwudu, berdoa, lalu tubuhnya dibaringkan di kasur.
***
Buku-buku yang berbaris rapi di sana amat menarik bagi manusia bibliophile. Ada wajah-wajah serius sedang menghadap buku, ada pula yang sedang diskusi. Lain dari kebanyakan insan-insan itu, seorang gadis duduk sambil menyangga dagu dengan sebelah tangan. Sebelah tangan lagi mencekal kuat buku yang sama dengan buku semalam. Iya, masih dengan karya 'Aksa Buana'. Sebuah buku yang urung dikenal banyak mata dan teramat Jihan sayangkan.
''Buku sebagus ini gak masuk jajaran terlaris? Parah emang,'' kata Jihan di suatu waktu.
Benar masih sedikit ia baca. Di perpustakaan itu sekarang sudah ia baca sampai di halaman dua ratusan. Jatuh cintny pad karya perdana Aksa Buana bermula dari pengantar penulis yang dirangkai amat indah. Lantas Jihan kian jatuh pada cinta yang dalam di lembar-lembar berikutnya.
Seorang pustakawan membawa dirinya ke sisi Jihan. Menarik kursi kosong di sampingnya. Namun, tak sampi membut Jihan merasa terusik. Derit suara kaki kursi yang ditarik, deheman dari pita suara wanita itu, sungguh tak bisa barang sekali saja membuat pikiran Jihan pindah haluan.
Satu tepukan di pundak Jihan barulah berhasil.
''Eh. O-oh Bu Mala. Hehe.''
''Novel baru, ya?'' Wanita muda itu mengangkat kedua alisnya. Mala sudah sangat hafal. Jihan laksana buku di perpustakaan yang membaca buku kembali. Setidaknya minimal seminggu dua kali jam kosong dan istirahat sering ia gunakan untuk membaca buku fiksi di ruangan itu.
''Iya, Bu! Keren banget novel ini. Ah Ibu harus baca nih pasti bikin geleng-geleng kepala, Bu.'' Suara Jihan kelepasan dari batas volumenya di perpus. Beberapa pasang mata langsung jatuh menatapnya. Ia meringis memohon maaf.
''Kontrol, Han suaranya. Ini kan perpus.''
''Iya, Bu. Biasa lah Jihan kan paling semangat kalau bahas buku,'' katanya di akhiri dengan cekikikan kecil. Mala hendak pergi lagi merapikan beberapa buku. Sebelum itu, sempat ia ingatkan jua kebiasaan lain Jihan di jam-jam istirahat ini.
''Udah jam 10. Bentar lagi istirahat pertama, Han.''
Jihan melirik jam dinding di dekat meja penjaga perpustakaan. ''Iya, hampir aja Jihan lupa.'' Ia menepuk dahi pelan. ''Baca buku emang gak kerasa, Bu. Hehe. Cuma 25 menit, sih.''
''Ya udah sana. Ibu mau beres-beres buku baru.''
''Novel bukan, Bu?'' Air mukanya antusias tak tertahan.
''Bukan. Buku pelajaran punya adik kelas.''
Harapan yang sempat mengembang di hati Jihan pun menguncup kembali.
''Jadi Ibu gak salat duha?''
''Lagi libur.'' Mala tersenyum lembut. Baiklah, sekarang Jihan sendiri saja melangkah ke masjid sekolah. Ia mengucap salam kepada Bu Mala, lantas berlalu sambil mendekap novel. Biasanya langkah itu didampingi dengan sepasang kaki Bu Mala atau sahabatnya.
Koridor sekolah sudah mulai ramai. Dari arah belakang Jihan, seorang cowok sedang menebar pandangan mencari seseorang. Sempat masuk ke perpus sesuai dengan tebakannya. Beberapa menit kemudian ia sudah keluar lagi. Melangkah cepat menyusuri arah koridor menuju masjid. Sedikit di pandangan cowok berbaju semrawut itu sudah berhasil menangkap seseorang yang dicarinya. Ia berdecak senang.
''Eh, lo!''
Seruan itu sempat hinggap di telinga Jihan, tetapi tak dihiraukan. Kata 'lo' memiliki banyak tujuan untuk memanggil insan-insan lain jua. Beberapa langkah lagi dibawa Jihan, satu langkah kemudian kakinya langsung ia bawa mundur. Ia sedikit terkejut saat tiba-tiba seorang cowok menghadang jalannya.
''Hai,'' sapanya seolah merasa tidak ada salah. Jihan menarik wajah dari pandangan cowok itu. Jantungnya sudah naik-turun menahan bara api yang siap menyala terang. Mengingat posisi insan di hadapannya ini yang terkenal dengan tindakan bolosnya tetapi memperoleh beasiswa.
"Gue udah ganteng belum, ya?" Ia bergumam sambil merapikan rambut.
''Oh iya. Assalamualaikum, Jihan.''
''Waalaikumussalam. Ada apa, ya? Kalau gak penting mending jangan ganggu deh.''
''Wusss. Jutek plus jahat banget, sih. Gue mau minta tolong, nih.''
Hening.
''Gak tanya gitu gue mau minta tolong apa?'' Merasa tidak dipedulikan, akhirnya Hanan bertanya demikian. Iya, namanya Hanan. Kerah bajunya yang sedikit tampak kusam itu ia goyang-goyangkan untuk mencari angin. Matahari terasa seolah menyusup ke tubuh Hanan.
''Gak jelas banget. Wassalamualaikum.''
''Waalaikumussalam. Eh, gue mau tanya tentang agama Islam!''
Langkah kaki Jihan berhenti lagi, karena ada hal yang menurutnya penting tentang Islam, ia jadi luluh. Namun, isi hati dan kepalanya masih terasa hampa bagi Jihan. Ada alasan-alasan yang tumbuh dengan sempurna untuk menolak permintaan Hanan.
''Gue pengen belajar Islam lebih dalam. Mau bantu gak?''
Lantai koridor dipandang Jihan lamat-lamat. Ruang hatinya tegas. Ia masih belum berani.
Jihan mendongak seraya bersuara, ''Jangan sama gue. Gue gak sebaik yang elo lihat dan ilmu agama gue belum cukup untuk bisa membantu elo.''
Sudah hendak dibawa lagi langkah kaki itu, tetapi Hanan keburu mencegahnya dengan kata-kata.
''Kayaknya gue pernah tahu dalam islam bahwa, 'sampaikan walau satu ayat'.'' Sengaja ia keras-keraskan jua volume suaranya. Berkacak pinggang dan melirik puas ke arah Jihan.
“Nyebelin banget, sih dia.” Jihan mendengus.
***